
Tiba tiba pintu kamarnya terbuka.
“Alana, aku.....”
Alana menolehkan kepalanya dan membulatkan matanya ketika melihat Dikta masuk ke dalam sedangkan kondisinya seperti menyusui Rafka yang otomatis Dikta melihat dengan jelas dadanya.
Dikta juga terkejut ketika melihat pemandangan itu. dia buru buru keluar dan kembali menutup pintu. Dia bersandar di balik pintu kamar Alana itu. Dalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri karena masuk secara tiba tiba seperti itu. Dikta pikir Alana masih tertidur makanya dia langsung masuk saja. Namun saat masuk Dikta masuk ia malah melihat pemandangan Alana yang sedang dalam terbuka seperti itu.
Dikta memilih kembali ke kamarnya. Ia tidak mau pikirannya semakin kemana mana karena melihat Alana seperti itu. bagaimana pun dia adalah laki laki normal yang mudah ter*ngs*ng.
Sedangkan Alana, dia menutupi wajahnya dengan memeluk Rafka dengan erat. Ia juga tidak menyalahkan Dikta atas semua ini. Bagaimana pun kamar yang ditempatinya adalah milik Dikta juga. Justru Alana yang harusnya sadar. Dia tidak boleh menginap lama lama disitu. Apalagi dengan statusnya adalah seorang janda yang baru saja ditinggal mat* oleh suaminya. Pada akhirnya Alana terpaksa membangunkan Rafka. Dia harus kembali ke rumah nya sendiri.
“Rafka, bangun yuk sayang. Kita pulang,” ujar Alana sambil membangunkan Rafka.
.
.
Bi Inem dan beberapa asisten rumah tangga menghidangkan makanan di meja makan khusus yang ada di ruang tengah. Mereka keluar masuk dapur hanya untuk mengambil makanan dan menyiapkan semua peralatan makan. Setelah selesai beberapa dari mereka langsung meninggalkan meja makan itu untuk melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan bi Inem sendirian.
Setelah memastikan semuanya sudah siap dan rapi, bi Inem baru saja akan memanggil Dikta. Namun sebelum dia memanggilnya Dikta sudah terlebih dahulu turun dengan pakaian santainya. Hari ini adalah hari minggu itulah sebabnya Dikta tidak pergi ke rumah sakit. bukan karena libur atau sejenisnya. Akan tetapi hari minggu bukan bagiannya untuk bertanggung jawab.
Sebenarnya ia juga tau bahwa dalam prinsip seorang dokter tidak ada hari libur untuk tidak bertugas. Itulah sebabnya dia meminta seseorang untuk menggantikannya di hari minggu. Apalagi untuk dokter baru yang masih perlu mendapat pengalaman. Mereka diberi kesempatan untuk melakukan tugasnya dengan ditemani dokter senior.
Dikta berjalan menuju ke meja makan dan melihat bi Inem yang sedang melihat ke arahnya juga.
“Selamat pagi, bi,” sapa Dikta sambil tersenyum.
Bi Inem juga ikut tersenyum lalu membalas sapaan Dikta.
__ADS_1
“Pagi juga, den.”
Dikta mengangguk lalu menarik kursi meja makan itu dan duduk di atasnya untuk mengambilkan makanan. Saat dia mulai mengambil nasi. Dikta tiba tiiba teringat pada Alana yang belum turun untuk sarapan pagi. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Dikta melihat Alana dari kejauhan yang berjalan menuju ke arahnya. Namun anehnya Alana sudah dalam keadaan rapi sama seperti Rafka. Saat Alana sudah sampai di meja makan, Dikta yang penasaran langsung bertanya.
“Kamu mau kemana pagi pagi seperti ini?” tanya Dikta langsung.
Alana melirik ke arah bi Inem sebentar lalu kembali fokus pada Dikta.
