
Dua pasang mata saling menatap seolah mengadu kekuatan siapa yang kalah dan mengikuti kemauan salah satu dari mereka.
“Kau serius dengan pilihanmu dan tidak akan berubah?” tanya Maxim memastikan.
“Tidak.”
“Pernahkan kau peduli dengan perasaan orang lain selain untuk kesenanganmu sendiri?”
Lev tertawa sinis, “Apa peduliku. Apakah keputusanku merugikan mereka hingga aku harus peduli?”
“Kau bermaksud menikahi Tiara tetapi kau tidak peduli dengan perasaannya. Hebat, Lev,” decak Maxim hingga Lev mulai memberikan perhatian.
“Apa maksud, Papa?”
“Papa ingin tanya, apa pernah kau membela Tiara ketika semua mata tertuju padanya sebagai perempuan yang tidak tahu malu karena hidup bersama dengan pria yang seharusnya menjadi anaknya?” Max menjelaskan dengan beberapa penekanan tetapi Lev tetap tidak peduli.
“Aku menyukai Tiara karena dia tahu pilihannya. Dia tidak akan bersamaku apabila mempunyai pikiran dangkal yang selalu peduli dengan pendapat orang lain,” ucap Lev tegas.
Max menggelengkan kepala. Ia memang memberikan kebebasan pada Lev menentukan teman hidupnya tetapi ia tidak menduga pilihan Lev justru pada perempuan yang usianya sudah tidak muda lagi.
Max memandang keluar jendela. Ia harus memberikan kesempatan pada putranya meskipun tidak sesuai dengan pilihannya. “Papa tidak akan menerima wanita yang asal usulnya tidak jelas. Kau keras kepala dengan pilihanmu, Papa juga akan tetap pada pendirian Papa.”
Max berbalik dan mengamati wajah Lev dengan tajam. “Kalau kau serius dengan Tiara, ajak keluarganya bertemu dengan Papa dan bila masalah kecil seperti ini saja dia tidak bisa memenuhinya maka kalian tidak akan bisa bersama!”
“Papa mengancamku?”
“Bukan. Papa hanya memberi peringatan pada Tiara!”
Jawaban yang tidak pernah disangka oleh Lev. Apakah Maxim serius mengancam Tiara sementara dia tahu bahwa Tiara adalah salah satu sekretarisnya yang paling setia? Tetapi Lev tidak bisa mengabaikan peringatan yang diberikan oleh Maxim.
“Apakah masih ada yang perlu Papa sampaikan padaku?” tanya Lev setelah Maxim tidak bersuara lagi.
“Ada. Siapa yang kau cari di perusahaan iklan milik Emanuel? Apa kau bermaksud mencari masalah dengan Emanuel atau kau berusaha mendekati Sofia kembali?” tanya Max mengejutkan.
Lev terkesiap. Apakah dia masih perlu bertanya darimana Maxim tahu kegiatannya tersebut? Atau Maxim hanya sekedar memancingnya bersuara untuk mencari alasan agar dia tidak perlu melanjutkan hubungannya dengan Tiara?
“Terus terang aku tertarik dengan salah seorang sutradara yang dia miliki dan aku berharap dia bisa bekerja di perusahaanku,” jawab Lev.
“Benarkah? Tidak ada alasan yang lain?”
“Seandainya ada-pun apakah Papa yakin tidak mengetahuinya?” balas Lev.
Tidak ada. Dalam hatinya Maxim mengakui bahwa Lev tidak serius melakukan pencarian tersebut atau karena dia yakin bahwa wanita yang akan menemaninya sampai tua adalah Tiara?
__ADS_1
“Aku ingin tahu bagaimana kalau pernikahanmu ditentang oleh keluarga Tiara?”
“Siapa yang ingin menentangnya? Orang tua, mantan suami atau anaknya? Selama ini mereka tidak pernah tahu tentang Tiara, jadi untuk apa memikirkan mereka?” balas Lev sinis.
“Aku ingin menyampaikan pada Papa, Tiara bukan anak-anak lagi yang segala tindakannya harus diketahui oleh keluarganya. Dia cukup bertanggung jawab dengan masa depannya.” Lev menjawab tegas dan tidak berharap Max mencampuri urusan pribadinya.
Max tertawa dan tawanya cukup membuat Lev memilih mundur. “Dia memang bukan anak-anak lagi bahkan untuk mengatakan sebagai anakku saja dia tidak pantas. Tetapi dia juga harus tahu untuk menjadi bagian keluargaku, banyak yang harus dia lakukan.”
Suara Max terdengar begitu berbeda saat ia melanjutkan kalimatnya, “Kau mungkin menganggapnya tidak masuk akal tetapi selama kau masih bagian dari keluarga Grigory, maka kau harus patuh pada peraturan yang Papa buat! Papa tidak menerima perempuan yang lari dari negaranya karena masalah hukum. Kau bukan anak-anak tetapi pikiranmu tidak jauh dari anak balita.”
Walaupun Lev tidak setuju tetapi dia juga tidak mungkin membantah perintah ayahnya. Maxim masih menjadi kepala keluarga Grigory yang dihormati dan kekuasaannya semua orang tahu. Sama saja masuk ke dalam lubang tanpa batas kalau dia sampai menolak perintah tersebut.
“Baiklah. Aku akan bicara pada Tiara bahwa dia harus menghadirkan anak perempuannya untuk bertemu dengan Papa,” ucap Lev mengalah.
Max tertawa puas. “Bagus. Apakah anak perempuannya tinggal di Indonesia, kalau benar, kapan dia akan datang?”
“Dia tinggal di Paris,” jawab Lev spontan.
