
Rosemary tidak berharap kehidupannya terganggu dengan kehadiran Lev atau siapapun yang berniat merusak ketenangannya. Setelah pertemuannya dengan Lev di Paris, Rosemary sudah tinggal di desa asal Biana dan ia hanya sesekali ke kota apabila kehadirannya dibutuhkan oleh perusahaan.
Siang itu Rosemary sedang bermain dengan Yuri setelah menyelesaikan pekerjaannya saat Biana menghampirinya.
“Ada apa?” Rosemary bertanya sambil mengangkat kepala.
“Tiara menelepon,” beritahu Biana sambil menyerahkan ponselnya pada Rosemary.
“Terima kasih,” jawab Rosemary sambil menerima ponsel Biana.
“Kalau tidak mau menjawab telepom buat apa punya telepon!”
Rosemary menjauhkan ponsel dari telinganya ketika suara Tiara yang kencang membuat telinganya berdengung.
“Ada apa?” sahut Rosemary.
“Ada aoa? Apakah aku tidak punya hak meneleponmu!”
Dalam hati Rosemary menggerutu. Kenapa setiap kali Tiara menelepon ia selalu berpikir bahwa perempuan itu menginginkan sesuatu. Rosemary tidak terlalu mengenal Tiara tetapi dari beberapa kali pembicaraan, Tiara selalu mengharapkan dirinya diutamakan walaupun demi kepentingan dirinya sendiri.
“Aku tidak tahu hak mana yang Mama bicarakan,” jawab Rosemary dingin.
“Marry, aku adalah ibumu dan setiap ibu punya hak agar anaknya mematuhi keingian ibunya.”
“Benarkah? Sayangnya aku tidak pernah ingat bahwa kau pernah melakukan kewajibanmu sebagai mamaku. Entah kenapa aku lebih rela memberikan hak tersebut pada Mama Aini,” sahut Rosemary pedas.
Tidak ada jawaban dari Tiara sehingga Rosemary bersiap mematikan teleponnya tetapi, telinganya kembali mendengar suara Tiara yang lebih pelan dari sebelumnya.
“Aku ingin bicara berdua. Saat ini aku ada di Paris. Apakah kita bisa bertemu?”
“Aku lihat jadwalku dulu apakah aku bisa bertemu denganmu di Paris atau tidak. Besok aku kasih kabar karena aku harus bertanya dengan asistenku lebih dulu.”
“Astaga Rosemary … alangkah sombongnya dirimu. Kau hanya pegawai rendahan Emanuel Durstan dan aku yakin pria itu bahkan tidak perlu berkedip saat dia ingin memecatmu.”
“Setidaknya dia lebih peduli padaku dibandingkan perempuan yang sudah melahirkan diriku. Sekarang katakan mengapa kau ingin bertemu denganku. Kalau untuk bicara kenapa tidak sekarang saja!”
Rosemary begitu sakit hati karena ucapan Tiara yang jauh dari sikap menghargai. Dia memang seorang pegawai tetapi hasil pekerjaannya dihargai banyak orang dan ia yakin Emanuel tidak akan memecatnya dengan mudah.
“Aku ingin mengatakan padamu bahwa keluarga kekasihku ingin bertemu denganmu. Mereka tidak akan merestui hubungan kami apabila tidak bertemu dengan salah satu keluargaku.”
“Kekasih?” Rosemary memandang Biana berusaha mencari jawaban tetapi Biana memilih menghindar dengan pergi membawa Yuri ke luar.
“Benar. Seharusnya tidak ada masalah seandainya kekasihku tidak mengatakan anakku tinggal di Paris.”
“Kalau begitu katakan saja anakmu sudah kembali ke Indonesia karena sekolahnya sudah selesai. Kenapa harus jadi masalah?”
__ADS_1
Rosemary begitu sakit hati begitu mendengar ucapan Tiara yang terdengar menyesal karena ia ada di negara yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
“Tidak bisa. Seandainya kau sudah kembali ke Indonesia pun mereka tetap menuntut bertemu denganmu. Seharusnya kau tidak perlu datang hingga aku tidak dibuat susah seperti ini!”
Apakah Tiara tidak pernah berpikir lebih dulu sebelum bicara atau dia memang tidak pernah punya perasaan untuk anaknya?
“Kalau begitu katakan saja pada Mereka bahwa kau tidak punya anak. Kau tidak perlu memberikan penjelasan apa pun pada Mereka dengan mengatakan aku bukan anakmu apalagi kalau kau katakan aku sudah mati.”
“Marry!”
“Dengar Nyonya Tiara! Sejak ucapanmu tadi, aku sudah tidak peduli lagi padamu. Kau memang perempuan yang sudah melahirkanku tetapi apa yang sudah kau lakukan padaku. Jangan pernah menuntutku mengikuti permintaanmu sementara kau sendiri tidak punya hak untuk itu. Dan jangan pernah meneleponku karena aku bukan siapa-siapamu.”
Rosemary sudah tidak bisa mengendalikan kemarahannya. Dulu ia datang ke Paris dengan harapan bisa mendapatkan kasih sayang dari perempuan yang sudah melahirkannya tetapi sejak ia tiba Tiara bahkan menyuruh perempuan asing untuk menjemputnya.
Rosemary memerlukan udara segar agar emosinya tidak meledak dan ia berjalan keluar menemui Biana yang sedang bersama dengan Yuri dan … Emanuel.
“Noel … kapan datang?”
Rosemary begitu terkejut karena pria itu datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan ia tersenyum malu karena Yuri begitu nyaman duduk di pangkuan pria itu.
“Apakah Adel tidak mengatakan padamu?” Emanuel balik bertanya.
