
Perang Rusia-Turki 1877–1878 adalah perang yang terjadi antara Rusia, Romania, Serbia, Montenegro, dan Bulgaria melawan Kesultanan Utsmaniyah. Perang ini diakibatkan oleh bangkitnya nasionalisme di Balkan dan juga usaha Rusia untuk mencegah hilangnya teritori akibat Perang Krimea dan mendirikan kembali kekuasaan di laut Hitam. Akibat dari perang ini adalah merdekanya Bulgaria, Romania, Serbia dan Montenegro dari Kesultanan Utsmaniyah. Sebenarnya dulu Sebelum perang ini terjadi awal masalahnya Seperti ini.
Di abad 16, Rusia hanyalah sebuah kerajaan kecil di Eropa Timur. Karena kecilnya wilayah yang dimiliki, kerajaan Rusia selalu berusaha mengadakan perluasan wilayah dengan melakukan beberapa ekspansi militer. Ekspansi itu berhasil dan menghasilkan wilayah yang luas hingga ke daratan alaska.
Meski telah memiliki wilayah yang luas, tapi kerajaan Rusia tak banyak memiliki pantai yang potensial untuk perdagangan dan pelayaran. Pantai yang saat itu dimiliki kerajaan ini akan membeku ketika musim dingin tiba, dan menyisakan Laut Hitam yang masih bisa digunakan sebagai tempat kapal-kapal dagang berlabuh.
Posisi Laut Hitam yang sedikit menjorok ke daratan, membuat banyak kapal yang harus melalui Selat Bosphorus. Selat bosphorus sendiri adalah bagian dari kekuasaan kerajaan Ottoman (Turki), yang kala itu hubungannya dengan Rusia tidak terlalu baik.Maka untuk mendapat jaminan kekuasaan atas Selat Bosporus, Rusia berambisi mencaplok wilayah Ottoman yang berada di Semenanjung Balkan.
Kaisar Rusia kala itu, Tsar Nicholas I mempunyai kepercayaan diri yang tinggi bahwa Rusia akan menang dan berhasil mendapatkan wilayah Ottoman. Ia beralasan jika banyak penduduk di wilayah-wilayah Balkan memeluk agama Kristen Ortodoks, agama resmi kerajaan Rusia. Sehingga akan banyak penduduk Balkan yang mendukung Rusia.
Tsar Nicholas I juga mengatakan jika militer Ottoman sudah tak sekuat dan sehebat dulu. Ia mengatakan jika pesatnya perkembangan teknologi militer negara-negara di Eropa susah diikuti oleh Ottoman. Dengan kata lain, Rusia percaya jika peralatan militer mereka jauh lebih canggih dan mutahkir.
__ADS_1
Untuk bisa menguasai Ottoman, Rusia kemudian melakukan diskusi singkat dengan Perancis, Britania Raya, dan Austria untuk berkoalisi. Tapi bukannya kata sepakat, ketiga negara ini justru mendukung Ottoman. Ini dilakukan karena Britania Raya dan Ottoman memiliki kerjasama dagang yang baik, Perancis masih memiliki dendam pada Rusia, dan Austria khawatir tak bisa lagi menggunakan Sungai Danube.
Penolakan ketiga negara ini, tak membuat Rusia mengurungkan niatnya untuk mengekspansi Ottoman. Hingga akhirnya perang itu pun pecah di sekitar Krimea dan Semenanjung Balkan. Dalam perang ini, sekutu dari Ottoman bertambah dengan bergabungnya kerajaan Sardinia yang punya misi untuk menyatukan Semenanjung Italia melalui bantuan Britania Raya dan Perancis. Tak hanya itu, salah satu kerajaan di Nusantara ternyata juga turut andil dalam perang ini yaitu kekhalifahan Indonesia.
Bukan bantuan prajurit ataupun peralatan perang, Kekhalifahan Indonesia memberikan bantuan 2,000 dinar Indonesia atau sekitar 1,000,000 Dollar Spanyol kepada Ottoman. Karena bantuan ini, hubungan Kekhalifahan Indonesia dengan ottoman menjadi lebih baik. Kekhalifahan Indonesia diperbolehkan mengibarkan bendera Ottoman di setiap kapal dagangnya, serta mendapatkan bintang penghargaan dari ottoman bernama Majidie.
Dalam peperangan yang menjadi awal peperangan modern ini, Rusia mengalami kekalahan di berbagai lini. Tahu Rusia dalam keadaan terdesak dan berada di ujung kekalahan, Ottoman berambisi menguasai Sevastopol milik Rusia. Meski dilanda beberapa kendala, Ottoman dan kolisinya berhasil menaklukkan Sevastopol.
