Kekuatan Jiwa

Kekuatan Jiwa
Chapter 32 : Jalan-jalan


__ADS_3

Vinri dan Mizuzu memberikan tepuk tangan atas aksi yang baru saja dilakukan oleh Alomso, walaupun Vinri tidak terlihat takjub melihat aksinya.


Kemudian Alomso berjalan ke arah mereka bertiga dan bertanya tentang apa saja yang Geok Su dan Mizuzu alami saat berada di tempat yang dikirim oleh Ketuanya.


Mizuzu menjelaskan secara panjang lebar kepadanya dan kelihatannya dia sangat bersemangat sekali menceritakan pengalamannya. Lalu dia juga bertanya kepada Geok Su apa saja usaha yang dia lakukan untuk menyelamatkan Mizuzu.


Geok Su sebenarnya enggan untuk menceritakan hal tersebut, tapi karena dipaksa akhirnya dia menceritakannya.


...***...


Setelah selesai menceritakan pengalamannya, Rei menghampiri mereka berempat.


"Apa yang sedang kalian lakukan?".


"Kami hanya menceritakan hal apa saja yang terjadi di pulau itu." Jawab Mizuzu.


"Oh ... kalau begitu kalian mau jalan-jalan? karena keliatannya ini waktu yang cukup pas dan harinya juga cerah."


"Wah! kedengarannya bagus. Ayo!" Mizuzu terlihat bersemangat.


"Menurutku sebaiknya kita pergi besok saja, karena sekarang juga sudah sore, jadi lebih bagus jika berangkatnya besok pagi. kita akan merasa lebih puas bukan?" ujar Geok Su.


"Tepat sekali! jika ingin jalan-jalan sebentar tentunya sekarang sangatlah bagus, tapi! jika ingin sambil berkeliling di sekitar kerajaan ini, besok adalah saat yang tepat!" Alomso menimpali.


"Tidak ada yang bertanya tentang pendapatmu!" ujar Rei dengan ketus kepada Alomso.


Alomso membuat dirinya terlihat sedih karena ucapan Rei, dia pura-pura marah dan menelengkupkan badannya.


"Sudahlah, lupakan saja dia. kalau begitu bagaimana kalau aku mengajak kalian melihat sungai yang ada di dekat sini? airnya sangat jernih dan pemandangan di sekitarnya sangat bagus loh!".


"Oh iya aku ada liat tadi! ayo!" Rei terlihat bersemangat sekali sejak tadi.


Lalu mereka bertiga berjalan menuju sungai tersebut, Rei juga mengajak Vinri, tapi dia sibuk menusuk-nusuk pinggang Alomso menggunakan ranting kecil untuk membangunkannya, sedangkan Alomso sama sekali bergeming tidak menghiraukannya.


...***...


Ketika sampai di sana, Rei terlihat sangat senang sekali, dia langsung memainkan air tersebut dan loncat ke dalamnya. Dia bahkan langsung mengajak Geok Su dan Rei untuk mandi bersama.


"Ai! apa kamu punya pakaian ganti!?" Geok Su terlihat memarahinya karena Langsung menceburkan dirinya ke sungai tersebut.


"Maaf ... aku lupa."


"Tidak usah dipikirkan, aku bisa pinjamkan bajuku untukmu nanti." Ujar Rei yang juga langsung menceburkan dirinya ke sungai tersebut.


"Terima kasih Rei! Geok Su ayo ke sini juga! kamu enggak berani? atau jangan-jangan kamu tidak bisa berenang?" Mizuzu mengejek Geok Su.


"Jangan bicara seenaknya gitu ya." Geok Su melepaskan bajunya lalu langsung ikut mandi bersama mereka berdua di sungai tersebut. "Lihat! sungai seperti ini tidak ada apa-apanya untukku!" ucapnya dengan sombong.


Mizuzu langsung mencipratkan air ke Geok Su. Mereka bertiga kelihatan sangat senang sekali.


"Apakah Tuan muda juga tidak ingin bergabung lagi?" Tanya Vinri kepada Alomso.


"Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka bertiga kali ini, Karena pastinya di sana nanti tidak akan terlihat hal yang seperti ini lagi. Karena itulah aku harus menciptakan karakterku seperti sekarang." Alomso kali ini terlihat seperti orang yang berbeda.


Setelah selesai mandi, mereka bertiga kembali ke tenda. Setibanya di sana, terlihat seperti ada pakaian yang siap dipakai di atas meja.


