Kekhalifahan Indonesia

Kekhalifahan Indonesia
17. Pertempuran Tsushima


__ADS_3

Pertempuran Tsushima (bahasa Rusia: Цусимское сражение, Tsusimskoye srazheniye) atau Pertempuran Selat Tsushima adalah pertempuran laut terakhir dan paling menentukan sepanjang Perang Jepang-Rusia (1904–1905). Pertempuran terjadi di Selat Tsushima pada 27-28 Mei 1905 (14-15 Mei menurut kalender Julian yang waktu itu digunakan di Rusia) dan merupakan pertempuran laut terbesar di era kapal tempur Pra-Dreadnought. Pertempuran Tsushima dikenal di Jepang sebagai Nihonkai kaisen (日本海海戦, Pertempuran Laut di Laut Jepang).


Kronologi Pertempuran:


27 Mei 1905 (JST)


04:45 Kapal penjelajah Jepang Shinanomaru yang tergabung dalam Armada Gabungan Jepang sedang dalam misi khusus penyamaran. Awak Shinanomaru melihat Armada Baltik Rusia di perairan sebelah barat Kyushu dan mengirim telegram.


05:05 Armada Gabungan Jepang berangkat dari pelabuhan, dan mengirim telegram berisi ke Markas Besar Kekaisaran, "Hari ini cuaca cerah tetapi ombak sedang tinggi." (本日天気晴朗なれども波高し Honjitsu tenki seirō naredomo nami takashi) yang mengandung pesan terselubung tentang senjata yang akan dipakai.


13:39 Armada Gabungan Jepang melihat Armada Baltik Rusia dengan mata telanjang, dan segera mengibarkan bendera perang.


13:55 Jarak: 12.000 meter. Kapal tempur Mikasa mengibarkan bendera semboyan Z.


14:05 Jarak: 8.000 meter. Armada Gabungan Jepang memulai manuver untuk berbalik arah


14:07 Jarak: 7.000 meter. Kapal tempur Mikasa menyelesaikan manuver balik arah. Armada Baltik Rusia mulai menembak.

__ADS_1


14:10 Jarak: 6.400 meter. Seluruh kapal-kapal Jepang menyelesaikan manuver balik arah.


14:12 Jarak: 5.500 meter. Mikasa terkena tembakan.


14:16 Jarak: 4.600 meter. Armada Gabungan Jepang mulai memusatkan tembakan ke arah Knyaz' Suvorov yang menjadi kapal komando Armada Baltik Rusia.


14:43 Oslyabya dan Knyaz' Suvorov terbakar hebat.


14:50 Emperor Alexander III mulai berbelok ke utara dan berusaha melarikan diri dari pertempuran.


15:10 Kapal tempur Rusia Oslyabya tenggelam, sedangkan Knyaz' Suvorov berusaha melarikan diri.


19:03 Emperor Alexander III tenggelam.


19:20 Kapal tempur Rusia Knyaz' Suvorov, Borodino, dan Sisoy Veliki tenggelam.


28 Mei 1905 (JST)

__ADS_1


09:30 Armada Baltik Rusia kembali dalam jarak tembak Armada Gabungan Jepang


10:34 Komandan Rusia memberikan semboyan "XGE", berarti "Saya menyerah" dalam istilah Kode Semboyan Internasional yang digunakan waktu itu.


10:53 Pihak Jepang menerima penyerahan Rusia.


Pasca Pertempuran Tsushima Keempat kapal perang lain di bawah komando Laksamana Muda Nebogatov dipaksa menyerah pada hari berikutnya. Dari keempat kapal tersebut hanya terdapat satu kapal perang modern, kapal tempur Orel, sedangkan selebihnya merupakan kapal tempur tua Emperor Nikolay I, dan dua kapal perairan Apraxin dan Admiral Senyavin. Keempat kapal tersebut tidak akan mampu bertahan atas serangan armada Jepang. Hingga malam 28 Mei, hanya tinggal satu kapal Rusia yang dikejar armada Jepang. Kapal perairan Admiral Ushakov menolak untuk menyerah dan ditenggelamkan kapal penjelajah Jepang. Walaupun usianya sudah tua, kapal penjelajah Dmitri Donskoy berjuang melawan 6 kapal penjelajah Jepang dan bertahan sampai hari berikutnya, walaupun akhirnya rusak berat dan harus ditenggelamkan. Tiga kapal penjelajah Rusia, Aurora, Zhemtchug, dan Oleg berhasil lolos ke pangkalan AL Amerika Serikat di Manila dan ditahan. Di pihak Rusia, hanya kapal layar cepat Almaz (digolongkan sebagai kapal penjelajah kelas 2) dan 2 kapal perusak yang berhasil sampai di Vladivostok.


