Kekhalifahan Indonesia

Kekhalifahan Indonesia
8. Utusan Turki-Inggris untuk Kekhalifahan Indonesia


__ADS_3

“Kami diutus oleh Sultan Abdul Hamid II untuk menumpang kapal anda!” Filsuf Turki Utsmani Yazed Abdul Karim menumpang kapal Ferry Inggris bersama 59 orang lainnya.


“Kami tidak pernah membayangkan (bila kita tidak melihatnya berlangsung) bahwa seseorang yang dibesarkan oleh kami sendiri dan sangat diistimewakan oleh kami, di atas bawahan-bawahan lain di negeri ini, akan dengan amat hina melanggar perintah kami dalam kepentingan yang sangat menyentuh kehormatan kami ... Dan maka kesenangan dan perintah singkat kami adalah, dengan mengesampingkan semua penundaan dan dalih, agar anda segera berdasarkan kewajiban kepatuhan anda mematuhi dan memenuhi apapun yang diarahkan oleh pemegang jabatan atas nama kami. Agar anda tidak gagal, karena anda akan menjawab yang bertentangan atas risiko anda sendiri” Nahkoda Kapal Ferry Rotinsulu Charles tidak mau bertanggung jawab atas nanti jika ada masalah ditempat tujuan.


Abad 19, Tahun 1890 setelah beberapa tahun setelah Restorasi Meiji di Jepang, beberapa orang perwakilan negara asing seperti Turki Utsmani dan Jepang diundang oleh Khalifah Muhammad Al-Fatih Al-indunisia di Balikpapan Provinsi Kalimantan.


Orang-orang yang diundang adalah Yazed Abdul Karim Amrullah Turki Utsmani, Kaisar Meiji Dari Jepang dan Pangeran Edward VII Inggris perwakilan British Raj (India). Untuk Yazed Abdul Karim Amrullah dan Pangeran Edward VII dalam satu Kapal sekarang.


“Halo Tuan Yazid! Apa Sultan Abdul Hamid II mengutus anda? Turki Utsmani yang perkasa meminta bantuan pada Negara yang tidak dikenal” Pangeran Edward VII mengejek Filsuf Turki itu.


“Anda sebagai calon pemimpin suatu negara tidak sepantasnya berperilaku seperti itu!” Dua orang yang memicu keributan di Kapal Ferry membuat Para penumpang berkerumun melihat siapa yang bertengkar.


Pertengkaran antara dua orang perwakilan dari dua negara itu berakhir ketika badai besar di area yang berlokasi di arah tenggara British Raj (India). Armada pengawal Rombongan Inggris dan Turki harus melakukan protokol darurat badai. Semua penumpang kapal diwajibkan untuk duduk dan berpegangan pada apapun didekatnya.


“Awas Gelombang besar!” Kapal Perang HMS Drake tenggelam di Perairan Indonesia Samudera Indonesia.

__ADS_1


“Ya Allah tolonglah hambamu ini, Hentikanlah badai ini agar hamba bisa menyelesaikan amanah Sultan Abdul Hamid II” Melihat HMS Drake tenggelam, Yazed Abdul Karim berdoa.


Badai itu tidak lama kemudian berakhir, Kapal bendera Kekhalifahan Indonesia Battleship Yamato mulai muncul ke permukaan. Battleship Yamato dinamai oleh Angkatan Laut Kekhalifahan Indonesia yang merujuk pada Hotel Yamato di Surabaya. Hotel Yamato di Surabaya adalah simbol aliansi Indonesia dengan Jepang yang terjalin sejak lama.


2×3 46 sentimeter meriam Mark 7, 20 AK-630 CIWS, 4 Meriam Kaliber 12,7 sentimeter Mark 45 Mod 5, 10 Peluncur Guided Torpedo Bahamut, serta Peluncur Rudal balistik ICBM. Warna biru laut membuat Submarine Battleship ini tidak terdeteksi secara kasat mata dan Sistem Siluman yang dimiliki dapat menyamai Lingkungan disekitarnya, Sonar tidak akan bisa mendeteksi dia.


“This is the territory of the Caliph! You must follow us inside! And be polite and don’t do anything that is detrimental to yourselves “ Kapten Kapal itu menyelamatkan Kami yang porak-poranda karena badai tadi.


