
Rosemary terlalu focus pada pesan yang dikirim dari seseorang yang tidak ia kenal tanpa menyadari bahwa mereka mungkin tidak tahu dimana ia berada sekarang.
“Kira-kira siapa yang sudah mengirim pesan ini padaku? Lev … aku bahkan tidak percaya dia masih peduli setelah semua tindakannya padaku,” gumam Roseamry.
Berharap bahwa pesan tersebut sudah dilupakan, Rosemary membuka pesan yang dikirim dari ayahnya dan ia tidak yakin bahwa siapa pun yang mengirim pesan padanya sudah pernah mendatangi rumahnya.
“Apa yang akan mereka lakukan seandainya keberadaanku di negara ini diketahui oleh Lev? Apakah aku akan sendirian?” tanya Rosemary dalam hati.
“Kalau Lev begitu dekat, aku tidak ingin dia melihatku apalagi melihat Yuri. Aku tidak ingin siapa pun mengambil Yuri dariku.”
Tekad Rosemary begitu kuat tanpa ia sadari ada seorang anak yang lahir akibat hubungannya dengan Lev, pria asing yang berasal dari negara Rusia.
Suara tangisan dari buaian yang ada di samping jendela menarik perhatian Rosemary dan ia melihat bayinya mulai merengek.
“Halo … anak mama sudah bangun, ya,” ucap Rosemary pada bayi yang usianya belum sampai semingggu.
Yuri adalah malaikatnya dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambil anaknya. Ia akan mempertaruhkan nyawanya agar tetap bersama.
Kepedulian Rosemary diuji saat ia sudah bekerja di perusahaan Emanuel. Rosemary beruntung karena ia ditempatkan pada bagian promosi sehingga ia bisa tetap melanjutkan kuliahnya tanpa meninggalkan Yuri
terlalu lama.
Matahari belum terbenam saat Rosemary meninggalkan kantor bersama dengan asistennya yang bernama Adele saat ia mendengar ada yang memanggil namanya.
“Rosemary!”
Seharusnya ia tidak berbalik ketika namanya dipanggil dan seharusnya ia langsung pergi ketika yakin bukan Emanuel atau anggota tim-nya yang memanggil tetapi, darimana dia tahu siapa yang memanggilnya kalau
saja dia tidak bisa mengenali suara mereka dengan lebih pribadi?
Lev ….
“Rose, dia memanggilmu,” bisik Adele, asistennya.
‘Lev, apa yang dia lakukan di sini? Atau aku salah lihat?’
Tidak mungkin Rosemary salah lihat karena Lev begitu nyata. Tampan tetapi mengancam ketenangan Rosemary.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lev ragu.
__ADS_1
Lev terlihat tidak percaya melihat perempuan yang sudah ia tinggalkan berdiri tegar di depan matanya di negara yang sangat jauh dari asalnya.
Lev baru saja turun dari mobilnya saat matanya terpaku pada sosok perempuan yang sudah setahun lebih ia tinggalkan. Perempuan yang terlihat sangat berbeda dari terakhir mereka bertemu, perempuan yang sudah
membuatnya kecewa karena begitu cepat berpaling darinya.
“Anda bertanya padaku?” balas Rosemary dingin.
Bibir Lev membentuk seringai sinis dan matanya seolah ingin menelan Rosemary dalam pusaran yang tidak ia kenal.
“Tidak. Aku pikir aku mengenalmu ternyata tidak. Kau bukan perempuan yang aku maksud,” sahut Lev tajam.
Suara yang sama yang pernah Rosemary ingat saat Lev meninggalkannya dan kini pria itu berdiri mengancam ketenangannya.
“Syukurlah,” jawab Rosemary saat ia berbalik.
Namun, langkah kakinya berhenti saat telinganya mendengar suara Lev yang sangat jelas maksudnya. Dan kemarahan mulai menguasai Rosemary saat Lev mengulang kalimatnya.
“Aku ingin tahu siapa lelaki yang sudah kau rayu hingga bersedia membawamu ke negara ini. Apakah kau cukup layak mendapatkan kemewahan tersebut?” ejek Lev sinis.
Rosemary tertawa. Lev benar-benar tidak punya pendirian. Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa tidak mengenalnya?
“Apakah kita saling mengenal hingga Anda bisa menilaiku seperti itu?” balas Rosemary tanpa berbalik.
“Aku pernah kenal perempuan yang tidak segan-segan menyerahkan dirinya untuk mendapatkan popularitas dan perlindungan dari orang-orang kaya dan terkenal,” cibir Lev dengan nada suara yang membuat Rosemary menutup mata.
“Aku tidak tahu bagaimana kau bisa membuatnya marah, Rose,” bisik Adele simpatik.
“Aku juga tidak tahu, Adele. Dan ucapanmu menyadarkan bahwa tidak seharusnya aku meladeninya,” balas Rosemary berbisik.
“Aku bertanya-tanya apa yang kau lakukan disini? Merayu Emanuel?” tanya Lev dengan nada menghina.
Perlahan Rosemary berbalik dan menatap tajam Lev. Ia tahu dirinya tidak boleh terpancing hingga mengatakan bahwa pria itu sudah memiliki anak.
