Ketika Cinta Kehilangan Arti

Ketika Cinta Kehilangan Arti
Perhatian


__ADS_3

Sekali tidak cukup dan Emanuel berharap ia bisa bertemu kembali dengan Rosemary yang menurutnya penuh misteri.


Sudah berulang kali Emanuel menghubungi Ezme tetapi wanita itu belum juga menjawab teleponnya. Dia bukan lelaki yang memiliki kesabaran tingkat dewa tetapi menghadapi Ezme membuatnya harus bertahan.


Sejak bertemu dengan Rosemary kemarin, Emanuel mendadak menjadi lelaki paling perhatian pada wanita yang baru melahirkan tersebut. Tidak pernah sekalipun dia melewatkan waktu untuk menghubungi Ezme sekedar mencari informasi tentang Rosemary.


Karena Ezme tidak juga menjawab teleponnya, Emanuel memilih berangkat sendiri ke ruamh sakit. Dalam hatinya tidak mungkin Rosemary sudah meninggalkan rumah sakit sehari setelah melahirkan.


“Aku ke rumah sakit sekarang,” beritahu Emanuel pada sekretarisnya, Lucy


“Tapi, Tuan sudah seteju bertemu dengan Tuan Lev Grigory,” ucap Lucy mengingatkan.


“Jam berapa janjinya?”


“Setengah jam lagi,” beritahu Lucy.


Kesal karena hampir melupakan janjinya, akhirnya Emanuel membatalkan niatnya. Tidak mungkin ia mambatalkan janji demi seorang perempuan yang belum terlalu ia kenal.


Kembali ke ruang kerjanya memberi kesempatan pada Emanuel untuk membaca pesan yang disampaikan Luci mengenai tujuan Lev bertemu dengannya. Tidak ada proposal yang bisa ia pelajari karena Lucy hanya menulis pesan yang disampaikan oleh Tiara.


“Jadi, Lev mulai tertarik dengan bisnis pertanian. Menarik karena lelaki yang terkenal dengan batu mulia-nya menjadi lelaki yang harus mengenal nama-nama tumbuhan,” kata Emanuel dalam hati.


Setelah membaca pesan dari Lucy dan menilai apa saja kemungkinan dari tawaran Lev, akhirnya Emanuel mendapat informasi dari Lucy bahwa Lev sudah tiba.


“Persilahkan dia masuk,” perintah Emanuel pada Amora.


Tidak perlu waktu lama pada saat tubuh kekar Lev memasuki ruang kerja Emanuel. Aura yang ditimbulkan Lev membuat Emanuel tersenyum.


Mereka bukan baru sekarang bertemu tetapi persaingan yang terjadi selama kuliah sampai saat ini belum benar-benar hilang.


“Menarik karena tiba-tiba kau datang ke sini,” sambut Emanuel.


“Tidak ada yang tidak menarik selama berhubungan dengan bisnis yang saling menguntungkan,” jawab Lev.


Mereka saling berjabat tangan seolah memastikan siapa yang akan menang, tetapi mereka sudah cukup dewasa bahwa ada kalanya persaingan harus disembunyikan untuk sebuah keuntungan. Seperti yang dikatakan Lev semua sah dalam berbisnis.


“Jadi?”


Tidak perlu alasan panjang kali lebar saat Lev menjelaskan tujuannya. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain sehingga cara yang dilakukan Lev bisa diterima dengan baik oleh Emanuel.


“Tawaran yang menarik. Tetapi aku juga harus menyampaikan padamu bahwa di Moskwa sudah ada perusahaan yang bekerja sama denganku dan perusahaan tersebut memegang hak dagang di kota-mu,” jawab Emanuel.


“Kenapa harus menyerahkan pada 1 perusahaan sementara kau bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi?” tanya Lev.


“Apakah kau memberikan penjualan hasil tambang-mu pada setiap perusahaan? Aku yakin di kota Paris ini hanya 1 perusahaan yang kau ijinkan. Jadi, apa bedanya kau dan aku?” kata Emanuel membalikkan keadaan.


