
Benarkah Rosemary menanggapi ucapannya? Emanuel seolah tidak percaya apalagi dia sempat
melihat mimic wajah Rosemary yang menahan tawa. Ia memang mengharapkan reaks dari perempuan itu dan rasanya sangat luar biasa pada saat ia melihatnya.
“Kalau aku boleh tahu, apakah Ezme yang akan menjemputmu?” tanya Emanuel.
“Benar. Ezme yang menjemputku,” sahut Rosemary.
Ia melihat jam tangannya dan bertanya-tanya mengapa Ezme belum juga datang sementara waktu sudah berlalu hampir satu jam dari yang dijanjikan.
“Jam berapa Ezme datang?” tanya Emanuel ingin tahu.
“Seharusnya sejam yang lalu. Mungkin ia terjebak macet,” ujar Rosemary.
“Kau keberatan bila aku yang mengantar?”
Rosemary menatap Emanuel dan yakin telinganya tidak salah dengar tetapi, untuk apa pria itu menawarkan tumpangan?
“Terima kasih Tuan Durstan. Saya rasa tidak perlu karena saya yakin Ezme sebentar lagi sampai,” tolak Rosemary.
“Bagaimana kalau panggilan Tuan dilupakan. Dengan panggilan tersebut rasanya aku begitu kaku dan galak,” saran Emanuel yang ditanggapi dengan sebuah senyuman.
“Aku tidak mungkin mengganti panggilan tersebut. Bukan karena aku bisa membuatmu malu tetapi karena kau akan menjadi atasanku,” jawab Rosemary tenang.
“Apakah kau keberatan kalau aku memintamu menjadi temanku?”
Rosemary tersenyum, “Aku tidak pernah menolak permintaan berteman. Bukan kerena kau sudah menawariku pekerjaan tetapi karena aku tidak bisa menolaknya”
Tidak ada yang lebih membahagiakan Emanuel selain mendengar ucapan Rosemary. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Ezme sudah tiba dan sedang mendengarkan obrolan mereka.
Ezme turut gembira karena kawannya sudah bisa tersenyum. Emanuel memang pria yang menarik dan sulit melihatnya tidak bisa membuat perempuan tertarik padanya.
“Terima kasih, semoga sikap terbukamu bukan karena aku akan menjadi bos-mu,” sahut Emanuel tertawa.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Emanuel dan Rosemary dan ia melihat Ezme berjalan masuk. Dari mata dan sikapnya, Rosemary yakin Ezme sudah mendengarkan obrolannya dengan Emanuel.
“Kau tahu, Ezme, Tuan Durstan menawariku pekerjaan,” beritahu Rosemary pada temannya itu.
“Selamat. Aku yakin kau akan betah bekerja di perusahaannya. Tidak banyak orang yang mendapat tawaran darinya,” ucap Ezme tersenyum.
“Dan aku pasti akan menawarimu juga, Ezme,” timpal Emanuel.
“Terima kasih Tuan Durstan. Seandainya aku belum menerima tawaran Tuan Linoir aku pasti sangat gembira,” jawab Ezme dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
“Yeah, bagaimanapun tawaran dari Tuan Lionoir adalah impian semua orang,” sambut Emanuel tertawa.
__ADS_1
Mereka mengumbar tawa tanpa beban sampai Rosemary menyatakan dirinya sudah rapi dan siap pulang.
“Maafkan aku. Bagaimana, kau sudah siap pulang?”
“Tentu saja,” jawab Rosemary bersemangat.
“Perlengkapanmu sudah dirapikan semuanya?”
Ezme kembali bertanya karena saat dia membuka pintu lemari, di dalamnya sudah kosong tidak ada selembarpun pakaian milik Rosemary..
“Aku tidak membawa banyak barang sementara kebutuhan Yuri sejak awal aku selalu merapikannya,” jawab Rosemary.
Emanuel seperti tidak rela berpisah sehingga dia lebih memilih tetap menunggu sampai Rosemary dan Ezme meninggalkan rumah sakit.
“Apakah aku boleh mengikuti kalian?”
Ezme menatap Rosemary ingin tahu. Kalau Rosemary mengijinkan Emanuel berarti hubungan mereka sudah semakin dekat tetapi kalau tidak, Rosemary tetap mempertahankan kesendiriannya.
“Aku minta maaf belum bisa mengijinkan dan untuk alasannya aku harap, kau tidak perlu bertanya,” jawab Rosemary tegas.
“Karena kita baru berteman?” tanya Emanuel penasaran.
“Benar dan aku tidak bisa menerima perhatian lebih dari para wartawan yang pastinya ingin tahu. Kau adalah orang terpandang dan terkenal sangat merepotkan apabila kehidupanku yang biasa-biasa saja tiba-tiba menjadi konsumsi public,” sahut Rosemart.
Ezme berharap Emanuel tidak mengadu keberuntungannya. Pria itu sudah beruntung bisa dekat dengan Rosemary sementara banyak orang hanya mendapat tatapan dingin saja.
Rosemary menggeleng, “Aku adalah ibu yang baru saja melahirkan seorang anak. Apakah Anda tega membuat kehidupan saya menjadi berita?”
