
Sepasang mata Tiara terbeliak tanpa ia sadari. Lev hendak mengantarnya, apakah ia bisa membiarkan pria itu tahu keadaannya selama ini?
Tiara menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa memberitahu Lev pada saat ini. Ia khawatir Lev meninggalkannya pada saat ia sangat membutuhkan dukungan dari pria itu.
Perubahan air muka dan sikap Tiara yang gelisah membuat Lev tertarik. Tidak bisanya perempuan itu gelisah hanya karena ia ingin mengantarnya.
“Apakah ada yang kau sembunyikan dariku?”
“Hah?”
Lev menarik napas tidak sabar. “Kenapa kau sepertinya tidak suka dengan keinginanku. Ada apa, Tiara?”
Sadar dengan kesalahan yang sudah ia lakukan, Tiara menggelengkan kepalanya lemah lalu tersenyum walaupun ia menyadari senyumannya seperti orang yang kesakitan.
“Memangnya apa yang bisa aku sembunyikan darimu. Aku hanya tidak bisa membiarkan kau menjadi berita lagi karena pergi bersamaku. Apalagi perginya ke rumah sakit,” jawab Tiara menghindar.
“Memang apa salahnya? Aku rasa kalaupun ada berita pasti berita yang baik karena aku mengantarmu ke rumah sakit,” balas Lev.
“Tidak Lev. Kau tidak bisa datang bersamaku pada saat aku memasuku ruangan dokter kandungan,” teriak Tiara dalam hati.
“Memang sangat baik tetapi, apa kau yakin berita tersebut tidak akan membuatmu marah ketika yang terbit di media adalah kau mengantar kekasihmu yang tua ke rumah sakit untuk operasi pelastik karena kau malu dengan penampilan kekasihmu?” Tiara berusaha keras mencari alasan agar Lev tidak mengantarnya.
Tiara menarik napas ketika ia melihat wajah Lev yang berubah gelap. “Aku hanya tidak mau orang melihatmu bersama denganku, Lev.”
“Kenapa? Bukankah sudah berulang kali aku katakan bahwa aku tidak peduli?”
Bagi Lev tidak masuk akal setelah 3 tahun lebih berlalu, Tiara masih berpikir tentang pendapat orang lain tentang hubungan mereka. Kenapa merela harus peduli sementara ayahnya saja sudah bisa menerima?
“Apa yang akan kau katakana ketika ada yang tahu aku datang ke dokter kandungan? Mereka mungkin berpikir bahwa aku sedang hamil,” ujar Tiara membuat Lev semakin tidak mengerti.
Dengan wajah menahan kesal, Lev berjalan mendekati Tiara lalu kedua tangannya memgang pangkal lengan Tiara.
“Aku tidak akan memberikan jawaban apa-apa karena aku tahu kau tidak akan pernah punya anak. Tetapi, dengan sikapmu ini, terus terang aku sangat kecewa. Tiara. Dan soal anakmu, terserah … apakah kau mau menyuruhnya datang atau tidak karena aku tidak akan memaksamu.” Lev lalu melepaskan tangannya dan berjalan ke arah pintu.
“Aku akan mengatakannya setelah Marry mau bicara denganku,” beritahu Tiara sebelum Lev sampai pintu.
Tiara melihat Lev mengankat bahu seolah niat tersebut sudah tidak menarik lagi baginya.
__ADS_1
“Lev … aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya berharap kau peduli dengan perasaanku. Bagimu mungkin sudah terbiasa tidak peduli dengan semua pemberitaan di media tetapi aku belum bisa menghadapinya, Lev.” Tiara berjalan mendekati Lev, memeluk pria itu dari belakang lalu menyandarkan kepalanya di punggung Lev.
“Kalau sudah ada kabar dari anakmu, beritahu aku dan jangan terlalu lama karena aku bukan orang yang sabar begitu juga dengan orang tuaku,” balas Lev sambil melepaskan tangan Tiara dari pinggangnya lalu membuka pintu dna pergi keluar.
Tiara memandang kepergian Lev dengan hati menangis. Ia berharap Lev tidak terlalu marah. Bukankah pria itu masih menunggu kabar darinya? Lev hanya membiarkan ia melakukan keinginannya tanpa terlihat mengalah, seperti kebiasaannya selama ini.
Berapa banyak waktu lagi yang diperlukan Tiara untuk mengatakan penyakitnya pada Lev atau pada Rosemary? Tiara sudah tidak punya waktu lagi setelah dokter memberikan vonis padanya.
Selama ini Tiara bisa menyembunyikan penyakitnya dari Lev karena ia selalu meminta pria itu bermain dalam gelap tetapi sampai kapan?
Sekarang Max Grogoru meminta bertemu dengan putrainya sebagai syarat agar hubungannya direstui. Apakah Tiara bisa mengabulkannya dan bersikap egois?
