
Setelah semuanya siap, Dikta mengambil kunci mobinya untuk berangkat ke rumah sakit. dia juga sudah melihat jam yang sudah menunjuk pada angka tujuh.
Sebelum berangkat, Dikta mencari bi Inem untuk berpamitan dengannya. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk tidak pergi sebelum berpamitan. Hal itu karena Dikta sudah menganggap bi Inem layaknya ibu kandungnya sendiri.
“Bi. Ada dimana bi?” teriak Dikta dengan suara yang lumayan keras. Namun tidak ada jawaban. Dikta pun mencarinya di dapur barang kali ia menemukannya disana. ia pun melangkahnya kakinya menuju ke dapur. Semakin dekat dengan dapurnya, Dikta malah mendengar suara tawa yang berasal dari sana. Ia pun berniat mengintipnya karena penasaran.
“Ternyata bibi bukan asli sunda ya? Ku pikir bibi orang sunda karena berbahasa sunda tadi,” ujar Alana yang baru saja menertawai bi Inem.
Bi Inem yang sedang memotong wortel juga ikut tertawa dan menimpali perkataan Alana. “iya dong, neng. Bibi teh cuma suka aja bahasa sunda ya meski asal asalan aja yang penting kan bisa,”
Dikta menggelengkan kepalanya melihat kedua orang itu mengobrol dengan asiknya. Dia juga bersyukur ketika melihat Alana sudah baik baik saja. Dikta pun memutuskan masuk ke dalam dan menyapa bi Inem untuk berpamitan.
“Bi,” panggil Dikta dan berhasil membuat kedua wanita itu menoleh padanya.
“Loh, Aden. Kok belum berangkat den?” tanya bi Inem ketika melihat Dikta.
Dikta hanya tersenyum lalu mengambil tangan bi Inem dan diciumnya lalu kembali berdiri tegak menatap wajah bi Inem . “Dikta kan belum pamit sama, bibi. Itulah kenapa Dikta tadi nyari bibi. Eh taunya bibi ada disini,” jawab Dikta.
Bi Inem langsung tersenyum pada Dikta. “Maaf ya den. Bibi teh dari tadi ada di dapur masak sama neng Alana ini. Tau gak den, neng Alana ternyata pintar masak lho,” ujar Bi Inem sambil melirik pada Alana yang sedari tadi hanya melihat interaksi mereka berdua.
“Bibi ada ada saja,” timpal Alana yang merasa malu karena dipuji.
Dikta hanya menggeleng lalu melirik pada jam tangannya. ia harus segera ke rumah sakit.
“Kalau gitu Dikta berangkat dulu ya, bi.”
“Iya den, hati-hati.”
Alana memandangi Dikta yang sudah keluar dari dapur. Entah kenapa ia merasa terharu melihat kesopanan Dikta pada bi Inem. Padahal bi Inem adalah asisten rumah tangganya tapi Dikta memperlakukannya seperti ibunya sendiri.
Bi Inem yang melihat Alana melamun langsung menegurnya dengan pelan.
“Hayu atuh neng, kita lanjut masak.”
Alana menoleh pada Bi inem lalu mengangguk. “Eh iya bi,”
__ADS_1
.
.
Dikta baru saja turun dari mobilnya. Dia baru saja sampai di rumah sakit. Dikta melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit itu. Seperti biasa, ketika Dikta sudah masuk ke dalam ia selalu menjadi pusat perhatian. Banyak juga yang menyapanya dengan ramah. Dikta hanya membalasnya dengan senyuman. Sampai akhirnya Dikta tiba di ruangannya. Ia pun masuk ke dalam untuk mengambil jas putihnya serta stetoskop kesayangannya.
Setelah memakai jas putihnya, Dikta kembali keluar dari ruangannya. Hari ini dia harus melakukan pengecekan lagi terhadap beberapa pasien. Terutama pasien yang tempo hari operasi jantung.
