Ketika Cinta Kehilangan Arti

Ketika Cinta Kehilangan Arti
Selalu ada pilihan


__ADS_3

Tiara mendekati Lev lalu duduk di kursi yang ada di seberang sofa panjang tempat pria itu berbaring.


Keputusannya sudah mantap. Ia tidak akan mengorbankan kesenangan yang bisa ia peroleh hanya untuk mengurusi penyakitnya. Ia tidak akan membiarkan Lev pergi darinya dan pindah ke pelukan perempuan lain.


“Malam ini kita kembali!” ujar Lev mulai bangun dari posisi berbaringnya.


“Kalau begitu aku akan berkemas,” sahut Tiara bersiap bangun dari duduknya.


“Tiara … ada apa?” tanya Lev tiba-tiba.


Sebelah alih Tiara naik. Ia belum pernah mendengar suara Lev yang pelan dan lembut kecuali saat ia sedang membisikkan kata-kata mesra saat mereka di tempat tidur.


“Tidak ada apa-apa,” sahut Tiara tersenyum.


“Kalau begitu kenapa kau terlihat berbeda. Ada yang kau sembunyikan?” selidik Lev.


“Tidak ada, Lev. Mungkin aku sedikit terpengaruh karena sambutan yang diberikan Marry tadi,” jawab Tiara memberikan alasan.


“Marry? Apa yang dia lakukan sampai kau seperti ini!” tegur Lev mulai marah.


Tiara tanpa menyadari tindakannya justru menjadikan Rosemary sebagai kambing hitam untuk menutupi ketakutannya.


Dalam kemarahan karena tidak terima dengan sikap Marry, Lev mendekati Tiara dan memilih berada di belakang perempuan itu.


Perlahan tangan Lev menyentuh bahu Tiara dan mulai mengarah ke lehernya membuat tubuh Tiara kaku. Ia belum siap menerima sentuhan dari Lev karena keadaan dirinya.


“Kenapa, kau tidak menyukai sentuhanku?” bisik Lev di telinganya.


Lev tidak sekedar berbisik karena dia juga memberikan sentuhan yang membuat tubuh Tiara bergetar karena sensadi yang ditimbulkan Lev pada tubuhnya.


Lev tidak perlu perempuan lain untuk menghangatkan ranjangnya karena keberadaan Tiara. Ia tidak peduli walaupun usia perempuan itu sudah tidak muda lagi. Bagi Lev, Tiara lebih baik daripada perempuan muda yang banyak menuntut.


“Lev, pernahkah kau memikirkan pendapat orang lain tentang hubungan kita?” tanya Tiara setelah mereka menyelesaikan permainan pada malam itu.


“Untuk apa? Karena pendapat Manuel?” tanya Lev.


“Salah satunya dan aku tidak percaya Tuan Grigori tidak memberikan teguran padamu,” sahut Tiara.


“Untuk apa memikirkannya sementara aku saja tidak peduli,” jawab Lev mulai memejamkan matanya.


“Lev, kau tahu aku sebelumnya bekerja pada papamu, jadi … aku ingin tahu apa yang papamu katakan,” desak Tiara.


“Papa bertanya apa keistimewaan yang kau miliki hingga aku menyingkirkan para wanita yang selama ini bersama denganku,” jawab Lev.


“Dan apa jawabanmu?”


“Aku menyukai perempuan berpengalaman untuk memenuhi kebutuhanku. Dan bukan perempuan dingin yang baru belajar agar lelaki puas,” cetus Lev tagas.


“Jadi, kau hanya menganggapku sebagai perempuan yang menghangatkan ranjangmu?” tanya Tiara pelan.


“Apakah ada yang lainnya? Kau tidak berpikir bahwa aku akan melamarmu, kan?” tawa Lev terdengar geli saat ia bicara.


Lev tertawa karena ucapan Tiara. Apakah perempuan itu tidak tahu bahwa pernikahan tidak pernah ada di dalam agendanya? Cukup ia melakukan pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

__ADS_1


Sakit hati karena jawaban yang diberikan Lev membuat Tiara lebih memilih mengalihkan pembicaraan pada kegiatan yang dilakukan Lev sepanjang siang tadi.


