
Bodohnya Alexa, kenapa bisa sememalukan itu? Alexa rasanya ingin mengubur wajahnya dalam-dalam agar tidak menatap wajah Jack. Bagaimana tidak, saat perjalanan pulang dari sesemakan mulberry itu, Alexa harus terjatuh kedalam lumpur sambil menarik kerah baju Jack sehingga menyebabkan mereka terjatuh bersamaan kedalam lumpur yang bercampur dengan kotoran kuda, ieewwwhh menjijikkan sekaligus menjengkelkan.
Tapi, Alexa masih terus saja memikirkan si menyebalkan Axe. Apakah ia akan benar-benar datang? Atau mungkin Axe mengabaikan perkataannya tadi? Yang jelas Alexa sedang serius berkutat dengan buku sejarah di tangannya sambil duduk di sofa pinggir jendela.
"Hei!" suara setengah berisik itu datang dari arah jendela, Alexa memeriksa sebentar lalu kembali menatap lembaran buku di tangannya.
"Hei, Wasserprinzessin!."
Shit! Suara itu lagi, namun Alexa mengabaikan.
"Bodoh!" dengan kesal Alexa mengalihkan wajahnya ke jendela, namun terhenti...
Deg!
Wajah si pria bersayap yang menjengkelkan itu tepat berada di depan wajah Alexa, sangat dekat sekitar dua senti saja, bahkan hidung mereka hampir saja bersentuhan, OMG! Mata birunya terlihat jelas sekali dari sini.
Keheningan berlanjut, mereka tak bergerak dan tetap dalam posisi itu lalu sesaat kemudian tangan Alexa mendorong keras dada Axe, Alexa yakin bahwa wajahnya pasti sudah memerah saat ini, ia berusaha menutupinya dari pandangan Axe.
Sedangkan Axe? Ia masih diam sembari mengusap hidung mancungnya sambil mengukirkan seulas senyum di wajahnya.
"Gagak bodoh sialan! Kenapa kau muncul tiba-tiba?!" siapa lagi kalau bukan Alexa, ia melotot tajam dengan wajah yang masih sedikit memerah.
Axe terbahak melihat wajah mungil itu, "Heh! Kau tidak mempersilahkanku masuk? Etika macam apa ini? Seorang Wasserprinzess membiarkan tamunya menunggu di luar jendela?"
"Kata siapa? Lagipula kau bukan tamuku," ucap Alexa ketus.
"Kalau begitu aku pergi sa--"
"Eiiittss!! Tunggu!" Alexa mencekal pergelangan tangan Axe, saat Axe menatapnya ia kembali terlihat kesal.
"Masuklah!" titah Alexa, tanpa ragu Axe langsung melompat masuk dan memposisikan dirinya untuk duduk dengan santainya di kamar putri Royal itu.
"Jadi bagaimana?" tanya Alexa dengan canggungnya.
Axe yang tidak paham malah balik bertanya "Apanya yang bagaimana? Coba jelaskan kepada malaikat tampan ini," Axe membuka setoples kue kering di atas meja nakas dan melahapnya ganas.
Yang benar saja, dia lebih tampak seperti burung gagak jelek ketimbang seorang malaikat. Tapi Sejujurnya dia lumayan tampan juga, hanya saja menyebalkan.
"Maksudku kau itu sebenarnya apa? Dan urusanmu denganku apa?" Tukas Alexa melanjutkan sambil memegang dagu mangut-mangut.
TLAK!
Axe menjentikkan jemarinya, "Pertanyaan bagus, tapi ... Aku tak mau jawab." dengan santainya Axe mengatakan itu tanpa melihat wajah berang dari Alexa.
Tak tinggal diam Alexa mengambil bantal sofa dan melemparkannya tepat di kepala Axe hingga membuatnya meringis, "Aku serius Axe! Sekali lagi kau mempermainkanku kau akan merasakan sepatuku ini di tengkorakmu!"
__ADS_1
Lucu sekali, urat-urat di dahi Alexa mengeras dan menegang dengan wajah yang memerah padam.
Axe tersenyum, "Kemarilah, duduklah di sampingku dan dengarkan," Alexa menurut kemudian duduk di sebelahnya.
...📑📑📑...
Pada zaman yang berbeda dan di dimensi yang berbeda pula, hidup lah sebuah peradaban di mana kelompok Demons yang bermusuhan dengan golongan Putih atau bisa juga disebut Angel.
Di era permulaan golongan Demons dipimpin oleh seorang ratu bernama Lucy, namun tetap saja golongan itu tunduk pada sekte Putih.
Sebagai kaum dengan derajat tinggi, golongan Angel menyimpan harta istimewa dengan kekuatan luar biasa untuk masa depan, namun rasa iri dan tamak kaum Demons yang ingin memilikinya berencana merebut benda itu, tetapi dijaga ketat dan mereka mendapat sanksi keras sehingga membuat citra kaum Demons menjadi terinjak-injak.
Pada suatu ketika suatu ketika Lucy yang merasa kaumnya diperbudak memberontak ingin memisahkan diri, tentu saja hal itu tidak diterima oleh Dewa Agung Angel sebagai pimpinan seluruh makhluk immortal.
Perang pun berkecamuk diantara dua kubu, sehingga menyisakan akhir para kaum demons pemberontak dibantai habis-habisan sebagai hukuman.
Akibat perang itu, semesta terancam hancur. Sebelum akhir hayatnya Dewa Agung membuang benda itu ke bumi, dengan harapan agar benda itu tidak lagi menjadi alasan kehancuran dunia immortal.
Namun tanpa diduga, kaum demons mengetahuinya. Mereka mencari dan mengincar benda itu, benda yang terselip di antara hiruk pikuk bumi, harta karun yang hilang.
