
"Mari kuantar, pegang...." dengan cepat noni belanda yang bernama Arum tadi memegang tangan Arya, mengajaknya terbang melewati dunianya. Tak butuh waktu lama Arya pun sampai di depan teras rumahnya.
"Wooo dasar setan prawan kesepian!dadi kowe sek nyulik putuku?" artinya ( woo dasar setan prawan kesepian,, jadi kamu yang menculik cucuku). Suara lantang eyang yang sudah menunggu dari tadi di depan teras, dengan mulut komat kamitnya membaca mantra.
"Enak saja dasar nenek peot!kolot!" tanya saja cucumu aku menculiknya atau aku malah menyelamatkanya...dasar nenek peot!" jawab arum dengan nada ketus dan gayanya yang sok.
"Heh dasar...setan prawan dari dulu nadamu masih begitu saja membuat orang emosi" Eyang menjawab Arum sambil meyeret Arya ke sampingnya.
"Arya sayang jawab Eyang tadi Arya kemama le? apa bener kamu di culik hamtu perawan ini?
ayo le jangan takut katakan nenek disini" suara Eyang yang lembut sembari merunduk di depan Arya dan memegangi kedua tangan Arya.
"Tidak eyang bukan Arum" jawab arya dengan polosnya.
"jawab saja Arya tidak usah takut ada eyang, hantu prawan ini takut dengan nenek" Eyang dengan muka serius masih mendesak Arya dengan tatapan berharap Arya mengatakan ya.
"Dasar nenek peot...selalu pemaksaan tidak mau mendengar penjelasan orang" sahut Arum dengan tangan di lipat di depan dada dan gaya tengilnya.
"Emang kamu orang?" sahut eyang dengan wajah mengejek
"E eh bukak sih?" dasar nenek peot.
"Bener eyang bukan arum yang menculik Arya, arum malah yang mengantar dan menyelamatkan Arya dari Gendruwo, yang akan memakan arya" sahut Arya di tengah debat Arum dan Eyang dengan nada agak keras dan muka yang serius.
"Baiklah le kamu menang, coba ceritakan kepada eyang apa yang terjadi kepadamu tadi?" jawab nenek kembali berdiri dengan mengelus rambut Arya.
"Tadi pagi saat Arya duduk di kursi goyang sabil melamun, ada seorang perempuan bertanya kepada Arya, dia menanyakan Arya mau bagaimana...dll". ( tadi ya critanya ada di episode pertemuan 1 )
cerita Arya panjang dan lebar.
"Emmm yo yo yo leb eyang mengerti" sahut eyang sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Begitu eyang, jadi Arum yang menyelamatkan Arya" jawab Arya dengan melihat kepada Arum yang dari tadi juga serius mendengarkan.
"Ya sudah leh hari sudah mulai sore, kamu masuk mandi kemudian sholat mahrib" jawab Eyang mengarahkan Arya masuk rumah sembari mengelus rambut Arya dengan lembut.
Kembali ke Arum dan Eyang.
"Heh hantu prawan, aku bukan mau berterimakasih kepadamu tapi aku mewakili cucuku, tidak sudi aku meminta maaf kepadamu, maturnuwun" Maturnuwun dalam bahasa jawa adalah trimakasih. Suara eyang yang lantang dengan nada sombong sambil melihat Arum dengan sekilas.
"Ihhh dasar nenek peot angkuh, kalau aku tidak mengingat kita pernah bersahabat akupun engan menyelamatkan cucumu...dasar nenek peot, biarlah cucumu mati di makan Gendruwo!" jawab Arum dengan membuang muka dan memyilangkan tangan di depan dada.
"Dasar hantu perwan masih pangil aki nenek peot nenek peot, dulu aku juga pernah cantik dan imut, hanya saja sekarang seperti ini dan di makan usia...aku kan hidup bukan seperti kamu dasar hantu perawan" Eyqng membalas Arum dengan spontas seperti halnya orang yang mempunyai dendam.
