
Arya yang termenung,Ā tanpa disadari meneteskan Air matanya.
"Arum, diakah itu? " tanya arya dengan mata yang masih meneskan air mana.
" Yah, dia seorang gadis cantik. Akan tetapi berbeda alam denganmu,Ā dan ini adalah tujuanmu. Kegundahan hatimu yang yidak bisa tertahan dan kau ungkapkan kau lati dari kenyataaan bahwa kau mulai mencintainya".ungkap Mbak Lempung seakan tau apa yang terjadi.
" Hiks... Hiks" suara tangisan arya yang tak bisa terbendung lagi. Arya yang tidak kuat seta binggungpun menjatuhkan dirinya ke lantai kamarnya.
"Kau benar nak, dengan mengambil keputusan pergi kemari, kau akan menemukan jawabanya tp kau harus melihat kenyataan pahit, yang akan aku tunjukan. Semua tergantung kepadamu jika kami siap maka aku akan memperlihatkan kepadamu akan tetapi jika kau tidak berkehendak maka lupakan saja".ungkap Mbah lempung dengan muka semakin serius.
" Apakah itu? ". Arya bertanya mencoba bangkit dan tegar.
"Sebuah peristiwa " Mbah Lempung menjawab dengan singkat.
"Baik perlihatkan kepadaku". Arya menjawab dengan mantap.
"Apakah kau siap". Mbak Lempung kembali memastikan.
" Ya ". Jawab aryaa dengan nada serius.
Kejadian masalalu muncul dimana kesalah pahaman Arum, wanita yang Arya cintai dengan seoran wanita yang dia sayangi, yaitu Eyangnya, Nimas.Terlihat dimana Arum dengan seorang laki - laki tampan yang belum pernah di lihat Arya. Dimana peristiwa demi peristiwa terpampang jelas.Hari sudah menjelang malam, .di ujung malam Cakra menyelinap keluar rumah, tanpa di sadari Nimas melihat Cakra keluar, Nimas yang saat itu penasaran karena buka sekali dua kali Cakra keluar, ahirnya dia mengikuti tak di sangka Cakra pergi menemui Arum. Nimas sangat kecewa karena pikir Nimas. Cakra dan Arum ada hubungan satu sama lain. Padahal Arum dan Cakra mendiskusikan bagaimana cara melenyapkan bayi Gendruwo tanpa melukai Nimas. Nimas yang saat itu cemburu berat pun berlari kerumah tanpa mempedulikan apapun.
"Rum, apakah tidak ada cara untuk membunuh anak Gendruwo tanpa mengorabankan keluargaku" Cakra bertanya kepada Arum karna sangat frustasi dengan keadaan.
"Ada, tapi ini sangat beresiko untuk dirimu" Arum menjawab dengan nada berat.
"Apapun itu akan aku lakukan" Cakra mantap dan menjawab penuh harapan.
__ADS_1
"Apapu itu, walau taruhanya nyawamu sendiri" Arum menjawab dengan berat hati.
"ya walaupun dengan nyawaku sendiri" Cakra menatap arum dengan mata yang penuh dengan harapan serta kesedihan.
"Baiklah akan aku katankan, bayi Gendruwo itu akan lenyap jika di bunuh saat menghisap darah orang yang memiliki ilmu kanuragan" Arum memerangkan dengan nada berat seperti menahan rasa sakit, karna Arum sudah mengangap Cakra seperti saudaranya sendiri.
"Baiklah, aku siap kita susun rencana, dan juga satu permintaanku kepadamu jaga Nimas jaga anak cucuku kelak Rum" Cakra menjawab dengan mantanya tetapi ahirnya air matanya tidak bisa terbendung lagi.
"Coba kamu pikirkan lagi Cak, anakmu masih kecil Nimas sedang mengandung" Arum kembali memberi kesempatan kepada Cakra untuk memikirkan kembali.
"Aku sudah mantap, Rum ini hanya pilihan semu sama saja jika aku tidak melakukan, Nimas dan anaku yang akan mati" jawab Arya sembari mengusap Air matanya dan berdiri.
"baiklah kita lakukan besuk malam di mana bulan purnama muncul, bayi Gendruwo itu lahir" ucap Arum mantap.
"Baiklah, aku pulang dulu, menyiapkan malam ini" Cakra bergegas pulang.