“Jadi kau mengenalku tetapi, kau malu mengakuinya?” ejek Rosemary kembali tertawa walaupun nadanya jauh dari kata gembira apalagi bahagia.
“Aku akan jawab pertanyaanmu. Apapun yang aku lakukan di sini bukan urusanmu. Kalaupun aku berusaha menarik perhatian Emanuel apa masalahnya?” sahut Rosemary penuh percaya diri.
“Emanuel adalah pria bebas dan dia sangat menarik. Kalau dia bisa membalas perhatianku kenapa aku harus pergi?” ungkap Rosemary membuat mata Lev berkilat tajam.
__ADS_1
“Kau memang perempuan yang tidak puas dengan 1 orang pria, Rose,” kecam Lev membuat Rosemary tertawa.
“Apa kau punya bukti atas tuduhanmu. Lev? Tidak. Karena kau mengatakan atas dasar ego yang terluka.” Rosemary mengejek penilaian Lev yang tidak masuk akal.
“Kenapa tidak kau akui bahwa kau marah pada saat aku nyaman dengan seseorang yang kedudukannya jauh di bawahmu,” balas Rosemary.
“Kau berpikir aku akan terus terpuruk hingga aku tidak pantas lagi hidup di dunia. Tetapi, kau salah, Lev. Harga diriku lebih tinggi daripada kau yang hanya bisa menjadi mesin penghancur kehidupan perempuan!” kecam Rosemary.
Rosemary terlalu marah hingga ia tidak menyadari Adele mendangarkan semua yang ia katakan.
“Aku adalah pribadi yang bebas sama sepertimu. Dengan siapa aku bergaul dan berkencan, apa masalahnya? Setidaknya aku masih cukup menarik bagi kaum pria,” cibir Rosemary tenang.
Mata Lev berkilat dan ia berjalan mendekati Rosemary yang masih berdiri di tempatnya. Mata Lev memaku Rosemary saat ia berhenti dalam jarak semeter.
“Kau ingin merayu Emanul dengan wajahmu? Aku yakin kau hanya buang-buang waktu, Rose. Kau bukan perempuan yang akan dia pilih karena aku tahu siapa Emanuel,” beritahu Lev tanpa melepaskan matanya dari wajah Rosemary.
“Kau tahu tentang criteria perempuan yang diminati Emanuel. Bagaimana dneganmu? Apakah kau punya criteria khusus, Lev?” sindir Rosemary.
“Ah, pertanyaanku rasanya sia-sia saja karena kau bahkan tidak punya criteria istimewa,” kata Rosemary tertawa mengejek.
“Kau … kau hanya perlu perempuan yang bisa memuaskanmu dan tidak melakukan perlawanan. Aku bahkan berpikir bahwa kau sama sekali tidak menyukai tantangan,” cibir Rosemary.
“Ucapanmu telah membuktikan bahwa kau adalah jenis perempuan yang kau sebutkan tadi, Rose,” desis Lev mengancam.
“Salah. Aku adalah perempuan yang menjadi korbanmu karena menolak tawaran yang kau berikan. Kau tahu artinya sangat berbeda, Lev,” cibir Rosemary.
Kaki Lev maju selangkah hingga Rosemary harus bertahan dengan kewarasannya. Ia tidak bersedia mundur apabila membuat Lev yakin dengan niat liciknya. Ia tidak mau merasa diintimidasi karena jarak di antara mereka.
“Korban … kata tersebut membuatku sadar bahwa kau jenis perempuan yang tidak pernah puas dengan yang kau terima,” ucap Lev.
“Aku ingin sekali kau mengajukan sebuah nama untuk ucapanmu tersebut, Lev. Tuduhanmu sama sekali tidak memiliki alasan!” cetus Rosemary tegas.
Hanya cibiran dan dengusan yang keluar dari mulut Lev sebelum pria itu mengalihkan perhatiannya pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Berikan alamatmu padaku. Aku tidak akan pernah membiarkan kau berkeliaran di kota ini dan bebas menyebarkan keterangan palsu yang sudah kau modifikasi,” ucap Lev dingin.
“Terus terang bertemu denganmu membuatku tertarik untuk mengetahui apakah kau masih perempuan liar seperti dulu atau sudah berubah menjadi hewan peliharaan,” ujar Lev membuat darah Rosemary mendidih.
“Kau mungkin masih tertarik padaku tetapi aku sama sekali tidak tertarik pada pria sepertimu, Lev. Kau bukan pria pujaanku yang bisa membuatku lupa diri. Atau kau perlu aku ingatkan bagaimana aku membuatmu tidak berdaya?” tantang Rosemary tajam.
__ADS_1
“Kalau kau yakin bisa memenangkannya … kenapa tidak. Tetapi, aku sarankan sebelum kau menantangku, sebaiknya kenali dulu dimana kau berada,” ancam Lev.
Tanpa menunggu reaksi Rosemary, Lev berjalan menuju gedung yang baru ditinggalkan Rosemary. Ia punya janji dengan Emanuel dan ia juga ingin tahu apa yang dilakukan Rosemary di perusahaan Emanuel.