__ADS_1
"Dasar si tukang sirik saja...hantu perawan Arum kan memang yang nomor satu primadona dunia fana dan dunia gaib" sahut Arum kemayu dan dengan gaya sok cantik dengan melengak-lenggokan badanya
"Kamu...yah kamu memang seperti itu,,, dulupun juga begitu" jawab eyang dengan nada rendah dan bergetar seperti mengingat sesuatu yang teramat getir di masalalu.
"Bukan seperti itu.... " jawab Arum dengan nada yang sama getirnya.
"Pergilah rum... anggap kita tidak kenal seperti dulu, itu lebih baik, pergilah" jawab Eyang dengan nada lirih sembari mengayunkan kedua tanganya isyarat untuk segera pergi.
Eyang pun minggalkan Arum dengan muka yang kosong dengan lamunan yang terasa amat menyakitkan.
Kembali ke 40 tahun yang lalu di mana kehidupan kampung yang masih sangat asri. Di desa wilayah jawa. Disana masih banyak hutan serta sungai,rymah penduduk desa pun masih menggunakan kayu serta bambu untuk dindingnya, di suatu malam di sebuah langar/ mushola banyak para remaja yang pulang mengaji setelah mahrib, salah satunya Eyang.
Setelah pulang eyang dan salah satu temanya pun pulang mereka berdua melewati jalan setapak dengan di kelilingi hutan bambu, dengan mengunakan obor.
"Win kok perasaanku ora penak yo, koyo arep terjadi sesuatu karo awak dewe ( artinya Win kok perasaanku nggak enak ya kayak mau terjadi sesuatu)" ucap Nimas(Eyang Arya bernama Nimas) dengan nada takut.
"Walah kamu itu mas,kayak nggak biasanya saja lewat sini, setiap hari juga lewat sini" nada Winarsih dengan nada seoalah - olah santai padahal dia juga sama takutnya dengan Nimas(nama eyang Arya).
"serius Win, aku kok ndak kayak biasanya ya kayak ada yang aneh dengan hari ini,,, Win apa bener kamu itu ngak merasakan apa yang aku rasakan?" jawab Nimas dengan suara gemetar aembari menglendot Winarsih
#Sekedar catatat ya memang dulu Eyang Arya sangat penakut sekali.
"Walah wis to mas sebaiknya kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa - apa" ucap Nimas dengan nada sedikit bimbang.
"Hemmrrmm grrrrrrrrrrrrrr" suara menakutkan seperti suara harimau yang besar.
"Win kamu dengar nggak" ucap Nimas semakin gemetar dan erat memegang Winarsih
"Apa sih mas udah nggak usah kamu dengarkan kita lewat saja" jawab Winarsih dengan nada agak sedikit kesal.
"Grusakk grusak" suara seperti sesuatu lari di semak semak daun bambu kering.
Sontak winarsih dan nimas pun berlari entak ke arah manah dan terpisah mereka lari sejadi - jadinya, Nimas pun berlari ke arah kuburan belanda sedangkan Winarsih berlari ke arah sungai.
"Hah hah hah,dimana aku kenapa aku lari kesungai" ucapan Winarsih dengan nada terengah - engah setelah berlari.
"Hahaha bocah ayu, arek mlayu nandi kowe nduk, mreneo ng aku tak dadek.e bojoku " yang artinya( Hahah anak cantik, mau lari kemana kamu nak, kesinilah aku jadikan kamu istriku. Suara mahluk besar nan seram.
"Sii...si...siapaa kamu keluarlah!" jawab Winarsih dengan nada takut dan gemetar.
"Haha aku gendrumo mbah wiro" suara yang besar dan menakutkan di sertai munculnya sesosok makhluk seram dengan bulu di sekujur tububnya, mulut yang di penuhi taring panjang serta air liur yang menetes.
"Waaaaaaa tolong...siapapun tolong" sontak winarsih pun menjerit dan berlari.
__ADS_1
"Hahaha jangan lari anak ayu anak cantik, kemarilah...hahaha" nada suara yang garang dan kasar Gendruwo mbah Wiro terus memanggil Winarsih.
"Tidak pergilah apa salahku..." sahut Winarsih dengan nada terengah-engah dan masih terus berlari.
