Kekhalifahan Indonesia

Kekhalifahan Indonesia
21. Pertempuran Afsluitdijk 1927


__ADS_3

“Bagaimana Misi Kalian untuk memecah belah Hubungan baik antara Turki dan Indonesia?” Seorang pria Belanda yang menjadi penyebab Utama Pecahnya Hubungan baik antara Turki Utsmani dan Indonesia dia bernama Van Spit seorang bangsawan berkebangsaan Inggris-Belanda.


“Memang sukses tetapi Republik Turki baru-baru ini disahkan, mereka meminta maaf pada Aliansi Negara Asia dan kembali Masuk” Pelayan Van Spit memberi tahu berita terbaru.


“Apakah ada berita terbaru lagi selain itu? Aku penasaran dengan Berita lainnya apalagi berhubungan dengan Kerajaan Belanda kita” Van Spit menanyakan lagi.


Pelayan itu agak takut untuk mencoba menceritakan tentang apa yang dilihatnya di Turki itu. Apakah dia harus menceritakan tentang kejadian itu? Kejadian yang ia lihat sebelumnya adalah sepuluh Armada Kapal Perang Asing yang melewati laut didekat Italia, kemudian bergerak ke perairan Spanyol, dan Terakhir kali ia bisa mengikuti Armada itu mereka berada di Inggris Raya.


“Tuan mungkin anda tidak suka berita ini karena ini sudah tersebar luas di seluruh dataran Eropa, yaitu Pemimpin bangsa Indonesia memerintahkan kepada Tentaranya dengan jumlah yang sangat besar terdiri dari 200,000 Orang, 500 Tank maupun pembawa personil, 500 Artileri, 150 Kapal Perang sekarang berada di Pelabuhan Inggris Raya dan mereka dijamin oleh Raja Inggris Raya” Van Spit tidak tahu kalau Inggris Raya dan Kekhalifahan Indonesia menjalin hubungan dagang sejak lama.


“Suck! Mereka akan melihat bahwa kekuatan Militer Belanda Akan jauh lebih kuat daripada orang-orang biadab itu!” Belanda memperkokoh Pertahanan di Pesisir pantai disepanjang jalur Pantai Belanda.


Bendungan Afsluitdijk menjadi Pertahanan Belanda untuk melawan Indonesia dalam Pertempuran yang akan datang. Afsluitdijk adalah bendungan dan jalan raya penting di Belanda. Bendungan sepanjang 32 kilometer ini menutup IJsselmeer dari Laut Wadden. Jalan raya di atas bendungan ini, yang merupakan bagian dari Rijksweg 7, menghubungkan Holland Utara dengan Friesland. Pada tahun 2009, setiap harinya terdapat kurang lebih 9.500 kendaraan yang melintasi bendungan ini. Di sebelah utara jalan raya terdapat jalur sepeda dengan lebar 4 meter yang juga digunakan kendaraan lain yang tidak boleh melalui jalan raya. Jalan ini tidak berada di titik tertinggi bendungan, namun di sebelah selatannya, sehingga Laut Wadden tidak dapat dilihat dari jalan raya.


Afsluitdijk merupakan bagian dari proyek Zuiderzeewerken. Proyek ini mulai dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada tahun 1932. Satu tahun kemudian Afsluitdijk dibuka untuk lalu lintas. Zuiderzeewerken (secara harfiah berarti Pengerjaan Laut Selatan) adalah proyek bendungan, reklamasi tanah, dan drainase air yang dilancarkan oleh Belanda selama abad ke-20. Proyek ini meliputi pembendungan Zuiderzee (laut kecil yang dangkal di Laut Utara) dan reklamasi tanah di perairan yang ditutup oleh bendungan. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan perlindungan dari banjir, Pertahanan Militer dan Mereklamasi untuk dijadikan Tempat Pertanian.


American Society of Civil Engineers menyatakan zuiderzeewerken dan deltawerken sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Modern.

__ADS_1


Laut Wadden (bahasa Belanda: Waddenzee, bahasa Jerman: Wattenmeer, bahasa Jerman Hilir: Wattensee atau Waddenzee, bahasa Denmark: Vadehavet, bahasa Frisia: Waadsee, bahasa Frisia Utara: di Heef) adalah sebuah zona intertidal yang terletak di Laut Utara bagian tenggara. Laut ini terletak di antara pesisir Eropa barat laut dan Kepulauan Frisia. Laut ini terbentang dari Den Helder di barat laut Belanda hingga batas utara Skallingen di Denmark dengan panjang 500 km dan luas sebesar 10.000 km2. Laut Wadden sendiri merupakan perairan dangkal dengan daratan lumpur yang diendapkan oleh pasang dan lahan basah.


Kondisi geografis Laut Wadden sangat dipengaruhi oleh tanggul-tanggul yang dibangun oleh manusia. Di Belanda laut ini terpisah dari IJsselmeer setelah pembangunan Afsluitdijk.


