Kekuatan Jiwa

Kekuatan Jiwa
Chapter 35 : Menemui Ratu


__ADS_3

Keesokan paginya, mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke markas. Ketika berada di depan gerbang, mereka bertemu dengan Dyian.


"Kalian ingin kembali ke markas?" tanya Dyain.


Mereka berlima mengangguk.


"Apakah kalian ingin ikut bersamaku untuk pergi ke istana? Saat ini ada hal penting yang ingin kusampaikan kepada Ratu."


"Ayo!" Alomso terlihat bersemangat.


Mereka berempat juga menyetujuinya. Lalu setelah itu mereka mengikuti Dyain pergi menuju istana.


Sebelum memasuki istana, mereka harus melewati yang namanya kota bagian dalam di kerajaan tersebut. Untuk memasuki kota itu, harus ada pemeriksaan yang cukup ketat oleh para ksatria di sana. Salah satunya adalah apakah mereka membawa senjata tajam atau tidak, jika membawa senjata tajam, maka akan ditanyakan dia bekerja sebagai apa dan apa buktinya.


Cukup banyak orang yang mengantre di depan gerbang tersebut untuk mendapatkan izin masuk, dan setelah beberapa lama, akhirnya tibalah giliran Geok Su dan yang lainnya.


Karena tidak membawakan apapun yang bersifat mengancam, mereka berenam diizinkan untuk masuk.


Ketika memasuki kota tersebut, Mizuzu dan Geok Su sangat terkagum melihat keindahannya. Apa yang diceritakan oleh Alomso ternyata bukanlah omong kosong belaka, jalan yang benar-benar di hiasi dengan taburan emas dan lampu-lampunya dihiasi dengan berlian. Melihat hal itu, Geok Su tidak dapat membayangkan betapa kayanya kerajaan ini, sampai-sampai menggunakan berlian hanya untuk menghiasi kotanya. Jika dibandingkan dengan kota pinggiran yang dimaksud, kota ini sangat berbeda jauh levelnya, tidak dapat disamakan.


Tokonya, rumah-rumahnya, penginapan dan air mancurnya juga sangat bagus.


Mizuzu bertanya kepada Rei apakah dia dapat membelikan untuknya makanan yang dijual di salah satu toko kecil di depan mereka, karena di sana terlihat banyak sekali orang-orang membelinya juga.


"Maaf ..., harga makanan di sini sangat berbeda jauh dengan yang ada di kota sebelumnya. Makanan di sini sangatlah mahal untukku." ujar Rei yang merasa tidak nyaman karena menolak permintaan temannya.


"Tidak apa-apa, ambil ini, belikan untuk mereka berdua makanan di sana." Dyain memberikan beberapa keping uang untuk Rei.


Lalu Rei mengajak Mizuzu dan Geok Su untuk pergi ke toko tersebut, sedangkan Dyain dan yang lainnya melanjutkan perjalanannya.


"Eh! mereka berjalan duluan!" ujar Mizuzu takut ditinggalkan.


"Tenang saja, aku tau ke mana arahnya. Mereka pasti menunggu kita di depan gerbang istana juga, jadi tenang saja." ujar Rei.


Ketika mereka sudah sampai di toko tersebut, terlihat beberapa orang di sekitar mereka saling berbisik, bahkan ada anak kecil yang meneriaki.


"Orang pinggiran ... orang pinggiran ...."


"Kalian berdua yang sabar ya, seperti inilah yang terjadi jika kita datang ke sini hanya dengan pakaian seperti ini." ujar Rei berusaha menenangkan temannya. Dia merasa malu karena membuat temannya harus menerima ejekan seperti tadi.


"Tidak apa-apa, Mizuzu sudah terbiasa menerima ejekan seperti itu." sahut Geok Su untuk memecah suasana.


Rei kemudian membeli makanan yang diinginkan oleh Mizuzu untuk mereka bertiga, tapi saat bertanya harganya, Rei terkejut.


"Bagaimana mungkin bisa semahal ini? bukankah harganya hanya satu keping koin perak saja sudah cukup?" keluh Rei.


"Kalian orang pinggiran tidak akan tau perubahan harga di kota ini! jika tidak punya uang pergi sana!" penjual itu mengusir mereka.

