
Zoid tertawa terbahak-bahak melihat Sao yang saat ini menangis karena kehilangan orang yang dicintainya, dia bahkan mengejek Sao dengan kalimat yang semakin membuatnya tertekan. Terus-menerus Zoid mengejeknya, tapi pada saat sampai di bagian Zoid mengatakan kalau Sera hanyalah perempuan tidak yang berguna, sampah dan kata kotor lainnya, Sao akhirnya tidak dapat menahan emosinya.
"Sudah cukup! aku tidak masalah jika kau mengejekku, tapi orang yang sudah kau bunuh lalu direndahkan lagi, aku tidak sanggup mendengarnya, apalagi dia adalah orang yang paling berharga untukku. Baiklah, kali ini aku tidak perlu menahan diri lagi, akan aku pertaruhkan nyawaku untuk menghabisimu iblis kurang ajar!"
Sao kemudian memanggil kembali pedang kematiannya dan ingin membunuh Zoid.
"Hahaha, coba saja kalau bisa, pedang itu hanyalah mainan bagiku." Zoid kembali mengejek.
Dengan sekuat tenaga Sao berlari kearah Zoid dan mengayunkan pedangnya.
*swishhh...
serangannya meleset, dan dia melancarkan lagi serangan selanjutnya.
*Desing...desing...
Kali ini serangan Sao ditangkis oleh Zoid menggunakan kakinya, entah bagaimana kaki Zoid ketahanannya bisa menyerupai besi.
Serangan demi serangan terus dilakukannya. Sao tidak menyerah, dia terus menyerang sampai keanehan terjadi padanya. Warna rambutnya berubah menjadi putih, dan mukanya terlihat lebih tua dari sebelumnya.
"hosh... hosh..." Sao kelelahan karena cukup banyak serangan yang dia berikan tapi tidak berguna sama sekali.
"Hahahaha.... Apakah kau yakin untuk terus melanjutkannya? dengan keadaanmu sekarang, sangat tidak mungkin untuk terus menggunakan pedang itu. Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir, yaitu mengampuni nyawamu jika kau mau tunduk denganku lagi."
Zoid dengan santainya menawarkan suatu tawaran yang tidak mungkin diterima oleh Sao.
"Apa?, kau kira hal seperti itu akan mempengaruhiku? Itu sangat tidak mungkin, apalagi aku sangat tau seperti apa itu tuan Xang, sangat mustahil untuk memintanya menghidupkan kembali iblis seperti Sera." Jawab Sao.
"Hahaha... kukira otakmu sudah tidak normal, ternyata masih tidak bisa dibodohi ya." Ledek Zoid kembali. "Baiklah, kali ini aku akan benar-benar membunuhmu, bersiaplah pengkhianat!".
Zoid kini kembali menyerang Sao dengan kakinya dan juga semburan jaring yang dia keluarkan secara bersamaan terus-menerus. Serangan tersebut membuat Sao tidak berdaya, dia hanya bisa menangkis beberapa pukulan sebelum tangannya terkena semburan jaring.
"Hahaha.... Bagaimana bagaimana bagaimana??? apakah pukulan ini masih belum puas?" Zoid dengan senangnya terus menyerang Sao, walaupun Sao sudah terlihat tidak berdaya, dia terus menyerangnya tanpa ampun.
Sao mencoba untuk menangkis serang selanjutnya dari Zoid, tapi tidak berguna. Dia sudah kehabisan tenaga untuk menggerakkan tubuhnya, karena pedang yang ada ditangannya masih terus menghisap kekuatannya. Bahkan ingin mengucapkan satu katapun sudah tidak sanggup. Dia hanya tinggal menunggu waktu untuk kehilangan nyawanya.
Di tempat yang agak jauh dari mereka berdua, Geok Su berniat untuk membantu Sao, tapi dia masih ragu. Apakah saat ini dia bisa mengalahkan Zoid, karena dia melihat kekuatan Zoid semakin berbeda dari yang sebelumnya. Seakan semakin banyak menerima serangan maka akan semakin kuat.
Tapi Geok Su berpikir kembali, jika dia tidak lakukan sekarang, maka teman-temannya bisa saja jadi incaran Zoid selanjutnya. Apalagi dia saat ini melihat Mizuzu yang kekuatannya masih belum pulih sepenuhnya, dan Rei yang kelihatan masih sibuk membantu Zuan Yu dan Zuan Li untuk mengalahkan iblis-iblis yang ada.
