Kekuatan Jiwa

Kekuatan Jiwa
Chapter 36 : Ratu yang Lemah


__ADS_3

Setelah selesai makan, Geok Su langsung di suruh oleh salah seorang pelayan yang ada di tempat itu untuk segera menemui Ratu.


Sesampainya di taman belakang istana, terlihat seorang perempuan yang tampak bahagia melihat semua bunga-bunga dan yang ada di sana, dia terlihat sangat ceria sekali.


"Akhirnya kamu datang juga. Lihatlah bunga-bunga yang kutanam ini, semuanya cantik, bukan? Mereka sudah kutanam sejak aku masih berumur lima tahun." ujar perempuan tersebut.


"Siapa kamu? kenapa tiba-tiba seperti sudah mengenalku?" tanya Geok Su nampak keheranan.


"Apa? Hahaha ... apakah aku sangat berbeda sekali dari yang sebelumnya? Ini aku, Ratu yang menjadi pemimpin negeri ini." sahut perempuan itu.


Geok Su terkejut dan seketika langsung sujud di hadapannya untuk meminta maaf atas perlakuannya barusan.


"Sudah-sudah, aku tau kamu pasti berpikir kalau aku adalah Ratu yang kejam. Sebenarnya itu hanyalah caraku untuk memimpin dan menunjukkan kalau pemimpin negeri ini walaupun seorang perempuan tapi dia cukup disegani oleh penduduknya."


"Kalau begitu yang mulia, ada tujuan apa saya di panggil ke sini?" tanya Geok Su lagi sambil mengikuti Ratu itu yang sedang mengelilingi taman.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa kalau kamu adalah orang yang pemberani dan menyukai tantangan. Buktinya saja pada saat di meja perjamuan tadi. Tidak ada orang yang berani langsung menunjukkan kepala monster menjijikkan seperti itu di saat sedang makan. Biasanya mereka akan langsung dihukum mati.".


"Saya sangat meminta maaf yang mulia, tapi hal tadi terjadi karena kekuatan jiwaku tiba-tiba melakukannya sendiri." sahut Geok Su yang nampak seperti ketakutan lagi.


"Tidak masalah, aku menyukaimu sejak melihat keberanianmu tadi. Aku punya beberapa tugas yang ingin kuberikan jika kamu tidak keberatan." ujar Ratu itu dan mengajaknya duduk di salah satu gazebo di tempat itu.


Geok Su pun kemudian duduk dan menanyakan apa tugas yang harus dilakukannya.


"Dari keberanianmu tadi, aku melihat kamu sangat cocok, dan dari matamu juga, aku melihat seorang dengan jiwa pelindung yang hebat!" Ratu itu sambil menatap mata Geok Su, terlihat dia sangat bersungguh-sungguh akan hal yang dikatannya


"Jadi, apa yang Ratu inginkan?" Geok Su ingin tau lebih jelas.


"Aku ingin kamu menjadi Raja untuk negeri ini, dan ada di sampingku untuk melindungiku."


Geok Su terkejut lalu menelan ludahnya, "Ba-bagaimana ya ... Bu-bukannya aku menolak, ta-tapi ... aku harus mengalahkan musuh yang paling utama." Sahut Geok Su agak terbata-bata, dia takut kalau jawabannya akan membuat Ratu itu tersinggung dan kemudian membunuhnya.

__ADS_1


"Sudahlah Rachel, tidak mungkin dia akan menyetujui hal itu. Permintaanmu itu ada-ada saja. Geok Su, lupakan saja apa yang barusan dia katakan. Semua itu hanyalah agar dia dapat menghindari tugasnya." Alomso secara tiba-tiba lagi ada di dekat mereka.


"Itu lebih baik, bukan? aku masih bisa membantunya, daripada kamu sendiri yang menyerahkan semuanya ke aku, padahal kamu yang lebih tua." Ratu itu memarahi Alonso.


"Hehehe ... adikku tersayang, jika bukan karena aku mengorbankan nyawaku untuk hal seperti itu, mungkin kerajaan ini tidak akan sedamai seperti sekarang. Jika kerajaan lain mengetahui kalau aku masih hidup, pasti akan terjadi perang yang besar di antara kita." Alomso mengelus kepala Ratu tersebut.


"Aku tidak peduli akan hal itu! aku hanya ingin hidup sesuai keinginanku saja ...." Ratu itu tiba-tiba meneteskan air mata.


Ratu itu kemudian memegang tangan Geok Su lalu memohon, "Geok Su ... apakah kamu mau menolongku? aku sebenarnya sudah tidak sanggup dengan hal ini. Aku ingin segera menikah, tapi tidak ada satupun laki-laki yang sesuai dengan keinginanku. Sampai aku merasakan kamu itu sudah cukup daripada tidak ada sama sekali."


Geok Su dibuat bingung oleh Ratu itu, dia tidak berani langsung mengambil keputusan.


"Sudahlah Rachel! jangan seperti ini!" Alomso tiba-tiba memarahinya.