"Kenapa ada pakaian di meja ini?" tanya Geok Su.


"Itu untuk kalian berdua Mizuzu, Ketua tadi membelinya untuk kalian." Ujar Vinri.


"Apakah saudara kecilmu tidak kedinginan Geok Su? apakah perlu aku menyuruh Vinri untuk menghangatkannya?" Alomso tiba-tiba ada di sampingnya.


"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak!, aku tidak suka itu." Mizuzu terdengar kesal.


Kemudian Geok Su dan Mizuzu mencoba pakaian yang baru saja dibeli tersebut, dan terlihat sangat cocok. Walaupun model pakainya di abad pertengahan.

__ADS_1


"Jadi sekarang kita tidak bisa menggunakan pakaian modern lagi ya ..." ujar Geok Su.


"Kita masih bisa menggunakannya kalau pakaianmu itu dicuci dan dijemur." sahut Mizuzu.


Ketika asyik berbincang, yang mereka bilang dengan sebutan ketua itu akhirnya muncul.


"Ketua!" Rei tiba-tiba memeluknya kembali.


"Kamu terasa sangat wangi." ujar laki-laki tersebut sambil mengelus rambut Rei.


"Aku yakin! pasti Rei ini mencintai laki-laki tersebut!" Batin Geok Su.


"Apa yang kamu pikirkan itu benar Geok Su, tapi tidak sepenuhnya benar juga." Laki-laki tersebut tiba-tiba berbicara.


"Apa maksudmu?" Tanya Geok Su, dia tidak memahami apa yang dikatakan laki-laki tersebut.


"Sudahlah, lupakan saja. Sekarang aku sedang dalam waktu luang, jadi silahkan tanya apa saja yang membuat kalian penasaran selama ini." Ujar laki-laki tersebut.


Rei adalah orang yang bertanya pertama kali, "Ketua, kenapa saat aku berada di pulau itu, ketika menggunakan kekuatan portal, hal yang kulihat dengan apa yang dilihat oleh Geok Su dan Mizuzu itu berbeda?"


"Bisa kamu jelaskan tentang Masterku!?" Mizuzu bertanya dengan nada tajam.


"Apakah kami diberikan uang ketika memasuki dunia musuh? siapa namamu? kenapa bisa dengan mudahnya muncul dan berbicara dengan Komandan pasukan Raja iblis? lalu apakah kamu mengetahui seperti apa kekuatanku? dan yang terakhir, apa yang kamu maksud dengan mengirim banyak orang ke sini?" Geok Su mengajukan pertanyaan paling banyak.


"Baiklah, akan aku jawab satu per satu. Vinri! tolong siapkan teh panas untuk kita."


"Baik ketua."


"Pertama-tama mulai dari Pertanyaan Rei yang cukup mudah. Rei, kekuatan portalmu itu sebenarnya hanya akan bisa menuju suatu tempat tertentu karena elemen dari kekuatanmu sendiri adalah air, sehingga itu bisa dibilang ketika orang masuk ke dalamnya maka mereka hanya melihat apa yang pernah mereka lihat saja. Jika ingin lebih memahami kekuatanmu, tanyakan saja dengan kekuatan jiwamu, karena itu adalah kekuatannya sendiri. Selanjutnya untuk Mizuzu, ini berhubungan dengan pertanyaan Geok Su yang terakhir tadi, Dia adalah orang yang kalian lihat sekarang ini. Kenapa aku mengatakan hal tersebut, karena saat ini aku terhubung dengan diriku yang ada di masa depan sana. Dia pasti pernah mengatakan ini, "Ini adalah tempat di masa lalu." Jadi, kamu pasti bisa menyimpulkannya."


"Berarti saat ini aku bertemu dengan Master ketika masih muda?" tanya Mizuzu kembali.


"Tepat sekali, dan mengapa banyak orang yang dia kirim ke sini karena saat ini, di dunia kalian di sana, sudah hancur karena orang yang bernama Fu Anng tersebut. Aku yakin kalian pasti pernah bertemu dengannya."


"Iya, dia adalah orang dengan kekuatan jiwa kegelapan. Bagaimana aku bisa mengetahuinya?, saat itu, diriku yang berada di masa depan memberitahukan hal tersebut. Aku tidak memahami bagaimana caranya dapat mengetahui hal itu, tapi yang pasti, ini adalah informasi yang bagus."