Lev menyesal memberikan jawaban yang begitu cepat terutama ketika ia melihat mata Max yang berbinar, “Di Paris? Sejak kapan?”
“Pastinya aku tidak tahu karena bukan urusanku.”
Gelengan kepala Maxim tidak diperhatikan oleh Lev. Dalam hatinya Maxim nyaris tidak percaya dengan sikap Lev yang sama sekali tidak peduli pada anak perempuan dari wanita yang dia cintai. Apakah Lev memang tidak pernah serius pada Tiara walaupun dia selalu mengatakan Tiara adalah wanita yang tepat untuknya?
Maxim yakin jauh di dalam hati Lev dia tidak siap untuk menikahi wanita yang usianya berada di atas usianya sendiri. Tujuh belas tahun bukan usia yang sedikit karena dalam usia tersebut Tiara pastinya sudah mempunyai anak yang cukup besar.
“Hubungan kami? Apakah setelah bertemu dengannya Papa akan memberikan restu?” tanya Lev sinis.
“Kalau memang sesuai dengan harapan papa kenapa tidak?”
“Boleh Papa mengulanginya lagi agar aku bisa merekamnya?”
“Kau tidak percaya?”
“Apakah Papa percaya air bisa mengalir dari bawah ke atas?”
Dan Lev pun pergi meninggalkan Maxim yang masih terlihat jengkel. Tidak mudah membujuk Lev mencintai wanita yang sebaya tetapi Maxim sudah punya rencana. Dia akan memastikan bahwa Tiara tidak akan pernah menjadi menantunya.
Bukan Maxim yang akan memutuskan hubungan tersebut melainkan Tiara sendiri yang akan pergi meninggalkan Lev. Itu pun jika dia tidak salah pengertian terhadap Tiara.
Setelah pertemuan Lev dan Maxim, Lev langsung kembali ke ruangannya melupakan niatnya untuk pergi keluar karena ada hal penting yang harus dia sampaikan pada Tiara.
Lev memperhatikan Tiara yang sudah rapi seolah dia mau pergi keluar kantor.
__ADS_1
“Kau mau pergi?” tanya Lev.
“Aku tidak tahu kalau kau kembali ke kantor. Aku pikir kau mau bertemu dengan klien seperti yang kau katakana tadi,” jawab Tiara heran.
Apakah Lev tadi keluar kantor untuk bertemu klien? Seingatnya dia baru keluar kantor dan sudah dicegat oleh Nil tanpa dia tahu mau apa dia sebenarnya pada saat keluar dari ruang kerjanya.
“Aku hanya bertemu dengan Papa dan papa ingin bertemu dengan keluargamu,” jawab Lev.
“Keluargaku, untuk apa?” tanya Tiara heran.
“Sebagai alasan untuk merestui hubungan kita,” jawab Lev.
“Kau bercanda, Lev. Ayahmu tahu bahwa aku sudah tidak mempunyai keluarga lagi setelah setahun bekerja padanya. Lalu siapa yang harus aku bawa?” tawa Tiara.
“Anakmu. Papa ingin mengenal anakmu.”
“Anakku? Maksudmu Tuan Maxim ingin berkenalan dengan anakku sebagai syarat agar dia merestuinya? Bagaimana kalau aku katakan bahwa aku tidak memerlukan restunya?”
“Kau tidak memerlukan restunya? Bagiku tidak masalah tetapi apakah kau tidak khawatir dengan masa depanmu sendiri?”
Setiap kata yang keluar dari mulut Lev seperti mengandung ancaman dan Tiara tahu bukan Maxim yang akan mengancam masa depannya melainkan Lev sendiri yang akan melakukannya.
“Maafkan aku. Aku hanya asal bicara saja. Kalau begitu apakah aku boleh pergi? Kebetulan aku ada janji dengan dokter kandungan,” ujar Tiara.
“Dokter kandungan? Kau tidak bermaksud mengatakan kau hamil, kan?” tanya Lev dengan kening berkerut.
“Tentu saja tidak. Aku hanya memastikan kalau operasi yang pernah aku lakukan tetap aman,” jawab Tiara.
Tiara pernah melakukan operasi tubektomi jadi dia pasti tidak akan hamil tetapi dia juga tetap harus melakukan pemeriksaan. Hanya saja tujuan dia ke dokter memiliki tujuan lain.
“Apakah aku harus mendampingimu?”
Membayangkan dirinya menjadi berita dengan mengunjungi dokter kandungan bersama dengan wanita yang selama ini dekat dengannya menjadi momok yang menakutkan bagi Lev dan dia belum siap bila harus dihadapkan dengan berita tersebut.
“Tidak perlu. Bagaimana pun aku lebih aman dan nyaman dengan datang sendiran. Aku harap kau tidak marah, Lev. Aku hanya bermaksud membuatmu tidak terganggu,” kata Tiara berusaha menjelaskan.
“Tidak masalah. Aku hanya ingin kau menghubungi anakmu segera karena Papa tidak bisa menunggu lagi. Kau pasti tahu setiap keinginannya adalah perintah yang harus dilakukan dengan baik.”
“Aku tahu. Aku akan menghubungi Marry dan menyuruhnya datang ke sini.”
“Bagus. Kalau dia sudah siap, kau bisa mengatakan padaku agar Nil bisa menjemputnya untuk bertemu dengan Papa.”
“Akan aku sampaikan padanya dan aku juga akan katakana pada Nil begitu Marry sudah siap,” jawab Tiara.
__ADS_1
“Baiklah. Kalau begitu aku antar kau sampai rumah sakit setelah itu aku langsung pulang,” kata Lev.
Lev sengaja ingin mengantar Tiara ke rumah sakit begitu dia melihat Tiara sudah melirik jam tangannya berulang kali.