
Di tempat yang berbeda, Rosemary terlihat shock. Ia tidak menduga bertemu dengan Lev di tempat ia bekerja.
“Aku tidak percaya kalau Lev membiarkanku begitu saja,” gumamnya lirih.
Rosemary tiba-tiba pesimis bahwa Lev tidak mencarinya. Apa yang harus ia katakan seandainya mereka kembali bertemu?
Hari itu, Rosemary tidak bisa tenang. Ketakutannya semakin besar bahkan saat ia mendengar suara bell dari seseorang yang berada di luar pintu rumahnya.
“Rosemary, ada apa?” tanya Biana yang sejak tadi mengawasinya.
Rosemary menarik napas. Wajahnya begitu pucat sementara bell terus berbunyi. Ia tidak percaya Emanuel yang akan datang.
“Apakah kau tidak ingin membukanya?” tanya Biana penasaran.
“Kalau kau ingin membukanya, buka saja tetapi jangan pernah mengatakan apa pun tentang diriku,” pesan Rosemary.
Biana hanya mengangguk dan ia menunggu Rosemary masuk ke dalam kamar sebelum berjalan menuju pintu.
Di depan pintu, Biana mendekatkan matanya ke arah lubang kecil untuk mengintip tamunya dan ia sangat terkejut begitu melihat Lev, yang merupakan putra majikannya berdiri tidak sabar.
“Apa yang dilakukan Lev di sini? Apakah dia tidak datang bersama Tiara?” tanya Biana dalam hati.
Benak Biana dipenuhi berbagai pertanyaan saat ia membuka pintu dan melihat Lev langsung berjalan masuk.
“Apakah ada sesuatu?” tanya Biana heran.
“Dimana Rosemary?” tanya Lev balik bertanya.
“Rosemary?”
“Ayolah, Biana. Aku tahu siapa yang aku maksud,” kata Lev tidak sabar.
Ia sudah membayar salah seorang pegawai Emanuel hanya untuk mendapatkan alamat Rosemary dan sekarang ia melihat pelayannya berdiri di depan pintu yang sudah berkali-kali ia bunyikan bellnya.
“Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak mengerti,” kata Biana menghindar.
Lev memandang pintu yang tertutup. Ia ingin tahu siapa yang ada di balik pintu tersebut tetapi ia juga tahu bahwa di rumah Biana dirinya bukan siapa-siapa.
“Apakah Rosemary tinggal bersamamu?” Lev kembali bertanya dengan mata yang tertuju pada pintu kamar yang tertutup rapat.
“Saya tidak mengerti maksud, Anda. Dan saya berharap Anda tidak mengganggu cucu saya yang sedang tidur,” tegur Biana.
“Kau pikir aku percaya?” balas Lev curiga.
“Tidak ada yang melarang Tuan percaya tetapi, saya yakin Tuan tidak akan membuat keributan di rumah pelayan Anda sendiri, kan?” tanya Biana mengingatkan.
Lev masih penasaran tetapi ia juga tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah membujuk Biana mengatakan kebenarannya. Tidak mungkin dia mendapatkan alamat yang salah.
__ADS_1
“Aku tahu selama ini ada seorang mahasiswa asal Indonesia yang tinggal bersamamu. Jadi, apakah Rosemary tinggal bersamamu?” desak Lev semakin tidak sabar.
“Apabila yang Anda maksud adalah putrinya Tiara, maka jawabannya benar. Marry pernah tinggal disini sementara sebelum Tiara mengajaknya pindah,” sahut Biana.
Dalam hati Biana berharap Lev percaya dengan jawabannya.
“Putrinya Tiara? Maksudmu … Tiara pernah menitipkan putrinya padamu?” tanya Lev terkejut.
Biana mengangguk. Sudah waktunya Lev sadar bahwa perempuan yang dia kencani lebih pantas menjadi ibunya.
“Benar. Apakah Tuan tidak diberitahu?”
“Tiara pernah mengatakan padaku bahwa putrinya datang dan ia juga mengatakan bahwa putrinya sudah melahirkan. Tapi, apa hubungannya dengan Rosemary?”
Biana tersenyum. Ia tidak mengira pria yang terkenal pintar bahkan tidak bisa menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain.
Apakah yang ada di dalam otak Lev hanya ada Tiara saja sehingga nama perempuan lain tidak penting?
“Tuan saja tidak mengerti bagaimana dengan saya? Saya hanya menerima Marry di rumah saya,” kata Biana lagi.
“Dan dimana dia sekarang?” tanya Lev.
“Saya kurang tahu. Setelah melahirkan Marry memutuskan pindah. Menurutnya rumah ini terlalu jauh dengan tempatnya bekerja,” beritahu Biana.
Lev menatap Biana tajam seakan memastikan semua jawaban yang dia berikan adalah kebenaran. “Aku tahu kau berbohong padaku, Biana. Apakah kau tidak kasihan pada Rosemary seandainya aku melaporkan dia?” pancing Lev dengan suara yang sangat berbeda dari sebelumnya.
“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak memiliki hak untuk menuntut Marry mengatakan dimana dia tinggal,” jawab Biana bersikeras.
“Aku tidak percaya kau berani menolakku, Biana.”
“Tuan mengenal saya. Maaf, kenapa Tuan tidak bertanya pada Tiara saja?” usul Biana mengingatkan.
Suara umpatan keluar begitu saja dari mulut Lev ketika ia mulai memahami ucapan Biana. “Kau tidak bermaksud mengatakan Marry dan Rosemary adalah orang yang sama, kan?”
