Kekasih Beda Alam

Kekasih Beda Alam
Salah paham 3


__ADS_3

"Aku cakra" jawab Cakra dengan percaya diri.


"Aku tidak mau tau siapa namamu, yang aku tanya siapa dirimu dari mana asal usulmu dan apa tujuanmu kesini" desak Arum masih dengan nada ketus dan kewaspadaan tingkat tinggi, mengelilingi Cakra dengan hati-hati.


"Baiklah aku Cakra aku dikirim dari keluarga Winarsih, dan aku sepupu jauh Winarsih" jawab Cakra gantian mengelilingi Arum.


"Heh bisa tidak kalian berhenti mengelilingi satu sama lain,vaku pusing melihat kalian".Sahut Nimas dengan nada kesal sembari meletakan tanganya di jidat.


"Oke...oke aku heran dengan kalian yang satu manusia yang belum membuka kanurgan yang satu hantu wanita, kenapa kalian bersahabat dan telihat akur" ucap Cakra sambil memunjuk Arum dan Nimas.


"What! aku sahabat dengan wanita kampret ini ihhh sori laah ya, aku cuma terjebak takdir aja" jawab Arum dengan nada mengejek.


"Ihh dasar setan prawan kamu bangun karna aku ya .....jangan sombong!" Arum menjawab dengan nada yang tinggi siap beradu mulut.


"Sudah...sudah aku pusing dengan kalian" Cakra yang pusing dengan perkelahian dua cewek cantik beda dunia itu memisah keduanya dengan menjauhkan merekan dan berada di tengah.


"Ih dasar setaan perawan" Nimas berbicara lirih dan menghadap ke Arah berlawanan dengan Arum


"Dasar cewek kampret" Arum pun juga berbicara lirih juga menghadap berlawanan dengan Nimas.


"Ya ampun begini jadi laki-lako sendiri di tengah 2 wanita,serasa pengen gila" masih dengan Cakra ya kuwalahan dengan Arum dan Nimas.


"Oke kita kembali kepermasalahanya, kita kesini untuk mencari Winarsih, kita mulai ekspedisi ini. Apa kalian siap?" ucap Cakra degan penuh semangat.


"Siap" jawab Nimas dengan nada lemas dan tidak bersemangat.


"Siap" jawab Arum pun emas dan malas


"Oke cewek-cewek mari kita susun rencana, kesini-kesini" Arya dengan smangat menarik kedua perempuan di sampingnya yang saling berlawanan arah.


"Aduh sakit pelan- pelan dong!" Nimas kesakitan karena di tarik Cakra terlalu keras.


"Heh cewek - cewek kami punya nama,aku Arum dan cewek bangsat ini Nimas" sahut Arum sembari mengikuti Cakra berjalan.


"Oke-oke aku salah, kita susun rencana, jadi gini dari awal kan yang di incar adalah Nimas maka kita umpankan saja Nimas" usul Cakra dengan wajah penuh harap.


"Wahahaha aku setuju, ayo umpankan Nimas" jawab Arum dengan penuh semangat dan kegirangan.


"Hah, kenapa aku! kenapa tidak Arum yaamg sama-sama setan" Nimas sepontan kaget dengan usul Cakra dan melihat sinis Arum sembari mengangkat sebelah bibirnya.


"Heei, ayolah jika kita umpankan Arum bisa jadi Gendruwo tidak akan datang karena apa? karena Gendruwo takut dengan Arum" jawab Cakra menjelaskan kenapa dia memilih Nimas.


"Hei, cewek bangsat tinggal setuju aja, kenapa sih biar masaalah cepat selesai" Arum dengan nada ketus dan nadanya yang mengejek seakan memprovokasi Nimas.


"Hei! setan prawan bukan segampang itu ini taruhanya nyawa dan kesucian, Gendruwo itu makhluk mesum" jawab Nimas sedikit emosi dan kelas dengan Arum.


"Udah- udah tidak usah berantem, tapi kali ini aku setuju apa kata Arum, dan ini jalan satu satunya" sahut Cakra dengan nada lembut yang memancarkan kedewasaanya.


Nimas diam sejenak sembari berfikir. Dia juga terpesona dengan paras gantenya Cakra, lelaki muda bernama Cakra itu memang memiliki paras ganteng tinggi dan putih di tambah lagi dia juga dewasa.


"Halooo...Nimas bagaimana dengan kamu" Cakra yang memecah lamunan Nimas dengan melambaikan tanganya di depan muka Nimas.


"Haaa...apa? oke...oke aku setuju" lamunan Nimas yang terpecah masih dengan setengah sadarnya selepas melamunkan Cakra.


"Dasar cewek bangsat nggak cuma bangsat dia juga gatel tidak bisa melihat cowok bening sedikit" ucap Arum dengan terbang mengikuti langkah kaki Cakra yang sudah jalan jauh di depan.

__ADS_1


"Apaan sih setan prawan kaya dirimu ngak?" ucap Nimas juga mengikuti Cakra.


"Sory ya, tidak mungkin dan nggak akan!" Sontak Arum menjawab dengan nada sinisnya.