Saat dalam perjalanan ke sana, Dikta yang kebetulan melewati ruangan Rafka berhenti sejenak untuk melihat keadaan Rafka. Dia mendengar suara ocehan Rafka dari luar pintu itu. Ia membuka gagang pintunya dan mengintip sedikit. Di dalam Rafka ternyata sedang disuapi oleh perawat Anna yang juga menemaninya dari kemarin. Dikta kembali menutup pintunya. Ia merasa lega karena ternyata Rafka tidak menangis dan merengek seperti kemarin lagi.
Dikta melanjutkan langkahnya lagi. Pada saat menuju kesana, Dikta berpapasan dengan Vero yang juga mempunyai tujuan yang sama dengan Dikta. Vero mempercepat langkahnya ketika melihat Dikta. Semenjak kejadian ia dibentak oleh Dikta, Vero jadi merasa sangat malu ketika berpapasan dengan Dikta. Itulah sebabnya dia selalu menghindar agar tidak bertemu Dikta lagi.
Dikta mengernyitkan keningnya ketika melihat Vero yang semakin menjauh. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan fokus menuju ke lift untuk naik ke lantai atas.
Vero yang sengaja menghindari Dikta ternyata tidak beruntung. Sebab Dikta juga memasuki lift yang sama dengannya. Dikta langsung menekan angkanya lalu berdiri dengan tenang. Matanya melirik pada Vero sebentar.
“Kamu menghindari saya hanya karena masalah waktu itu?” tanya Dikta dengan pandangan matanya yang lurus ke depan.
Vero yang mendengar suara itu langsung menolehkan kepalanya pada Dikta. Dia menghela nafasnya lalu menjawab.
Dikta menganggukkan kepalanya dan kembali menjawab.
“Seharusnya bukan malu yang kau lakukan, Dokter Vero. Tapi memperbaiki diri. Inget pada tujuan utama kita menjadi seorang dokter. Kamu tau itu apa?”
“Membantu dan menyembuhkan orang yang sakit,” jawab Vero dengan cepat.
Dikta menoleh lalu menepuk bahu Vero sambil tersenyum tulus. Senyum yang selalu diberikannya pada semua orang. “Nah itu maksudku. Tujuan utama kita menjadi seorang dokter adalah itu bukan uang. Kamu gak usah malu lagi pada saya. Saya dan kamu sama sama dokter. Sudah sepantasnya saling mengingatkan.” Ucap Dikta menasehati Vero.
“Makasih. Maaf kalau saya terkesan menghindari kamu.” Ujar Vero sambil menatap Dikta.
“Tidak apa-apa.” jawab Dikta.
Setelah itu pintu lift terbuka, Dikta dan Vero keluar secara beriringan. Mereka menuju ke ruangan yang sama.
.
__ADS_1
.
Jam sudah menuju angka dua belas, Alana yang terus terusan berada di kamar merasa bosan. Pada akhirnya dia turun dari ranjangnya dan pergi keluar untuk mencari udara segar. Alana mengelilingi setiap sudut rumah Dikta. Sampai akhirnya ia berhenti di ruang paling tengah dimana disitu ada banyak selai foto keluarga yang ditempel di temboknya. Alana mendekat untuk melihat foto foto itu.
Yang ia lihat itu adalah foto foto Dikta pada masa kuliah dulu dan pada wisuda. Ada juga foto Dikta bersama keluarganya. Foto foto masa kecilnya juga ada disitu. Alana tersenyum melihat semua itu.
Puas melihat lihat foto Dikta, Alana kembali mengelilingi rumah yang begitu luas itu. Dia terus berjalan sampai akhirnya Alana menemukan sebuah taman bunga di belakang rumah Dikta. Alana pun keluar dan berjalan pada taman bunga itu. Dia menemukan satu bangku panjang yang ada disitu. Alana memilih untuk disitu sambil menikmati pemandangan bunga bunga yang indah itu.
“Sejak kapan Dikta suka bunga?” batinnya.
Alana sibuk memandangi bunga bunga yang begitu indah itu. Apalagi ditemani oleh kupu kupu yang berwarna warni itu. Dia tersenyum melihat bagaimana kupu-kupu itu terbang dan singgah di bunga yang lain
Terimakasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar
__ADS_1