Perundingan damai yang dilakukan di Paris, Perancis sukses menghasilkan sebuah perjanjian yang dikenal dengan Traktat Paris pada 30 Maret 1856. Dan dengan disepakatinya perjanjian ini, maka berakhir pula perang Krimea yang telah berlangsung selama kurang lebih 3 tahun dan menewaskan lebih dari 350.000 jiwa.
Pasca berakhirnya perang Krimea, negara-negara yang terlibat perang melakukan beberapa perbaikan di berbagai lini. Britania Raya memperbaiki sistem keperawatan dan sanitasi dengan bantuan Florence Nightingale, Sardinia yang menyatukan Semenanjung Italia, dan Rusia yang mengadakan perbaikan besar-besaran di sektor militer.
__ADS_1
Perang memang tak banyak memberikan manfaat pada semua pihak yang terlibat. Tapi dari perang, pihak-pihak yang terlibat juga harus bisa mengambil pelajaran. Semoga apapun konflik yang terjadi antar negara di masa kini dan sekarang, perang bukanlah jalan akhir yang harus ditempuh.
Secara teori, monarki Rusia tidak terbatas, dan memang tidak ada jaminan, baik hukum maupun ekonomi, terhadap kekuasaan sewenang-wenang tsar. Namun, dalam praktiknya, tingkat kendali yang dapat ia lakukan atas kekaisaran secara efektif dibatasi oleh ukuran negara, kurangnya administrasi, dan konsepsi politik yang umumnya nonmodern . Akibatnya, sebagian besar penduduk jarang merasakan beban berat negara, yang membatasi kewenangannya sendiri pada pemeliharaan ketertiban dan pemungutan pajak. Beberapa subyek nyata tsar , seperti penduduk Siberia dan Cossack, tinggal di komunitas yang sepenuhnya otonom , hanya secara nominal di bawah otoritas tsar.
Kebijakan Ekspansi ke timur seperti Asia, menyebabkan Russia setelah berkonflik dengan Turki, harus berkonflik dengan Jepang. Perang Rusia-Jepang (10 Februari 1904 – 5 September 1905) adalah konflik yang sangat berdarah yang tumbuh dari persaingan antara ambisi imperialis Rusia dan Jepang di Manchuria dan Korea. Peperangan ini utamanya terjadi karena perebutan kota Port Arthur dan Jazirah Liaodong, ditambah dengan jalur rel dari pelabuhan tersebut ke Harbin.
24.844 terbunuh; 146.519 luka-luka; 59.218 tahanan perang; penduduk sipil Tiongkok tak diketahui di pihak Russia. 47.387 terbunuh; 173.425 luka-luka; penduduk sipil Tiongkok tak diketahui di Pihak Jepang.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, berbagai negara Barat bersaingan memperebutkan pengaruh, perdagangan dan wilayah di Asia Timur sementara Jepang berjuang untuk menjadi sebuah negara modern yang besar. Lokasi Jepang mendorongnya untuk memusatkan perhatian pada Dinasti Choson Korea dan Dinasti Qing di Tiongkok utara, sehingga membuat negara itu bersaingan dengan tetangganya, Rusia. Upaya Jepang untuk menduduki Korea menyebabkan pecahnya Perang Tiongkok-Jepang.
Kekalahan yang dialami Tiongkok dalam perang itu menyebabkan ditandatanganinya Perjanjian Shimonoseki (17 April 1895). Dengan perjanjian itu Tiongkok melepaskan klaimnya atas Korea, dan menyerahkan Taiwan dan Lüshunkou (sering disebut Port Arthur). Namun, tiga kekuatan Barat (Rusia, Kekaisaran Jerman dan Republik Ketiga Prancis ) melalui Intervensi Tiga Negara pada 23 April 1895 menekan Jepang untuk menyerahkan Port Arthur, dan belakangan Rusia (tahun 1898) merundingkan penyewaan pangkalan Angkatan Laut selama 25 tahun dengan Tiongkok. Sementara itu, pasukan-pasukan Rusia menduduki sebagian besar wilayah Manchuria dan Rusia maupun Jepang berusaha mengambil alih Korea.
__ADS_1
Setelah gagal mendapatkan perjanjian yang menguntungkannya dengan Rusia, Jepang mengirimkan sebuah ultimatum pada 31 Desember 1903, memutuskan hubungan diplomatik pada 6 Februari, dan mulai menyerang dua hari kemudian. Kedua pihak mengeluarkan pernyataan perang pada 10 Februari. Di bawah hukum internasional, serangan Jepang tidak dapat dianggap sebagai serangan tersembunyi, karena ultimatum telah dikeluarkan. Namun demikian, setelah serangan Pearl Harbor, sering kali dikatakan bahwa ini adalah salah satu contoh betapa Jepang suka melakukan serangan mendadak.