Tak berapa lama mereka bertiga pun samapi di tempat dimana Winarsih menghilang yaitu di tengah kebun samping sungai di dekat pohon beringin besar, disana Cakra dan Arum pergi bersembunyi sedangkan Nimas menjadi tumbal.


" Hei!!!Gendruwo aku memangilmu dimana kamu tunjukan wujudmu kemari temui aku" suara lantang Nimas memanggil Gendruwo.


"Wuuuuuuuussssss...wwwuuussuuuuuuuuh...wuiuuuiiuuusss" suara angin yang datang tiba-tiba.


"Hahahah denok cantik, ada apa kami memangilmu, apa kamu mau menyerahkan tubuhmu kepadaku" suara yang tiba -tiba datang dari suatu arah yang belum jelas.


" Hei...mahluk mesum jangan harap, aku kesini ingin mengambil kembali temanku yang kamu culik, kembalikan dia kepadaku dan orang tuanya" Nimas menjawab suara Gedruwo sembari memutar tubuhnya yang gemetar mencari arah sumber suara.


"Haha...gadis cilik sepertimu dengan kekuatan kanuragan yang belum muncul berani menentangku, untung kamu cantik, aku masih bisa memaafkanmu" jawab Gendruwo dengan lantang dan besar, sangat menakutkan di tambah dia sudah memunculkan wujudnya yang begitu besar ganas dengan tubuh yang di penuhi bulu.


"Haaaaaaaaa, tolong. Aku akan dimakan tolong" sontak Nimaspun kaget dan sejadi -jadine berteriak dan tersungkur kebelakang.


"Haaaaa..." Gendruwo heran dengan tingkah Nimas karena di belum melangkah kemanapun dan belum melakukan apapun, muka yang tadinya seram berubah drastis menjadi seperti orang linglung saking heranya.


"Ciaaaaaaaa...aku datang Nimas" Cakra yang dari tadi sembunyi sembari donor darah ke nyamuk bergegas keluar dari persembunyian menghampiri Nimas dengan cara melompat dan siap menyerang dengan kuda - kuda yang kokoh.


"Yaaakkkkkkkk...meluncur" Arum tidak mau ketinggalan dengan Cakra dia secepat kilat terbang dari persembunyian di atas pohonya yang nyaman.


"Hee kamu Gendruwo jelek,mesum.kamu apakan cewek Nimas" Cakra madih dengan kuda - kuda bertanya dengan nada menakutkan dan tegas.


"Dasar Gendruwo mahluk mesum, masih tidak kapok ya dulu sudah tak punter menjadi kebalik alat kemaluanmu itu" lanjut Arum dengan posisi masih sama seperti saat mendarat.


"Heemmmm...apa-apaan ini, aku saja belum mengapa - apakan bocah ini, dia sudah teriak histeris coba saja lihat apakah aku sudah bergeser sejengkalpun dari posisisku mendarat" ucap gendruwo yang terbangun dari bengongnya karena terheran dengan tingkah Nimas.


sontak kedua orang ( masud autor kedua temen Nimas yang satu hantu yang satu orang😬)mau menyebut langsung orang salah satunya setan jadi begini saja ya teman-teman.


"hem ehem, anu aku kaget anu salah sendiri mukanya jelek" kata Nimas dengan muka tidak bersalah sembari berdiri clingak - clinguk salah tingkah.


"Apa- apaan ini Nimas kamu membuat kami datang dan rencana kita jadi berantaka" Arum mendekati Nimas degan nada kesal.


"Oooo... jadi kalian mau menjebaku ya" sahut Gendruwo yang kembali garang karena marah setelah mengetahui rencana mereka bertiga.


"Hah okelah karna rencana sudah kamu ketahui, langsung saja dimana kamu sembunyikan Winarsih" tanya Arum yang kembali serius kepada Gendruwo.


"Hah jangan kamu pikir karna tingkatmu lebih tinggi aku takut kepadamu, ingat kamu baru saja bangun Arum, kekuatanmu belum maksimal" jawab Gendruwo dengan nada mengejek.


"Walaupun Arum masih lemah, masih ada aku" sahut Cakra dengan percaya diri


"Haha...bocah ingusan Arum saja tidak akan bisa melawanku sendiri apalagi kamu yang seumur jagung" Gendruwo dengan percaya dirinya, mengejek Cakra dengan tawanya yang begitu besar.


"Masih ada aku walaupun aku belum punya kekuatan tapi aku pasti bisa mengalahkanmu pasti bisa" Nimas dengan mantap menjawan Gendruwo.


"Haha baik jangan banyak bicara jika kalian mampu mengalahkan ku akan aku kembalikan Winarsih" jawab Gendruwo angkuh.


"Baiklah ayo aka...haaaaaaa!" Nimas belum menyelesaikan ucapanya dia sudah berada di tangan Gendruwo.


"Haha dasar kalian bocah ingusan,bisa-bisanya melawanku" ucap Gendruwo dengan tangan memegangi Nimas siap memangsa kepala Nimas dengan mulutnya yang penuh dengan taring.


"Ahhhhhhhh tolong" Nimas menjerit sejadinya dia tau kalau ini ahir dari hidupnya.