“Kau benar. Tetapi aku menawarkan kerja sama dengan bahan baku bukan hasil olahan. Aku tahu di negaraku belum ada yang mengambil bahan dasar dari produk hasil pertanian-mu,” kata Lev bersikeras.


Senyum Emanuel terlihat puas. Dia memang hanya memasarkan hasil olahan yang sudah jadi tetapi bukan bahan mentah.

__ADS_1


Namun, apakah Emanuel akan menerimanya? Tentu saja tidak. Dia adalah pengusaha sekaligus petani sehingga dia bisa menilai mengirim bahan mentah ke perusahaan lain bisa merugikan usahanya sendiri.


“Aku mengerti tetapi aku tidak bisa memberikannya padamu.” Kata Emanuel setelah mengeluarkan tawanya.


“Kenapa? Apakah kau tidak membuang hasil pertanianmu menjadi sia-sia karena keterbatasan waktu? Sementara aku menawarkan kerja sama untuk mengolahnya?” bujuk Lev.


“Aku terima alasanmu, tetapi saat ini aku belum memiliki jawaban,” jawab Emanuel setelah berpikir beberapa saat.


“Aku akan menunggu. Kalau begitu, kapan aku bisa mendapatkan jawaban?” tanya Lev saat dia bangun dari duduknya.


“Sekretarisku akan menghubungi sekretarismu. Omong-omong, kenapa kau tidak datang bersama Tiara? Namanya Tiara, kan?”


“Benar, namanya Tiara. Dia minta ijin menemui putrinya,” jawab Lev.


“Putrinya? Aku tidak tahu kalau dia punya keluarga di sini,” ujar Emanuel.


Dalam hati ia ingin bertanya apakah putrinya adalah Rosemary tetapi, ia ragu untuk bertanya karena Lev bisa curiga.


“Aku juga tidak tahu. Bukan bagianku untuk mengetahui apakah dia punya keluarga atau tidak disini,” balas Lev acuh.


Suara tawa Emanuel kembali terdengar setelah Lev menyelesaikan kalimatnya.


“Okey, bagaimana pun kehidupan seorang sekretaris bukan urusan kita, bukan? Atau sudah menjadi urusanmu?” goda Emanuel.


“Kau benar. Urusan Tiara sudah menjadi urusanku meskipun Tiara selalu menolak apabila aku ingin serius.”


Kembali, seolah Emanuel tidak memiliki rem untuk menahan apakah ucapannya pantas atau tidak, Emanuel sudah membuat wajah Lev memerah dengan kalimat yang diucapkan dengan jelas.


serius denganmu sementara usia Tiara sudah tidak muda lagi. Kau tidak berpikir perbedaan usia kalian? Apalagi anaknya sudah kuliah.”


“Aku tidak peduli. Bagiku perempuan yang jauh lebih dewasa lebih menarik daripada perempuan muda yang seringkali memancing emosi,” sahut Lev sambil meringis.


“Aku tidak tahu sejak kapan seleramu berubah tetapi dengan perubahan tersebut aku beruntung,” balas Emanuel.


Ia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan hingga ia memilih bangun dari kursinya.


“Kau mau pergi?” tanya Lev heran.


“Benar. Sebenarnya aku sudah mau pergi sebelumnya kalau saja Lucy tidak mengingatkan diriku,” jawab Emanuel.


“Pergi kemana?”


“Ke rumah sakit. Salah satu temanku di rawat di sana,” jawab Emanuel menolak memberikan informasi tentang Rosemary pada Lev.


Lev dan Emanuel sudah meninggalkan kantor Emanuel dan mereka memiliki tujuan yang berbeda.


Lev, setelah gagal menghubungi Tiara memilih kembali ke apartemennya. Wajahnya menyimpan kemarahan karena lagi-lagi Tiara mematikan ponselnya setiap kali mengunjungi Marry.


Sementara itu di rumah sakit, Tiara sudah berada di kamar perawatan Rosemary tetapi kehadirannya dianggap asing oleh Rosemary.

