Kekasih Beda Alam

Kekasih Beda Alam
Salah paham 1


__ADS_3

"Ya allah gusti...apa lagi itu ya allah, apa salahku" Nimas ambruk dan menangis sejadi -jadinya.


"Hei bocah apakah kamu yang membangunkanku" ssuara dari sosok yang terbangun dari dalam peti.


"Sii...siii...siapa ka... ka...kamu" ucap Nimas dengan suara terputus - putus dan gemetar.


"Jawab apakah kamu yang membuka petiku, apakah darahmu yang menetes di dadaku?" sahut noni yang baru saja terbangun dari dalam peti dengan suara lantang dan wajah sinis.


"Yaa...yaa...ta...tapi aku tidak sengaja, a... aku di kejar oleh sesosok mahluk, entah apalah itu" Nimas menjawab dengaan suaara gemetar serta wajah yang pucat.


"Baiklah aku percaya, akan aku antar kamu kembali kerumahmu" sahut noni belanda smbari bergerak cepat menghampiri Nimas, sontak Nimas pun kaget dan pingsan.


"Terimakasih" suara Nimas lirih dengan setengah sadar sebelum dia benar- benar tidak sadar.


"Terimakasih telah membebaskanku, kelak aku akan membalas budimu, aku Arum noni belanda" jawab Arum noni belanda.


Tak berapa lama...Nimas pun di temukan warga tergeletak di jalan setapak yang mereka lewati setelah pulang dari langar/mushola, tetapi tidak dengan Winarsih, 'wargapun semakin binggung dan di buat penasaran, tetapi ahirnya warga membawa pulang Nimas terlebih dahulu kemudian memutuskan untuk mencari Winarsih keesokan hari.


Pagi hari di rumah Nimas.


"Gimana ini pak kok nimas belum sadar" ucap ibu Nimas dengan cemas sembari mengelus wajah Nimas yang pucat sayu.


"Sabar Bu, masih berterimakasih Nimas di temukan bagaimana dengan Winarsih, berdoa saja tidak terjadi apa - apa" jawab bapak Nimas menenangkan istrinya tersebut.


" Iya ya Pak bagaimana keadaan, Winarsih sekarang pasti orang tuanya sangay sakit hatinya" jawab Bapak Nimas sembari membuka jendela kamar Nimas.


"Uhuk - uhuk...aku dimana ini aku dimana" Nimas membuka mata pertama kalinya, masih dengan keadaan linglung karena shock.


"Nak Nimas kamu sadar nak, ini simbok nak ini simbok" sahut simbok dengan wajah bahagia sembari memeluk Nimas dan menciumi Nimas.


"Pak bapak Nimas sadar pak, kesini pak nimas sadar!"bucap Ibu Nimas memanggil suaminya dengan lantang.


"Mana buk mana alhamdulillah buk Nimas masih di beri kesempatan" sahut bapak Nimas sambil berlari dari arah dapur.


"Nduk Nimas ini bapak nduk ini bapak sama simbok, Nimas tidak apa- apa nduk" ucap bapak Nimas duduk disamping anak prawanya dengan mata berbinar - binar.


"Simbok, Bapak Nimas takut mbok, Nimas takut Pak Nimas di kejar hantu Nimas ketemu hantu, bersama Winarsih" ucap Nimas dengan wajah frustasi dan menangis sejadi - jadinya dengan memeluk bapaknya.


"Ya nduk bapak ngerti, bapak sudah paham kami sekarang tiduran dulu tenangkan pikiranmu nduk" jawab Bapak Nimas dengan nada lirih dan halus menenangkan anak prawanya.


"Tapi bapak Nimas ora ngapusi, Nimas tidak berbohong" sahut Nimas dengan nada tinggi sembari memegang dadanya mengisyaratkan kalau dia memang benar-benar tidak berbohong.


"Iya nduk kamu dengarkan bapakmu dulu, ibuk percayaa kamu" ucap ibuk yang berdiri di samping anaknya dengan mengelus dahi dan rambut anaknya.


"Baik mbok Nimas mengerti" memalingkan wajah ke jendela yang terbuka dan wajah pasrah.

