Ketika Cinta Kehilangan Arti

Ketika Cinta Kehilangan Arti
Kemarahan Lev


__ADS_3

Lev melihat Max bangun dari duduknya. Lev tahu Max tidak meragukan bahwa ia bisa meninggalkan semua kekayaannya tetapi tidak keluarganya.


“Apa yang bisa kau harapkan dari perempuan yang tidak bisa menghormati orang tua dari kekasihmu? Aku tidak percaya bahwa kau meninggalkan harga dirimu karena perempuan yang tidak bisa menjaga harga dirinya,” cetus Max kembali.


“Apa yang Papa inginkan!”


“Apakah kau lupa dengan syarat yang aku berikan? Aku tidak percaya otakmu sudah tumpul karena tidak pernah diasah,” cerca Max tajam.


“Pikirkan kembali apakah kalian pantas menjalani hidup sesuai dengan standard atau kalian lebih menyukai sebagai pecundang yang tidak punya kehormatan,” cetus Max.


Lev melihat Max menelepon seseorang. Ucapan Max terdengar samar dan tidak jelas tetapi, Max berjalan mendekatinya sehingga ia bisa mendengar jelas ucapan Max pada seseorang yang dia telepon.


“Aku kecewa karena kau tidak seperti yang aku inginkan, Tiara. Besok, Chaty akan mengirimkan pemutusan kontrak kerja agar kau bisa kembali ke Indonesia. Tidak ada tempat buat karyawan yang tidak bisa bekerja sama!”


Max sudah menutup pembicaraan dan berdiri menantang Lev. “Syarat yang aku berikan sangat mudah apalagi anaknya ada di Eropa. Tetapi, dia tidak bisa melakukannya karena berpikir kau tidak akan meninggalkannya.


“Papa tidak bisa melakukannya. Tiara adalah kekasihku dan aku tidak mungkin meninggalkannya!” bantah Lev.


Suara tawa Max lebih mengancam daripada setiap kata yang dia ucapkan sebelumnya hingga Lev berusaha mendengarkan.


“Aku sudah melakukannya. Dan aku sudah menunggu dan menunggu tetapi dia … perempuan yang kau katakan sebagai kekasihmu, apakah


pantas kau bela?” tuntut Max.


“Aku tidak akan membiarkan Papa memulangkan Tiara ke Indonesia. Dia sudah tidak punya keluarga dan anaknya mungkin tidak mau mengakuinya,” cetus Lev marah.


“Karena Tiara tidak pantas menjadi orang tua yang baik. Seorang anak tidak mungkin melupakan apalagi sampai tidak mengakui orang tuanya apabila dia berbuat baik,” jawab Max tegas.


Max melihat Lev marah dan emosi. Ia tidak tahu bahwa cintanya Lev begitu besar pada Tiara. Apa yang Lev lakukan seandainya dia tahu bahwa perempuan yang dia cintai adalah ibu dari perempuan yang sudah dia ambil kesuciannya?


“Aku akan memberikan kesempatan kedua pada Tiara. Dia bisa terus berada di kota ini asalkan dia bisa membawa putrinya menemuiku. Tetapi, dia tidak akan pernah lagi bekerja di perusahaan Grigory manapun!”


Tanpa mengatakan apa pun, Lev meninggalkan ruang kerja Max. Dan ia harus bersikap tenang pada saat berpapasan dengan ibunya.

__ADS_1


“Lev? Kapan datang?” sapa Karina.


“Sudah lama. Aku tadi tidak lihat Mama, kemana?” balas Lev.


“Mama baru kembali dari rumah peristirahatan. Kau bertemu dengan Max?”


“Benar dan hasilnya tidak sesuai dengan yang aku inginkan,” sahut Lev mengeluh.


“Mama tidak akan memaksamu bercerita karena kami satu pemikiran. Tiara tidak pantas menjadi satu-satunya perempuan yang layak kau pertahankan. Egonya terlalu besar untukmu,” saran Karina hingga seringai Lev keluar begitu saja.


“Aku tahu. Sayangnya aku bukan anak kecil yang tidak bisa menentukan pilihan. Aku pergi.”


Dan Lev berjalan keluar meninggalkan Karina yang menatapnya cemas. Kenapa Lev tidak bisa berpaling dari Tiara. Apa kelebihan perempuan itu yang tidak dimiliki oleh perempuan muda yang pernah menjadi kekasih Lev?


Lev kecewa dengan orang tuanya juga pada Tiara yang tidak bisa memenuhi permintaan orang tuanya. Apakah begitu sulit bagi Tiara untuk membawa putrinya bertemu dengan Max?


