Ketika Cinta Kehilangan Arti

Ketika Cinta Kehilangan Arti
Terserah apa kata dunia


__ADS_3

Rosemary masih memperhatikan pintu yang sudah tertutup dengan berjuta perasaan yang ada.


Ia tidak pernah mengerti dengan keinginan dan semua yang dibutuhkan seorang perempuan bernama Tiara.


Bagi Rosemary, Tiara seperti perempuan yang tidak pernah siap menjadi seorang ibu bahkan pada saat usianya sudah tidak muda lagi. Apakah sepanjang hidupnya ia lebih memilih hidup sendirian?


Lalu, apa yang membuatnya sinis mendengar penjelasan Tiara? Bukankah dia sudah memutuskan untuk tidak ikut campur dengan semua urusan Tiara?


Saat ini yang harus ia lakukan adalah mengambil cuti kuliah karena ia tidak bisa meninggalkan Yuzi diusianya yang sekarang.


Baru saja Rosemary mengalihkan perhatiannya ke jendela ia mendengar suara pintu terbukan tetapi ia tidak peduli dengan siapapun yang datang karena yakin tidak ada yang ia tunggu.


Namun, suara lelaki yang menyapanya membuat Rosemary perlahan berpaling dan melihat lelaki gagah dan tampan yang kemarin datang bersama dengan Ezme.


"Anda? Apakah Anda datang bersama dengan Ezme?" tanya Rosemary heran.


Laki-laki yang seingat Rosemary mengenalkan namanya sebagai Emanuel hanya menatapnya tenang membuat Rosemary tersenyum sinis.


"Aku datang sendiri. Apakah kau keberatan?" tanya Emanuel mengambil kursi lalu duduk di sampingnya.


"Saya tidak punya hak untuk melarang Anda datang, tetapi saya punya hak untuk menolak bertemu dengan Anda," jawab Rosemary dingin.


Di sampingnya Emanuel menatap Rosemary dalam-dalam seolah dia berusaha melihat ke dalam hati perempuan yang duduk bersandar.


"Entah mengapa jawaban yang kau berikan sudah terdaftar di otakku selum bertemu denganmu,” sahut Emanuel tersenyum.


“Jadi, kenapa kau datang kesini?”


Emanuel menatap Rosemary, “Apakah sakit hatimu sudah mendarah daging hingga kau menyamakan semua lelaki yang mendekat?”


"Apakah Anda ingin curhat? Sayang sekali saya bukan tempat yang tepat untuk mendengarkan keluhan Anda," jawab Rosemary dingin.


Emanuel tersenyum. Ia tidak akan menyerah menghadapi sikap kaku yang berasal dari Rosemary. Sebaliknya ia merasa ditantang untuk menaklukkan seorang wanita bernama Marry.


"Rosemary, apakah aku tidak bisa membantumu menyembuhkan sakit di hatimu?"


"Apakah Anda mencoba menjadi dokter yang bisa mengobati sakit hati saya?" tanya Rosemary langsung.


Sebuah seringai terlihat di bibir Emanuel hingga ia langsung menjawab dengan mengatakan bahwa dirinya siap menjadi dokter yang dibutuhkan oleh Rosemary.


"Kalau begitu saya harus mengucapkan selamat berjuang karena yang akan Anda hadapi bukan pasien biasa melainkan pasien yang menderita gangguan jiwa,” sahut Rosemary.


“Sekarang, saya ingin sendiri dan tidak membutuhkan Anda untuk mendapatkan obat dalam jenis apa pun,” cetusnya tegas.


Seringai kembali diperlihatkan Emanuel karena kalimat yang barusan ia dengar keluar dari mulut Rosemary. Apakah wanita itu berpikir dirinya begitu mudah disingkirkan?


Emanuel sudah mengambil resiko yang cukup besar dengan menahan malu dan menekan harga dirinya karena seorang wanita yang sudah menarik perhatiannya justru pada saat wanita itu baru saja selesai melahirkan.


Rosemary bukan perempuan cantik satu-satunya yang pernah ia temui tetapi Emanuel merasa ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh perempuan yang pernah ia temui dan mencoba menarik perhatiannya.


"Kalau kau berpikir dengan kata-kata seperti itu bisa menyingkirkan aku, kau salah karena kebetulan aku bukan dokter biasa, aku akan mengobati sakit hati dan jiwamu," jawab Emanuel.


Suara tawa terdengar pelan di telinga Emanuel hingga untuk sesaat membuatnya terpana.


Dia memang baru sehari bertemu Rosemary tetapi mendengar suara tawanya mengapa ia berpikir bahwa sudah lama Rosemary tidak pernah tertawa.


Siapa orang yang sudah menghilangkan tawa tersebut, apakah ia bisa mengembalikan tawa yang begitu menular?

__ADS_1


Seandainya saja ia mengenal Rosemary cukup lama, ia pasti akan memberanikan diri dengan menawarkan diri sebagai pria yang akan menyembuhkan sakit hatinya.


