
"Hahaha ... kalian pasti terkejut!" Alomso tertawa terbahak-bahak di depan mereka.
Kemudian Vinri meluruskan apa yang baru saja dikatakan oleh Alomso.
"Dia hanya bercanda, aku sama sekali tidak hamil dan aku juga sama sekali tidak ingin menjadi istri dari orang sepertinya. Walaupun dia terlihat sangat tampan, tapi kalian belum tau sifatnya seperti apa, ini hanyalah tipuan dari sifatnya yang sebenarnya." ujar Vinri dengan wajah yang sangat serius.
"Sudahlah, jangan kamu menceritakan hal seperti itu, nanti kelucuanku akan hilang, dan mereka tidak akan terhibur lagi ...." ujar Alomso mengeluh.
"Baiklah, sekarang kita mau ke mana lagi? Kembali ke desa tadi atau langsung berangkat ke kota?" tanya Rei.
"Menurutku kita harus memberikan peringatan terlebih dahulu ke desa tadi, agar mereka bisa lebih waspada, dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi." ujar Mizuzu sambil menggunakan pedangnya untuk mengiris daging monster tersebut. entah sejak kapan dia mengeluarkan pedangnya, tapi sepertinya dia sangat menikmati mengiris daging monster itu.
"Kamu sedang apa? terlihat sangat menikmatinya." tanya Rei
"Ah, tidak apa-apa, aku hanya melihat apakah daging mereka layak untuk dimakan atau tidak, takutnya nanti jika kita kelaparan seperti di pinggir pantai saat itu, jadi ada makanan darurat." sahut Mizuzu, dia agak terkejut karena tingkah lakunya tidak seperti biasanya.
Kemudian mereka kembali ke desa, dan sesampainya di sana, banyak sekali penduduk desa tersebut yang menunggu kepulangan mereka.
"Bagaimana? apakah kalian tidak apa-apa?" tanya salah satu penduduk tersebut, mereka tampak khawatir dan ketakutan.
"Tenang saja! kami adalah orang yang sangat kuat! monster seperti itu tidak akan jadi masalah." Alomso menyombongkan dirinya lagi.
Plaakk!
Rei memukul kepala Alomso.
"Aw ...."
"apa yang terjadi tadi, dan apa yang harus kami lakukan jika mereka datang kembali?" tanya salah satu penduduk itu lagi.
Rei kemudian menceritakan apa yang baru saja mereka lakukan di sana dan seberapa kuat para monster tersebut. Lalu dia juga menenangkan para penduduk tersebut agar tidak terlalu khawatir atau takut jika para monster tersebut datang kembali, karena ketika sampai di markas mereka nanti, dia akan memberitahukan kepada ketuanya agar mengirim beberapa pasukan untuk berjaga-jaga di setiap desa terdekat dan nanti juga akan berusaha untuk memberitahukan kepada kerajaan agar dapat mengirimkan para ksatrianya untuk membantu menjaga keamanan di setiap desa yang jauh.
__ADS_1
Mendengar hal yang disampaikan oleh Rei, mereka terlihat sedikit tenang, walaupun ada beberapa yang masih meragukan apakah mereka benar-benar bisa terlindungi atau tidak.
Setelah menyampaikan hal tersebut, mereka berlima pamit untuk segera pergi ke kota.
Perjalanan dari desa tersebut ke kota cukuplah jauh, karena Rei sengaja mengambil jalan lain agar bisa sambil mengajak Geok Su dan Mizuzu untuk melihat pemandangan lainnya di daerah tersebut.
...^^^***^^^...
Mereka sampai di kota ketika hari sudah sore, karena itu Rei mengajak mereka untuk menginap semalam di di salah satu penginapan di kota tersebut, karena banyak hal yang ingin ditunjukkannya kepada mereka berdua, mulai dari restoran yang terkenal, jajanan yang populer di tempat tersebut serta mengajak jalan-jalan mengelilingi kota untuk melihat lampu-lampu jalan yang indah.
Sebelum mereka berangkat, Rei menyuruh mereka berempat untuk pergi terlebih dahulu. Dia akan kembali ke markas sebentar untuk menyampaikan kepada ketuanya agar besok pagi atau jika bisa malam ini mengirimkan beberapa orang untuk menjaga setiap desa agar terhindar dari serangan monster-monster seperti siang tadi.
Tapi sebelum Rei berangkat meninggalkan mereka menggunakan kekuatan portalnya, Alomso menghentikannya. Dia mengatakan agar Vinri saja yang pergi ke sana, lalu setelah itu kembali lagi ke sini.
Rei awalnya tidak menyetujui hal tersebut tapi karena Vinri kelihatannya tidak keberatan akan hal itu, akhirnya dia menyerahkan hal tersebut kepadanya.
Setelah itu mereka akhirnya keluar dari tempat penginapan yang baru saja mereka sewa tadi, dan berjalan menuju restoran yang di maksud oleh Rei, sambil berjalan menuju restoran, mereka melihat jalanan kota yang cukup indah, agak cukup berbeda dari jalanan kota yang selama ini mereka lihat di dunia asalnya.
