KEKASIH SANG IBLIS

KEKASIH SANG IBLIS
Chapter 12


__ADS_3

Alexa melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, rasanya ini adalah hari paling melelahkan bagi Alexa. Pasalnya, bukan pesta menyenangkan yang didapati Alexa melainkan pertikaian antar kedudukan sari para Putri dan bangsawan muda.


Beatrice membantu mengangkat rok gaun di belakang Alexa, sembari sedikit menggerutu kecil hingga hampir tak terdengar.


"Tuan Putri Zelica itu sangat tidak sopan ya, aku sedikit kesal saat dia merendahkanmu di depan para tamu," tukas Beatrice saat mereka sampai di ujung tangga.


"Hmm, sudahlah Trice, selama itu masih dalam batas wajar sebaiknya tak perlu diambil hati." Alexa tersenyum geli melihat wajah Beatrice yang merah karena kesal.


Beatrice tetap tak terima jika majikan sekaligus sahabatnya itu dipermalukan, apalagi oleh di putri galak Zelica yan setiap kali berkunjung untuk membuat masalah.


Para pelayan di pintu kamar Alexa segera membukakan pintu, Alexa dan Beatrice segera melesat masuk.


Beberapa pelayan masuk membawa gaun malam untuk Alexa kenakan, matahari kian tenggelam, setelah Alexa berganti pakaian para pelayan berlalu.


"Ini sudah hampir malam, aku akan kembali ke kediaman Rose's, Ma'am! Panggil aku kalau butuh sesuatu," Alexa mengangguk, Beatrice segera melangkah pergi menuju istana.


Tinggal lah Alexa sendirian dikamarnya, menatap nayaka yang mulai suram dari jendela besarnya.


"Oh Axe, andai kau ada di sini, aku ingin bercerita," gumam Alexa tanpa melepaskan pandangan dari mentari yang menjingga di langit barat sana.


Sudah dua hari ini Axe tak lagi menemui Alexa, padahal Alexa sudah merasa sedikit akrab dengannya setelah malam itu.


Rasanya seperti dulu lagi, kesepian dan tak punya teman. Alexa menopang dagunya menhadap jendela dengan sedikit mendongak.


"Hei bodoh!" sontak Alexa terbangun dari lamunannya dengan spontan menoleh ke belakang.

__ADS_1


Alexa terbelalak kaget saat melihat Axe sudah duduk di atas ranjangnya sambil melahap roti kismis di stoples, "Sejak kapan kau di sana?"


Axe menjejalkan roti dengan cepat ke dalam mulutnya, "Sejak kau mengatakan kau merindukanku, Mine," gumamnya tak jelas sambil mengunyah roti di mulutnya.


Alexa terhenyak, "Kau terlalu percaya diri, aku hanya butuh teman kok!" Alexa memonyongkan bibirnya seolah merajuk.


Axe meletakkan stoples di meja nakas kemudian berjalan ke arah Alexa, "Hahaha! Aku dengar sendiri tadi, kau tidak bisa mengelak." cicitnya yang segera membuat pipi Alexa memanas.


Alexa tak menjawab, ingin rasanya ia membenamkan wajahnya ke bantal dalam-dalam, tapi ia segera membetulkan air mukanya sembari menggeleng ragu-ragu.


"Apa yang lebih indah dari bulan?" Axe tiba-tiba berujar setelah menyadari perubahan raut wajah Alexa, Alexa menggeleng pasrah.


"Kau tidak seru! sangat mudah menyerah, kau membosankan," Axe mendudukkan pantatnya di sebelah Alexa.


Alexa menggeleng, Axe menghembuskan nafas, "Kau sangat suka marah, kuharap kau tidak tersinggung pasal tadi."


Axe yang merasa suasana hati Alexa sedang tidak baik segera membetulkan duduknya, "Kau punya masalah? Kalau begitu ceritakan padaku, aku siap mendengarkan," Axe mulai serius dengan pembicaraannya.


"Eummm!" Alexa mengangguk, "Aku sedang kesal sepanjang hari ini. Kau tahu? Saudariku Zelica sudah kembali dari Mollova ... " Alexa menatap Axe.


Axe tersenyum simpul, "Lalu?"


Alexa kembali menghela nafas, "Aku akan mengikuti Kamp tahunan, dan aku belum siap untuk masuk ke keramaian," Alexa sedikit menunduk.


"Kau tau ...?" lanjut Alexa, "Aku masih belum benar-benar bisa untuk menyesuaikan diri, belum lagi rumor buruk tentangku yang tersebar di kalangan orang-orang," murung Alexa.

__ADS_1


Axe tersenyum, "Sekarang atau nanti, semua itu bukan tentang waktu, cepat atau lambat kau pasti akan harus keluar dari sangkarmu, Axe berdiri lalu berjongkok di hadapan Alexa.


"Jangan takut, aku bersamamu," Axe mengusap kedua bahu Alexa pelan.


Alexa mendongak menatap wajah Axe, sangat tampan dengan kulit putih dan hidung mancung khas romawi, "Axe ... Maukah kau menjadi temanku? Aku sungguh rapuh, maukah kau jadi pendengar setia ceritaku?"


Axe terlihat kaget pada wanita di depannya, ia tak menyangka kata-kata seperti itu bisa keluar dari bibir seorang Alexa, gadis yang merenggut hatinya kala malam perkelahian di bawah bulan purnama.


Mata Alexa berkaca-kaca, Axe menatap wajah bening yang seolah memohon itu, "Kenapa tidak? Aku sangat bersedia,"


Alexa langsung merengkuh tubuh Axe dan membenamkan wajahnya di dada bidang Axe, sungguh perlakuannya itu membuat jantung Axe berdebar.


Gadis itu sedang banyak masalah namun ia menutupinya, Axe tidak menyangka gadis itu akan memintanya menjadi sandaran.


"Axe!" gumam Alexa tanpa melepaskan pelukannya.


"Jika kau hanya khayalanku maka jangan menghilang, jika kau nyata ... Aku harap kau bisa menemaniku, bahkan jika kau mimpi sekalipun aku mohon tetaplah disini."


Damn!


Ada apa dengan gadis tolol ini? Malam ini dia terlihat begitu berbeda, bukan seperti biasanya, bahkan ia masih mengira Axe sebagai khayalan? Axe merasa separuh hatinya telah direnggut, oleh si Putri tidur yang cantik.


"Jika itu maumu, dengan senang hati. Aku bersumpah akan selalu bersamamu, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu, Mine." gumam Axe lirih, ia sedikit menggeser posisi Alexa.


Axe mengangkat tubuh mungil Alexa yang terkulai, Alexa tidur dengan lelapnya di pelukan Axe. Axe meletakkan Alexa di atas ranjang, menyelimutinya.

__ADS_1


Sangat mirip saat pertama kali ia menemukan Alexa, Axe mengecup pucuk kepala Alexa kemudian ia berlalu.


......Haii para readers, vote dan comment terus ya! Author bakal sering update kok❤️......


__ADS_2