“Dia hanya mengatakan bahwa kau ingin bertemu denganku. Jadi, aku pikir aku yang harus datang bukan sebaliknya. Ada apa?”
“Sebelumnya aku ingin bertanya ada apa? Sepertinya kau sangat emosi hari ini. Perlu udara segar?”
“Pergilah, aku akan menjaga Yuri!”
“Kalau begitu aku pakai mantel dulu.”
Setelah Rosemary masuk ke dalam rumah, Emanuel menatap Biana tajam. “Ada apa?”
“Tiara meneleponnya dan sepertinya pembicaraan mereka tidak berlangsung baik,” beritahu Biana.
Wajah Emanuel berubah gelap, “Apakah Tiara sering menghubungi Rosemary?”
“Sebelumnya Rosemary mengganti nomor teleponnya sehingga dia tidak pernah menerima telepon dari Tiara lagi.”
“Lalu?”
“Waktu Rosemary ke Rusia, Tiara meneleponku dan dia minta nomornya Rosemary. Tiara mengatakan dia perlu bicara dengan Rosemary karena hidupnya tidak lama lagi.”
Biana menyesal sudah memberikan nomor telepon Rosemary dan kini ia berpikir bahwa Tiara bohong dengan mengatakan hidupnya tidak lama lagi. Kalau tidak kenapa tadi ia mendengar Rosemary mengatakan kekasih.
“Aku bersumpah semoga usia perempuan itu memang tidak lama lagi. Tega sekali dia mengganggu kehidupan anak perempuannya bahkan dengan menjadi kekasih ayah dari cucunya,” omel Biana marah.
__ADS_1
Sama seperti Biana, Emanuel pun sangat marah karena Tiara tidak seperti ibu yang lainnya. Perempuan itu sangat egois tetapi apakah Tiara tahu siapa Lev bagi Rosemary? Emanuel yakin Tiara tidak mengetahuinya.
“Ayo. Biana, tolong jaga Yuri untukku,” pesan Rosemary sebelum ia pergi bersama dengan Emanuel.
Rosemary masuk ke dalam mobil Emanuel dan mereka tidak pergi cukup jauh. Mereka hanya perlu tempat yang tenang agar Rosemary bisa mengeluarkan emosinya.
Di pinggil Danau, Rosemary berdiri dalam diam. Dia seperti memerlukan udara yang cukup banyak agar dadanya tidak sesak.
“Ada apa, mau cerita?”
Rosemary melirik Emanuel yang berdiri di sampingnya. Ia tersenyum ketika masalah yang terjadi padanya tidak perlu diketahui oleh orang lain walaupun Emanuel selama ini sudah membantunya.
“Biasa masalah ibu dan anak. Kau sendiri apakah bertemu denganku sangat mendesak hingga datang kesini,” jawab Rosemary menolak bercerita.
“Benar. Aku harus bertemu denganmu karena masalah yang aku bawa berkaitan erat denganmu,” jawab Emanuel langsung.
Sebelumnya ia tidak ingin bicara langsung tetapi ucapan Biana sudah membuatnya harus bicara lebih cepat pada Rosemary.
“Ada apa?”
“Max Grigory menemuiku kemarin. Ia bermaksud merekrutmu sebagai pegawainya,” jawab Emanuel setelah menarik napas beberapa kali.
“Max Grigory? Aku pernah dengar nama tersebut dan kalau tidak salah dia adalah pemilik pertambangan batu mulia tetapi kenapa dia ingin aku bekerja padanya.” Rosemary mengerutkan keningnya.
“Apakah kau pernah bertemu dengannya?”
Rosemary kembali melirik Emanuel sebelum menggeleng. “Tidak. Aku hanya pernah baca artikel tentangnya saja.”
Emanuel menganggukkan kepala. “Max datang menemuiku karena ia ingin kau yang membuat film promosi untuk perusahaannya. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia ingin kau yang melakukannya.”
Dalam hati Emanuel bimbang apakah ia harus mengatakan siapa Max sebenarnya pada Rosemary sekarang ataukah membiarkan perempuan itu tahu dengan sendirinya seperti keinginan Max. Dan Emanuel sendiri heran kenapa nama Grigory tidak membuat Rosemary memikirkan Lev yang memiliki nama belakang yang sama.
Seandainya saja Rosemary bisa mengaitkan nama Grigory, Emanuel memiliki kesempatan untuk menjelaskan tujuan Max yang sebenarnya pada saat Rosemary menolaknya.
Tetapi, Rosemary sama sekali diam sehingga Emanuel bertanya-tanya apakah Rosemary setuju dengan tawaran Max atau tidak.
“Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak mungkin bekerja di tempat yang jauh dari Yuri,” ucap Rosemary pelan.
“Max mengijinkan kau membawa keluargamu,” beritahu Emanuel kembali.
“Dan aku masih heran bagaimana Max tahu tentang diriku. Selama ini aku hanya bekerja di belakang layar. Tidak mungkin namaku sudah terkenal hingga ke negeri beruang putih itu.”
Senyum tipir terlihat di bibir Emanuel saat bicara. “Max sudah mengenalmu ketika bertemu denganmu di bandara ketika kau mengambil film negara tersebut.”
“Bertemu denganku?” Rosemary berpikir siapa dan ingatannya langsung pada pria setengah baya yang terlihat gagah dan memiliki aura sebagai penguasa.
__ADS_1
“Dia?”
Emanuel mengangguk dan berpikir bahwa Rosemary tidak mengenal siapa Max dan berpikir nama belakang Grigory sama seperti nama belakang lainnya yang bisa dimiliki siapa saja.