
“Rose. Jam berapa sopirnya datang?”
Rosemary menoleh dan melihat Biana berdiri di depan pintu sementara Yuri langsung berdiri mendekati Biana.
“Aku rasa sebentar lagi. Noel sudah mengatakan sudah berangkat,” beritahu Rosemary.
“Apakah Tuan Durstan sendiri yang datang?” tanya Biana heran.
“Tidak. Sopirnya.”
“Lalu jam berapa pesawatnya?”
Rosemary tersenyum untuk menutupi kecerobohannya. Ia bahkan lupa bertanya pada Emanuel setelah mendapat informasi keberangkatan mereka yang tidak menyertakan nama maskapai dan jadwal penerbangan.
Berusaha menutupi kesalahannya Rosemary segera menghubungi Emanuel tetapi belum sampai pria itu menjawab teleponnya suara Yuri yang mengabarkan bahwa Emanuel datang membuatnya membatalkan niatnya.
“Paman Noel datang!” beritahu Yuri gembira.
Emanuel yang selalu tampil sempurna berjalan santai setelah keluar dari mobil dan dia langsung mengangkat Yuri yang tubuhnya sudah semakin besar.
“Aku tidak tahu bahwa kau datang lalu dimana sopir yang kau janjikan?” tanya Rosemary setelah menyalami pria itu.
“Sebentar lagi tetapi dia hanya membawa semua koper kalian saja,” beritahu Emanuel.
“Apakah Paman yang mengantar kami?” tanya Yuri tidak sabar.
“Benar. Paman yang akan mengantar kalian.”
Rosemary tidak bisa menolak ketika Emanuel memutuskan dia yang akan mengantar. Bukan hanya ke bandara tetapi mengantarnya dengan menggunakan pesawat jet pribadinya dan sampai yakin mereka tiba di rumah yang disediakan oleh Max.
“Rumah yang cukup nyaman karena berada di lokasi yang tidak terlalu ramai sehingga Yuri bisa bermain bersama Biana dengan aman,” komentar Noel setelah dia melakukan pemeriksaan singkat.
Emanuel mengabaikan pasangan suami istri yang menyambut mereka sementara Rosemary bicara dengan pasangan tersebut dan mereka menyambut gembira terutama setelah mengetahui bahwa Biana bukan orang asing di keluarga Max Grigory.
“Selama 2 tahun ke depan kau bukan pegawaiku lagi, Rose. Tetapi kau tidak perlu khawatir aku melepaskan tanggung jawabku. Aku harap kau bisa bekerja dengan baik dan buktikan bahwa pegawai perusahaan Durstan
semuanya terbaik,” pesan Emanuel.
__ADS_1
“Terima kasih. Aku sangat gembira sekaligus bahagia bahwa kau berjanji tidak melepaskan diriku begitu saja. Terus terang aku sangat takut bahkan sudah berniat mundur,” aku Rosemary dengan mata berkaca-kaca.
Ia belum pernah memperlihatkan perasaanya yang lemah setelah kejadian dengan Lev di masa lalu dan kini ia juga berharap dirinya masih memiliki kekuatan apabila bertemu dengan pria itu lagi.
“Tidak perlu takut.”
Setelah ucapannya tersebut, Emanuel meraih tubuh Rosemary ke dalam pelukannya seolah ingin membuktikan bahwa niatnya tulus.
Emanuel tidak cukup lama berada di rumah Rosemary. Pria itu sudah memiliki janji bertemu dengan Max untuk memastikan keamanan Rosemary dan Yuri pada pria yang sudah mengundangnya datang.
Ruang kantor Max sangat berbeda dengan ruangan Lev yang pernah dikunjungi Emanuel dan bukan saja Max yang ditemui oleh Emanuel tetapi juga ada perempuan cantik yang usianya sudah tidak muda lagi.
“Apa kabar. Aku tidak tahu bahwa kau datang berkunjung,” sapa Max sambil menyalami Emanuel.
“Kunjunganku kesini hanya untuk memastikan bahwa pegawaiku mendapatkan jaminan sesuai yang Anda janjikan,” jawab Emanul.
“Bukankah dia bukan lagi pegawaimu?” sela perempuan cantik yang belum dikenalkan Max pada Emanuel.
“Aku rasa Max bisa menjawab pertanyaan Nyonya,” ucap Emanuel berkilah.
“Emanuel Durstan tidak memberikan pegawainya begitu saja. Dia hanya mengijinkan kita memakai jasanya selama 2 tahun dan bisa berhenti sesuai keinginannya setelah melewati 18 bulan kerja,” papar Max.
“Apakah kalian sudah melihat rumahnya?” tanya Stacey tidak sabar.
Emanuel mengangguk dan tersenyum dengan mata tertuju pada Max. “Sangat memuaskan dan aku berharap Rosemary bisa bekerja dengan baik tanpa ada gangguan secara pribadi.”