Tiara terlalu sayang dan tidak ingin merusak tubuh indahnya pada akhirnya harus merelakan dirinya hancur karena penyakit yang terus bertambah.
Setelah dari rumah sakit, Tiara tidak langsung pulang ke apartemen yang ia tempati bersama Lev melainkan ia mampir ke café dan menelepon Rosemary tetapi nomor kontak Rosemary tidak bisa ia hubungi.
“Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi. Apakah dia sudah mengganti nomornya lagi?” keluh Tiara jengkel.
Tiara tidak paham dengan pemikiran Rosemary. Seharusnya dia tetap mempertahankan nomornya karena Rosemary tidak bisa mengganti nomornya begitu saja.
Cukup lama telepnnya tidak mendapatkan jawaban sampai akhirnya dia mendengar suara wanita yang begitu merdu hingga Tiara rindu dan ingin bertemu dengan anak perempuannya yang sudah dia sia-siakan.
“Halo?”
“Rose, ini mama,” sapa Tiara begitu dia mendengar suara Rosemary.
Tiara tidak langsung mendapat balasan dari Rosemary dan ia harus tetap sabar menghadapinya.
“Oh, ada apa? Dari mana Mama tahu nomorku ini?”
“Dari Biana. Kenapa, apakah kau masih marah karena mama tidak menemuimu lagi sampai kau pulang dari rumah sakit?” tanya Tiara.
Suara tawa Rosemary terdengar lebih dingin daripada suhu di kota Yakutsk yang berada di wilayah Siberia. Apa yang terjadi dan mengapa Rosemary seolah tidak menanggapi ucapan Tiara?
“Kalau Mama berpikir aku marah karena alasan yang baru saja mama katakan, maaf, aku bukan anak manja. Aku rasa Mama lebih paham mana yang paling menyakitkan. Aku bahkan tidak peduli apakah Mama ingat padaku atau tidak. Bagiku tidak penting!”
Ucapan Rosemary yang pedas dan tajam membuat Tiara terdiam. Hatinya sangat sakit tetapi ia juga tidak bisa membalasnya karena ucapan Rosemary sangat benar.
__ADS_1
“Maafkan Mama. Apakah kau ada di Paris saat ini?” tanya Tiara berusaha kuat menghadapi sikap dingin Rosemary.
“Kalau ya, ada apa? Dan tidak biasanya Mama memanggilku dengan nama Rose? Bukankah Mama tidak menyukainya?”
Tiara tidak mengira Rosemary memiliki mulut yang tajam. Apakah Sion dan istrinya tidak pernah mengajarkan Rosemary bersikap sopan pada orang yang lebih tua?
“Kau benar. Mama tidak menyukainya. Apakah kita bisa bertemu?” Tiara berusaha menekan kemarahannya karena sikap Rosemary yang lancang.
“Sayang sekali saat ini aku ada pekerjaan diluar.”
Dengan cepat Tiara melihat layar ponselnya dan ia mendapati kode wilayah yang membuatnya mengerutkan alis. Bagaimana bisa mereka tinggal di negara yang sama dan mengapa Rosemary tidak mengatakannya.
“Kau … sejak kapan kau ada di Rostov-on-Don?” tanya Tiara gagap.
“Mama tidak perlu khawatir, aku disini hanya untuk bekerja. Tidak ada niatku untuk menggangumu karena sore ini aku harus kembali ke Paris,”
Untuk kesekian kali, Tiara harus menahan diri karena suara Rosemary yang sinis. Ia harus bisa bertemu dengan Rosemary karena Max menginginkannya atau ia akan ditendang dari kota dan negara yang sudah membuatnya jatuh cinta.
“Apakah kau bisa menunda kembali ke Paris? Mama ingin bertemu dan bicara denganmu.” Tiara berusaha membujuk Rosemary walaupun kemungkinan tersebut sangat kecil.
“Masih ada waktu 3 jam sebelum aku kembali. Kalau Mama ingin bertemu denganku, Mama bisa datang
menemuiku.”
“Tidak bisakah kau yang datang ke Moskow? Mama tidak bisa pergi keluar kota karena ….”
“Aku datang kesini untuk bekerja bukan untuk berlibir dan aku bukan aku yang ingin bertemu. Kalau ada yang penting, katakana saja!”
Suara dingin Rosemary kembali terdengar membuat Tiara menyesal. Ia sudah membuat Rosemary kembali tidak peduli.
“Rose ….”
Tiara menghentikan kalimatnya ketika ia mendengar Rosemary bicara dengan seseorang.
“Pekerjaan sudah memanggilku lagi dan aku harus tutup teleponnya.”
Tiara sangat marah dan tersinggung dengan sikap Rosemary yang tidak menghormatinya. Ia sudah berusaha menghubungi dan bicara tetapi sikap Rosemary diluar dugaannya. Apakah ia masih perlu bicara dan membujuknya agar bisa bertemu dengan Max dan Lev?
__ADS_1