"Jadi saat ini dunia asal kami itu sudah tidak ada?" tanya Geok Su.


"Kemungkinan besar seperti itu, masalahnya aku tidak bisa menggunakan kekuatan seperti dia, mungkin membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat menyamainya."


"Kalau tidak salah, dia mengatakan untuk dapat menyempurnakan kekuatan Jiwanya, dia membutuhkan waktu sekitar tiga ratus tahun." ujar Geok su.


"Hahaha ... jika memang benar seperti itu, aku sepertinya adalah orang hebat. Baiklah, kali ini aku akan menjawab pertanyaan Geok Su. Maaf jika belum memperkenalkan namaku kepada kalian berdua, tapi mungkin Mizuzu sudah bisa menebak namaku siapa, untuk Geok Su, perkenalkan namaku Dyain. Kamu boleh memanggilku terserah seperti apa, aku tidak memperdulikannya. Untuk pertanyaanmu selanjutnya, sudah pasti aku akan memberikan kalian uang ketika pergi ke sana, tapi dalam bentuk emas, karena kita tidak tau orang-orang di sana menggunakan uang apa. Selanjutnya, aku bisa dekat dengan komandan pasukan di sana karena aku bisa dibilang adalah orang yang cukup kuat bagi mereka, tapi aku tidak memihak dewa atau pun mereka. Jadi, mau siapa pun tidak akan berniat mencari masalah denganku di dunia tersebut.


Baiklah, yang terakhir, Untuk saat ini, aku masih kurang paham dengan kekuatan milikmu, tapi yang aku tau adalah mereka itu kekuatan jiwa yang sangat kuat dahulunya." Lalu dia meminum tehnya setelah selesai menjawab semua pertanyaan mereka.


"Jadi kamu mengetahui dunia tiga belas?" tanya Geok Su kembali.


"Iya aku tau, itu adalah dunia tempat asal dari kekuatan jiwa kita." jawab laki-laki tersebut.


Lalu setelah itu mereka berbincang santai sampai tinggi malam. Alomso menjadi pusat perhatian mereka karena aksinya yang cukup menghibur dan juga konyol.


...***...


Keesokan paginya, Mizuzu datang ke tempat tidur Geok Su lalu membangunkannya untuk menemani dia mandi.


Geok Su yang masih setengah sadar terkejut mendengar hal itu, apalagi ini permintaan dari Mizuzu secara tiba-tiba.


"Ba-bagaimana mungkin aku menemanimu mandi sepagi ini hanya berdua saja? apakah Rei belum bangun?" tanya Geok Su.


"Tidak hanya kita berdua, tapi Alomso dan Vinri juga akan ikut, Rei dari tadi aku bangunkan tidak bisa." Jawab Mizuzu.


"Hahaha ... apakah kamu memikirkan hal yang aneh Geok Su?" tanya Alomso mengejek.


"Bu-bukan begitu, aku hanya terkejut saja. Ya sudah, kalian duluan, aku menyusul nanti." ujar Geok Su sambil bangun dari tempat tidurnya dan mengusap matanya.

__ADS_1


"Kamu harus janji menyusul ya! awas kalau tidak!" Mizuzu mengancamnya.


"Iya-iya ..." jawab Geok Su dengan terpaksa.


Setelah itu Geok Su kemudian menyusul mereka bertiga untuk mandi di sungai yang kemarin, dan ketika pulang, mereka melihat Rei yang saat itu sedang berbicara dengan seseorang.


Mereka menghampirinya dan menyapanya.


"Pagi Rei, sedang apa?" tanya Mizuzu.


"Pagi, akhirnya Kalian kembali juga, bagaimana dengan jalan-jalannya? apakah masih berminat?"


"Tentu saja! bagaimana? kita akan jalan ke mana saja?".


"Kalian mau ke mana? kota terlebih dahulu atau ke daerah pedesaan?" tanya Rei kembali.


"menurutmu ke mana dulu?" Mizuzu bertanya kepada Geok Su.


"Apakah di kota pada malam atau sore hari masih ramai?" tanya Geok Su.


"Tentu, bahkan kalau malam hari lebih indah karena banyak lampu-lampu jalan yang menghiasinya."


"Kalau begitu bagaimana jika kita ke pedesaan saja terlebih dahulu."


Mizuzu menyetujuinya dan kemudian mereka berangkat setelah mengganti pakaian.


