
Tiara melihat pintu dan berharap ada keajaiban yang terjadi tetapi Lev tidak datang kembali setelah pergi dalam kemarahan sementara jari tangan Tiara mulai menekan angka yang ada di layar ponselnya.
Perlu waktu yang lumayan lama sampai ada suara yang menanggapi panggilan telepon darinya.
“Halo ….”
“Rose! Kenapa lama sekali baru menjawab!” tegur Tiara marah.
Di tempat yang berbeda, Rosemary menjauhkan ponselnya. Kenapa setiap kali Tiara menelepon selalu dimulai dengan pertanyaan seperti itu. Apakah dia tidak pernah berniat menanyakan kabarnya?
Keadaan Rosemart tidak baik dan ia mulai menyesal mengapa harus menerima tawaran Max setelah semuanya terlambat.
“Kau beruntung karena jari tanganku terpeleset. Kau pasti tahu bahwa aku tidak pernah berminat bicara denganmu.”
“Kenapa? Kenapa kau tidak mau bicara denganku?” Tiara mulai kehilangan kesabaran.
“Karena tidak ada gunanya atau aku perlu mengatakan bahwa bicara denganmu hanya membuang energy
positivku?”
“Jadi kau tidak lagi menganggapku sebagai ibumu?” tanya Tiara tidak sabar.
Rosemary tidak ingin menanggapinya karena percuma. Tiara selalu mengira dunia berputar padanya dan orang lain tidak perlu mendapatkan perhatian.
“Ada apa? Sebaiknya katakan saja langsung. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini.”
Tiara mendengar nada bosan pada suara Rosemary tetapi ia tidak peduli. Yang paling penting saat ini adalah Rosemary harus mengikuti permintaannya. Ia bahkan tidak perlu memikirkan apakah Rosemary punya waktu atau tidak.
“Kau harus datang ke Moscow akhir pekan ini!” perintahnya.
“Sayang sekali. Aku tidak bisa melakukannya. Aku punya pekerjaan yang harus aku selesaikan dalam minggu ini. Lagipula, kenapa aku harus mengikuti permintaanmu.”
“Karena kau adalah anakku dan kau harus bertanggung jawab dengan kebahagiaanku. Aku pernah mengatakan bahwa keluarga kekasihku ingin bertemu denganmu. Kau harus datang karena aku memerlukannya!”
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti.”
Rosemary sudah menutup telepon tanpa memberikan kepastian membuat Tiara cemas. Ia tidak boleh kehilangan Lev ketika keadaannya terus memburuk tetapi ia juga tidak sanggup bicara jujur tentang penyakitnya.
“Aku harus kuat. Sebelum menjadi istri Lev, aku tidak akan mengatakan apapun tentang penyakitku,” ucap Tiara dalam hati.
“Rosemary memang tidak mau bicara denganku tetapi, aku yakin dia mau membaca pesan yang aku kirim,” katanya setelah menemukan cara agar Rosemary mengikuti perintahnya.
Dengan senyum licik yang terus terlihat di bibirnya, Tiara mulai mengetik pesan dan semuanya berisi kejujuran tentang penyakitnya. Tiara berharap Rosemary peduli dengan kejujurannya dan ia juga tidak lupa memberikan nama dokter yang selama ini ia datangi apabila Rosemary perlu bukti.
“Aku yakin setelah ini kau pasti menelepon dan mengikuti semua permintaanku, Rose,” senyum licik Tiara semakin lebar saat dia sudah mengirim pesan ke ponsel Rosemary.
Di rumah Rosemary, perempuan itu masih sibuk merapikan kebutuhan pribadi miliknya yang akan dibawa ke Moscow. Asisten Max sudah menginformasikan bahwa akomodasi untuknya sudah siap dan ia juga harus mulai bekerja pada awal pekan ini.
Sementara Rosemary sibuk di kamarnya, Biana yang sudah menyelesaikan tugasnya merapikan perlengkapan Yuru berdiri di depan pintu kamar mengawasi Rosemary.
“APakah kau perlu bantunku? Perlengkapan kami semua sudah siap di dalam koper,” beritahu Biana.
“Terima kasih, Bi. Tinggal mengecek peralatan kerja ada yang tertinggal atau tidak,” jawab Rosemary tersenyum.
“Biarkan saja. Kita hanya perlu menutupnya,” beritahu Rosemary.
