Keluarga Abah Kumis

Keluarga Abah Kumis
Tamu Negeri Sakura


__ADS_3

Setelah kembali dari Bali, Hans mendapat jatah libur dua hari sebagai kompensasi atas kinerjanya yang luar biasa. Dan bukan Hans namanya kalau hari libur dijadikan kesempatan untuk begadang sambil bermain game. Emak yang sudah lelah menasehatinya hanya bisa pasrah, selama uang listrik dari Hans masih lancar tiap bulannya.


Di hari liburnya yang kedua, Hans baru tidur pukul tujuh pagi setelah berhasil menamatkan satu permainan. Baru beberapa jam tertidur tiba-tiba ponselnya berdering.


"Aduhhh siapa sih yang telepon jam segini, ga tau apa gue baru tidur"


"Hmm... ini siapa ?" ucap Hans yang masih setengah sadar


"Hei anak muda macam apa kamu jam segini masih tidur ?" kata suara dari seberang telepon


"Astaga! Pak Richard ? ada apa pak kok mendadak telepon saya ?" seketika Hans tersadar ketika mengetahui yang menghubunginya adanya Team Leader divisinya.


"Iya barusan saya dapat kabar dari pihak manajemen, katanya besok bakal ada utusan dari kantor pusat Jepang yang memantau kinerja kantor kita kurang lebih tiga bulan"


"Berhubung kamu bisa bahasa Jepang, pihak manajemen minta kamu buat jadi pendamping dia selama ada di Indonesia. Nanti siang kamu ke kantor buat cek profil sama persiapan buat jadi pendampingnya" jelas Pak Richard


"Apa ? kok saya yang dipilih ? kan ada si Ucup yang ngerti bahasa Jepang juga" balas Hans


"Ah kalo si Ucup mah ngertinya bahasa Jepang yang nganu-nganu Hans, yang ada nanti si orang Jepang ditanyain hal-hal aneh sama dia. Udah kamu aja yang jadi pendamping, lumayan ada bonus dari manajemen"


"Oh iya satu lagi, menurut kabar yang Bapak denger sih si orang Jepang masih muda dan masih single. Kayaknya seumuran kamu deh, ya siapa tau kan jodoh hahahahaha"


"Eh si bapak mah malah nyambungin kesitu hadeuhhh"


"Ya kan mantul Hans, kamu blasteran doi Jepang, kira-kira kaya gimana nanti anaknya ya ? hahahaha"


"Ah si bapak malah ketularan si Ucup. Yaudah nanti siang saya ke kantor pak, terima kasih infonya ya pak"


"Sip Hans, sampe ketemu nanti siang ya" dan Pak Richard pun mengakhiri teleponnya.


Pukul satu siang Hans berangkat menuju kantornya. Setibanya disana ia segera menuju ruangan Pak Richard untuk diskusi soal kedatangan tamu dari Jepang. Saat melihat profil tamu yang diberikan Pak Richard, mata Hans tak berkedip memandang foto tamu tersebut.


"Beneran ini tamunya pak ?" tanya Hans kepada Pak Richard yang tengah duduk dibalik meja kerjanya


"Iya itu orangnya, kenapa ? naksir ?"

__ADS_1


"Ah bercanda aja bapak, dilihat dari fotonya aja udah ketebak ini anak sultan lah saya mah apa cuma anaknya Abah Kumis"


"Yah anak muda udah minder duluan hahaha payah ah. Yaudah profilnya bawa aja, terus ini dokumen pendukung kunjungan juga bawa aja. Inget ya yang bener besok penampilannya"


"Siap boss ku, kalo gitu saya pamit ya" belum sempat membuka pintu, nama Hans sudah dipanggil lagi oleh Pak Richard


"Oh iya Hans besok kamu yang jemput beliau di bandara ya"


"Lah masa urusan jemput saya juga pak"


"Wis ga usah bantah, saya yakin nanti kamu juga ketagihan jemput beliau. Dah pulang sana terus tidur yang bener, jangan sampai kantong mata kamu hitam terus tamu kita ketakutan hahahaha"


Sesampainya dirumah, Hans langsung masuk kedalam kamar dan mengeluarkan map profil tamu yang akan ia jemput besok. Dengan seksama ia mengamati sekali lagi foto yang ada didalam profil tersebut.


