Kekasih Beda Alam

Kekasih Beda Alam
Kegundahan


__ADS_3

"Assalamualaikum, eyang" Arya mengucapka. salam.


"walaikumsalam, ya sebentar" jawab Eyang di dalam rumah sembari berjalan ke arah pintu masuk.


"ceklek" suara pintu yang sedang di buka.


"ngeeeek...siapa ya " Eyang membuka pintu sembari memastikan siapa yang datang.


"permisi?" Arya menyapa dengan sopan sembari menunduk dan tersenyum manis.


"iya..." Eyang mengerutkan dahi sembari mengamati laki - laki tampan nan putih bersih didepanya, sekilas mirip sekali dengan Cakra mendiang suaminya.


"Eyang tau apa enggak ini siapa?" Arya yang tersenyum geli, bertanya dengan bercanda.


"Ya...allah cucuku Arya, kamu pulang mengunjungi Eyang?" dengan mengamati dan dian beberapaa saat ahirnya tau bahwa yang di depannya adalah cucu kesayanganya Arya, dia sangat antusias melihat cucu kesayanganya mengujungi.


"Iya Eyang ini Arya, apakah Arya tampan sehingga Eyang pangling dengan Arya" jawab arya yang tersenyun melihat tingkah Eyangnya yang histeris.


"Iya...iya Eyang sangat pangling kamu sangat tampan cucuku, ayo masuk sayang ayo masuk" jawab Eyang yang sedari tadi langsung memeluk Arya.


"Hehehe iya...iya Eyang, Arya lepas sepatu dulu sama ambil koper?" jawab Arya yang sempoyongan karna di tarik Eyang yang dari tadi masih belum percaya cucu kesayanganya pulang.


"Asssh, nggak usah dipikirkan,sepatu di pakai saja, sini - sini duduk Eyang ambilkan minum dulu" jawab Eyang dengan nada panik serta senang bercampur tidak karuan karena belum ada persiapan apapun di rumah untuk menyambut cucunya.


"Hehe iya...iya eyang jangan panik, sini duduk temani Arya, dengan Arya bertemu Eyang saja sudah senang" Arya mencoba mencoba menenangkan Eyangnya yang dari tadi panik.


"Iya...Iya pokoknya kamu duduk saja dulu di sini, Eyang telfon Pakdemu dan Budemu dulu" jawab Eyang sembari bolak balik seperti orang binggung.


"Hehe...hem" Arya tertawa kecil sembari mengeleng - ngelengkan kepalanya melihat tingkah Eyangnya, dia sangat senang melihat Eyangnya yang masih sehat karna dia satu - satunya harta paling berharga di dunia ini.


"Halo, le sini kerumah simbok ponakamu pulang hari ini" suara lantang Eyang Nimas saat menelfo npakde Jarwo.


"Halo mbok, ponakan siapa mbok?" Jawab Pakde Jarwo masih binggung dengan ucapan simboknya yang lantang dan sangat cepat.

__ADS_1


"Eloh, kok ponakan siapa yo ponakanmu si Arya" Eyang Nimas memarahi Pakde Jarwo yang binggung.


"Astaga benarkah mbok? kenapa bocah ini tidak mengabari?" jawab Pakde yang kegirangan dan ikutan panik karna ponakan kesayanganya pulang tanpa mengabari.


"Iya, bener cepet kesini" ucap Eyang Nimas menyuruh anaknya segera kerumahnya.


Siang berganti sore Pakde jarwo sampai di rumah Eyang.


"Assalamualaikum, mbok...mbok?" ucap Pak Jarwo di luar rumah Eyang Nimas.


"Walaikumssalam, sebentar ya le tak buka pintu dulu itu pasti pakdemu" Eyang berdiri bergegas menuju pintu.


"Ya Eyang" jawab Arya yang dari tadi menempel di Eyang saja seperti anak kecil.


"Kok lama sih mbok, keburu kangen dengan Arya" pakde jarwo yang gelisa menungu simboknya yang lama membukakan pintu.


"Sabar le, Arya juga nggak kemana - mana" jawab Eyang Nimas tersenyum, melihat anaknya yang begitu menyayangi ponakanya seprti menyayangi anaknya sendiri.