"Hahaha tidak ada yang salah dengan mu anak manis hanya saja...kamu terlalu ayu, aku sudah lama memgincar mu dan temanmu Nimas, aku suka dengan dia, tetapi apalah dayaku dia pergi berlari ke kuburan belanda itu, makanya aku mengambilmu tak apalah jika kau tidak memiliki kanuragan. Seperti biasa, setidaknya kamu ayu, hahahaha" ucap Gendruwo dengan nada ganas dan besar membuat bulu kuduk berdiri.
"Tidak aku tidak mau jadi istri mahluk jelek sepertimu, pergi!" jawab Winarsih masing dengan berlari sejadi jadinya dan entah kemana.
"Hahaha, kemarilah Winarsih aku akan memperlakukanmu dengan baik dan lembut pasti juga akan memuaskanmu" jawab Gendruwo dengan sumringah.
"Tidak kumohon ahh...bruk" suara pasrah Winarsih yang jatuh dan semakin lemas.
"Cukup menyerah saja anak manis kemarilah... kemarilah Winarsih... hahahaha, akan kuperlakukan kamu dengan lembut, ahahaha" nada Gendruwo yang semakin lembut, tenang seakan menghipnotis siapa saja yang mendengar.
"Tidakkk tii... tii...dak...baikla...aku akan kesana kekasihku" ucap Winarsih yang tak hayal juga terhipnotis oleh suara Gendruwo yang tadinya tidak mau sekarang menjadi mengikuti perintah Gendruwo.
Singkaat ceritaa Winarsih pun di bawa ke alam gaib dimana mahluk seperti gendruwo tinggal.
Kembali ke Nimas di dalam kencangnya dan tiada arah Nimas berlari Nimas pun berlari ke dalam kuburan belanda yang terkenal keangkeranya.
"Brukkk buk bukk,aduh" Ucap Nimas yang terjatuh karena tersandung sebuah gundukan kuburan yang sudah tua dan dihiasi lumut serta batuan - batuan kecil.
"Ahhh dimana ini, ya allah dimana, ya allah gusti" ucap n Nimas dengan gemetar seakan dunia berhenti.
"Huuussssss huuuuuussssshussssss" suara angin yang seakan tidak bersahabat dengan kedatangan Nimas.
"Blet...blet...Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht (Lagu belanda jaman dulu yang sering diiringi dengan gamelan). Terdengar suara sesuatu yang terbang diiringi lantunan lagu belanda diiringi gamelan dengan lirih, yang membuat hati semakin merimding.
Nimas pun memberanikan diri berjakan mencari jalan keluar, tak di sangka Nimas malah berjalan semakin jauh kedalam kuburan belanda.
"Ahhhh aduh...buk, ah apa ini" Nimas terjatuh lagi kali ini Nimas menyandung sebuah peti yang yang terbuat dari batu yang besar.
"Ya allah gusti apa lagi ini,harus bagaimana ini" ucap Nimas semakin ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa.
Tetapi di tengah tengah ketakutan Nimas rasa penasaranya lebih besar, mengalahkan rasa takutnya, Nimas pun mendekat kemudian mengintip apa yang ada di dalam peti tersebut yang sedikit terbuka karena tersandung nimas tadi. Di saat Nimas ingin membuka lebih lebar, ia melihat sosok wanita noni belanda yang berwajah cantik, Nimas pun terkejut dengan refleks langsung menjauh tetapi tangan Nimas tergores batu nisan dan darahnya menetes ke dalam peti dan mengenai sosok mahluk yang memiliki wajah cantik tersebut.
"Ahhhh aduh sakit" sontak Nimas merintih kesakitan karena tergores batu nisan dengan luka cukup dalam, tak berfikir lama Nimas menyobek krudungnya dan membalut lukanya.
Nimas pun melanjutkan perjalanannya mencari jalan keluar, belum berjalan lebih dari tiga langkah terdengar gesekan batu yang seakan terbuka. Nimas pun menengok kebelakang karena penasaran.
"Ya allah gusti...apa lagi itu ya allah, apa salahku" Nimas ambruk dan menangis sejadi -jadinya....
Bersambung.....
__ADS_1