__ADS_1


“Apakah aku tidak pantas ada disini?” tanya Tiara pada Rosemary.


“Sebagai orang yang menerima kunjungan, tidak seharusnya kau bersikap seperti ini,” ujar Tiara mengomentari sikap Rosemary yang dingin.


“Kenapa, apa masalah?” balas Rosemary dingin.


“Aku tidak tahu kalau kau menghungiku selain itu juga aku sedang mendampingi bos-ku,” kata Tiara mulai kesal.


Dia bergegas datang ke rumah sakit setelah mendapat kesempatan tetapi reaksi Rosemary membuatnya marah. Mengapa putrinya keras kepala dan tidak mau menerima alasannya?


Namun, Tiara memang belum mengenal Rosemary. Pada saat ia berpikir seharusnya pergi dan tidak perlu memberikan penjelasan, Rosemary tiba-tiba bertanya tentang bosnya.


“Kenapa kau ingin tahu?” tanya Tiara.


“Hanya ingin tahu karena kau bisa pergi ke negara ini seperti pulang ke rumah,” jawab Rosemary.


“Bosku adalah pria yang sangat pengertian. Dia mengijinkan aku mengunjungimu asalkan pekerjaanku sudah selesai,” jawab Tiara bangga.


“Bagaimana dengan cuti tahunan? Apakah kau juga mendapatkannya?” tanya Rosemary kembali.


“Tentu saja. Semua perusahaan memberikan ijin cuti pada karyawannya. Dan sebagai pegawai yang berasal dari benua yang berbeda, aku mendapatkan keistimewaan,” sahutnya tersenyum.


Namun, begitu melihat ekspresi wajah Rosemary, senyum di wajah Tiara langsung hilang. “Kau mungkin menganggapku tidak peduli padamu tetapi seandainya kau tahu alasan yang sebenarnya ….”


“Tidak perlu. Aku tidak perlu mendengarkan alasan darimu. Aku cukup bahagia tinggal bersama papa dan mama Aini yang sudah merawat dan menjagaku,” tukas Rosemary.


“Jadi kau sama sekali tidak ingin kembali ke Indonesia karena mempunyai bos yang pengertian?” tanya Rosemary.


“Kenapa Marry, kenapa kau tiba-tiba menyebut Indonesia? Sudah begitu lama aku tidak kembali ke sana apalagi aku tidak punya keluarga yang memberi alasan untuk pulang,” jawab Tiara.


“Sebelum aku datang ke sini, kau punya alasan, apakah aku tidak berarti apa-apa bagimu?” tanya Rosemary.


Tarikan napas terasa berat dirasakan oleh Tiara. “Apa pun julukan yang kau berikan padaku, aku tidak akan membahasnya. Lalu, siapa nama anakmu?”


“Aku menamainya Yuzi?” jawab Rosemary.


“Kenapa harus Yuzi? Kau tahu artinya?” tanya Tiara.


“Aku menyukainya karena dia adalah kekuatan dan sumber inspirasiku,” jawab Rosemary yakin.


“Baiklah. Lalu dimana Yuzi sekarang?” tanya Tiara.


“Dia baru dibawa perawat ke kamar bayi,” jawab Rosemary.


“Kalau begitu, aku pergi sekarang tetapi sebelumnya aku akan melihat anakmu lebih dulu. Dan…biaya rumah sakit sudah aku bayar seluruhnya,” beritahu Tiara sesaat sebelum dia keluar.


Apa pun yang dilakukan Tiara dengan membayar biaya rumah sakit membuat Rosemary seperti terikat.


“Kenapa dia melakukannya, apakah dia berpikir aku tidak bisa membayarnya?” tanya Rosemary dalam hati.

__ADS_1


Tetapi dia tidak punya pilihan lain. Operasi bukan pilihan yang harus dia lakukan pada saat saldo di rekeningnya tidak memungkinkan menolak tindakan Tiara.


__ADS_2