Lev masuk ke apartemen dengan wajah yang jauh dari ramah. Dan emosinya keluar begitu saja pada saat ia melihat Tiara sedang bicara dengan nada yang berbeda di telepon.


Tiara tersenyum dan tetap melanjutkan pembicaraan. Baginya sudah terbiasa menghadapi sikap Lev yang kadang masih manja. Tetapi, sekarang bukan saatnya ia patuh pada perintah Lev.


“Anda tidak bisa melakukannya begitu saja!”


Lev kembali memberikan peringatan pada Tiara ketika nada tinggi perempuan itu terdengar oleh Lev.


“Tiara!”


Peringatan dari Lev begitu jelas tetapi Tiara tidak mendengarnya. Ia tetap bicara melalui telepon berusaha membela haknya hingga Lev mengambil ponsel Tiara dan melemparkan ke sudut ruangan.


“Lev! Apa yang kau lakukan?” Teriak Tiara marah.


“Kau lihat dan kau masih bertanya padaku!” balas Lev dengan nada tinggi.


“Ya. Aku bertanya padamu karena kau tidak masuk akal, Lev!” jawab Tiara.

__ADS_1


Ia berjalan menuju sudut ruangan dan bermaksud mengambil ponselnya tetapi, tangan Lev langsung mencegahnya hingga Tiara hanya bisa berdiri diam.


“Kau menyakitiku, Lev,” keluh Tiara pelan.


“Menyakiti? Kau tahu apa yang sudah kau lakukan padaku?” balas Lev dengan menggertak.


“Kau sama sekali tidak menghargai cinta dan perhatian yang aku berikan padamu, Tiara. Aku hanya minta kau bicara dengan anakmu agar bertemu dengan papa tetapi, kau sama sekali tidak menganggapnya,” ujar Lev tajam.


“Tapi, Marry sudah pulang ke Indonesia. Bagaimana mungkin aku bisa mengajaknya bertemu dengan ayahmu!”


“Gampang. Kau tinggal mengirim tiket pada Marry atau aku bicara langsung dengannya sebelum mengirim pesawat agar dia datang. Sangat mudah kalau kau peduli pada hubungan kita,” bantah Lev.


Tiara menggelengkan kepala. “Tidak segampang itu, Lev. Marry mempunyai pekerjaan yang tidak mungkin ia tinggalkan begitu saja. Dan dia juga tidak mungkin meninggalkan anaknya dalam pengasuhan orang lain.”


“Jadi, Marry lebih bertanggung jawab dibandingkan denganmu sebagai ibunya? Aku yakin dia bisa melakukannya. Dia bisa membawa anaknya karena kami akan mengirimkan pesawat jet pribadi agar mereka nyaman,” ucap Lev keras kepala.


“Aku rasa … semuanya sudah tidak penting lagi. Apa kau tahu bahwa aku sudah dipecat oleh ayahmu?” kata Tiara dengan suara mengeluh.


“Aku tahu dan semuanya karena kesalahanmu. Karena sikapmu yang tidak peduli dan papa bukan orang yang sabar apalagi pada pegawainya yang tidak patuh,” jawab Levjengkel.


“Jadi, untuk apa aku membawa Marry kesini kalau aku harus pulang ke Indonesia?” balas Tiara sinis.


“Agar papa merestui hubungan kita. Kau memang tidak bisa bekerja di perusahaan papa tetapi kau bisa melakukan yang lain. Jadi, kapan Marry datang ke sini?” tuntut Lev.


“Aku tidak tahu. Aku perlu bicara dan membujuknya lebih dulu. Tidak mudah membujuknya apalagi demi kepentinganku,” jawab Tiara lemah.


“Karena kau tidak pernah hadir dan memberikan perhatian padanya?” cibir Lev tanpa sadar.


“Aku bukannya tidak peduli. Tuntutan pekerjaan yang membuatku meninggalkannya,” jawab Tiara membela diri.


“Terserah. Aku hanya ingin tahu kapan kau bisa mendatangkan Marry. Dan papa menunggu jawaban darimu secepatnya atau … kau pasti sudah mendengar konsekuensinya apabila kau menolaknya,” cetus Lev tajam.


Tidak ada yang bisa dilakukan Tiara selain mengikuti kemauan Max apabila dia masih berminat menjalin hubungan dengan Lev. Dia sudah mendengar semuanya sebelum Lev datang dan yang harus ia lakukan adalah menelepon Marry dan membujuknya.

__ADS_1


__ADS_2