Biana hanya mengangkat pundak sebagai jawabannya. Dalam hati Biana mengeluh karena Lev baru memahami ucapannya. Pilihannya sekarang apakah pria di depannya bersedia meninggalkan Tiara untuk Rosemary.
Di dalam kamar, Rosemary terus memasang telinga dan ia tidak mengerti isi pembicaraan yang diantara Biana dan Lev yang menggunakan bahasa Rusia. Yang ia ketahui hanya Biana bicara dengan Lev dari suaranya saja.
“Aku tidak tahu Biana dan Lev saling mengenal. Semoga saja Biana tidak mengatakan apa pun dan tetap melindungiku,” harap Rosemary cemas.
Setelah menunggu cukup lama di dalam kamar, akhirnya Rosemary mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar di susul dengan suara Biana yang memanggilnya.
“Apakah dia sudah pergi?” tanya Rosemary gelisah.
“Sudah tetapi, Lev tidak percaya aku tidak tahu keberadaanmu,” jawab Biana.
“Dan bagaimana dia tahu alamat rumah ini. Apakah Lev mengatakan padamu dari mana dia tahu?” tuntut Rosemary.
__ADS_1
“Lev hanya mengatakan dia mendapatkan alamat rumah ini dari salah seorang pegawainya Emanuel,” beritahu Biana mengejutkan Rosemary.
“Pegawainya Emanuel? Kau yakin Lev mengatakannya?”
Biana mengangguk. “Tidak semua orang menolak tawaran yang diberikan Lev ketika pria itu memiliki keinginan, Rosemary. Kau pasti tidak lupa dengan kekuasaan yang dia miliki,” ujar Biana mengingatkan.
Rosemary tahu seorang Lev Grigori bisa melakukan apa saja dengan uangnya tetapi ia tidak percaya ada pegawai Emanuel yang berkhianat. Tetapi, Rosemary yakin pegawai yang dimaksud Lev sudah tentu pegawai yang letak meja kerjanya tidak jauh dari kantor Emanuel.
Rosemary menatap keluar jendela dan mulai bicara tanpa menoleh, “Aku ingin tahu mengapa kalian berdua menyebut nama Tiara. Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?”
Biana lalu menjelaskan pada Rosemary alasan dia menyebut nama Tiara. “Pertama kali aku mengenalmu adalah karena Tiara. Jadi tidak mungkin aku sekedar mengarah cerita aku menduga Tiara sudah mengatakan
padanya bahwa kau tinggal bersamaku,” kata Biana setelah menyelesaikan penjelasannya.
“Aku tahu dan aku tidak mungkin bertemu denganmu kalau bukan Tiara yang menyuruhmu datang menjemputku,” kata Rosemary tersenyum.
Rosemary puas. Ia tidak mungkin mendapatkan perlindungan sekaligus kasih sayang yang tulus seandainya ia tinggal bersama Tiara.
“Jadi, apakah kau mau menjelaskan mengapa kau menolak bertemu dengan Lev Grigori?” tanya Biana setelah ia melihat Rosemary tidak lagi gelisah seperti sebelumnya.
“Aku belum siap dan aku tidak ingin dia mengganggu kehidupanku lagi. Bagaimanapun dia yang sudah memutuskan berpisah,” kata Rosemary lirih.
“Tetapi, apa yang akan kau lakukan apabila Lev tahu kau melahirkan anaknya? Aku bekerja dengan keluarga Grigori cukup lama sehingga aku tahu mereka tidak akan pernah melepaskan keturunan mereka tinggal di luar rumahnya,” beritahu Biana.
“Selama tidak ada yang mengatakan padanya, aku yakin kami bisa tenang menjalani kehidupan,” jawab Rosemary.
Namun, setelah beberapa kali ia mendengar suara bell yang terus-terusan berbunyi dan Biana harus berulang kali memberikan penjelasan pada Lev, membuat Rosemary tidak nyaman dan memaksanya menelepon Emanuel.
“Halo, Manuel,” sapa Rosemary begitu panggilan teleponnya mendapatkan jawaban.
“Ada apa Rose. Tidak biasanya kau meneleponku,” goda Emanuel geli.
“Aku butuh bantuanmu,” cetus Rosemary tanpa basa-basi.
“Bantuan?”
“Benar. Tetapi aku tidak memaksamu apabila tawaranmu sudah berakhir,” kata Rosemary buru-buru.
“Tidak ada yang merasa dipaksa. Aku pernah menawarkan padamu bahwa kau bisa minta bantuanku kapan saja. Jadi, apa yang harus aku lakukan dan kau inginkan?”
“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin tinggal di desa. Tempat yang menurutmu sangat nyaman dan tenang,” jawab Rosemary yakin.
Emanuel tersenyum. Ia pernah menawarkan Rosemary tinggal di desa bersamanya tetapi yang diucapkan oleh perempuan itu sangat berbeda dengan yang ia inginkan.
“Baiklah. Kapan kau ingin pindah?” tanya Emanuel.
“Secepatnya dan aku tidak ingin seorangpun tahu aku tinggal di desa yang sama denganmu,” jawab Rosemary.
__ADS_1
“Kau tidak perlu khawatir tetapi, untuk menghilangkan kecurigaan pegawai yang lain, aku ingin kau datang ke kantor walaupun hanya sekali dalam seminggu,” saran Emanuel dan Rosemary menyetujuinya.