Namun, Emanuel sadar bahwa ia tidak bisa bertindak gegabah kecuali berusaha menjadi temannya untuk saat ini.


"Anda bukan tamu saya apalagi teman saya, jadi saya tidak memiliki kewajiban untuk bertindak sopan. Sekarang pergilah, Anda sudah membuat istirahat saya terganggu,” cetus Rosemary tegas.


Seperti mengancam, Rosemary berusaha menekan bell untuk memanggil perawat sebelum Emanuel berbalik mengancamnya.


"Lakukan dan kau langsung menjadi milikku," bisik Emanuel lirih.


Rosemary menghentikan gerak tangannya dan dia menatap ngeri ke arah Emanuel.


Tatapan dan cara pandang Rosemary terhadapnya membuat Emanuel memaki dalam hati. Dia memang mengharapkan reaksi dari Rosemary tetapi bukan seperti yang diperlihatkan saat ini.


Ya Tuhan … apa yang sebenarnya sudah terjadi dan mengapa Rosemay terlihat ketakutan? Emanuel tidak bisa memaksa sehingga yang ia bisa lakukan hanya mengalah dan membiarkannya sendiri.


"Jangan pernah menatapku seperti itu. Aku bersumpah, seandainya kau memberikan kepercayaan padaku, aku akan membalas semua sakit hati yang pernah kau rasakan. Kau mengerti, Rosemary?"


"Pergilah, saya tidak berharap Anda membuang waktu untuk saya," ujar Rosemary dingin.


Apakah Rosemary sudah mati rasa? Atau otaknya sudah tidak berfungsi? Bagaimana dia bisa mengabaikan perhatian seorang lelaki bernama Emanuel Durstan, apakah dia tidak tahu siapa lelaki itu sebenarnya?


Berdiri di balik tirai tebal, Ezme mendengarkan semua pembicaraan yang terjadi antara Rosemary dengan Emanuele, lelaki yang datang bersamanya kemarin untuk menemui Rosemary.


Dia sama sekali tidak mengira apalagi berpikir Emanuel bisa memberikan rekasi dan perhatian yang sangat besar terhadap Rosemary. Apakah dia yakin bisa membuka hati Rosemary sementara dengan dirinya saja Rosemary masih menjadi tanda tanya besar.


"Aku akan pergi, tetapi aku pasti akan mendapatkan jawaban yang tidak bisa kau katakan padaku," janji Emanuel.


Tanpa menunggu reaksi Rosemary, Emanuel berbalik tetapi belum sampai ia menyibak tirai ia sudah mendengar suara Rosemary yang mengancamnya.


"Lakukan dan cari tahu tentang diriku karena pada saat kau mengetahui kebenarannya kau bukan orang yang pantas bicara padaku."


Ezme sudah berteman dengan Rosemary lebih dari 6 bulan tetapi mendengar suara Rosemary yang penuh kepedihan baru pertama kali dia dengar.


Rosemary tidak pernah mengatakan tentang pria yang sudah membuatnya hamil tetapi dari suaranya sangat jelas terdengar bahwa luka yang ditinggalkan pria itu sudah membuatnya trauma yang dalam.


Emanuel tidak membalas peringatan yang diberikan oleh Rosemary dan Rosemary melihat bahu Emanuel begitu kaku seolah dia berusaha menekan seluruh emosi yang ada di dalam jiwanya.


Tidak ada balasan kata dari Emanuel kecuali tarikan napas yang berat karena pria itu tidak akan pernah melakukan permintaan ataupun peringatan yang diberikan oleh Rosemary.


Emosi Emanuel begitu gelap yang membuatnya berjalan begitu cepat hingga membuatnya tidak memperhatikan dari arah yang berbeda juga berjalan wanita yang menarik walaupun sudah tidak muda lagi dan mereka baru menyadarinya setelah cukup dekat.


"Anda? Bukankah Anda Tuan Emanuel Durstan?" tanya Tiara.


Mata Tiara langsung memindai mencari keberadaan Lev tetapi yang dia lihat hanya senyuman mengejek yang kerap dia lihat setiap kali bertemu dengan Emanuel. Tiara tidak mengerti dengan sikap Emanuel, bukankah mereka tidak saling mengenal dan urusan pribadinya bukan untuk konsumsi publik?


"Kalau kau berpikir Lev bersamaku, kau tidak akan menemukan dirinya," jawab Emanuel.


Setelah membuat Tiara tidak nyaman dengan matanya, Emanuel meneruskan langkah kakinya.


"Apa yang dia lakukan di sini dan siapa yang dia kunjungi?" tanya Tiara pelan.


Tiara yang baru saja melihat Yuzi berniat kembali ke kamar Rosemary sampai dia berpapasan dengan lelaki dingin, kaku dan sinis yang sangat berbeda dengan yang dia temui kemarin.


Tidak ingin menghabiskan waktu dengan berpikir tentang lelaki yang tidak menyukainya, Tiara mulai melanjutkan perjalanannya. Dia akan berpamitan pada Rosemary sebelum kembali pada Lev.