“Bagaimana hasil pertemuanmu dengan Emanuel?”


“Tidak baik. Emanuel bukan pria yang mudah diajak kerja sama sementara dia sudah mempunyai jaringan usaha di sana. Dia bersedia kerja sama tetapi tidak sesuai dengan keinginanku.”


“Aku mengenalmu, Lev dan aku tidak percaya kau mengalah hanya karena sikap seperti itu,” ujar Tiara mengigatkan.


“Aku pasti bisa membuatnya berubah pikiran kalau saja dia tidak buru-buru pergi,” jawab Lev ketus.


“Kalau saja aku tahu dia pergi ke rumah sakit yang sama dengan tempat anakmu berada, aku pasti ikut dengannya,” ungkap Lev.


“Kau tahu, aku masih penasaran dengan kegiatan Manuel di rumah sakit,” bisik Lev.


Lev tidak mendapatkan jawaban karena Emanuel adalah lelaki yang tertutup tidak seperti dirinya yang tidak pernah menutupi setiap hubungan yang dia lakukan.


Waktu yang terus berlalu menjadikan hari berganti dengan mulusnya karena tidak ada kejadian bencana atau tragedy yang mengikutinya.


Di rumah sakit, Rosemary baru selesai memberikan ASI pada putranya dan dia masih memandangi putranya yang sudah memperlihatkan awal dari wajahnya yang tampan.


Melihat wajah Yuri yang tampan memiliki kekhawatiran yang berusaha disembunyikan oleh Rosemary. Baginya Yuri masih bayi tetapi siapapun bisa melihat bahwa bayinya adalah perpaduan 2 benua.


“Apakah akan ada yang mengenali wajah Yuri saat ia besar?” tanya Rosemary pelan.


Rosemary berusaha tenang kerena sadar emosi bisa membuatnya kacau. Ia tidak akan membiarkan emosi mengusainya sehingga ia kehilangan kendali.


Masih memberikan perhatian pada Yuri, Rosemary tidak menyadari bahwa dia tidak lagi sendirian. Ada orang lain yang ikut memperhatikan Rosemary dan putranya.


Emanuel sudah memberikan isyarat agar suster yang bersama Rosemary diam saat dia berusaha tidak membuat Rosemary terkejut, Emanule kembali keluar dan dia baru masuk kembali setelah mengetuk pintu.


“Apa kau tidak punya pekerjaan sampai pagi-pagi udah sampai disini,” tegur Rosemary cepat.


“Tentu saja aku punya pekerjaan dan salah satunya adalah melihat dan memastikan bahwa kau dalam keadaan baik dan tidak kekuarangan apa pun,” sahut Emanuel dengan bibir tersenyum.


Emanuel mendekati rangjang Rosemary lalu menarik kursinya agar ia bisa duduk dekat dengan perempuan itu yang kini duduk bersandar di ranjangnya.


“Aku tidak pekerjaanmu sudah berubah. Sangat tidak berguna,” cibir Rosemary.


“Bagimu mungkin tapi tidak bagiku. Memastikan dirimu dalam keadaan baik adalah kepuasan yang tidak mungkin aku sia-siakan,” sahut Emanuel tertawa.


Senyum Rosemary seolah mengejek ucapan Emanuel. “Apa sebenarnya yang kau inginkan?”


“Aku ingin kau bersedia menerima perhatian dariku,” sahut Manuel tegas.


“Apakah aku mengenalmu?” kekeh Rosemary.


Yang diharapkan Emanuel sangat tidak masuk akal. Mereka tidak saling mengenal tetapi pria itu sudah membuat Rosemary berpikir macam-macam.


Bukankah seharusnya pria itu memberikan perhatian pada Ezme? Mereka datang bersama ke rumah sakit dan sangat tidak masuk akal kalau pria itu tidak mempunyai perhatian lebih.


“Kita memang belum saling mengenal tetapi kau lupa bahwa kemarin kita sudah diperkenalkan oleh Ezme?” balas Emanuel tertawa.