__ADS_1


"Simbok dan Bapak keluar dulu nduk, kamu istirahatlah jangan memikirkan yang lain dulu" ucap simbok sambil berjalan keluar kamar Nimas menuju teras depan rumah.


Nimas hanya bisa menganggukan kepala, masih sangat jelas kejadian menyeramkan yang di alami Nimas, ini benar-benar nyata semakin membuat pusing kepala Nimas.


"Aku masih sangat jelas dimana aku pulang dari mushola dengan winarsih, dimana aku di kejar mahluk tak kasat mata dimana aku dan Winarsih terpisah dan dimana aku bisa berada di kuburan belanda disana menemukan peti dan dia...dia...diaa hidup, ah kepalaku pusing serasa hampir gila" ucap Nimas di dalam hati.


Di luar ibu dan bapak Nimas berbicara membahas anak prawanya.


"Pak bagaimana ini pak, ramalan Simbok Rayi benar-benar terjadi" ucap Ibu Nimas membuka pembicaraan.


"Iya mbok...ramalan Simbok Rayi memang sudah terjadi, Simbok Rayi orang tua bapak sudah weling(sudah memberi tahu) tepat Nimas prawan matang, dia akan bertemu takdirnya" jawab bapak sambil menghirup rokok besar di tanganya.


"Harus bagaimana pak ini, simbok takut" ucap Ibuk Nimas dengan wajah gelisah duduk pun tak nyaman.


"Nggak usah takut, mbok kita lakukan apa welingnya Simbok Rayi, kita jujur kita bicarakan ke Nimas jika dia mewarisi kanuragan Simbok Rayi dan hanya Nimas yang dapat menukan Winarsih, karna ini bagian dari keluarnya Nimas" jawab Bapak Nimas dengan wajah serius.


Tak berapa lama datang Pak Rt kerumah Nimas.


"Assalamualaikum Pak Rebo" sapa Pak Rt yang baru datang.


"Walakumsalam Pak Rt, gimana Pak Rt silahkan duduk, Mbok buatkan kopi" jawab Pak Rebo Ayah Nimas sembari mempersilahkan, Pak Rt untuk duduk.


"Matursuwun pak Rebo, terimakasih, saya kesini pertama silaturahmi, kedua mau bertanya bagaimana keadaan Nimas pak" ucap Pak Rt dengan nada sopan, dengan mengacungkan tangan kedepan mencerminkan kesopanan khas jawa.


"Alhamdulillah pak rt, Nimas sudah siuman tetapi masih kelihatan shock masih kaget Pak Rt" jawab Pak Rebo bapak Nimas dengan nada serius sembari menganguk-angukan kepala.


"Matursuwun, terimakasih mbok sri(ibu Nimas bernama mbok Sri) ngrepotin ini kopinya" jawab Pak Rt dengan sopan.


"Tidak pak santai saja, oh iya pak bagaimana dengan pencarian warga mencari Winarsih?" tanya Ibuk Nimas dengan serius sembari duduk dan meletakan nampanya di pangkuan.


"Nah termasuk ini, pak mbok saya datang kesini, mau bertanya juga mau berdiskusi harus bagaimana" ucap pak rt sopan.


singkat cerita bapak dan ibuk Nimas memang terkenal ora dengan ilmu kanuragan yang sudah tersohor... mereka juga sering dimintai bantuan mengenai hal-hal gaib.


"Oalah begiti to pak rt jadi sampean juga merasa ada yang tidak benar" sahut Pak Rebo sambil menghirup rokok yang dari tadi tidak kunjung habis.


"Leres betul Pak Rebo, apakah dugaan saya benar Pak Rebo, soalnya dari laporan sebagian warga yang mencari di wilayah barat jalan menuju kali terdapat jejak seperti orang lari, tetapi berhenti di sebuah pohon beringin yamg besar itu Lak Rebo" cerita Pak Rt dengan muka tegang berharap mendapatkan sebuah solusi dari Pak Rebo.


"Ya ya Pak Rt aku mengerti begini saja pak, saya akan mencari tau nanti malam, sebaiknya bapak dan warga sekarang berhenti mencari dahulu saya sarankan mengelar pengajian membaca surat yasin dan ayat kursi dimushola, menunggu saya mendapat informasi dan membantu saya dengan doa" ucap Pak Rebo sambil menganguk-angukan kepala khas Pak Rebo dengan memejamkan mata seakan dia tau apa yang harus dia lakukan.


