Kekhalifahan Indonesia

Kekhalifahan Indonesia
15. Pertempuran Sungai Yalu tahun 1904


__ADS_3

Port Arthur, di Jazirah Liaodong di selatan Manchuria, telah diperkuat Rusia hingga menjadi sebuah pangkalan Angkatan Laut besar. Jepang membutuhkan kekuasaan laut untuk berperang di daratan Asia, karena itu tujuan militer pertama mereka adalah menetralkan armada Rusia di Port Arthur. Pada 8 Februari malam, armada Jepang di bawah pimpinan Admiral Heihachiro Togo memulai peperangan dengan sebuah serangan torpedo mendadak pada kapal-kapal Rusia di Port Arthur, sehingga membuat dua kapal perang Rusia rusak parah. Serangan-serangan itu berkembang menjadi Pertempuran Port Arthur esok paginya.


Serangkaian pertempuran laut yang tidak memberikan hasil yang menentukan pun terjadi. Pada kesempatan itu, Jepang tidak berhasil menyerang Rusia dengan menggunakan meriam-meriam darat dari pelabuhan, dan armada Rusia menolak untuk meninggalkan pelabuhan itu dan pergi ke laut terbuka, khususnya setelah kematian Admiral Stepan Osipovich Makarov pada 13 April.


Pertempuran-pertempuran ini memberikan perlindungan bagi sebuah pasukan Jepang untuk mendarat dekat Incheon di Korea, dan dari sana mereka menduduki Seoul dan berikutnya seluruh Korea. Pada akhir April, tentara Jepang di bawah Kuroki Itei bersiap-siap menyeberangi sungai Yalu ke Manchuria yang saat itu diduduki Rusia.


Sebagai jawaban terhadap strategi Jepang yang memberikan kemenangan cepat untuk menguasai Manchuria, Rusia melakukan tindakan-tindakan penghalang untuk memperoleh cukup waktu untuk menunggu tibanya pasukan-pasukan tambahan yang datang melalui jalan kereta api Trans-Siberia yang panjang. Pada 1 Mei, pecahlah Pertempuran Sungai Yalu. Dalam pertempuran ini pasukan-pasukan Jepang menyerang sebuah posisi Rusia setelah mereka menyeberangi sungai itu tanpa menghadapi perlawanan. Ini adalah sebuah pertempuran besar pertama dari perang ini di daratan. Pasukan-pasukan Jepang bergerak maju dan mendarat di beberapa titik di pantai Manchuria, serta melakukan sejumlah pertempuran hingga memukul balik pasukan-pasukan Rusia ke Port Arthur. Pertempuran-pertempuran ini, termasuk Pertempuran Nanshan pada 25 Mei, ditandai oleh kekalahan besar Jepang dalam penyerangan kepada sejumlah posisi kuat Rusia, tetapi tentara Rusia tetap bersikap pasif dan tidak melakukan serangan balasan.


Di laut, perang ini sama brutalnya. Setelah penyerangan pada 8 Februari terhadap Port Arthur, pasukan Jepang berusaha mencegah pasukan Rusia menggunakan pelabuhan itu.


“Kita harus mencegah orang-orang Russia itu menuju Tanah Air kita! Bagaimanapun caranya kita harus bisa mencegah hal itu!” Seorang Prajurit Jepang menyemangati teman-temannya yang berusaha mencegah Invasi Russia ke jepang dengan modal Nekat.


“Tenno Heika Banzai!”


Sementara itu di Pihak Rusia, Para tentara sedang menggunakan taktik All out untuk maju ke depan dan upaya itu dihalau oleh orang Jepang yang mencegah mereka dengan sengitnya, suara Tenno Heika Banzai yang diucapkan oleh tentara Jepang setiap kali akan membunuh musuhnya membuat tentara Rusia terpukul.

__ADS_1


“Ternyata mereka lebih Nekat dan lebih semangat daripada pasukan kita! Bagaimana ini? Cepat! Aaa!” tentara Rusia ini sedang sembunyi dari liarnya tentara Jepang.


“Tenno Heika Banzai! Mati Kau!” Tentara Rusia yang malang, niatnya mau bersembunyi, tetapi malah ketahuan dan dibunuh oleh tentara Jepang yang nekat dan yang ia remehkan.


Pertempuran Teluk Chemulpo (Jepang: 仁川沖海戦 Jinsen’oki kaisen bahasa Rusia: Бой в заливе Чемульпо) adalah pertempuran laut pada Perang Rusia-Jepang (1904-1905), yang terjadi pada tanggal 9 Februari 1904 di pantai Incheon, Korea. Fase pembuka Perang Rusia-Jepang dimulai dengan serangan angkatan laut Jepang terhadap armada Rusia di Port Arthur, Vladivostok dan Chemulpo. Dengan hasil tersebut dimenangkan oleh Jepang, karena dibantu oleh Angkatan Laut Kekhalifahan Indonesia atas permintaan Kaisar Meiji, Jepang dipimpin oleh Uryu Sotokichi, sedangkan untuk Rusia dipimpin oleh Vsevolod Rudnev di pertempuran Teluk Chemulpo Korea.