"Tugas beginian napa jadi kerjaan gue juga sih ? kan jadi ga bisa remote kerjaan lagi dari rumah"


"Terus nanti gue ajak ngomong apaan sama ini tamu, masa iya tiga bulan bahas kerjaan melulu"


"Tau ah gimana besok aja, mending lanjut mimpiin Mikasa Ackerman dulu"


"Lah bang ? abis kesambet dimana pagi-pagi gini udah rapi ? mana minyak wangi nusuk banget baunya ke hidung, kalah nih bau tumis oncom Emak" ujar Emak yang tengah menata hidangan sarapan di meja makan


"Buset Mak pagi-pagi udah sarapan oncom aja, ga sekalian ikan asin sama sambel hahahaha... Hari ini ada tugas penting Mak dari kantor, makanya disuruh rapi" balas Hans sambil duduk di meja makan dan mulai mengambil sarapannya


"Yeee ini oncom pesenan Abah, kalo ga mau makan itu Emak buat nasi goreng juga.. telor ceplok juga ada"


"Nah kalo bisa mah tiap hari kaya begini Hans, kan jadi keluar aura gantengnya. Biar kata kerjaan kamu santai dan ga bertatap muka dengan banyak orang tapi penampilan tetap harus dijaga"


"Iyaaa Mak iyaaa, ini kapan Hans makannya kalo diajakin ngobrol terus hahaha"


"Ah dasar kamu nih, yaudah sok buruan sarapan terus berangkat biar ga terlambat. Emak ke dapur lagi ya mau siapin bekal Abah"


Tak lama kemudian Abah keluar dari kamar setelah selesai bersiap-siap. Abah pun terkejut melihat penampilan Hans, sampai-sampai tersedak ketika meminum kopinya.


"Santai aja atuh Abah, itu kopi ga bakal lari hahahaha"

__ADS_1


"Ada angin apa penampilan kamu keren begini ?ga biasa-biasanya"


"Ada kerjaan bah"


"Kamu naik jabatan ? bagi-bagi Abah lah"


"Amiiinnn kalo itu mah Bah, cuma belum saatnya Ini mah karena mau ada tamu dari luar jadinya harus rapi"


"Yaudah atuh yang semangat kerjanya ya bang, biar lancar rezekinya"


"Makasih Bah, abang berangkat duluan ya" ucap Hans sambil mencium tangan Abah


Hans pun segera menyalakan mesin motornya, kemudian melaju pesat ditengah ramainya jalanan ibukota. Setibanya di kantor ia langsung memarkirkan kendaraannya dan berjalan menuju parkiran khusus mobil operasional kantor. Disana sudah ada supir yang menunggu untuk membawanya ke bandara.


Sepanjang perjalanan Hans memikirkan apa yang harus diucapkan kepada tamu kantornya itu. Meski pandai bahasa jepang, namun Hans hanya paham kalimat-kalimat yang sering diucapkan dalam film ataupun anime series jepang.


Setibanya di bandara, ia segera menuju terminal 3 kedatangan mancanegara sambil membawa selembar kertas yang bertuliskan nama tamu tersebut. Hampir satu jam Hans berdiri sambil mengangkat lembaran kertas tadi, namun tidak nampak tanda-tanda kehadiran sang tamu padahal seluruh penumpang mancanegara sudah keluar.


"Perasaan udah bener deh disini pintu keluarnya, ini juga nomor penerbangannya juga sama. Jangan-jangan itu tamu nyasar lagi, duh mesti gimana nih gue"


Hans masih mondar mandir didepan pintu keluar, beberapa penumpang kembali keluar namun dari nomor penerbangan yang berbeda dan tidak ada tanda-tanda kedatangan tamu tersebut. Hans yang mulai bosan dan lelah kini kembali ke trolly yang ia bawa dan duduk diatasnya. Dibukanya jas yang ia kenakan, kemudian ia mengendurkan sedikit ikatan simpul dasinya.


Dari belakang tampak seorang wanita berjalan mendekat ke arah Hans dan tiba-tiba wanita tersebut menepuk pundak Hans dengan lembut.


"Sumimasen... "


Hans yang kaget langsung berbalik badan..


"Anda... " Saking terkejutnya, kata-kata yang Hans siapkan tadi kini sudah hilang entah kemana


"Ah maafkan saya Hans-san, saya Kaori Michiko. Maaf lama menunggu karena tadi saya harus mencari toilet dulu"


Hans makin terkejut karena nona Kaori sangat lancar bahasa indonesia...


*to be continued*

__ADS_1


__ADS_2