__ADS_1


"Haaapp ammmmem aem" tanpa basa basi Gendruwo melahap seluruh badan nimas.


"Gendruwo sialan akan ku bunuh kau" suara lantang Cakra dengan mengayunkan keris di tanganya


"Akan kamu basmi, akan aku cincang kemaluanmu, akan ku berika ke anjingku dasar Gendruwo biadab" suara gemetar Arum dengan seranganya yanag brutal penuh dengan kemarahan.


"Haha kemarilah akan aku basmi kalian semua sekaligus, hahaha. Ahhhhhhhhhh aduh kenapa ini ahhhhhhh kenapa perutku sakit kenapa ahhhh jatungku panas...tidaaaaakkkkkkk" Gendruwo dengan percaya dirinya menjawab Arum serta Cakra dengan nada yamg enteng, tetapi tidak lama dari keangkuhanya dia merasakan sakit yang teramat.


"Duaaaaaarrrrr... jederrrr" ledakan dari perut gendruwo.


"Dasar mahluk menjijikan beraniya kamu mau menghabisi keturunanku, dasar lancan. Suara seseorang dengan cahaya emas memancar di sekujur tubuhnya, dia berjalan dari perut gendruwo kemudian terbang.


"Ahhhhhh tidaak perutku, kenapa bisa seperti ini perutku" ucap gendruwo di ujung sakaratul mautnya karena ledakan di perutnya yang membuatnya hancur.


"itu pantas untuk mu mahluk menjijikan" jawab sesorang yanag terbang mengambang di udara, dia ternyata adalah Nimas yang di rasuki simbok rayi.


"Apa aaapa, dasar perempuan bajingan, kamu telah melukaiku, aku tidak akan memaafkanmu suatu saat anaku akan membunuhmu" jawab gemdruwo dengan nafas yang tidak beraturan.


Apa masudmu anakmu?" jawab Nimas penasaran.


"Hahaha aku telah menyetubuhi Winarsih, didalam rahim Wimarsih terdapat benihku yang suatu saat akan membunuhmu" Gendruwo menunjuk Nimas dengan mata melotot.


"Ciaaaaaakkkk...blessss" Arum yang tidak tahan membunuh gendruwo dengan menusukan senjatanya tepat didadanya.


"aaaahhhhkgggg!" Genrdruwo pun lenyap.


"Wahai anak muda aku berterimakasih kepada kalian telah membantu Nimas, akan aku serahkan kembali dia kepadamu" ucap Nimas yang masih dirasuki oleh simbok rayi. Perlahan turun ke tanah.


"Baiklah, aku juga punya hutang budi denganya" jawab Arum.


"Terimakasih, ada satu hal yang ingin aku bicarakan kepadamu anak muda, jagalah Arum dan jagalah Nimas, aku titipkan mereka berdua. Selamat tinggal" ucap Nimas sembari menepuk bahu Cakra, yang kemudian lemas bersamaan dengan hilangnya cahaya keemasanya.


"Bruk, aduk kenapa ini,apakah aku sudah di surga, tapi kenapa kalian juga ikut? apakah kalian juga mati... hah sudahlah nasib kita memang begini" ucap Nimas pasrah yang masih di pegangi oleh Cakra di pangkuanya.


"Heh dasar cewek aneh cepat berdiri, jangan mencari kesempaatan kalian masih hidup hanya aku yang sudah mati" jawab Arum dengan ketus di barengi dengan muka Cakra yang tersenyum geli mendengat ucapan Arum.


"Hah apa maaf maaf Cakra aku tidak tau kalau ini nyata" sontak Nimas bediri dari pangkuan Cakra.


"Tak apa...jangan dengarkan Arum mari aku bantu kamu berdiri" jawab Cakra dengan lembut sembari membamtu Nimas berdiri.


"Ayo jangan manja kita segara pergi ke jalan setapak,bpertama kali kalian hilang, Winarsih ada di sana dengan tubuh telanjang" Nimas dan Cakra pun kaget dan berfikir kenapa Winarsih telanjang.


"Kalian jangan banyak berfikir, manusia yang di culik mahluk yang bernama gendruwo pasti akan kembali dengan tubuh telanjang dan juga hamil karna sifat alami gendruwo yang mesum" ucap Arum dengan membawa pergi Cakra dan Nimas melewati dunia portal miliknya.


Tanpa waktu lama Arum, Nimas dan Cakra sudah sampai di jalan setapak.


"Lihat itu, Nimas cepat kamu tolong Winarsih dan Cakra tetap disisiku" Ucap Arum memerintah Nimas untuk. Segera menolong Winarsih yang tergeletak tanpa busanaa di semak semak.


"Baiklah" tanpa banyak berfikir Nimas langsung bergegas.


"Cakra tolong lepas bajumu dan lepar kearahku" perintah Nimas kepada Cakra.


" Baiklah". tanpa berfikir panjang Cakra langsung melepas banjunya seakan dia tau apa yang akan dilakukan Nimas,


"Cakra segera hubungi warga dan keluarganya Winarsih" sahut Arum.

__ADS_1


"Dan kamu...


Bersambung......


__ADS_2