"Ayo masuk!" Rei mengajak mereka berdua, sedangkan Alomso sudah mendahului mereka bertiga.
Ketika memasuki restoran tersebut, suasana yang diberikan sangatlah nyaman, walaupun tidak ada kipas angin ataupun pendingin lainnya, tapi di tempat itu sangat sejuk, hawanya seakan mengajak kita untuk dapat tidur dengan nyenyak.
Setelah sudah menentukan akan duduk di mana, seorang pelayan mendatangi mereka berempat dan menanyakan akan memesan makanan apa saja.
Sebelum Rei menyebutkan pesanannya, Alomso menyuruh pelayanan tersebut menyediakan semua makanan yang paling enak di tempat itu, dan tidak lupa dia juga merayu pelayan tersebut.
Dapat terlihat pelayan tersebut agak tersipu akibat rayuan dari Alomso dan setelah itu dia dengan cepat menulis pesanan mereka lalu meninggalkannya.
Karena sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya, Mizuzu akhirnya bertanya kepada Rei kenapa tempat tersebut cukup sepi padahal dia mengatakan kalau itu adalah restoran yang terkenal.
"Memang harus seperti itu, dalam kerajaan ini, jika ada sebuah toko ataupun restoran yang terkenal, maka orang yang datang harus di bagi dalam waktu tertentu, karena jika tidak, maka akan dikenakan biaya pajak yang cukup mahal oleh kerajaan. Sistem seperti ini hanya diketahui oleh orang-orang seperti kami saja, dan hal ini tidak diketahui oleh kerajaan." jawab Rei sambil menuangkan air minum yang sudah disediakan dari awal di atas meja.
__ADS_1
"Terus bagaimana jika ada salah satu orang dari kerajaan yang memata-matainya? atau yang sedang memantau? mereka pasti akan mengetahuinya, bukan?" tanya Mizuzu kembali.
"Itu tidak masalah, karena kami sangat tau kalau kerajaan tidak akan membuang-buang waktunya hanya untuk pergi ke tempat seperti ini. Dalam kerajaan ini ada daerah yang dapat dikatakan adalah tempatnya para anggota kerajaan berkunjung. Di sini adalah tempat pinggiran dari pusat kerajaan, walaupun ini kota, tapi ini adalah kota pinggiran." sahut Alomso.
Kemudian Geok Su juga bertanya, "terus bagaimana dengan tempat para anggota kerajaan itu berkunjung? apakah lebih bagus dari ini?".
"Tentu saja sangat bagus, di sana terdapat jalan yang dilapisi dengan bubuk-bubuk emas, lampu-lampu jalannya di hiasi dengan berlian serta dekorasi-dekorasi dari rumah, restoran, toko dan bahkan air mancur di tengah kotanya sangat cantik." Alomso menceritakannya dengan semangat.
Ketika asyik berbincang, akhirnya makanan yang mereka pesan sudah tiba, dan setelah itu mereka menyantap makanan tersebut sambil melanjutkan membahas kota tadi.
Setelah selesai menyantap makanannya, mereka kembali berjalan di kota tersebut dan terkadang berhenti di toko jajanan kecil yang cukup populer.
Berjalan didampingi lampu yang indah, Mizuzu menanyakan suatu hal kepada Rei, dia meminta izin kepadanya apakah boleh dia dan Geok Su menikmati suasana ini sendirian.
"Tentu saja! silahkan, aku akan menunggu di sekitar sini." jawab Rei dengan senang.
"Jika kalian tersesat, tinggal pencet saja jamur ini." ujar Alomso sambil memberikan jamur berwarna hijau.
Mizuzu menerimanya dan setelah itu menarik tangan Geok Su untuk menuju tempat yang dia inginkan, walaupun dia tidak tau jalan yang di ambil apakah akan sesuai dengan apa yang diharapkannya.
"Geok Su, menurutmu apakah kita akan tinggal di sini selamanya? di sini memang indah, tapi ... aku tidak tau apakah bisa menyesuaikan dengan keadaan di sekitar." Mizuzu seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"Tenang saja, menurutku kamu adalah orang yang cepat beradaptasi. Buktinya saja kamu bisa makan daging beruang, menjadi sandera, tidak makan selama tiga tahun dan yang terakhir, memainkan daging monster." jawab Geok Su sambil mengejeknya.
"Tapi tetap saja ... Aku takut, apalagi kita juga harus pergi ke dunia yang asing lagi. Aku merasa seperti sudah menjadi orang yang tidak punya rumah." keluh Mizuzu.
"Tidak perlu khawatir, ada aku yang menjadi temanmu, kita berasal dari dunia yang sama, jadi tidak perlu khawatir.Anggap saja aku teman atau bahkan keluargamu. Anggap juga aku sebagai rumahmu, karena kita berasal dari tempat yang sama." Geok Su menenangkannya.
Setelah itu mereka melanjutkan menikmati malam yang indah tersebut dan sambil bercanda tentang kehidupan yang mereka alami.
Dari kejauhan, Alomso ternyata mengamati mereka bersama di sampingnya ada Vinri.
__ADS_1