__ADS_1


"Hei tuan ... beberapa hari yang lalu aku mendengarkan rumor kalau ada seorang laki-laki berpakaian mewah mendatangi salah satu bar di dekat sini. Saat malam itu dia sedang bertengkar dengan istrinya karena masalah perselingkuhan. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan tentang perselingkuhan yang dimaksud, tapi yang jadi masalahnya, laki-laki tersebut mengirimkan pembunuh bayaran untuk membunuh perempuan yang jadi selingkuhannya tersebut. Sebenarnya aku masih berbicara dengan para penjaga sekitar sini tentang identitas orang itu, agak susah mencarinya karena satu-satunya petunjuk yang kudapatkan adalah rambutnya yang kriting." Alomso tiba-tiba ada di belakang mereka bertiga.


Laki-laki terlihat gemetar, karena dia juga memiliki rambut yabg kriting.


"Baiklah, ini silahkan ambil! satu keping perak untuk satu makanan!" laki-laki itu dengan kesal memberikan makanan tersebut kepada mereka.


Setelah mendapatkan makanannya, Rei kemudian membayar dengan tiga keping perak lalu membawa Geok Su dan Mizuzu untuk meninggalkan tempat itu.


Alomso mengikuti mereka dari belakang sambil terkekeh kecil, dia sepertinya terlihat agak cukup puas atas hal yang baru saja dia lakukan tadi.


"Kamu kenal sama orang itu?" tanya Geok Su.


"Iya, dia adalah orang yang menyewaku untuk membunuh selingkuhannya, tapi saat itu aku hanya memberikan dia informasi palsu kalau tugas sudah selesai. Perempuan yang menjadi selingkuhannya adalah teman Vinri, jadi aku tidak mungkin membunuhnya, yang ada akulah yang akan di bunuh oleh Vinri nanti."


Mereka bertiga kaget, sebenarnya siapa Alomso ini, dan apa saja yang sudah pernah dilakukannya.


"Rei, kamu sama sekali tidak kenal dengan Alomso? kamu kelihatan ikut terkejut juga tadi, bukankah kalian satu markas." tanya Mizuzu.


"Aku hanya tau namanya saja, karena dia ditugaskan di tempat yang berbeda dariku, dan ini pertama kalinya aku bertemu dengan orangnya secara langsung." jawab Rei sambil memakan makanannya.


"Aku adalah orang yang penuh rahasia ....Hahaha." Alomso tertawa sombong.


Sesampainya mereka di pintu gerbang istana, di sana sudah terlihat Vinri dan juga Dyain sedang menunggu mereka.


"Bagaimana? apakah makanannya terasa enak?" tanya Dyain.


"Baguslah, kalau begitu ayo kita bertemu dengan Ratu." ujar Dyain.


"Kenapa ratu? bukankah seharusnya kita bertemu dengan raja?" tanya Geok Su.


"Rumor mengatakan bahwa pewaris tahta kerajaan ini masih tidak ingin menikah, bahkan ketika Raja sebelumnya menyuruh anaknya untuk menikah, dia menolaknya walaupun saat itu ayahnya sedang sekarat. Sekarang ayahnya sudah meninggal dan dia adalah satu-satunya anak tunggal dari Raja tersebut. Sebagai tambahan, dia masih berumur dua puluhan tahun." Alomso sengaja menggoda Geok Su.


"Sudahlah, ayo kita masuk." Dyain mengajak mereka masuk ke dalam. Sepertinya dia sudah cukup dikenal oleh para penjaga di istana tersebut, karena ketika memasuki gerbangnya, mereka malah di sambut, bukan di tanya keperluannya apa.


"Ingat! Ratu kita tidak suka dengan orang yang menentang perintahnya, dia sangat membenci hal tersebut. Kalian haruslah diam saja nanti, jangan mengatakan apapun jika itu menurut kalian tidak baik, biarkan aku saja yang berbicara, TERUTAMA KAU ALOMSO!" ujar Dyain sambil melotot ke arah Alomso.


"Hehehe ... tidak apa-apa, bukan? Lagipula aku hanya tinggal satu hari lagi berada di sini." sahut Alomso.


"Sudah! ikuti saja apa yang baru kukatakan. Baiklah, di balik pintu ini adalah tempat Ratu duduk di atas singgasannya, kita harus sopan." Ujar Dyain sambil memegang gagang pintu tersebut.