...📑📑📑...
Alexa seolah tertarik masuk kedalam cerita Axe, ia terhanyut semakin dalam ke dalam cerita. Matanya terlihat panik, keningnya berkeringat, ia dapat melihat dengan jelas ruang pembantaian itu, erangan mereka pun juga terdengar jelas bersahut-sahutan.
"Hei bodoh! Kau kenapa?! Bangun lah!" Axe mulai panik, ia mengguncang-guncang tubuh Alexa, namun tak ada respon. Tubuh Alexa terlihat kosong dan hampa, seperti tak ada nyawa yang mendiaminya.
Perlahan-lahan bayangan akan kejadian tadi memudar, Alexa mendengar samar-samar suara Axe memanggil dari kejauhan.
"Alexa! Are you there?!" Alexa seketika terhentak bangun dari lamunannya sambil memegang pelipisnya yang terasa nyeri.
"Alexa, kamu masih di sana kan?" Ucap Axe pelan.
"Em ... Yah! Rasanya memuakkan," Alexa memijit pelan pelipisnya sambil sesekali menggelengkan kepala, berharap suara-suara itu keluar dari kepalanya.
"Hei! jangan bercanda, aku ini khawatir. Ini benar-benar kau kan, bodoh?" Axe masih terlihat cemas.
Mendengar ejekannya, Alexa memukul bahu Axe "Dasar gagak gila, menyebalkan sekali," raut wajah Alexa berubah cemberut.
"Enak saja, tampan begini mana bisa disebut gagak," Axe bergaya sambil memegang dagunya dan menampakkan seringainya.
"Ah iya, apa yang terjadi beberapa waktu lalu? Kau tadi seperti mayat hidup," tanya Axe menambahkan.
Alexa merenung kemudian menjawab, "Aku ... Aku seperti menyaksikan perang itu sendiri, pipiku terasa panas, bau asap menguar bersama teriakan makhluk-makhluk itu ..." mata Alexa menerawang jauh, seolah-olah nyawanya sedang melakukan perjalanan.
Axe terpaku, "Alexa apa kau mengingat masa lalumu? Masa kecilmu mungkin, atau ..." Lagi-lagi Axe terpaku, seperti mencerna potongan-potongan puzzle.
__ADS_1
"Eumm ... Aku tidak ingat, aku hanya ingat kematian Carlen, sebelum dan setelah itu aku benar-benar tak tahu," pandangan Alexa berubah murung.
Axe berdehem, "Hehehe, jangan terlalu dipikirkan, aku hanya penasaran tadi, maaf ..." merasa bersalah.
Alexa menatap Axe kemudian tersenyum, "Tidak apa. Oh ya, ngomong-ngomong apa hubunganmu dengan makhluk-makhluk immortal itu?"
Axe tergelak, "Menurutmu, makhluk apakah yang bisa terbang dan memiliki sayap serta tampan ini? Ternyata Putri Raja juga ada yang bodoh ya?" Sontak tangan Alexa memukul bahu Axe.
Axe tertawa lepas, sedangkan Alexa masih terus memukul bahu Axe tanpa ampun sambil tertawa kecil. Lelah tertawa, Axe menyadarkan punggungnya di bantalan sofa.
"Aku benar-benar tak bisa percaya, bisakah suatu makhluk yang hanya dipercaya di dalam dongeng benar-benar nyata? Maksudku ... Impossible, tapi aku tak menyangka kalian benar-benar ada, atau kau dan semua cerita ini hanya khayalanku, maksudku ... Bisa saja, toh sebagian orang menganggapku tidak war..." Axe meletakkan telunjuknya di bibir Alexa.
"Sssttt, kau terlalu banyak berbicara Babe, aku nyata, mau lihat sesuatu?" Sebuah seringai muncul menghiasi wajah Axe.
Sontak manik mereka saling beradu, waktu bak terhenti sejenak, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perut Alexa. Detak jantung mereka kian memburu, wajah Alexa pun terlihat bersemu.
"Ekhem!" Alexa berdehem berusaha menetralkan keadaan.
"Eh iya, sebentar," dengan sedikit gugup Axe berjalan dan berdiri beberapa meter dari tempat Alexa duduk.
Dengan percaya diri, Axe merentangkan tangannya di hadapan Alexa, seketika itu sayap Axe keluar dan merentang indah.
Alexa terpanah, ia memang sudah pernah melihat sayap itu sebelumnya, tapi tidak semenakjubkan ini.
"Bagaimana?" Axe kembali menampilkan smirknya.
"Luar biasa ... Maksudku biasa saja," Alexa mengalihkan pandangannya malu-malu, ia yakin wajahnya pasti sudah seperti tomat.
Axe terkekeh, "Jujur saja, kau pasti kagum, iya kan?" Axe berjalan ke arah Alexa dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Alexa, Axe sangat tampan. Sontak Alexa memejamkan matanya.
Satu detik ...
Dua detik ...
Tiga detik ...
Fyuhh!!
Hembusan napas Axe menyadarkan Alexa. ia tampak sedikit kaget, sedangkan Axe sudah menjauh sambil terbahak.
Malu? Jangan ditanya, bahkan wajah Alexa sudah lebih merah daripada tomat.
"Brengsek!!" Umpat Alexa.
"Kenapa, kau minta dicium?" dengan setengah tertawa Axe kembali duduk di samping Alexa.
__ADS_1
"Menyebalkan!" hanya itu yang bisa Alexa katakan. Malam itu mereka habiskan untuk berbicara dan tertawa layaknya teman pada umumnya, tidak! Mereka lebih mirip seperti sepasang kekasih bagiku.
......Haii para readers, vote dan comment terus ya! Author bakal sering update kok❤️......