"Baik Pak Rebo saya akan melaksanakan apa yang bapak sarankan, saya akan sampaikan kesemua warga terutama keluarga Winarsih" jawab Pak Rt sembari mengelus - elus tanganya yang tidak sakit.


"Silahkan Pak Rt kopinya sambil di minum, nanti dingin" sahut Bu Sri yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama pembicaraan Pak Rt dan suaminya.


" Oh iya Bu Sri sampai lupa kopinya, saya minum Bu Sri" tawa Pak Rt sumringah sembari menyerutup kopi yang di hidangkan Bu Sri.

__ADS_1


"Iya Pak Rt monggo, silahkan keburu dingin" jawab Bu Sri dengan nada sopan sembari mempersilahkan Pak Rt.


"Pak Rebo, Bu Sri sebelumnya terimakasih atas kopinya dan terimakasih saya beserta warga sudah mendapat solusi, selanjutnya saya mohon maaf telah menggangu istirahat Ibu Sri dan Pak Rebo, saya mohon undur diri,m ohon pamit pak, matursuwun, terimakasih" Pak Rt pamit sembari berdiri.


"Walah sebentar to pak rt kita ngobrol- ngobrol dulu" jawab Bu Sri dengan ramah sembari mengantar Pak Rt.


"Terimakasih bu Sri saya koordinasi dengan warga dulu, urusan yang lain saya serahkan ke Pak Rebo dan Bu Sri saja, assalamualaikum pak bu" ucap Pak Rt dengan ngantupkan tagan di depan dada.


"Walaikumsama.Wr.Wb" jawab Bu Sri dan Pak Rebo bersamaan.


Sore menjelang malam pak rebo sesuai menunaikan ibadah sholat magrib bersama istrinya duduk di ruang tengah.


" Mbok" memanggil istrinya.


"Gimana pak?" Bu Sri menghampiri Pak Rebo.


"Coba mbok pangilkan Nimas, suruh kesini Bapak tunggu di ruang tengah" Perintah Pak Rebo kepada istrinya.


"Ya pak simbok pangilkan" Bu Sri kemudian pergi ke kamar Nimas.


"Nduk...nduk masih tidur nduk bangun sholat magrib dulu" simbok duduk di samping Nimas membangunkan nimas membelai rambut Nimas dengan lembut.


"Tidak mbok Nimas sudah bangun, Nimas hanya sedang berfikir apakah ini nyata" sahut Nimas dengan nada lirih.


"Sudah nduk sekarang kau wundhu dulu kemudian sholat, kalau sudah segera ke ruang tengah sudah di tunggu Bapak, ya nduk" jawab simbok dengan nada keibuan dengan nada yang halus penuh kasih sayang.


"Baik Mbok"bjawab Nimas dan segera bangkit dari tidunya menuju kamar mandi untuk bersuci.


Tak lama Nimas pun menuju ruang tengah di sana sudah ada Pak Rebo dan Su Sri.


"Sini nak duduk di samping simbok" ucap Bu Sri sembari melambaikan tangan dan memberi isyarat untuk duduk di sebelahnya.


"Ya mbok" sahut Nimas menurut.


"Begini nduk bapak sudah tau semua dari ceritamu, Bapak juga mau jujur sama kamu" Pak rebo membuka percakapan khas kebapakannya yang berkhas memancarkan kewibawaan.


"Apa itu Pak" jawab Nimas dengan nada penasaran.


"Nduk dengarkan dulu bapakmu" nasihat Ibu Nimas sembari mengelus kepala Nimas.


"Ya pak simbok, Nimas dengarkan apapun itu" jawab Nimas dengan serius.


"Bapak sama simbok sebelum kejadian ini sudah tau, karena ini sudah di ramalkam simbok rayimu( mbah buyutmu), dan bapak dapat weling, dapat nasihat untuk memberi tahumu jika waktu sudah tepat" ucap Pak Rebo dengan nada yang mantap dan serius.


"Haaa apa, ja... ja jadi....

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2