Geok Su sebenarnya tidak sadar kalau mereka sudah berada di ruang singgasana, karena dia keasyikan melihat ornamen di dalam istana.


Ketika pintu terbuka, di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa penjaga dengan baju besi serta para pelayan yang melayani Ratu itu.


"Akhirnya kamu datang juga Dyain, aku sudah lelah menunggu orang yang tidak dapat menepati janjinya untuk datang tepat waktu." Suara Ratu tersebut seakan sangat mengintimidasi.


"Maaf ratu, ada sedikit masalah di perjalanan tadi, tapi untuk sekarang kita mungkin harus lebih memfokuskan untuk membahas tentang monster yang saya maksudkan dalam surat tadi malam." Dyain terlihat cukup menghormati Ratu tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kita harus membahasnya di tempat perjamuan saja. Aku tidak menyangka kamu akan membawa beberapa tambahan pengganggu." Ratu tersebut terlihat tidak terlalu senang dengan kehadiran Geok Su dan yang lainnya.


Mereka kemudian menuju ke tempat meja perjamuan yang berada si ruangan lain.


Sesampainya di sana, sudah tersedia banyak sekali makanan, ditambah lagi semuanya terlihat sangat mewah.


"Silahkan dinikmati, sekalipun kalian menghabiskannya tidak akan membuatku rugi. Baiklah Dyain, ceritakan semuanya."


Dyain menceritakannya semuanya yang dia ketahui tentang para monster tersebut, dan mengatakan apa yang baru saja dialami oleh Rei dan yang lainnya.


"Sepertinya cukup berbahaya, apalagi mereka berniat untuk menyatakan perang dengan kita. Apakah kalian dapat menjelaskan seperti apa monster tersebut? atau setidaknya kalian dapat menunjukan cakar dan taringnya."


Kemudian secara tiba-tiba ada sebuah portal di samping tempat mereka makan, dan setelah itu munculah kepala monster yang mirip seperti naga kemarin. Kemunculan kepala itu membuat semuanya terkejut, kecuali Sang Ratu.


"Jadi begini, siapa yang menunjukannya barusan?" tanya Ratu tersebut, dia sepertinya mempunyai aura yang sangat mengerikan, walaupun dia hanyalah manusia biasa.


Sambil ketakutan Geok Su mengacungkan tangannya, "itu saya yang mulia, kekuatan jiwa saya tiba-tiba di luar kendali.".


"Apa yang barusan kamu lakukan!" Geok Su bertanya kepada Jin Yu.


"Aku hanya tidak suka melihat sifat Ratu itu, jadi ini hanyalah untuk membuat dia merasa jijik, tapi ternyata tidak berguna." sahut Jin Yu.


"Kita bisa kena masalah nanti!" Geok Su agak ketakutan.


Jin Yu tidak peduli dengan perkataannya, dia langsung diam.


"Siapa namamu?" tanya Ratu tersebut.


"Geok Su.".


"Bagus! aku suka dengan lelaki sepertimu. Apakah kamu yang mengalahkannya?". tanya Ratu itu lagi.


"Bukan yang mulia, yang mengalahkan monster itu adalah teman saya Rei." Geok Su menunjuk ke arah Rei.


"Sialan kau Geok Su!" Rei sebenarnya tidak ingin berbicara apapun dengan Ratu itu, karena dia merasakan Ratu tersebut masih bersifat kekanak-kanakan.


"Hebat! apakah kamu mau menjadi salah satu pengawalku?" tanya Ratu itu.


"sialan! kenapa pertanyaan ini harus ke aku!" batin Rei.


"Maaf menyela Ratu, saat ini mereka berlima akan saya kirimkan untuk menyusup ke markas musuh, karena itu akan cukup mustahil jika menarik dia dari rencana ini." Dyain sepertinya memahami posisi Rei seperti apa.


"Begitu ya. Baiklah, ada yang ingin ku bicarakan berdua bersama dia, karena itu aku akan menunggu di taman belakang." Ujar Ratu tersebut sambil menunjuk ke arah Geok Su.


Lalu Ratu itu meninggalkan mereka.


Rei tersenyum puas mendengar hal tersebut, dia menunjukkan senyuman liciknya kepada Geok Su.

__ADS_1


__ADS_2