Emanuel berharap Max paham dengan maksudnya dan ia melihat Max mengangguk tetapi tidak dengan Stacey yang justru bertanya dengan wajah penasaran.
“Gangguan secara pribadi dan kenapa aku seperti pernah mendengar nama Rosemary sebelumnya?” tanya Stacey yang langsung berpaling pada Max, suaminya.
“Aku rasa kau perlu menjelaskan padaku, Max!” desak Stacey yang kembali memberikan perhatian pada Emanuel.
“Aku pastikan tidak ada gangguan secara pribadi pada pegawaimu, Tuan Durstan. Kau tidak perlu khawatir karena kamu bukan pimpinan yang suka mengatur hidup pegawainya,” janji Stacey tegas.
“Terima kasih dan saya berharap Nyonya setia pada janji yang sudah nyonya ucapkan. Dan aku berharap kedatanganku kesini tidak sia-sia. Aku perlu jaminan secara tertulis sesuai dengan janji yang sudah
diucapkan oleh Max.”
__ADS_1
Tidak ada senyum yang menyertai ucapan Emanuel sehingga Max segera menghubungi asistennya agar dibuatkan perjanjian sesuai keinginan pria itu.
Sambil menunggu surat perjanjian, Emanuel dan Max banyak berbincang tentang bisnis mereka yang berbeda sampai Max bertanya tentang kedatangan Lev ke perusahaannya.
“Tentang Lev sebaiknya Anda tanyakan langsung padanya,” saran Emanuel.
Setelah mendapatkan keinginannya, Emanuel berniat pergi tetapi langkah kakinya terhenti ketika Lev masuk ke ruang kerja Max seperti badai.
Lev menatap Emanuel seperti harimau yang melihat seekor mangsa yang empuk. Tanpa bicara Lev mendekati Emanuel lalu melayangkan pukulan pada wajah pria yang selama ini begitu pandai menyimpan emosinya.
“Lev!”
“Kau sangat pintar Durstan. Kau membalas sakit hati Sofia dengan menghasut ayahku agar menyingkirkan Tiara. Apa kau puas melihat perempuan itu tidak memiliki pekerjaan disini!” bentak Lev dengan suara keras.
Bukan kata-kata yang keluar dari mulut Emanuel melainkan suara tawa keras sampai Emanuel melihat Lev semakin kehilangan kendali.
“Terima kasih atas pujiannya, Lev. Sayangnya otakku sangat berharga untuk memikirkan cara tersebut. Aku memang tidak suka Tiara tetapi dengan alasan yang berbeda bukan karena Sofia,” cibir Emanuel sinis.
“Bagimu Tiara sangat penting tetapi bagiku perempuan itu tidak lebih dari manusia paling menyedihkan,” ejek Emanuel.
Wajah Lev memerah dan ia kembali melayangkan tangannya ke arah Emanuel tetapi Emanuel lebih siap sehingga mampu menghindar dan membalas pukulan Lev dengan keras.
Mereka saling adu kekuatan otot dan tenaga tidak peduli dengan teriakan Stacey sementara Max hanya berdiri menonton.
Max tahu selama ini Emanuel adalah pria yang selalu memberikan penilaian langsung pada Lev tentang kekasihnya. Emanuel bahkan sering mengatakan sindiran kasar di depan Lev dan Tiara setiap kali mereka bertemu. Sangat mengherankan bahwa mereka bisa melakukan kerja sama.
“Sayang, kenapa kau tidak menyuruh mereka berhenti. Ini kantor dan semua orang pasti melihatnya,” tegur Stacey pada Max yang berdiri menonton.
“Mereka bukan anak kecil lagi. Aku justru ingin tahu siapa yang paling kuat untuk melindungi cucuku,” gumam Max membuat Stacey terdiam.
Cucu … kata tersebut membuat Stacey bersedih. Dia sudah mengetahui dari Max bahwa Lev sudah mempunyai anak tetapi ia tidak tahu siapa ibu dari cucunya. Tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada Emanuel lalu beralih pada Max yang sedang memperhatikannya.
“Apakah dia adalah perempuan yang sama yang menjadi alasan Emanuel datang kesini?”
“Benar. Dan aku tidak bisa bertindak gegabah karena mengetahui alasannya. Aku harus bisa mengambil hati Rosemary dan anaknya sampai Lev sadar dan melepaskan Tiara,” jawab Max tegas.
“Apakah Lev tahu dia sudah punya anak?”
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Kedua mata Lev sudah tertutup karena cintanya yang salah pada Tiara. Aku tidak tahu mengapa dia tidak bisa melepaskan Tiara bahkan nekad menyerang Emanuel,” jawab Max.
Di depannya Emanuel dan Lev sudah berhenti bertarung tetapi keduanya masih siap untuk adu kekuatan lagi dan Max langsung mengambil kesempatan tersebut untuk melerai mereka.