
Gadis itu terduduk di sebelah jendela yang terbuka, jendela yang cukup besar sehingga menampakkan cahaya bulan yang bergumul dengan awan-awan.
"Alexa!" suara Barretta kini terdengar dari depan pintu.
"Aku datang." gadis itu membukakan pintu kemudian duduk di tepi ranjang.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu nona, tapi akan lebih baik jika ditemani segelas susu dan biskuit. Ini akan membuatmu sedikit lebih nyaman."
"Barretta, apakah aku penting bagi mama dan papa?"
"Tentu sayang, kau tak perlu meragukannya." kini Barretta mengelus-elus kepalanya.
"Tapi aku telah mengecewakan mereka, kuharap mereka mengerti.
Aku tidak--"
"Tidurlah! Minum susu mu, dan tidur dengan lelap. Mimpi indah sayang." kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kepala gadis itu.
...👑👑👑...
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" wanita itu menatap mata suaminya dengan Tatapan sendu.
__ADS_1
"Margaret, aku sungguh mengerti perasaanmu sebagai seorang ibu, tak ada cara lain Mein Liebe."
Tok tok tok
"Masuk!!"
Barretta masuk dengan langkah pelan dan membungkuk kepada dua orang dihadapan nya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya wanita itu, suara nya bergetar khawatir.
"Yang mulia." Barretta membungkuk lagi. "Masih sama, belum ada perubahan." gumamnya.
"Apa kita tidak terlalu keras?" kini Margaret mondar-mandir di ruangan.
"Dan kau boleh keluar sekarang." tunjuk pria itu pada Barretta.
"Baik yang mulia." Barretta membungkuk sekilas lalu meninggalkan ruangan.
Raja Adelrick terduduk di kursi kerjanya sambil menghela nafas, Alexa masih saja urusan paling serius baginya.
"Siapkan kuda! Aku akan segera ke Ritter untuk urusan politik," perintah Adelrick pada asisten pribadinya.
__ADS_1
Ratu Margaret berjalan mendekati suaminya, dalam hatinya ada rasa terpukul melihat penderitaan suaminya, "Mein Liebe kita harus membicarakan ini, Alexa sudah dewasa dan sudah sepantasnya ia bahagia,"
Adelrick membelai pundak istrinya sambil berlalu meninggalkan ruangan. Mata Margaret berkaca-kaca melihat kepergian suaminya, belum lagi putri semata wayangnya yang dalam kondisi tidak stabil. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Setelah raja berlalu, Margaret segera menuju ruang kerja pribadinya dengan diiringi oleh beberapa pelayan di belakangnya, ia memasuki ruangan dengan cat krem dan pernak pernik berwarna emas serta lantainya yang dilapisi karpet merah kerajaan.
"Aku mau menulis surat!" titahnya.
Dari ujung lorong tampak seorang wanita paruh baya membawa sebuah kotak, "Keselamatan bagi Ratu!" ucap wanita itu sambil membungkuk dalam sehingga membuat rok kembangnya bergelombang.
Margaret mengangguk kemudian duduk di sofa panjang kerajaan, wanita paruh baya tadi meletakkan kotak bawaannya ke atas meja di hadapan Ratu Margaret.
"Vivian, tolong ambilkan pena dan tintanya!"
Sontak wanita yang dipanggil Vivian itu mengangguk dan berlalu pergi sambil melenggang dengan roknya yang menyapu lantai.
Margaret membuka kotak dan mengeluarkan beberapa kertas dan dokumen-dokumen penting menarik sehelai kertas serta cap segel kerajaan.
Vivian kembali lagi dengan satu kotak yang berisikan beberapa pena dan sekaleng tinta yang sudah di tumbuk, ia meletakkan benda-benda itu di atas meja kemudian berdiri di samping sofa yang diduduki ratu.
Margaret mecelupkan penanya ke dalam tinta, dan mulai menulis kata demi kata di kertas putih itu, tangannya terus bergerak meniti kalimat yang mulai menjadi paragraf itu.
__ADS_1
*Mein liebe : cintaku/sayangku (panggilan sayang dalam bahasa Jerman).
...Haii para readers, vote dan comment terus ya! Author bakal sering update kok❤️...