Samudra Indonesia adalah kumpulan air terbesar ketiga di dunia, meliputi sekitar 20% permukaan air Bumi. Di utara dibatasi oleh selatan Asia; di barat oleh Jazirah Arabia dan Afrika; di timur oleh Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, dan Australia; di selatan oleh Antarktika. Samudra ini dipisahkan dengan Samudra Atlantik oleh 20° timur meridian, dan dengan Samudra Pasifik oleh 147° timur meridian. Samudra Hindia atau Samudra India adalah satu-satunya samudra yang menggunakan nama negara yaitu Indonesia.


Total: 68.556 juta km²


Lautan: termasuk Laut Andaman, Laut Arab, Teluk Bengal, Great Australian Bight, Teluk Aden, Teluk Oman, Saluran Mozambique, Teluk Persia, Laut Merah, Selat Malaka, dan sebagainya.


Panjang Pantai: 66.526 km

__ADS_1


Titik ketinggian:


Titik terdalam: Palung Jawa -7.258 m


Titik terdangkal: permukaan laut 0 m


Pelabuhan: Calcutta (India), Chennai (Madras; India), Colombo (Sri Lanka), Durban (Afrika Selatan), Jakarta (Indonesia), Lampung, Aceh, Padang, Medan, Republik Indonesia,Karachi (Pakistan), Fremantle (Australia), Mumbai (Bombay; India), Teluk Richards (Afrika Selatan).


Rencananya HMS Drake adalah kapal utama dari kelas kapal penjelajah lapis baja yang dibangun untuk Royal Navy sekitar tahun 1900. Dia ditugaskan ke beberapa skuadron kapal penjelajah yang berbeda di perairan rumah setelah selesai, kadang-kadang sebagai kapal utama, sampai tahun 1911 ketika dia menjadi kapal utama di Stasiun Australia . Sekembalinya ke rumah, dia ditugaskan ke Skuadron Penjelajah ke-6 dari Armada ke-2 dan menjadi andalan skuadron ketika armada tersebut dimasukkan ke dalam Armada Besar setelah pecahnya Perang Dunia Pertama.


Kapal kelas Drake dirancang sebagai versi yang lebih cepat dan lebih besar dari kelas Cressy sebelumnya dengan persenjataan yang sedikit lebih kuat. Kapal tersebut memiliki bobot 14.100 ton panjang (14.300 t), lebih dari 2.000 ton panjang (2.032 t) lebih banyak dari kapal sebelumnya. Drakes memiliki panjang keseluruhan 553 kaki 6 inci (168,7 m), lebar 71 kaki 4 inci (21,7 m) dan draft dalam 26 kaki 9 inci (8,2 m). Mereka didukung oleh dua mesin uap ekspansi tiga 4 silinder, masing-masing menggerakkan satu poros, yang menghasilkan total 30.000 tenaga kuda yang ditunjukkan (22.000 kW) dan memberikan kecepatan maksimum 23 knot (43 km / jam; 26 mph) menggunakan uap disediakan oleh 43 boiler Belleville. Dalam uji coba lautnya, Drake mencapai kecepatan 24,11 knot (44,65 km / jam; 27,75 mph). Dia membawa maksimum 2.500 ton panjang (2.500 t) batubara dan pelengkap nya terdiri dari 900 petugas dan peringkat.


Persenjataan utama kelas Drake terdiri dari dua meriam Mk X dengan beban sungsang (BL) 9,2 inci (234 mm) di menara tunggal, masing-masing satu bagian depan dan belakang dari superstruktur. Persenjataan sekundernya yang terdiri dari enam belas meriam BL 6-inci (152 mm) Mk VII diatur dalam kasemat di tengah kapal. Delapan di antaranya dipasang di dek bawah dan hanya dapat digunakan dalam cuaca tenang. Selusin senjata 12-pounder (76 mm) 12-pounder (76 mm) quick-firing (QF) dipasang untuk pertahanan melawan kapal torpedo. Dua meriam 12-pounder 8-cwt tambahan dapat diturunkan untuk layanan darat. Kapal juga membawa tiga senjata Hotchkiss 3-pounder (47 mm) dan dua tabung torpedo 18 inci (450 mm) terendam.


“Hancur sudah Kapal Drake kami!!!! Bagaimana Bisa kapal Drake kami tenggelam karena diterjang badai besar?” Insinyur Inggris yang mendesain Kapal Kelas Drake menggerutu marah di Battleship Yamato.

__ADS_1


Submarine Battleship Yamato ini Juga disebut sebagai Yamato I, karena Yamato II adalah IJN Yamato yang dibangun oleh Jepang pada tahun 1941. Propulsi yang digunakan untuk SB Yamato yaitu Jet Flow Propulsion.


__ADS_2