
Kapal Perang Ironclad
Kapal yang dikatakan masuk dalam katagori ironclad warship adalah La Glorie buatan Prancis, meski demikian La Glorie tersebut belum sepenuhnya menggunakan lambung dari besi. Lambung kapal ini masih berkonstruksi kayu namun dilapisi metal untuk menahan tembakan musuh. Jenis Ironclad pertama sejati adalah HMS Warrior yang diluncurkan di Inggris pada 1860. Kapal ini merupakan kebanggaan dari Ratu Victoria.
Perkembangan berikutnya pada 1876 untuk pertama kalinya, Prancis meluncurkan Redoutable, yang kemudian diimbangi dengan Inggris. Seperti tidak mau kalah dengan Inggris, Prancis kemudian meluncurkan battleship tipe baru yang berkonstruksi baja yang digunakan untuk melindungi bagian lambung sekaligus menjadikan kapal ini paling superion dalam hal pertahanan. Redoutable masuk galangan kapal pada 1873 dan pengerjaan konstruksi baja dilakukan oleh Siemens dan selesai pada 1876. Inggris sendiri awalnya menggunakan konstruksi baja yang dilakukan Siemens, tetapi kemudian diganti dengan baja yang ditemukan oleh Henry Bassemer. Pengerjaan kapal fregat baja Inggris ini dimulai pada 1875 pada kapal HMS Irish dan HMS Mercury pada 1876. Pada perkembangan selanjutnya, persaingan kapal perang berkonstruksi baja tersebut diwarnai persaingan antara Inggris dengan Jerman. Sementara Amerika Serikat menginduk pada Inggris dan riset mandiri dalam rancangan kapal perangnya, Kekaisaran Rusia banyak mengadopsi rancangan Prancis yang dipadukan dengan meriam buatan Jerman. Sementara itu di kawasan Asia Pasifik muncul Kekaisaran Jepang yang memodernisasikan angkatan lautnya dengan kapal-kapal yang mayoritas menginduk pada konsep Angkatan Laut Inggris.
Di Amerika Serikat, perkembangan kapal perang besi ini juga menentukan dalam Perang Saudara Amerika, dimana pada 1862 terjadi pertempuran antara Monitor dari Union (Utara) dengan Merrimack dari Konfederasi (Selatan). Kedua-duanya terkena peluru lawan namun tidak sampai tenggelam. Sejak saat itulah perkembangan kapal perang dan persenjataan berkembang pesat dan muncul berbagai riset di dalamnya. Perkembangan Teknologi dalam bidang Radio, Listrik, dan Telegraf serta Mesin turut mewarnai perkembangan kapal-kapal perang sesudahnya. Namun demikian, hingga Pertempuran Laut Tsushima antara Rusia dengan Jepang pada 1905, perkembangan teknologi tersebut belum diujicoba dalam pertempuran yang sebenarnya.
Sebagai catatan, pada masa Perang Dunia II khususnya di mandala pasifik, Amerika Serikat banyak menggunakan kapal induk yang menggunakan konstruksi landasan dengan kayu jati. Hal ini memang memberikan keunggulan tersendiri khususnya untuk menekan bobot kapal, meningkatkan kecepatan dan kelincahan sekaligus juga tidak terlalu panas saat berlayar di lautan. Berbeda dengan Inggris yang menggunakan konstruksi baja pada landasannya. Kelemahannya adalah kapal ini mudah hancur dan terbakar ketika terjadi serangan, khususnya pada saat Jepang melakukan aksi Kamikaze dengan menabrakkan pesawat terbangnya ke kapal Amerika Serikat khususnya kapal induk yang mengakibatkan kerusakan hebat dan banyaknya korban jiwa di kalangan tentara dan pelaut-pelaut Amerika Serikat. Sementara armada Inggris yang juga mengalami serangan yang sama, tidak mengalami kerusakan yang berarti sehingga mudah diperbaiki selama kapal beroperasi. Sehingga perwira penghubung Angkatan Laut Amerika Serikat di dalam armada Inggris berkomentar bahwa ketika kapal Amerika Serikat terkena serangan kamikaze, cukup mengacaukan segalanya, maka dalam armada Inggris, komandannya cukup dengan memerintahkan
"tukang sapu, gunakan sapumu" untuk memperbaikinya.
__ADS_1
Mesin Uap
Perkembangan konstruksi kapal yang akhirnya menggunakan besi tidak terlepas dari perkembangan penggunaan mesin uap pada kapal. Tercatat Le Napoleon yang merupakan kapal perang atau battleship yang menggunakan mesin uap. Kapal ini diluncurkan pada 1850 dan dianggap sebagai kapal perang yang menggunakan mesin uap sejati. Inggris yang tidak mau kalah dengan Prancis meluncurkan kapal Agamemnon yang dibangun mulai 1840 dan digunakan pada 1853.
