Kekasih Beda Alam

Kekasih Beda Alam
kegundahan Lanjutan


__ADS_3

Maafkan beasti baru bisa aplud mimin agak sibuk markinjut...


"Ah ternyata sudah malam, maafkan kami yang nglantur dan terlalu kangen nak,terus nrocos saja tidak melihat jam" ucap pakde sambil menepuk bahu Arya yang kaget melihat jam sudah menunjukan pukul 10 malam.


"Hehe, nggak papa Pakde Arya juga nggak sadar" Arya menjawab sembari mengaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Hahaha oalah le... le,dingapuro Eyang, Pakde karo budemu ya le"(hahaha oalah le... le maafkan Eyang dan Budemu ya le" ucap nenek sambil berdiri bersiap membereskan piring yaang masih berserakan tidak beraturan bekas mereka makan malam yang begitu asyik selayaknya keluaarga hangat nan bahagia.


"Arya bantu yang" Arya dengan sigap berdiri siap membantu neneknyaa.


"Asss... ora usah le, ora usah gogok wae ben Eyangmu karo budemu wae"(artinyaa ***,,,tidak usah le tidak usah duduk saja biar Eyang sama Budemu saja) "ucap nenek dengan sigap mendudukaan Arya kembali ke kursinya sembari menepuk pundaknya.


"Iya le biar Eyang sama Budemu saja, kamu ngobrol sama Pakdemu saja di ruang televisi"sahut Bude yang dari tadi membantu Eyang mengangkat piring ke wastafel dapur.


"Siap bude, beneran ya ini Arya tinggal ke Pakde, Bude sama Eyang jangan cemburu yaa he he"jawab Arya sambil bercanda dengan tawa khasnya yang bikin kangen bayangin ajah lee minho yaa beasti tampan dan tawanya menggoda mengalahkan zaman asyek.. sembari beranjak dari tempat duduk siap menuju ruang televisi.


"Ahh... kamu Ar bikin Bude patah hati, sini Bude peluk dulu sebelum kamu selingkuh sama Pakdemu" jawab Bude dengan mata berkaca - kaca melihaat Arya bayi munggilnya sudah besar, mengingatkan peristiwa yang menbuat sesak beberapa tahun kebelakang.


"Ahh.. sini -sini bude cantiku sini sayang ulu..ulu cayang cayang cayang" ucap Arya sembari membuka tangan dan memeluk budenya seperti inggin menggendong anak kecil yang imut.


"Aishh..." ucap Bude yang risih dengan kelaakuan Arya tapi tidak bisa menolak pelukan Arya sembari mencubit perut Arya.


" Adu...duh,Bude kok Arya di cubit sih" ucap Arya yang kaget degan cubitan Bude yang kesal serta gemas dengan tingkah laku Arya.


"Ah kalian itu ada.. ada saja, kalau jauh nangis - nangis kalau deket gelut wae,bertengkar saja kayak kucing sama tikus" ucap nenek yang sembari tadi memperhatikan tingkah mereka sembari menggeleng- gelengkan kepalanya dengan senyumnya yang indah tak tergerus zaman.


"Kaburrrr...!" jawab Arya sembari berlari ke arah ruang televisi.

__ADS_1


Arya menuju ruang televisi yang sedari tadi berlari karena menghindari ceramah dari Eyangnya( omelanya),di tengah langkahya tiba- tiba teringat sosok wanita dengan senyum langka dan khasnya, kemudian menghentikan langkahnya. sembari menggeleng- nggelengkan kepalanaya.


" Asss,apaan sih,ayolah Arya ayo kembali ke misi utama lupakan Arum, misi berlibur ke rumah Eyang...ayo... ayo" ucap Arya lirih sembari meneruskan jalanya menuju ruang televisi.


"Le...rene.. rene,kesini ...kesini" ucap Pakde yang melihat Arya menuju ruang tamu.


"Ahh...siap Pakde" jawab Arya sedikit kaget karna pikiran dan nyawa di tempat berbeda(biasa anak muda yang masih malu malu mengakui jika cinta ciieeeeehh... lanjut)


"Di usir Budemu karo Eyangmu kan" ucap Pakde menggoda Arya.


"Iya Pakde suruh kesini" jawab Arya sembari duduk di kursi kayu beralaskan rotan khas jaman purba.