"Tidak ada waktunya untuk berpikir, kita harus lakukan sekarang. Jika tidak maka kalian semua akan dikalahkan dengan mudah." Ujar Naga yang ada didalam Geok Su.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, akan aku lakukan semampuku, aku berharap kalian bertiga juga membantuku ya." Sahut Geok Su.
Ketika Geok Su mulai ingin menolong Sao, tiba-tiba Rei berteriak dan meminta tolong kepadanya.
"Geok Su!!! cepat bantu Mizuzu, dia terkena serangan musuh dari belakang! cepat lindungi dia sekarang, kekuatannya masih belum pulih!"
Langkah Geok Su terhenti mendengar teriakan Rei tersebut dan menoleh ke arah Mizuzu yang saat ini berada didepan pintu ruangan tersebut.
"Apa? bagaimana mungkin bisa ada sebanyak ini lagi iblisnya." Geok Su keheranan.
Dengan Cepat Geok Su langsung berlari ke arah Mizuzu dan melindunginya. Geok su langsung menggunakan api birunya untuk membuat penghalang di belakang Mizuzu agar musuh yang ada di belakangnya tidak berani maju.
"Apa kamu masih bisa menahan rasa sakitnya?" tanya Geok Su sambil memperhatikan panah yang tertancap di punggung Mizuzu. "Apa perlu aku mencabutnya?" Geok Su bertanya kembali.
"Jangan, saat ini aku masih kekurangan tenaga, kalau dicabut sekarang pasti akan membuatku sangat lemah dan tidak akan bisa membantu mereka bertiga." Jawab Mizuzu.
"Baiklah kalau seperti itu, aku akan melindungi sampai tenagamu pulih kembali."
"Terima kasih."
Setelah Geok Su selesai berbicara dengan Mizuzu, dia kemudian melihat sekelilingnya dan terkejut, tidak dia sangka bagaimana mungkin secepat itu iblis sudah mengelilingi mereka berdua. Dia sampai tidak menyadari kehadiran iblis tersebut, seakan mereka mempunyai suatu kekuatan untuk menghapus keberadaannya.
Dengan kekuatan api birunya, Geok Su langsung membatasi pergerakan mereka dengan membuat dinding api di bagian kiri dan kanan mereka berdua. Dia hanya menyisakan satu jalan bagi para iblis tersebut untuk menyerang mereka.
"Aku tidak tau, aku tidak terlalu memperhatikan ruangan ini sejak aku masuk. Tapi jika kamu merasa seperti itu, berarti bisa saja ruangan ini telah di ubah oleh seseorang. Mungkin saja itu komandan pasukan Raja iblis yang lainnya." Ujar Geok Su.
"Kalau memang benar, lebih baik kamu berhati-hati, kita tidak tau seberapa kuat komandan pasukan Raja iblis yang lainnya, bahkan untuk Zoid ini saja yang sudah tidak ada tangannya masih kelihatan sangat kuat." Ujar Mizuzu kepadanya.
"Baiklah, aku akan hati-hati. Kamu tetap di belakangku saja, jangan khawatir, iblis yang ada di belakang tidak akan bisa menyerang, bahkan menggunakan panah sekalipun, karena panah itu pasti akan menjadi abu jika dari kayu, dan pasti akan meleleh langsung jika dari besi." Geok Su sambil mewaspadai musuh yang sekarang sedikit demi sedikit mendatangi mereka berdua.
Sambil membakar iblis yang datang terus menerus didepannya, Geok Su bertanya kepada Mizuzu apa yang harus dia lakukan setelah kekuatan milik Mizuzu pulih. Dia sangat ingin menyelamatkan Sao, tapi jika dia fokus menyelamatkannya, bisa saja yang lainnya jadi sasaran Zoid selanjutnya.
Mizuzu mendengar Sao yang bertanya seperti itu sangat yakin, kalau temannya saat ini pasti kebingungan harus menyelamatkan siapa terlebih dahulu.
