
Pertempuran Liaoyang (遼陽会戦 Ryōyō-kaisen) (bahasa Rusia: Сражение при Ляояне) adalah pertempuran darat yang berlangsung selama Perang Rusia-Jepang di luar kota Liaoyang di wilayah Manchuria selatan. Kota ini merupakan kota yang sangat strategis untuk Rusia dan terletak di jalur kereta api Manchuria Selatan yang menghubungkan Port Arthur dengan Mukden. Rusia mencoba mempertahankan kota ini dengan tiga garis pertahanan.
Pertempuran ini dimulai pada tanggal 25 Agustus 1904 oleh tembakan artileri Jepang, dan kemudian Garda Kekaisaran Jepang di bawah kepemimpinan Letnan Jenderal Hasegawa Yoshimichi menyerang sisi kanan Korps Angkatan Darat Siberia Ketiga, tetapi serangan ini dapat dipatahkan berkat artileri Rusia yang lebih kuat. Serangan-serangan Jepang yang berikutnya juga dapat dipatahkan (dan lagi-lagi berkat artileri Rusia), tetapi Jenderal Rusia Aleksey Kuropatkin tidak mengizinkan serangan balasan. Ia terus meremehkan jumlah pasukan Jepang dan tidak mau mengirim pasukan cadangannya ke medan tempur. Pada tanggal 1 September, Angkatan Darat Kedua Jepang berhasil merebut Bukit Cairn dan sekitar setengah pasukan Angkatan Darat Pertama Jepang telah menyeberangi Sungai Taitzu yang terletak sekitar delapan mil di sebelah timur barisan Rusia. Kuropatkin lalu memutuskan untuk meninggalkan garis pertahanannya dan memerintahkan pasukannya untuk mundur ke garis pertahanan yang paling dalam. Akibatnya, pasukan Jepang dapat maju hingga mereka mampu menembaki kota Liaoyang, termasuk stasiun kereta apinya. Akhirnya Kuropatkin mengizinkan serangan balasan dengan tujuan untuk menghancurkan pasukan Jepang yang menyeberangi Sungai Taitzu dan mengamankan sebuah bukit yang disebut “Manjuyama” oleh Jepang di sebelah timur kota. Ia memutuskan untuk mengirim seluruh Korps Angkatan Darat Siberia Pertama dan Kesepuluh dan tiga belas batalion di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal N. V. Orlov, tetapi pembawa pesan yang dikirim oleh Kuropatkin tersesat, dan pasukan Orlov yang kalah jumlah panik setelah melihat divisi-divisi Jepang.
“Hasegawa sama! Musuh ada di dekat Kota Liaoyang!” Mereka telah mendapatkan informasi dari Intel Kekhalifahan Indonesia bahwa Pasukan Rusia yang dipimpin langsung oleh Aleksey Kuropatkin sedang Menuju ke Kota Liaoyang dengan banyak orang dan Tank.
“Siapkan Artileri dan serang mereka! Jangan tunggu lama-lama karena bisa Gawat! Go! Go! Go!”
Meskipun demikian, Rusia tidak tinggal diam melihat Prajurit Jepang yang menyiapkan artileri mereka. Tank Imperium Rusia Tsar Tank yang merupakan tank terbesar saat itu dikerahkan untuk melawan Jepang. Tank itu melawan Gempuran Artileri Jepang sementara itu Tentara Rusia sedang melakukan upaya memukul mundur pasukan Jepang dan Hal yang tidak diduga dan tidak diharapkan oleh Aleksey Kuropatkin terjadi.
“Sfx: Dor Dor Dor! Creak! Jbam!” R HAN-122 MLRS dengan Roket 12 cm dengan cepat mengambil alih jalannya pertempuran. Tsar Tank yang awalnya mendominasi pertempuran dengan ukurannya yang sangat besar bahkan tidak berdaya, Rodanya yang besar Copot karena Getaran yang diakibatkan oleh ledakan Roket ledakan tinggi meledak di bagian Poros roda sehingga Tank Menjadi tidak seimbang akhirnya roboh.
