
Perhatian Emanuel yang intens membuat Rosemary heran. Ia bertanya-tanya dalam hati ada apa dan kenapa Emanuel melihatnya seperti orang bodoh dan tidak mengerti apa pun?
“Ada apa?” Rosemary bertanya dengan kedua alis hampir menyatu.
“Aku … aku ingin memastikan apakah kau tidak kenal dengan nama Grigory?” tanya Emanuel memastikan.
“Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu mengingat masa lalu apalagi kau sudah lama tidak bertemu dengannya. Tetapi, apa kau lupa dengan nama belakang pria sudah kau hindari?” Emanuel bertanya dengan mata lurus ke wajah Rosemary.
Perubahan yang terjadi pada wajah Rosemary begitu cepat hingga Emanuel menyesal karena tidak bisa menjaga mulutnya. Tetapi, ia juga tidak mau membuat Rosemary masuk ke perusahaan Max tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Wajah Rosemary yang pucat dan bibirnya yang bergetar saat bicara membuat Emanuel berharap dia bisa memiliki hubungan yang lebih dari teman agar ia bisa mengambil alih kesedihan dan ketakutan yang ada di dalam diri perempuan itu.
“Maksudmu … kau bermaksud mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan bukan sekedar nama saja?”
“Benar. Lev Grigory adalah pria yang berpengaruh tetapi tanpa dukungan Max, pengaruh yang dia miliki tidak akan sebesar dan menakutkan bagi pihak yang bersebrangan dengannya,” jawab Emanuel.
“Apakah aku bisa menolaknya?”
“Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan tetapi, aku ragu kau bisa menghindari Max lebih lama dari yang kau harapkan,” ujar Emanuel.
“Dengan kata lain, apa pun jawabanku semuanya tidak ada yang berarti pada saat Max menginginkannya,” keluh Rosemary.
“Kau salah. Kenapa kau tidak paham dengan ucapanku. Kau bisa menolaknya tetapi, saat kau menolaknya maka Max mulai mencari alasan untuk menyelidiki siapa dirimu,” jelas Emanuel.
“Kau tidak bermaksud mengatakan bahwa Max belum tahu siapa aku, kan?”
Emanuel menggeleng. “Aku tidak yakin dia tidak tahu. Kemungkinan terbesar yang belum dia ketahui adalah bahwa dia belum tahu bahwa kau punya anak.”
“Aku sudah meninggalkan kota Paris tetapi mengapa aku masih mendengar nama Grigory. Katakan padaku, Noel, apakah aku harus kembali ke Indonesia agar aku tidak melihat atau mendengar tentang mereka lagi,” keluh Rosemary sambil mengusap wajahnya.
Rosemary sudah lama tidak berada di Paris dan ia memilih tinggal di desa yang letaknya cukup jauh sejak ia bertemu dengan Lev. Rosemary bersyukur karena ia tidak perlu mendengar berita tentang Lev lagi tetapi mengapa kini yang mencarinya justru Max?
“Keadaan akan lebih merugikanmu seandainya kau kembali ke Indonesia apalagi sampai Max mendengar kau melahirkan cucunya. Aku sarankan agar kau menerima tawarannya dan tetap merahasiakan kehadiran Yuri sampai waktunya tiba,” ucap Emanuel membuat Rosemary terkejut.
“Kau gila, Noel! Bagaimana mungkin aku bekerja dengannya. Aku seperti mengali lubang kuburanku sendiri,” tolak Rosemary.
__ADS_1
“Lalu, apakah kau akan menerima lamaran dariku? Aku tidak bisa melakukan lebih dari kemampuanku sebagai teman, Rose. Aku bisa menghindarimu dari gangguan Max dan Lev selama kau menjadi istriku. Aku tahu Max tidak akan pernah mengganggu keluarga lain apalagi keluarga yang sudah dia kenal dengan baik.”
Saran yang sangat menarik dan menguntungkan Rosemary tetapi, dia bukan perempuan egois yang bisa membiarkan seorang pria menerima beban dari perempuan yang tidak mencintainya.
“Aku minta maaf karena tidak bisa melakukannya, Noel. Selama ini kau sudah membantuku dan aku tidak bisa menerima lebih banyak lagi,” ucap Rosemary setelah membiarkan keheningan mereka rasakan.
“Bagaimana dengan Yuri. Apa kau akan membiarkan Max tahu tentangnya?”
Senyum penyesalan terlihat di bibir Rosemary. Ia tidak berharap Emanuel masih memberikan perhatian padanya setelah berulang kali ia menolak pendekatan yang diberikan Emanuel padanya.
Berulang kali Rosemary menarik napas. Ia berharap keputusannya tidak salah. “Aku akan terima tawaran Max dan aku akan membawa Yuri bersamaku. Aku tidak tahu apa yang diinginkan pria itu tetapi, seperti yang kau katakan bahwa aku tidak bisa terus-terusan lari.”
Sekali lagi Rosemary bersikap egois demi kepentingannya sendiri. Ia meninggalkan Emanuel sementara ia tahu bahwa pria itu begitu baik dan selalu ada pada saat ia membutuhkan tetapi … ia tidak selamanya menjadi benalu sementara Emanuel berhak mendapatkan yang terbaik. Perempuan yang lebih pantas menerima dan memberikan cintanya.
“Kau yakin dengan keputusanmu?”
“Yakin.”
“Walaupun aku menyesal nantinya, aku berharap tidak ada seorangpun yang aku korbankan, Noel,” ucap Rosemary dalam hati.