"Uhuk... uhuk, pakde lepaskan dupu Arya nggak bisa nafas" ucap Arya sembari batuk- batuk karna pelukan Pakde yang sangat erat.


"Oh, iya le maaf Pak de sangat semangat, sudah beberapa tahun tidak ketemu, kamu melarang Eyangmu Pakdemu berkunjung, juga tidak mau meminta uang, kamu tidak sayang dengan Pakde dan juga Eyangmu" ucap Pakde tanpa putus membuat Arya terdiam tidak bisa berbicara apapun.


"Ahhhh, hehe bukan begitu Pakde, bukan Arya nggak sayang, Arya cuma mau hidup mandiri saja" jawab Arya menenangkan Pakdenya.


"Ini kopinya le" ucap Eyang sembari membawa napan berisi kopi hitam, kemudian duduk di sofa yang betada tepat di depan Arya dan Pakde.


"Ah, iya makasih mbok" jawab Pakde yang masih memandangi ponakanya dengan rasa haru dan bangga karna bertumbuh dewasa serta tampan.


"Ihhh, Pakde mesum kenapa memandangi Arya aja sih? " ucap Arya yang memecah lamunan Pakdenya dengan nada bercanda.


"Hehe, oalah le...le Pakde bangga kamu tumbuh dewasa dan juga tampan" jawab Pakde terharu sembari menepuk- nepuk pundak Arya.


"Hehe ponakan siapa dulu, Pakdenya aja ganteng gini" jawab Arya sembari menggoda Pakdenya yang masih serius

__ADS_1


"Iya ya le, dulu kecil sekarang pulang sudah jadi jejaka" sahut Eyang yang tepat duduk depan Arya dan Pakde.


"Ah Pakde sama Eyang bikin Arya malu saja". jawab Arya.


"Hehe Eyang jadi gemes, ya udah le sana masuk ke kamarmu sudah Eyang bersihkan mandi istirahat Eyang masak dulu" perintah Eyang melihat Arya kelihatan letih dan menyeka keringat.


"Oh ini belum istirahat to mbok, malah tak ajak ngobrol terus" sahut Pakde Jawo.


"Belum le simbok tadi juga kelepasan saking kangenya, belum menyuruh Arya istirahat". jawwb eyang nimas


"Hehe iya Eyang Pakde, Arya kebetulan juga capek Arya ke kamar dulh ya?" jawab Arya sembari berdiri ijin kemarnya.


"Iya le sana, Pakde tak antar Eyangmu ke pasar sekalian jemput Budemu" jawab Pakde juga bersiap- siap.


sedikir cerita Pakde Jarwo dan Istri tidak memiliki anak, jadi Arya sudah di anggap sebagai anaknya.


"Assh, ahirnya kembali ke rumah ini, hampir lupa dengan suasanya asri ini, dengan serangga yang mulai bernyanyi" ucap Arya lirih sembari melemparkan badanya di atas kasur empuk yang sudah di bereskan Eyang.


Hari menunjukan waktu menjelang malam azand maghrib sudah berkumandang, Arya yang ketiduran segera bergegas mandi kemudian turun ke lantai bawah menemui Eyang beserta Pakdenya, disana Arya melihat Budenya yang cantik tapi tidak bisa menolak tua.


"Assamualaikum Bude? apakabar " ucap Arya dengan lirih menahan haru bertemu Budenya yang merawat Arya bak anaknya.


"Waikumssalam, anaku Arya ya allah le kamu sudah besar Bude sangat- sangat kangen" ucap Budenya langsung meneluk Arya dengan tangisan harunya yang sudah tidak bisa di tahan.


"Sudah - sudah Bude masak Arya pulang malah nangis" jawab Arya bercanda melihat Budenya yang nangis tersedu - sedu.


"Iya nduk, sekarang kita makan malam saja menikmati malam malam bersama" Ucap Eyang berusaha menenangkan mantu perempuanya.


"Iya.. iya mbok genduk terbawa suasana, mari mbok kita makan kasihan Arya pasti sangat lapar" jawab bude sembari menyeka airmata dan menepuk pundak Arya mengarahkan ke meja makan.


Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 10 malam,mereka tidak sadar karena terus mengoborol...


"Ahh...

__ADS_1


__ADS_2