"Kamu harus menyelamatkan orang yang sangat ingin kamu selamatkan saja. Jika meragukan temanmu sendiri, berarti kamu tidak mempercayai mereka. Kita sekarang sudah berada disini, jadi kita semua yakin kalau dengan kekuatan yang kita miliki, akan sangat mudah untuk melarikan diri." Ujar Mizuzu kepadanya.
"Baiklah..., kalau begitu aku sudah tau harus menyelamatkan siapa. Kalau begitu, setelah kamu pulih, aku mau kamu bantu aku. Mungkin kali ini enggak sesuai dengan perkataanku sebelumnya, tapi kali ini kita berada di situasi yang cukup berbahaya. Jadi jangan sia-siakan nyawa kita disini." Setelah itu Geok Su menyemburkan api birunya dengan jumlah yang besar untuk meratakan iblis didepannya.
...***...
"Rasanya kekuatanku sudah pulih." Ujar Mizuzu
__ADS_1
Lalu mereka berdua keluar dari tempat yang dikelilingi api oleh Geok Su tadi, dan berniat membantu Sao yang saat ini masih dihajar oleh Zoid.
Bahkan terlihat tangan dari Sao sudah patah, tapi dia masih saja dihajar terus-menerus.
"Sangat mengerikan." ujar Mizuzu.
"Baiklah, ayo kita bantu dia, aku mau kamu dengan cepat mengamankan Sao, dan bawa dia ke pojok ruangan. Biar aku yang menahan Zoid. Tapi aku butuh juga bantuanmu untuk menyerangnya, setidaknya mengacaukan serangannya." Ujar Geok Su.
Mizuzu setuju dan mereka mulai melancarkan serangannya.
"Suzaku!"
Serangan Mizuzu mungkin tidak terasa menyakitkan bagi Zoid, tapi itu sudah lebih dari cukup membuatnya merasa jengkel karena diserbu banyaknya burung api.
Melihat Zoid yang berusaha untuk mengusir burung itu, dengan cepat Geok Su menyuruh Jin Yu untuk membuat portal penghubung agar dia bisa berpindah dengan cepat ke dekat Zoid. Pada saat portal tersebut sudah siap, Geok Su berlari memasuki portal tersebut dan sekejap mata dia langsung ada di dekat Zoid dan menendangnya dengan keras.
*bukk...
Tapi tendangannya ini dia tambahkan dengan kekuatan api birunya, sehingga Zoid terpental dan terkena api biru Geok Su.
"Sekarang Mizuzu!" Geok Su memberi tanda ke Mizuzu untuk segera mengamankan Sao.
"Ternyata kalian dengan sempatnya mencoba menyelamatkan dia ya, tapi tidak apa. Sebentar lagi dia juga akan mati. Hahahaha...." Zoid tertawa.
"Kali ini ras-"
Perkataan Geok Su terhenti setelah mendengar suara teriakan temannya bersamaan dengan suara runtuhnya bangunan.
Geok Su menoleh ke arah tempat Rei dan yang lainnya bertarung tadi, dia melihat kalau mereka semua tertimpa runtuhan langit-langit yang ada di atas mereka.
"Kukira Masalahnya sudah selesai, ternyata masih terdengar berisik saja. Kalau begini kan sudah lebih tenang."
Suara seseorang yang entah dari mana datangnya, tapi Geok Su merasakan ini adalah hal yang sangat buruk.
Semua yang ada di ruangan tersebut terdiam hanya karena mendengar suaranya, bahkan Zoid saja tidak mengucapkan apapun.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba angin kencang yang berasal dari lubang langit-langit yang runtuh tersebut menyapu debu yang berada dibawahnya sampai bersih. Bayangan seseorang yang ada di atasnya kini terlihat dengan jelas. Saking kencangnya, Rei dan yang lainnya juga ikut tersapu bahkan terpental ke sana sini karena angin tersebut.
Ketika Seseorang tersebut sudah menginjakkan kakinya di tanah, Zoid langsung membuka suaranya.
"Kenapa kau sampai datang kesini? aku sendiri saja sudah cukup, apalagi aku masih ingin bermain dengan mereka."
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat apakah kau sanggup melawan mereka atau tidak, takutnya nanti jika kau kalah, itu hanya akan mempermalukan dirimu saja bukan?" Ejek orang tersebut.
"Jangan bercanda kau Hiten!".