Ada kesedihan yang coba disembunyikan oleh Rosemary pada saat dia mengatakan konsumsi public dan berita. Apakah ada hubungannya dengan anaknya yang lebih mirip dengan Lev daripada Rosemary sendiri?
“Maafkan aku. Aku tidak berpikir kau akan mendapatkan gangguan yang pasti tidak kau inginkan. Tetapi apakah aku bisa memastikan kau bersedia bekerja di perusahaanku?”
“Tentu. Bagaimana pun saya membutuhkan pekerjaan,” jawab Rosemary.
Ia tidak akan menjadi wanita yang munafik menolak pekerjaan sementara ia sendiri tahu betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan apalagi sekarang ia sudah mempunyai seorang anak.
“Kalau begitu terima kasih karena kau tidak menolak uluran persahabatan yang aku berikan. Aku rasa sebaiknya aku keluar lebih dulu. Kau pasti keberatan apabila aku mengikuti kalian sampai parkiran,” ujar Emanuel memancing senyum dari Rosemary.
“Terima kasih atas perhatiannya,” balas Rosemary lega.
“Sebelum berpisah, apakah aku boleh meminta nomor kontakmu?”
Demi keuntungan yang tidak bisa disia-siakan oleh Rosemary karena dirinya yang akan bekerja pada pria itu, maka Rosemary memberikan nomor teleponnya pada Emanuel dan pria itu langsung menyimpan bahkan ia menelpon balik Rosemary.
“Aku harap kau tidak menghapus apalagi sampai memblokirnya,” canda Emanuel.
__ADS_1
Banyak kalimat ingin disampaikan oleh Emanuel tetapi waktunya tidak tepat sehingg ia membiarkan Rosemary dan bayinya meninggalkan rumah sakit bersama Ezme.
Mereka sudah berada di dalam mobil dan Ezme mulai memperlihatkan ketertarikannya pada Yuri yang berada di dalam gendongan Rosemary.
“Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan padaku?”
Sudah waktunya Ezme mengetahui siapa ayah bayinya karena mereka sudah begitu lama berteman. Tidak mungkin pula Rosemary akan menyembunyikan keberadaan Yuri dari Ezme.
“Apakah ayah dari Yuri adalah orang yang sedang aku pikirkan?”
“Kalau yang kau pikirkan lelaki yang menjadi kekasihmu, maka jawabannya tidak. Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang sama setiap kali aku bertemu dengan kekasihmu,” jawab Rosemary tertawa.
“Jadi benar kalau Yuri adalah anaknya Lev Grigory, tapi bagaimana bisa? Maksudku kapan kalian bertemu?” tanya Ezme.
Bukan hanya Ezme yang penasaran tetapi juga Biana yang sempat terkejut walaupun ekspresinya luput dari penglihatan Rosemary karena wanita itu duduk di depan bersama dengan sopir.
“Ada masa lalu yang tidak ingin aku ungkapkan dan aku juga tidak ingin kalian mengatakannya pada siapa pun. Aku tidak ingin mengingatnya sekarang pada saat aku sudah melupakannya. Apakah aku bisa meminta
kalian berjanji?”
“Kenapa kau tidak mengatakannya? Kau punya kesempatan untuk bicara padanya langsung,” ucap Biana.
“Bagaimana? Dengan menunggunya datang menemui diriku? Aku bahkan tidak tahu keberadaannya,” jawab Rosemary.
“Saat ini dia berada di Kota Paris dan kalau kau mau bertemu dengannya aku bisa memberikan alamatnya padamu,” ungkap Biana mengejutkan
“Rosemary, kau mungkin tidak membutuhkan lelaki seperti Lev yang sudah membuatmu terluka tetapi Yuri pasti ingin mendapatkan pengakuan pada saat dia besar. Apa yang akan kau katakan padanya?” tanya Ezme.
Rosemary hanya diam mendengar saran yang diberikan oleh Biana. Ia belum siap bertemu dengan pria yang sudah membuatnya menderita.
“Kau akan bekerja dengan Emanuel dan jangan lupa kau juga seorang mahasiswa jurusan penyutradara-an, bertemu Lev adalah hal yang sangat biasa dan menjadi luar biasa pada saat kau tidak memiliki kesempatan
bertemu dengannya,” beritahu Ezme.
“Beri aku waktu,” pinta Rosemary.
“Bukan kami yang akan memberimu waktu, tapi dirimu sendiri,” jawab Ezme.
“Aku tahu dan aku harap kalian jangan ada yang mendahuliku berbicara dengannya.”
“Tidak. Aku janji tidak akan melakukannya, bagaimana denganmu Biana?”
“Aku mulai menyayangimu, Rosemary dan aku pasti tidak akan melakukannya kalau kau memang keberatan,” jawab Biana.
“Terima kasih.”
__ADS_1
Kebahagiaan Rosemary semakin besar karena 2 orang terdekatnya sangat mendukung dirinya walaupun di dalam hatinya sendiri ia belum tahu kapan dia bisa siap bertemu dengan Lev.