Rusia kehilangan hampir seluruh kapal Armada Baltik dalam pertempuran di Selat Tsushima. Pihak Jepang hanya kehilangan 3 kapal torpedo (Nomor 34, 35, dan 69). Peristiwa ini meruntuhkan prestise Rusia di dunia internasional, sekaligus pukulan besar bagi Dinasti Romanov.


Kapal perang pre Dreadnought adalah kapal perang generasi sebelum HMS Dreadnought diluncurkan oleh Inggris sekitar tahun 1906. Dijadikannya HMS Dreadnought sebagai patokan karena pada masa itu kapal tersebut mencerminkan perubahan pada rancang bangun, konfigurasi senjata dan lain lain yang berbeda pada masa kapal sebelumnya. Pada masa itu, sebagaimana masa sekarang diperlukan eksperimen untuk memperoleh kapal perang terbaik.


Hadirnya kapal perang sebelum HMS Dreadnought atau yang dikenal sebagai generasi pra Dreadnought tidak terlepas dari perkembangan kapal itu sendiri. Ketika memasuki masa Revolusi Industri yang diawali dengan penemuan Mesin Uap oleh James Watt, yang juga disusul dengan penemuan metode baru dalam pengolahan besi-baja oleh Henry Bassemer dan Siemens. Pada masa itu perkembangan teknologi kapal layar maupun kapal perang layar khususnya pada abad ke-19 sudah mencapai titik jenuh, salah satunya adalah hadirnya kapal layar jenis clipper yang memiliki kecepatan diatas kecepatan kapal layar dimasa itu. Selain itu, kapal-kapal membutuhkan lapisan yang lebih kuat untuk mengimbangi kekuatan tembakan meriam, sekaligus mengimbangi perkembangan teknologi meriam dan peluru meriam khususnya ketika ditemukan metode waktu tunda (time-delay mechanisme) oleh Henry-Joseph Paixhans, dimana peluru ini ditembakkan secara horizontal dengan kecepatan lebih tinggi dan menembus dinding kapal kemudian meledak dan mengakibatkan kebakaran besar di dalam kapal. Teknik yang diperkenalkan tahun 1840 ini kemudian diperagakan secara gemilang ketika Angkatan Laut Rusia mengalahkan Angkatan Laut Kekaisaran Utsmaniyah pada Pertempuran Sinop pada tahun 1853. Peluru meriam Paixhans ini kemudian dikembangkan oleh John A Dahlgreen dari Amerika Serikat pada 1854 dan digunakan pada Perang Saudara Amerika tahun 1861-1865. Hingga pertempuran laut Tsushima, penembakan meriam belumlah dilakukan secara salvo otomatis yang dikendalikan dalam satu kontrol kendali, melainkan dengan membidik dan menembak secara tersendiri yang dilakukan pada awak meriam, yang merupakan peninggalan dari penembakan meriam pada masa kapal menggunakan konstruksi kayu. Hal ini memerlukan keahlian tersendiri bagi para awak meriam untuk membidik dan menembak di dalam kapal yang berbeda dibandingkan di darat.


Penggunaan peluru jenis baru ini menggiring para perancang kapal untuk mengganti lambung kayu dengan lambung yang terbuat dari besi. Mulai tahun 1859 muncullah kapal perang berjenis Ironclad, yang menggunakan lambung dari besi dan menjadi awal dibuatnya kapal perang jenis armored frigate atau fregat bersenjata. Kapal ini menggunakan single gun deck atau dek tunggal dan digunakan secara khusus sebagai battleship.


Pertempuran itu dikenal sebagai Pertempuran Selat Tsushima atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Jepang sebagai Perang di Laut Jepang.

__ADS_1


Mikasa yang menjadi Kapal Pra-Dreadnought Jepang adalah saksi bisu dan pelaku pertempuran yang menyebabkan Jepang menang di Pertempuran Selat Tsushima dan Menenggelamkan banyak kapal Pra-Dreadnought Rusia yang terlalu percaya diri.


Mikasa (三笠) adalah sebuah kapal tempur pra dreadnought yang dibuat untuk Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada akhir 1890an, dan satu-satunya kapal dari kelas-nya sendiri. Kapal tersebut ditugaskan sebagai kapal bendera Laksamana Tōgō Heihachirō selama Perang Rusia-Jepang pada 1904–1905, termasuk Pertempuran Port Arthur pada hari kedua perang tersebut dan Pertempuran Laut Kuning dan Tsushima.


__ADS_2