Rumah yang selama ini mereka tempati adalah rumah pemberian Emanual. Ketika mereka datang semuanya sudah ada sehingga saat ia pergi pun tidak ada yang kurang atau lebih.
Malam semakin larut. Yuri dan Biana sudah terlelapsementara Rosemary masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah diberikan pada Max sehari setelah ia tanda tangan konrtrak.
Rosemary sudah siap tidur ketika pekerjaannya sudah rapi tetapi telepon dari Ezme membuatnya menjawabnya.
“Hallo … Rose, bagaimana kabarmu? Apakah semuanya sudah rapi?”
Rosemary melihat jam dan ia menggelengkan kepala karena sudah masuk dini hari tetapi, apa yang dilakukan Ezme? Apakah temannya tidak tidur atau dia baru pulang kencan dengan kekasihnya?
“Semua sudah rapi, Dan aku tidak percaya kau meneleponku sekarang,” ucap Rosemary tanpa menyembunyikan keheranannya.
__ADS_1
“Salah sendiri. Darimana aku tahu bahwa kau akan pindah ke Moscow besok. Aku mungkin berpikir bahwa kau tetap tinggal di sini kalau saja Emanuel tidak bicara.”
Jawaban Ezme yang kesal membuat Rosemary tertawa tetapi, ada yang membuatnya heran. Bagaimana bisa Emanuel bicara dengan Ezme sementara mereka tidak bekerja sama?
“Benarkah? Apakah kau bertemu secara kebetulan dengan Emanuel atau kalian kencan tanpa sepengetahuanku?” goda Rosemary tidak bisa menahan diri.
“Kami … kami kebetulan bertemu. Emanuel mendatangi meja ku ketika dia datang bersama dengan teman temannya.”
Gugup dan gagap keduanya dapat didengar jelas Rosemary ketika Ezme menjawab pertanyaannya membuat Rosemary tertawa keras.
“Hey! Kenapa gugup seperti itu? Aku sangat senang seandainya kau bergaul dengan Emanuel lebih dekat lagi. Dia pria yang baik dan aku berharap dia menemukan perempuan yang tepat,” ujar Rosemary berusaha serius.
“Kau tidak marah?”
“Untuk apa? Emanuel adalah dewa penolongku dan aku sangat beruntung bertemu dengannya. Kau yang sudah membawa Emanuel padaku, Ezme,” ucap Rosemary mengingatkan.
“Apakah kau tidak memiliki perasaan yang istimewa?”
Keraguan kembali terdengar pada suara Ezme membuat Rosemary memiliki kewajiban menjelaskan tentang hubungannya dengan Emanuel dan Ezme terdengar sangat bahagia ketika dia yakin bahwa Rosemary jujur mengatakannya.
“Besok diantar siapa?”
“Ada sopir dari perusahaan yang mengantar. Aku harap setelah aku tinggal di sana kau bisa datang menemuiku. Bukan sekedar datang tetapi juga berlibur,” undang Rosemary.
“Aku pasti akan melakukannya. Sekarang istirahatlah dan sampaikan ciumanku untuk Yuri.”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Ezme memutuskan sambungan dan Rosemary sudah berniat meletakkan ponselnya di atas nakas ketika ia melihat ada pesan.
Tidak ada rasa ingin tahu ketika Rosemary membuka pesan tersebut. Ia hanya sekedar membacanya setelah mengaktifkan notifikasi pesan dibaca.
Kedua mata Rosemary terbelalak. Ia tidak percaya Tiara mengidap penyakit yang sudah sangat parah. Ia tidak perlu mencari kebenaran melalui nama dokter yang tertera pada pesan tersebut tetapi Rosemary juga tidak habis pikir dengan pilihan Tiara.
“Kenapa Tiara begitu egois? Selama ini aku tidak peduli diriku tidak diperhatikan tetapi kenapa dengan pria yang dia cintai sifatnya masih seperti itu?” gumam Tiara dalam hati.
__ADS_1
“Apakah dia tidak berpikir sakit yang dirasakan akibat kehilangannya akibat penyakitnya sudah tidak bisa diobati?” keluh Rosemary dalam hati.
Namun, apapun yang dilakukan oleh Tiara, Rosemary mencoba tidak peduli. Perempuan itu sudah menentukan yang terbaik buat dirinya bahkan Tiara dengan jelas mengatakan bahwa ia tidak perlu mengatakan apa-apa pada kekasihnya.