Pertempuran Sungai Yalu, (Jepang: 鴨緑江会戦, Ōryokkō Kaisen) 30 April hingga 1 Mei 1904, adalah pertempuran darat pertama selama Perang Rusia-Jepang. Pertempuran pecah di dekat Wiju (kini desa Uiju, Korea Utara di Sungai Yalu, di perbatasan antara Korea dengan Manchuria China. Dengan Tiongkok juga pernah bertempur disana, melawan Dinasti Qing.


Pertempuran Sungai Yalu (atau Sungai Amnok) (Hanzi tradisional: 黃海海戰; Hanzi: 黄海海战; Pinyin: Huáng Hǎi Hǎizhàn) dalam bahasa Jepang disebut Kōkai-kaisen (黄海海戦) yang berarti Pertempuran Maritim di Laut Kuning. Pertempuran ini juga dikenal dengan berbagai nama: Pertempuran Pulau Haiyang, Pertempuran Dadonggou, dan Pertempuran Laut Kuning, sesuai dengan lokasi geografis terjadinya pertempuran yang berada di Laut Kuning di mulut Sungai Yalu, bukan di Sungai Yalu itu sendiri.


Sementara itu di Tempat yang agak dekat dengan sungai Yalu, Tank-tank dari Kekhalifahan Indonesia berbaris, MT Tiger Mk1 (di dunia nyata Harimau Kaplan), Anoa 6x6 APC dan Rhino Tank milik Indonesia, merupakan bagian dari Pasukan penghalau bersama Mk IV dan Renault FT milik Jepang.


“Apakah boleh saya menyarankan agar Menggunakan Salvo serentak pada saat yang sama seperti yang dilakukan oleh Oda Nobunaga? Dan jika ada yang menambahkan?” Tentara Jepang yang memiliki saran yang Efektif menyarankan kepada Sayuti Ahmad.


“Bagaimana setelah itu kita Maju secara langsung dan mengejutkan musuh dengan senapan mesin, sementara Tank kalian orang Jepang membantu Pasukan Garis depan menghalau Rusia dengan Mark IV dan Renault FT kalian?” Dennis Bandi menyarankan Supaya Tentara Jepang yang menjadi Bantuan serangan garis depan sementara itu Tentara Indonesia menawan pemimpin musuh di Garis belakang musuh secara langsung.

__ADS_1


“Tidak ada lagi yang memberi saran? Baiklah aku tutup pertemuan kali ini dan selamat bertugas, Hei Hei Ho!” Perencanaan itu ditutup dengan kesepakatan bersama.


“Hei Hei Ho! Hei Hei Ho! Hei Hei Ho! Hei Hei Ho! Berangkat!”


Tank Tentara Jepang mulai menghalau musuh sesuai dengan rencana, yang ternyata terbukti Efektif untuk melawan musuh-musuh, Tank Renault FT yang ringan dengan mobilitas tinggi dan sebagai bantuan serangan darat menjadi momok bagi orang-orang Rusia. Semangat juang yang tinggi dan Persediaan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari para personil membuat semangat juang mereka tidak menurun.


“Hyaaa! Lari selagi masih Bisa! Waa! Jangan bunuh saya!”


“Kami menyerah! Kami sudah tidak kuat” Tentara Rusia tunggang-langgang, banyak dari mereka yang akhirnya memilih menyerah.


Sementara itu di Kamp pasukan Rusia di Utara sungai Yalu, Pemimpin pasukan Rusia Vsevolod Rudnev memikirkan bagaimana mungkin Tentara Jepang yang awalnya agak lemah dibandingkan dengan mereka bisa kuat dan membuat pasukan Rusia di Sungai Yalu lari Tunggang-langgang dan banyak korban dari pihak mereka, pasukan Jepang mulai maju sementara mereka harus segera mundur agar tidak ditawan oleh pihak Jepang.


“Pak, gawat! Ternyata Jepang Mendapatkan bantuan dari Negara berbendera asing yang belum pernah kita lihat sebelumnya! Merekalah yang sekarang mengepung Kamp Kita dengan Tank-tank yang sangat kuat dan Tank-tank kita jebol terkena tembakan mereka dan tidak dapat membalas mereka, bagaimana ini?” Kadet yang menemani Vsevolod Rudnev menjadi khawatir atas pengepungan yang dilakukan oleh Musuh dan Pasukan Rusia sedang dikepung.


“Kamu bisa memilih Bunuh diri atau menyerah, itu terserah kamu, aku akan menyiapkan penyerahan diri!” Vsevolod Rudnev memilih menyerah karena Keluarganya masih menunggu kedatangannya dirumahnya.

__ADS_1


“Kalau anda menyerah, maka saya akan menyerahkan diri juga, karena anda saya anggap sebagai keluarga saya sendiri” Kadet itu ikut menyerah dan Pertempuran Sungai Yalu diakhiri dengan penyerahan diri Vsevolod Rudnev terhadap Tentara Indonesia dan Tentara Jepang.


Pertempuran ini dimenangkan oleh Party Of Asian Nation (PAN) yang beranggotakan Tiga Negara Asia yaitu Indonesia, Jepang yang keduanya ikut berperang melawan Rusia di Asia timur, dan Turki di Asia barat dan Eropa.


__ADS_2