Baru saja Rosemary membuka pintu, ponselnya berdering membuat Tiara bergegas menerima telepon tanpa menyadari seorang perempuan muda sedang mengamatinya. Perempuan yang tidak lain adalah Ezme.

__ADS_1


"Bukankah wanita itu adalah sekretaris-nya Lev? Dan untuk apa dia kesini, ada hubungan apa dengan Marry?" pikir Ezme dalam hati.


Sibuk dengan ponselnya Tiara mendekati Rosemary yang memilih memejamkan matanya setelah kepergian Emanuel yang sudah berhasil menguras sebagian emosinya.


"Marry, Mama tidak bisa di sini lebih lama. Bos mama akan kembali ke negaranya. Mama harap kau jaga diri dan terus mengirim pesan pada Mama," kata Tiara.


Tiara tahu Rosemary hanya memejamkan mata dan ia cukup puas saat kepala Rosemary mengangguk.


"Mama pergi dulu. Omong-omong, anakmu tampan sekali," puji Tiara sebelum dia pergi.


Masih dengan mata terpejam, Rosemary berusaha tidak memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Tiara. Tetapi mengetahui Tiara bisa menilai wajah Yuzi, apakah dia akan memikirkan yang lain?


Entah berapa lama Rosemary akhirnya terbawa mimpi karena dia memejamkan matanya, tetapi saat dia membuka mata, dia melihat Ezme duduk di sampingnya, mengamati wajahnya dengan cara yang membuatnya risih.


"Ada apa, kenapa memandangku seperti itu?" tanya Rosemary.


"Aku hanya berpikir, kau cantik mengapa tidak menjadi bintang film saja dari pada jadi sutradara?"


Jawaban yang diluar dugaan dan Rosemary hanya tertawa.


"Aku tidak mau menjadi sumber berita. Lebih baik bekerja di belakang layar, memberi perintah tidak peduli betapa terkenalnya aktris tersebut, pada saat dia berada di depan kamera, aktris atau aktor tersebut harus patuh pada sutradara," jawab Rosemary tertawa.


"Kau tidak ingin nama dan wajahmu dikenal dunia?" selidik Ezme ingin tahu.


"Dulu, ya, tetapi sekarang tidak," jawab Rosemary getir.


"Menurutmu, kapan kau diperbolehkan keluar rumah sakit?" tanya Ezme ingin tahu.


"Kalau tidak ada masalah seharusnya sore ini," jawab Rosemary.


"Dan kau tetap akan tinggal bersama Biana?" tanya Ezme ingin tahu.


"Benar. Aku berharap Biana bisa membantuku menemukan perawat yang bisa menjaga Yuzi selama aku kuliah," jawab Rosemary.


"Yuzi tampan dan menurutku dia mempunyai darah Eropa Timur, siapa Dia?"


Rosemary tertawa dan entah mengapa mendengar pertanyaan Ezme membuatnya geli.


"Aku tidak ingin tahu sama seperti dia tidak pernah menginginkannya. Jadi, bisakah Yuzi hanya menjadi anakku tanpa harus mengingat ayahnya?"


Apakah Ezme bisa menolak permintaan Rosemary sebagai ibu dari anak lelaki yang baru berumur sehari? Tentu saja tidak karena sebagai ibunya Rosemary lebih berhak memutuskan mana yang terbaik untuk dia dan anaknya.


Sementara itu di kantor Emanuel, seorang wanita cantik dengan rambut hitam lurus terlihat tidak sabar menunggu Emanuel.


Dia tidak mengerti mengapa Emanuel tiba-tiba menyuruhnya datang padahal baru minggu lalu mereka bertemu.


Sebelumnya Sofia berpikir Emanuel sudah ada di kantor karena dia memintanya untuk bergegas, tetapi yang dia temui, hanya Amora yang menyampaikan permintaan maaf karena bos-nya masih dalam perjalanan.


"Apa kau tahu siapa yang dia kunjungi?" tanya Sofia pada Lucy.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak pernah cari tahu siapa yang Tuan Durstan kunjungi apabila diluar urusan kerja," jawab Lucy.


"Dengan kata lain, dia keluar untuk bertemu seseorang, apakah dia wanita?"  tanya Sofia.


Namun, jawaban yang diberikan Lucy hanya gelengan kepala.


"Saya minta maaf karena saya benar-benar tidak tahu, Nona."

__ADS_1


Tidak mungkin memaksa Lucy bicara kemana bos-nya pergi sekali-pun dia tahu, selama Emanuel tidak mengizinkan bicara, maka mulut Lucy tetap terkunci tidak peduli walaupun adik bos-nya sendiri yang memintanya.


Berusaha tidak membuang waktu lebih banyak, Sofia menelepon Emanuel untuk memastikan keberadaannya dan wajahnya menjadi kesal karena ponsel Emanuel tidak aktif.


__ADS_2