"Yaudah le sini temani pakdemu sambil mijitin bahu Pakde" ucap Pakde memposisikan diri dengan mode ternyaman minta di pijit sembari menepuk - nepuk bahunya mengarahkab arya memijit.


"Ashh... hehe siap Pakde" jawab sigap Arya sembari berdiri menuju Pakde yang sudah berbaring di kuri panjang masih dengan kursi purba. sekian lama mereka curhat serta cerita panjang lebar, Pakde ketiduran karna saking enaknya pijitan Arya, Arya yang tidak tega mebangunkan Pakde mengambilkan selimut serta membiarkan Pakde tidur, tak saadar Arya melihat wajah pakdenya yang sudah mulai muncul kerut -kerut di wajah menandakan usia tidak akan pernah bisa di tolak,Arya merasa sedikit sakit sekilas wajah ayahnya terlintas di wajahnya membuat air mata Arya meneteskan air mata terlintas peristiwa belasan taun silam, Arya yang tidak kuat meninggaalkan Pakde dan kembali ke kamar.


"apa ini, unik sekali seperti guci kurcaci zaman kuno" ucap Arya di dalam hati.


Arya yang tidak begitu penasaran dengan benda tersebut karna memang banyak benda- benda antik di rumah Eyangnya kemudian dia membawa benda tersebut kekamarnya.


"Ahhhh, sangat nyaman" ucap Arya sambil melemparkan tubuhnya di atas kasur, dengan tangan masih memegang guci kurcaci tersebut.


"Hei,kawan" suara aneh nan asing seperti memangil Arya.


"Ahss, lupakan hanya mimpi" ucap Arya masih dengan mata yang enggan terbuka.


"Hei... Hei, mimpi gundulmu ini asli! Buka matamu dan lihatlah ke arah guci". Jawab suara asing dengan nada ngegas.

__ADS_1


"Hah!"  arya yang kaget sembari loncat dari tidurnya menuju kursi yang tepat di sebelah tempat tidurnya saat melihat guci kurcaci tadi muncul kepala gundul dari dalam guci.


" Tu... Tuyul? " Ucap arya yang kaget, megerutkan kedua alisnya menandakan  muka penasaran dan bertanya - tanya.


"Tuyul... Tuyul, Kepalamu bocah aku mbah lempung" Jawab sesosok mahluk botak yang muncul dari guci dengan nada kesal.


"Ahh,  mbah lempung jadi kenapa kamu  muncul mbah,  kayaknya dl aku todak pernah melihatmu". Jawab arya mengangguk - anggukan kepalanya  mencoba  untuk mengerti.


"Dulu kamu masih bayi bocah,  ilmuku belum berguna untukmu,  hari ini waktunya".Jawab Mbah Lempung dengan gaya seakan - akan mengetahui semuanya.


"Berguna maksud Mbah Lempung? " Arya bertanya kembali seakan binggung dengan keadaan.


"Yah bocah aku tau tujuanmu kesini, bukan untuk mengunjungi Eyang, Bude,  dan pakdemu seutuhnya". Jawab Mbah lempung dengan melipat tangan di dadanya.


" Ahh...tidak aku memang kangen dengan keluargaku, tidak ada hal lain". Jawab Arya menyangkal ucapan Mbah Lempung.


"Jangan berbohong kepadaku bocah,  kamu kesini karna kamu bimbang dengan hatimu, apakah ucapanku benar? ". Ucap Mbah lempung dengan nada agak keras serta mata melotot.


"Hati?  Hahaha lucu, ya memang dengan hati, karna keluargaku yang begitu lama tidaka bertemu". Arya yang sudah mulai berani turu dari kursi masih menyangkal Mbah Lempung.


"Hahaha,  kamu bocah keras kepala, akan aku tunjukan sesuatu untukmu!" Mbah Lempung yang tidak tahan dengan sangkalan Arya kemudian menunjukan suatau gambaran di udara sesosok wanita cantik blasteran belanda yang sedang merenung di sebuah kursi panjang.


Sedikit informasi keunikan Mbah lempung yaitu memperlihatkan masalalu,  masa depan dan masa sekarang( jika di zaman modern mungkin bisa di bayangkan proyektor / lcd  ya man teman).


Arya yang termenung, tanpa disadari...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2