“Aku akan kembali pulang ke rumahku sendiri. Makasih ya karena kamu udah mau menolong dan menampungku di rumahmu ini. Untuk biaya rumah sakit Rafka nanti aku transfer ya dik. Aku pamit pulang dulu,” pamit Alana pada Dikta. Dia langsung melangkahkan kakinya untuk pergi tanpa menunggu jawaban dari Dikta. Karena kejadian tadi, Alana merasa canggung lagi dengan Dikta.
Bi Inem yang melihat Alana akan pergi lalu memanggilnya dan mengejarnya.
“Tunggu sebentar, neng.” Ucap Bi Inem pada Alana.
Alana berbalik lalu melihat ke arah bi Inem yang menghampirinya.
“Ada apa bi?” tanya Alana.
“Gpp neng. Bibi teh boleh meluk kamu sebentar?” tanya bi Inen dengan perasaan yang was was khawatir Alana akan menolaknya.
Di luar dugaannya Alana mala tersenyum padanya.
“Boleh kok bi. Aku sampai lupa harus berterima kasih juga sama bibi karena udah merawatku kemarin,” ujar Alana lalu memeluk bi Inem dengan Rafka yang masih berada di gendongannya..
Bi Inem membalas pelukan Alana dengan lembut. Entah kenapa batinnya begitu yakin jika yang ia peluk saat ini benar putrinya yang hilang dulu. Tanpa mengulur waktu lagi, bi Inem diam diam mengambil sehelai rambut Alana tanpa disadari olehnya. Lalu bi Inem melepasaskan pelukannya kembali.
“Makasih ya, neng.” Ucap bi Inem dengan senyum tulusnya.
“Sama-sama bi,” ujar Alana lalu pergi dengan membawa Rafka. Rafka yang berada dalam gendongannya terus menatap ke arah bi Inem dengan tatapan asingnya.
__ADS_1
“Nenek?” ucap Rafka dengan begitu lirih.
Dikta hanya bisa menatap kepergian Alana dalam diamnya. Sebenarnya ia mengantar gadis itu untuk pulang. Namun ia masih canggung dengan kejadian tadi pagi. Namun, Dikta juga tidak menyangka bi Inem akan sedekat itu dengan Alana. Entah ini benar atau tidak tapi yang Dikta lihat tadi bi Inem seolah melakukan sesuatu pada Alana. Entah apa yang dilakukannya Dikta juga tidak tau.
“Kenapa aku merasa bi Inem menyimpan sesuatu ya?” gumam Dikta. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dikta tidak mau berburuk sangka. Lalu ia kembali mengambil nasi dan makan dengan sendirian.
.
.
Alana pulang ke rumahnya dengan menaiki taksi. Dia menunggu selama beberapa menit sampai akhirnya taksi online yang sudah dipesannya tiba. Alana langsung masuk ke dalam bersama Rafka. Setelah mengatakan tujuannya pada supirnya, taksi itu langsung melanju dan meninggalkan rumah Dikta.
Rafka yang tadinya asyik bermain sekarang berhenti bermain. Lalu memandangi Alana selama beberapa menit.
“Mama, kenapa kita ninggalin nenek sendirian?” tanya Rafka secara tiba tiba.
Alana mengernyitkan keningnya dengan perasaan yang bingung. Kenapa tiba tiba Rafka menyebut kata nnek sementara ia tidak bersama ibunya atau bahkan ibu mertuanya.
“Nenek kan ada di rumahnya sayang.” Jawab Alana.
Rafka menggeleng dengan tegas.
“Bukan mereka, mama. Neneknya om dokter itu.” lanjut Rafka lagi.
Alana berpikir sebentar sebelum menjawab. Lalu ia teringat pada kejadian tadi dimana dia memeluk Bi Inem sebelum pulang.
“Maksud kamu bi Inem yang tadi peluk mama?” tanya Alana sambil melihat ke arah Rafka.
“Iya, mama. Dia nenek,” jawab Rafka lagi.
__ADS_1
Alana tersenyum lalu mengelus rambut Rafka dengan penuh kasih sayang.
“Sayang, itu bukan nenek kamu. Kamu mengatakannya seperti itu mungkin karena kamu kangen nenek Lili,”