Pada tahun 2009, Laut Wadden di Belanda dan Jerman terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Laut Wadden di Denmark juga menjadi Situs Warisan Dunia pada Juni 2014.


Laut Wadden di Jerman menjadi latar novel The Riddle of the Sands karya Erskine Childers pada tahun 1903.


Siapa sangka kalau Laut yang tenang ini menjadi Zona Perang Lautan yang paling banyak memakan korban jiwa. Pertempuran itu melibatkan Inggris Raya dan Indonesia VS Belanda dan Belgia. Pertempuran itu dimulai ketika pukul lima pagi waktu setempat dimulai dengan Landing Platform dari Indonesia menyerbu ke Petten, Afsluitdijk, dan Dunkirk.


“ Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallah Wallahu Akbar!” Suara Takbir dari Para Tentara Indonesia yang menyerbu masuk ke Pertahanan musuh di Afsluitdijk.


“Guys! Attack with the Gatling Gun!” Pasukan Belanda sedang menyiapkan M1876 Gatling Gun Mereka disekitar pantai didekat Bendungan Afsluitdijk yang Akan Jebol.


“Don’t let them get past our Afsluitdijk Dam!” Warga sekitar dam mempertahankan wilayah dam karena jika Dam Jebol maka banyak kota-kota di Belanda akan tergenang oleh banjir Rob yang disebabkan meluapnya air laut.


“Get rid of that monkey pest!…” Perwira Tinggi Belanda dengan Percaya diri muncul di Bendungan Afsluitdijk dan akhirnya menjadi sasaran empuk bagi Sniper Indonesia.

__ADS_1


“One Hit! Bagus! Sepertinya aku mengenai Perwira Tinggi Belanda! Dilihat dari seragamnya Memang Perwira! Yee jika aku teruskan aku akan naik pangkat!” Seorang Sniper Indonesia yang ditemani oleh Perwakilan Inggris Raya di LPD ICN Singapura* (LPD: Landing Platform Dock).


“Wah! Senapan yang sangat akurat!? Bahkan jarak 2 kilometer dari Dam bisa kena dan membunuh musuh?” Perwakilan Inggris Raya itu memuji kinerja Senapan yang digunakan oleh Sniper Indonesia.


“Anda Benar! Senapan ini diberi nama SPR-50 yang dibuat oleh Pihak Pemerintah Kami, bahkan peluru dari senapan ini dapat menembus 100 mm Armor dalam jarak Efektif 1,000 meter” SPR-50 adalah M82A1 Barrett yang diperpanjang dan diperbesar buatan Indo Defense Development.


Sementara itu Para Prajurit Belanda panik saat Perwira mereka mati karena Sniper musuh. Warga yang merupakan Penduduk sekitar yang merupakan Mantan Sniper Terhebat di Eropa tidak menyangka jarak 2 kilometer dari Dam, Sniper Indonesia ada di sana yang membunuh Perwira Tinggi Belanda.


“Sfx: Det! Det! Det! Det! Det! Det! Det! Det! Det!” Suara Tembakan Beruntun Gatling Gun Belanda yang digunakan untuk membuat Musuh Mundur karena Fire rate yang tinggi. Tetapi Indonesia juga memiliki Gatling Gun sendiri.


“Balas tembakan mereka!” Sersan mayor dari Tentara Indonesia yang bersembunyi di balik Humvee memerintahkan kepada para tentara lainnya agar membalas tembakan Beruntun Gatling Gun Belanda dengan Gatling Gun milik TNI, Minigun 7,62 mm M134.


M134 Minigun adalah senapan mesin enam laras 7,62 mm, dengan tingkat tinggi tembakan (2.000 sampai 6.000 putaran per menit ). Fitur bergaya Barel Gatling berputar dengan sumber daya eksternal, biasanya sebuah motor listrik.


“M134 Minigun Siap! Para Tentara Indonesia… Mundur!” Sekitar pukul sepuluh pagi, 20 Jeep Humvee dengan M134 Minigun, Tentara Indonesia Harus segera mundur agar tidak terjadi Tembak teman sendiri atau Friendly Fire.


“Sfx: Brrrrrrrrrrrrt! Brrrrrrrrrrrrt! Brrrrrrrrrrrrt!” Serangan Balasan dari Tentara Indonesia Menggunakan Minigun 7,62 mm memporak-porandakan pertahanan Belanda di Dam Afsluitdijk.

__ADS_1


Pada Tengah Hari pada musim dingin di Belanda Tahun 1927 keadaan Cuaca yang sangat dingin, Dam Afsluitdijk dikuasai oleh Tentara Indonesia dan dan dijebol supaya Tentara Indonesia bisa menguasai Kota Amsterdam dengan cepat.


“Bomber dari ICN Nusantara sudah datang! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Jet Bomber dari ICN Nusantara berjumlah lebih dari 30 pesawat akan mengebom kota Amsterdam, Belanda.


__ADS_2