"Aku tidak tau apa yang terjadi di antara kalian berdua, terutama aku tidak tau latar belakangmu Alomso, tapi jika kamu benar-benar saudaranya, seharusnya bisa memahami bagaimana perasaan adikmu sendiri. Mungkin saja dia ingin keluar bebas ke sana-kemari, atau dia tidak ingin di kekang oleh tugas kerajaan yang banyak. Dengan memarahinya tanpa memberikan sebuah sebuah jalan keluar sama halnya melawan seekor harimau tanpa senjata apapun." Geok Su menyahut perkataan Alomso.


Lalu Ratu itu memeluk Geok Su dan menangis di pundaknya.


"Apapun itu jika dapat membuatmu lebih baik, akan kulakukan. Tapi jika berhubungan dengan pernikahan dan yang lainnya, sepertinya membutuhkan waktu yang lama memikirkannya." sahut Geok Su.


"Um ... terima kasih! aku sepertinya sudah bersemangat kembali. Bagaimana jika aku membawamu mengelilingi istana ini? Ada banyak hal yang ingin kutunjukkan." Ratu itu menarik tangan Geok Su, "Kamu jangan ikut! aku hanya ingin berdua dengannya." Dia menatap sinis ke arah Alomso.


Kemudian mereka berdua mengelilingi istana dan bahkan naik ke puncak dari istana tersebut, dia bahkan menunjukkan tempat para ksatria berlatih, tempat masak dan bahkan tempat kamar-kamar untuk tamu serta miliknya.


"Apakah kamu mau melihat kamarku?" tanya Ratu itu


"Ti-tidak perlu, sepertinya aku tidak layak." sahut Geok Su agak ketakutan.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita kembali ke tempat perjamuan." Ratu itu kemudian menariknya lagi.


Sesampainya mereka di tempat perjamuan, Rei, Mizuzu dan Dyain terkejut melihat tangan Geok Su yang digandeng oleh Ratu itu.

__ADS_1


"A-apa yang baru saja terjadi." Rei sangat terkejut.


"Oh maaf, aku lupa. Bukan apa-apa, kami hanya membicarakan hal penting barusan. Baiklah Dyain, bagaimana jika kutawarkan untuk kalian menginap di sini malam ini?" tanya Ratu itu sambil menghampiri Dyain.


"Maaf Ratu, malam ini aku harus menjelaskan kepada mereka hal-hal apa saja yang harus mereka prioritaskan di tempat musuh nanti, dan besok aku juga berencana untuk melihat perkembangan kekuatan mereka berlima." Dyain menolak tawaran Ratu itu, walaupun terlihat sedikit keringat di keningnya.


"Dia berkeringat." ujar Geok Su. Dia mengatakan hal tersebut untuk menakutinya.


"Hahaha ... biarkan saja." sahut Ratu itu, " baiklah jika memang tidak bisa, aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu silahkan saja untuk berkeliling di istana ini, aku akan melihat beberapa dokumen terlebih dahulu." sambungnya.


Setelah itu Ratu tersebut pergi, dan dia berpapasan dengan Alomso. Tatapannya terhadap Alomso terlihat sangat menyimpan dendam, mungkin karena dia masih marah atas perkataan Alomso tadi.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? pulang atau tinggal di sini lebih lama?" tanya Alomso kepada mereka.


"Menurutku kita harus pulang saja, karena banyak hal yang harus kita siapkan juga." sahut Vinri.


"Baiklah, kalau begitu, Geok Su, lebih baik kamu berpamitan dengannya, karena ini adalah terakhir kalinya kita bertemu, kita tidak tau apa saja yang akan terjadi di sana nanti." ujar Alomso.


Lalu Geok Su mencari di mana Ratu itu berada, dia bertanya kepada pelayan dan ksatria di yang ada di situ, dan meminta tolong untuk mengantarkannya.


Setibanya di depan pintu tempat dia bekerja, Geok Su mengetuknya dan langsung masuk.


"Apa yang kamu lakukan! aku saat ini sedang sibuk, dan kenapa langsung masuk tanpa izin!" Ratu itu memarahinya karena tidak melihat jika itu Geok Su.


"Maaf, aku hanya ingin berpamitan denganmu saja. Karena sebentar lagi kami akan kembali ke markas." ujar Geok Su sambil menghampirinya.


"Ternyata lebih cepat dari yang kuduga ya ..., baiklah, selamat jalan, jaga dirimu dengan baik, jangan lupakan aku ya. Aku tau ini adalah pertemuan pertama kita, tapi aku merasa kita sudah seperti sangat dekat." Ratu itu memeluknya dan menangis lagi."


"Tenanglah, aku tidak akan melupakan orang besar sepertimu." Geok Su memberanikan dirinya untuk mengelus kepala Ratu itu.


Karena merasa kepalanya dielus, Ratu itu menahan tangan Geok Su untuk tidak melepaskannya dari atas kepalanya, dia sangat tidak ingin Geok Su menjauhinya.

__ADS_1


__ADS_2