Pada awalnya, penggunaan mesin uap dilakukan untuk kapal-kapal kecil seperti kapal yang beroperasi di sungai-sungai. Sementara untuk kapal besar masih dikombinasikan dengan layar seperti yang dilakukan pada kapal perang Inggris, HMS Ajax pada 1846. Ketidakpercayaan pada mesin uap tersebut masih muncul pada kapal-kapal perang hingga pertempuran laut Tsushima dan diluncurkannya HMS Dreadnought dimana kapal-kapal perang menggunakan tiang-tiang layar yang digunakan bila bahan bakar batubara habis.
Ciri-ciri Kapal Perang Sebelum Pra-Dreadnought
Pada masa itu, kegunaan meriam meriam yang lebih kecil adalah untuk menagkal ancaman torpedo boat destroyer atau yang umumnya dikenal sebagai kapal perusak, dengan asumsi pula dapat menghancurkan torpedo lawan. Sementara meriam meriam besar digunakan untuk bombardemen. Pada masa itu, apakah sepucuk meriam dapat mengenai sasaran dengan tepak atau tidak bergantung sepenuhnya pada keahlian awak meriam.
Ciri lain pada kapal ini adalah masih digunakannya tiang-tiang layar meski menggunakan mesin uap. Tiang tiang layar ini digunakan bila sewaktu waktu batu bara atau bahkan kayu bakar habis
__ADS_1
Setelah Pertempuran Tsushima antara Angkatan Laut Jepang dengan Rusia yang dimenangkan oleh Jepang pada tahun 1905, disadari bahwa meriam meriam tingkat kedua dan ketiga sering dianggap sebagai beban daripada menunjang tugas-tugas kapal pembawanya karena ternyata penambahan meriam ukuran kecil merupakan suatu penyimpangan dari tradisi peranan kapal perang untuk membawa sebanyak mungkin meriam ukuran besar dengan daya tembak besar pula.
Post Dreadnought
Kapal perang Post Dreadnought adalah kapal perang generasi sesudah HMS Dreadnought diluncurkan oleh Inggris sekitar tahun 1906. Dijadikannya HMS Dreadnought sebagai patokan karena pada masa itu kapal tersebut mencerminkan perubahan pada rancang bangun, konfigurasi senjata dan lain lain yang berbeda pada masa kapal sebelumnya. Perancangan kapal ini berdasarkan para Pertempuran Tsushima pada tahun 1905 antara Kekaisaran Rusia dengan Kekaisaran Jepang yang mengakibatkan kekalahan Rusia dan merosotnya kedudukan Kekaisaran Rusia, khususnya dalam penguasaan kekuatan laut. Pada saat pertempuran itu pula, pertempuran jarak jauh dilakukan antar kapal perang.
Setelah Pertempuran Tsushima antara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dengan Rusia yang dimenangkan oleh Jepang pada tahun 1905, disadari bahwa meriam meriam tingkat kedua dan ketiga sering dianggap sebagai beban daripada menunjang tugas-tugas kapal pembawanya karena ternyata penambahan meriam ukuran kecil merupakan suatu penyimpangan dari tradisi peranan kapal perang untuk membawa sebanyak mungkin meriam ukuran besar dengan daya tembak besar pula.
Kapal Perang HMS Dreadnought
Kapal perang ini memiliki bobot 18.110 ton dibangun di galangan kapal Portsmouth, Inggris selama empat bulan yakni Oktober 1905 hingga Februari 1906. Kapal perang ini ditenagai mesin uap memiliki kecepatan maksimum 21 knot, lebih cepat daripada kapal perang umumnya di masa itu yang berkecepatan maksimun 18 knot. Memiliki sepuluh meriam berkaliber 12 inchi atau 300 mm. Sebelumnya, battleship hanya dipersenjatai satu baterai dengan empat pucuk meriam berkaliber lebih kecil.
__ADS_1
HMS Dreadnought dijadikan sebagai kapal bendera armada Inggris antara 1907 hingga 1912. Kapal ini dioperasikan Skadron Tempur ke-4 di Laut Utara pada Perang Dunia I. Pada 18 Maret 1915, kapal ini berhasil menghancurkan kapal selam Jerman U-29. Terhitung Mei 1916, Kapal ini digunakan Skadron Tempur ke-3 sekaligus menjadi kapal bendera. Pada tahun 1919 kapal ini kemudian dimasukkan dalam dinas cadangan dan pada 1922, kapal ini dijual dan dijadikan besi tua (di-scrap).