Malam yang di tunggu tiba cakra menunggu di rumah Winarsih beraa Pak Rebo dan semua keluarganya, Nimaspun juga ada di sana.
"akhhhhh...akkkrhhhh...gerrrrrrr" suara Winarsih mengerang seperti suara harimau, ternyata Winarsih kesurupan.
"Astaga, ayo Pak pegangi tangan dan kakinya saya doakan dulu" Cakra mengambil gelas yang ada disamping winarsih dan di bacakan mantra - mantra.
Sunmanta aji -ajiku bla...bla. Kemudian menyiramkan air doa ke seluruh badan Winarsih, ahirnya Winarsih tenang.Tak berapa lama bertepatan dengan bulan purnama winarsih pun mengejan kesakitan seperti akan melahirkan. Semua orang pun panik, tapi Cakra dan Pak rebo menenangkan semuanya dan meminta membaca doa bersama, tepat tengah malam bayi gendruwo lahir akan tetapi melewati perut Winarsih yamg ahirnya jebol disitulah detik terahir winarsih melihat dunia.
"Inalilahi wainailahi rojiun" ucap Pak Rebo yang melihat Winarsih meninggal.
"Kikikikikiok...kikikikkikok" suara bayi Gendruwo yang terbang keluar setelah lahir.
__ADS_1
"ayo kita kejar" ucap Cakra sembari berlari keluar rumah di ikuti Pak Rebo Nimas dan lain -lain.
"Mas cakra hati- hati mas" teriak Nimas yang khawatir dengan suaminya.
"iya, Nimas! awassssssss! merunduk !" teriak Cakra yang melihat bayi Gendruwo di belakang Nimas tepat di belakang leher siap menghisap darahnya dengan taring yang tajam.
"ahhhhhhh" Nimas dengan refleks menjerit kemudian menundukan kepalanya.
"biadap kesini kamu" Cakra lari ke arah Nimas siap membabat bayi Gendruwo tak di sangka bayi itu bisa menghindar dan mendarat tepat di leher Cakra.
"Aghhhhhhhh...cukup jangan ada yang kesini... biarkan.maafkan aku Nimas maaf jangan salahkan Arum aku yang meminta, Arrrr...u...m lak...la...kukkk" Cakrapum tumbang dengan darah segar yang mengucur dari lehernya karena di sedot bayi Gendruwo. Cakra berbicara tidak jelas, terputus putus membari kode ke Arum yang dari tadi siap menunggu waktu yang tepat.
"Akhh tidak masssss" Teriak Nimas histeris dia meronta di pegangi oleh Pak Rebo dan yang lain.
"Jadi ini rencanamu nak demi anak istrimu kamu mamang lelaki, kamu memang mantuku terimakasih" ucap pak Rebo yang tidak bisa menahan air matanya.
"Ciaaaa wussssssssss" Arum secepat kilat terbang dan memusuk bayi Gendruwo tembus ke dalam leher Cakra yang kemudian membuat keduanya kehilangan nyawa.
Tetapi di ahir Cakra mengucapkan terimakasih dan menitipkan. Nimas serta anak cucunya.
"Dasar bangsat hantu sialan kamu membunuh suamiku, kamu tega apa karena kamu memyukai suamiku, pergi kau jangan pernah menampakan wujudmu di depanku lagi selamanya...selamanya" Nimas yang histeris terus mengupat tanpa tau sebabnya.
Tiba di salah satu peristiwa yang amat menyakitkan di mana, Arum menusuk laki - laki muda seperti yang mereka rencanakan di malam berikutnya, dimana disitulah Eyang Nimas meluapkan semua kesedihanya serta melupkan amarahnya.
"Hemmm" Arya yang tidak kuat melihat peristiwa demi peristiwa terjatuh kelantai dengan memegang dadanya yang terasa tersayat - sayat.
"Itulah peristiwa demi peristiwa sebelum dirimu ada, mungkin inilah jawaban kau kesini" ucap Mbah Lempung dengan nada halus.
__ADS_1
"Yah mungkin ini juga kenapa, ada yang aneh dengan Arum saat aku berpamitan ingin pulang kampung mengunjungi Eyang" arya dengan nada bimbang dengan memendam kesediha bangkit menuju jendela sembari memamdangi pepohonan bergonyang lembut tertiup angin.
Bersambung....