Setelah pembicaraan yang cukup menguras emosi, mereka kembali ke rumah dan mendapati Yuri sudah tidur di kamarnya. Emanuel hanya mampir sebentar untuk melihat Yuri dan menciumnya lembut hingga Rosemary harus menyembunyikan air matanya melihat perhatian yang diberikan Emanuel pada putranya.
“Terima kasih. Aku akan menunggu kabar darimu. Aku harap Max bisa sepakat dengan syarat yang kita berikan,” cetus Rosemary.
Emanuel sudah meninggalkan rumah Rosemary dan kini saatnya Rosemary menjelaskan keputusannya pada Biana. Ia akan pergi bersama Biana apabila perempuan itu setuju dan bersedia bersamanya kemanapun ia pergi selama masih berada di benua Eropa.
“Kau yakin dengan pilihanmu?”
Pertenyaan tersebut diucapkan Biana setelah Rosemary menyampaikan tawaran yang diberikan oleh Max.
“Tidak ada pilihan. Aku tidak bisa menghindarinya karena aku tidak mau menarik perhatiannya, Biana. Aku sudah lelah dan berharap semuanya berakhir dengan baik,” gumam Rosemary sambil bersandar di kursi.
Biana tersenyum. Ia mengerti dan memahami situasi Rosemary. Rosemary masih muda dan tidak mungkin ia bersembunyi terus karena tidak ingin bertemu dengan Lev sementara pria itu bebas berkeliaran dan berkencan dengan ibu kandungnya sendiri.
“Jadi, kapan kau akan pergi?” Biana kembali memperhatikan Rosemary yang tiba-tiba terlihat gelisah.
__ADS_1
“Menunggu surat kontrak selesai. Emanuel menyarankan agar aku membuat beberapa syarat yang bisa aku pakai untuk keamananku,” jawab Rosemary.
“Kau memang harus memiliki pegangan secara hukum, Rose dan aku lega karena Emanuel perhatian padamu,” ucap Biana.
“Terima kasih, tetapi, apakah kau mau ikut nanti?”
“Aku akan menemanimu selama Yuri belum ada yang menjaga,” jawab Biana membuat Rosemary bangun dari duduknya lalu memeluk tubuh gempal yang dimiliki Biana.
“Terima kasih karena kau selalu ada untuk kami, Bi. Aku tidak akan bisa bekerja apabila kau tidak bersamaku.” Rosemary mengeluarkan isi hatinya.
Biana adalah segala-galanya. Ia mungkin sudah putus asa atau kembali ke Indonesia dan membuat malu keluarganya lagi karena pulang dengan membawa anak keturunan bule.
Bukan hanya Rosemary yang gelisah karena Max pun mengalami hal yang sama. Max sengaja tidak mengatakan rencananya pada Lev maupun istrinya. Max berharap pertemuan kembali antara Rosemary dan Lev melalui tahapan yang wajar. Rosemary akan bekerja padanya dan Lev tidak mungkin hanya diam di kantornya saja.
“Sedekat apa hubungan Emanuel dan Rosemary. Mengapa pria itu begitu melindunginya hingga syarat kontrak pun semuanya harus menguntungkan Rosemary. Tidak mungkin mereka tidak memiliki hubungan special,” gumam Max.
Ia sudah menerima surat kontrak yang diberikan Emanuel dan sudah mengirimnya kembali. Ia berharap beberapa catatan yang dia berikan bisa membuat Emanuel yakin sehingga Rosemary bisa datang ke Moskow tanpa ada keraguan sama sekali.
Suara ketukan pintu terdengar disusul dengan kemunculan Lev saat pintu terbuka.
“Aku harap tidak mengganngu. Ada yang harus aku bicarakan dengan Papa,” ujar Lev pada Max yang menatapnya heran.
Tidak biasanya Lev datang menemuinya di rumah. Lev selalu bicara dengannya di kantor sementara di rumah mereka sangat jarang bertemu karena Lev lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen yang dia tempati bersama Tiara.
“Ada apa?” tanya Max dengan tangan menyuruh Lev duduk.
“Aku sudah bicara dengan Tiara tentang keinginan Papa. Tiara minta maaf karena putrinya tidak bisa menemui Papa,” beritahu Lev setelah ia duduk.
“Kenapa? Apakah dia tidak serius denganmu?” tanya Max dengan kening berkerut.
“Marry sudah kembali ke Indonesia dan anaknya sudah terikat pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja,” jawab Lev memberikan alasan.
“Berarti papa hanya bisa mengenalnya melalui pembicaraan melalui video saja. Tidak masalah walaupun papa lebih suka bertemu langsung,” sahut Max membuat Lev terkesiap.
“Sayangnya tidak bisa. Aku bukan anak kecil lagi yang harus patuh pada perintah Papa sebagai orang tua dan aku juga tidak perlu restu dari Papa agar aku bisa bersama perempuan yang aku cintai,” cetus Lev mulai bangun dari duduknya.
__ADS_1
“Benar dan papa berpikir bahwa kau juga tidak memerlukan dukungan dari keluarga Grigory sebagai keluargamu. Kapan kau pergi dan meninggalkan segala kemewahan yang kami berikan? Kau pasti tahu semua yang kau miliki sekarang masih dimiliki oleh kami.” Max bicara dengan nada menantang.
“Kau adalah putra kami satu-satunya juga sebagai penerusku tetapi, hak sebagai pewaris kekayaan keluarga Grigory bisa hilang saat kau tidak mempunyai anak yang lahir dari perkawaninan yang diresmikan oleh negara yang disaksikan olehku,” ujar Max mengancam.