Di perjalanan, Mizuzu terlihat senang sekali, bahkan melebih kemarin ketika mandi di sungai. Dia sesekali merangkul tangan Geok Su dan menunjuk ke arah pohon dan juga perbukitan yang lapang. Geok Su yang melihat temannya tersebut juga terkadang tersenyum karena tingkahnya yang tidak seperti biasanya.


Ketika mereka sampai ke tempat yang dituju, Mizuzu semakin tertawa bahagia, dia membawa Geok Su berlari mengelilingi desa tersebut dan melihat rumah-rumah penduduk di sana. Tapi setelah beberapa lama, Geok Su baru menyadari dia belum mengetahui nama daerah dan kerajaan di tempat tersebut. Dia berniat menanyakan hal tersebut kepada Rei nantinya.


Mizuzu yang saat ini juga masih merangkul tangannya membawa dia berkeliling sekali lagi di dalam desa tersebut, seakan dia masih belum puas. Yang membuat Mizuzu sangat senang juga adalah tempat tinggal mereka yang unik, dinding pelindung desanya, sungai kecil yang ada di dalam desa tersebut dan sebuah jembatan kecil yang ada di atasnya, serta tempat bertani mereka yang tidak jauh dari desa tersebut.


"Geok Su lihat! anak-anak itu memancing di sungai kecil ini ..." kata Mizuzu sambil menunjuk ke arah anak-anak tersebut.


"Iya kamu benar, pasti sungai ini banyak ikannya." sahut Geok Su.


"Iya ...! kamu mungkin benar."


Kemudian mereka kembali menghampiri Rei dan yang lainnya.


"Bagaimana? perjalanannya seru?" tanya Rei.


"Iya! seru sekali, aku sepertinya akan sangat betah tinggal di sini!" sahut Mizuzu


"Tentu saja kamu akan betah tinggal di sini! karena tempat ini begitu indah untuk dinikmati, anginnya yang sejuk! pemandangan pohon, sungai kecil dan tanah lapang yang ada akan sangat memanjakan mata kita!" ujar Alomso dengan gaya yang berlebihan.


"Kamu kenapa! seperti orang yang kena gangguan saja sampai seperti itu."


"Aaa ... Rei jahat sekali! aku tidak suka!" Alomso kembali menelungkupkan dirinya.


"Sudahlah, kita tinggalkan saja dia, sekarang bagaimana jika kita menuju ke desa selanjutnya dan setelah itu ke kota? desa selanjutnya ini agak cukup jauh, jadi kemungkinan kita sampai di sana hampir tengah hari."


"Ayo!" sahut Geok Su dan Mizuzu serempak dan setelah itu ketawa kecil.


"Bagus, ayo Vinri, biarkan saja dia." Rei mengajak Vinri yang saat ini sedang menusuk-nusuk Alomso menggunakan ranting kecil lagi.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki lagi. Walaupun cukup jauh, tapi Rei dan Mizuzu tampaknya tidak kelelahan sama sekali, mungkin karena sudah terbiasa ketika berada di pulau tempat pelatihan itu.


Seperti yang dikatakan oleh Rei, ketika mereka sampai di sana, harinya sudah cukup panas. Untunglah orang-orang di desa tersebut sangat ramah, sehingga mereka menyediakan minuman dan makanan kepada tamu-tamunya. Kebetulan juga Alomso sering datang ke desa tersebut, sehingga mereka cepat saling kenal.


Ketika sedang asyik berbincang, tiba-tiba ada seseorang yang berlari meminta tolong kepada mereka, tubuhnya penuh dengan darah dan luka. Melihat hal tersebut Alomso langsung menghampirinya dan mencoba untuk menyembuhkan orang tersebut. Dengan kekuatan jiwanya, ternyata Alomso dapat menyembuhkan luka seseorang, walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah merasa sudah baikan, orang tersebut menceritakan kepada mereka kalau dia diserang oleh monster, dia tidak tau bagaimana bisa ada monster di tempat itu, karena setidaknya hewan buas yang ada hanyalah beruang katanya.


Geok Su dan yang lainnya menyimpulkan, kemungkinan yang dikatakan oleh orang tersebut adalah monster yang di maksudkan oleh Dyian ketua mereka. Sehingga mereka bertanya kepada orang tersebut di mana tempat dia diserang.


Ketika mengetahui lokasinya, mereka berlima akhirnya berangkat dan berniat untuk membasmi monster tersebut.

__ADS_1


__ADS_2