“Artileri Jepang Keterlaluan! Lihat saja nanti malam! Aku dan pasukanku akan menjadi momok bagi kalian orang-orang Jepang!” Aleksey Kuropatkin tidak menyangka kalau Tank Tsar yang besar itu bisa Rusak, sejak saat itu juga Produksi lain dari Tsar Tank dihentikan oleh pemerintah Rusia karena tidak efektif dibandingkan dengan Tank-tank Jepang yang ringan dan cepat.
__ADS_1
“Tunggu saya! Jangan tinggalkan saya sendirian di sini! Kami ikut” Para Tentara Rusia yang selamat dari Pertempuran itu Harus mundur sementara.
Pada tanggal 3 September, Kuropatkin menerima laporan dari garis pertahanan dalam bahwa amunisi mereka hampir habis. Setelah mendapat kabar bahwa Angkatan Darat Pertama Jepang akan segera memutus akses ke kota Liaoyang dari utara, Kuropatkin memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut dan mundur ke Mukden.
Ini berbeda dari tank modern karena tidak menggunakan jejak ulat — namun, menggunakan desain roda tiga . Kedua roda depan memiliki diameter hampir 9 meter (30 kaki); roda ketiga yang dipasang di belakang hanya setinggi 1,5 meter (5 kaki). Menara meriam atas mencapai ketinggian hampir 8 meter (26 kaki). Lambungnya memiliki lebar 12 meter (39 kaki) dengan dua meriam lagi di sponson . Senjata tambahan juga direncanakan di bawah perut. Setiap roda didukung oleh mesin Sunbeam 250 hp (190 kW).
Roda besar itu dimaksudkan untuk melewati rintangan yang signifikan. Namun, karena kesalahan perhitungan bobot, roda belakang rawan macet di tanah lunak dan parit, dan roda depan kadang tidak cukup untuk menariknya keluar.
Mesin Coatalen berikutnya adalah Crusader yang diperbesar dan disebut Mohawk . Mohawk adalah mesin katup samping V12, dan (seperti Crusader) pada awalnya dibuat dengan bore 80 mm, yang segera ditingkatkan menjadi 90 mm. Dengan lubang awal itu mengembangkan 200 hp, ketika diperbesar menjadi 90 mm, itu mengembangkan 225 hp dan dikenal sebagai Sunbeam 225 . Pesawat amfibi pendek yang menggunakan mesin ini sering disebut “225” karena ini. Mesin memiliki dua katup samping poppet per silinder, berpendingin air, berat kering 905 lb, memiliki empat karburator Claudel-Hobson , dan dua magnet.
Jepang menduduki seluruh wilayah selatan Manchuria dan Pasukan Rusia mundur ke Manchuria Utara. Kubu Jepang saat itu terdiri dari 262.900 infantri, 7.350 kavaleri, 992 senapan, dan 200 senapan mesin. Dan Rusia yang terdiri dari 340.000 pasukan, 1.219 senapan, dan 88 senapan mesin. Korban dari pihak Jepang:
75.504 jiwa:
__ADS_1
• 15.892 tewas
• 59.612 terluka
Sementara itu Di Pihak Rusia:
88.352 jiwa:
• 8.705 tewas
• 51.438 terluka
• 28.209 hilang saat pertempuran, dan 22.000 dari antaranya ditawan.
__ADS_1
Pertempuran ini berhasil dimenangkan oleh Jepang, sehingga pasukan Rusia harus mundur ke Manchuria Utara. Namun, akibat jalur persediaannya yang terlalu panjang, pasukan Jepang gagal menghancurkan pasukan Rusia di Manchuria. Meskipun begitu, pertempuran ini telah menghancurkan moral pasukan Rusia, dan jalur kereta api yang belum selesai kini dikuasai oleh Jepang. Kemenangan ini mengguncang negara-negara imperialis di Eropa, karena Jepang terbukti dapat mengalahkan Rusia walaupun Rusia memiliki lebih banyak pasukan dan sumber daya. Perang Rusia-Jepang sendiri pada akhirnya diakhiri oleh pertempuran di perairan Tsushima yang berhasil dimenangkan oleh Jepang.