Rosemary menggelengkan kepala. Apakah pria itu tidak punya malu? Penolakan yang diberikan Rosemary hanya dianggap angin.

__ADS_1


“Kita baru bertemu kemarin dan pertemuan tersebut bukan semata-mata karena kita sudah saling kenal. Jadi kata kita sudah saling kenal sama sekali tidak masuk hitungan,” kata Rosemary membenarkan.


“Kau salah. Aku yakin semua yang terjadi adaah karena kehendal Tuhan. Kau percaya dengan Tuhan, kan?” kata Emanuel tenang.


“Tentu saja aku percaya walaupun aku pernah nyaris tidak percaya karena ketidak adilan yang pernah aku terima,” jawab Rosemary lirih.


“Maksudmu?” tanya Manuel terkejut.


“Aku percaya Tuhan dan berharap Tuhan bisa menunjukkan jalan dimana aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang rasanya sangat jauh dariku,” ujar Rosemary tenang.


“Kalau begitu, apakah aku bisa berharap menjadi sumber kebahagiaanmu?” cetus Emanuel cepat.


“Terima kasih atas tawaranmu. Saat ini aku mungkin harus berpikir bagaimana menjaga putraku sementara aku harus mendapatkan pekerjaan agar kami bisa bertahan hidup di kota besar ini,” sahut Rosemary/


“Aku punya seorang anak yang baru lahir. Jadi, aku hanya memberi saran padamu, jangan buang waktu-mu dengan wanita seperti diriku.”


“Sayang sekali. Aku bukan lelaki yang mudah menyerah apalagi aku sudah menetapkan pilihanku.”


“Please, jangan membuatku merasa bersalah karena aku tidak bisa menerima perhatianmu. Bagiku lebih baik kita berteman seperti 2 orang pasien dan pengunjung rumah sakit yang salah masuk kamar rawat inap.


Bagaimana?”


“Keputusanku tetap sama dan aku memilih membiarkannya seperti itu sampai kau bersedia menjawab ‘Ya’ untuk semua permintaanku.”


“Terserah denganmu.”


Senyum terlihat di bibir Emanuel setelah dia mendengar jawaban Rosemary. Setidaknya wanita itu tidak bersikeras mengatakan tidak yang artinya Emanuel masih memiliki kesempatan untuk membujuknya untuk berkata ‘ya’.


“Apakah hari ini tidak ada yang datang berkunjung?” tanya Emanuel.


“Ezme masih sibuk kuliah dan Biana aku yakin dia masih sibuk merapikan kamar untukku,” jawab Rosemary.


“Kamar? Apa kau pulang hari ini?”


“Benar. Dokter sudah mengatakan padaku kalau hari ini aku sudah bisa pulang.”


“Berapa lama kau mengambil cuti?”


Ada jeda yang cukup lama dan tidak langsung mendapatkan perhatian Rosemary.


“Aku mengambil cuti 2 bulan tetapi aku tidak bisa hanya duduk diam menjaga putraku sementara aku tidak punya pekerjaan. Jadi selama masa cuti, aku harus mencari kerja agar putraku tetap mendapatkan


kehangatan.”


“Bagaimana kalau kau bekerja di kantorku?”


“Sebagai apa? Aku kuliah dibidang penyutradaraan jadi sangat tidak masuk akal kalau aku bekerja di kantoran sebagai tukang ketik,” jawab Rosemary.


“Kau bisa menjadi tukang hitung atau tukang keker kalau kau bersedia.”


Tukang keker? Rosemary terpaksa menahan tawanya. Darimana Emanuel tahu istilah tukang keker?


“Aku memang seorang petani tetapi aku juga punya bagian pemasaran yang tugasnya mempromosikan hasil pertanian kami. Bagian pemasaran kami banyak melakukan syuting promosi yang selama ini dilakukan oleh rumah produksi yang bekerja sama denganku.”

__ADS_1


“Lalu?”


Rosemary mulai tertarik dengan penjelasan yang diberikan oleh Emanuel. Dia berharap bisa bekerja sesuai dengan pendidikannya bukan karena dasar kasihan.


__ADS_2