
Hari sudah mulai larut, karena pekerjaannya telah selesai. Dikta bersiap untuk pulang ke rumah lebih awal daripada biasanya. Namun, sebelum pulang Dikta akan pergi ke ruangan Septi untuk memastikan kondisi Septi tetap stabil. Hal itu ia lakukan karena Alana yang memintanya. Alana mengatakan pada Dikta bahwa dia akan mempertemukan dua keluarganya jadi untuk sementara waktu Alana akan menitipkan Septi pada Dikta terlebih dahulu.
Dikta yang sudah melepaskan jas putihnya langsung menuju keruangan Septi. Ia mengetuk pintu sebentar lalu masuk ke dalam. Hal yang pertama ia lihat adalah Septi yang duduk menyandar dengan selang infus yang memenuhi tubuhnya. Septi menatap ke arah Dikta ketika melihat laki laki itu masuk ke ruangannya.
“Ada apa, Dikta?” tanya Septi langsung pada Dikta.
Dikta tersenyum lalu kembali melangkahkan kakinya sehingga kini dia berdiri di samping ranjang rumah sakit Septi.
“Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Alana bilang aku harus menjagamu sebaik mungkin selama dia belum kembali ke rumah sakit,” jawab Dikta.
Septi menganggukkan kepalanya. Alana memang benar benar perhatian padanya sampai hal seperti ini dia harus meminta tolong pada Dikta. Septi juga bersyukur Alana sudah bertemu dengan orang tuanya. Sejak dulu sahabatnya itu selalu mencari informasi tentang keberadaan orang tua kandungnya. Alana bahkan mengajaknya dulu ketika pergi ke panti asuhan dimana dia tinggal dulu. namun sampai disana mereka tidak mendapatkan hasil apa apa. ibu panti Alana hanya bilang jika Alana ditemukan di depan gebang panti asuhan itu.
Septi menoleh pada Dikta yang kini memilih duduk di kursi. Alana sudah menceritakan semuanya padanya. Septi hanya bisa menatap kasihan pada Dikta. Dia lah saksi kandasnya hubungan mereka karena perjodohan oleh orang tua Alana itu.
“Kenapa kau terus melihatku?” tanya Dikta pada Septi.
“Aku hanya penasaran tentang sesuatu,” jawab Septi.
Dikta mengernyitkan keningnya lalu kembali bertanya.
“Apa itu?” tanyanya lagi.
Septi tidak langsung menjawab dia melihat ke arah pintu untuk memastikan tidak ada yang masuk dan mendengarkan pembicaraannya. Setelah memastikan aman barulah Septi bersuara.
“Dikta, aku tahu sampai saat ini kamu belum menemukan pasangan hidup yang cocok untukmu. Jika boleh ku tebak aku yakin kamu belum bisa melupakan Alana kan?” tanya Septi sambil menatap ke arah Dikta seolah meminta penjelasan dari pertanyaan yang dia lontarkan tersebut.
Dikta tentu sja kaget Septi sampai menanyakan hal seperti itu. Alana tidak mungkin menceritakannya padanya lalu bagaimana dia tau.
“Apa aku terlihat jelas ya?” tanya Dikta sambil meringis karena ketahuan Septi.
__ADS_1
Septi hanya mengangguk lalu terkekeh kecil. Wajah Dikta memerah seperti tomat. Bagaimana bisa ia tidak tertawa.
“Awalnya aku tidak menyadarinya. Tapi setelah apa yang terjadi tadi siang aku bisa melihat kalau kamu menatap Alana dengan pandangan yang berbeda. Tatapan matamu tidak bisa berbohong jika kamu masih mengharapkan untuk kembali bersamaAlana,” lanjut Septi.
Dikta sudah tidak berkutik lagi di hadapan Septi. Ia tau sahabat Alana itu dari dulu memang tipe orang yang peka. Bahkan perasaan yang tidak pernah dia ceritakan lagi Septi pun tahu.
“Kamu benar, Septi. Aku memang belum bisa melupakan Alana.bagaimana pun Alana adalah cinta pertamaku,” ucap Dikta akhirnya dengan mengatan yang sejujurnya pada Septi.
Septi menghargai kejujuran Dikta. Dia tau melupakan cinta pertama itu tidak mudah. Sama seperti dia yang juga belum bisa melupakan seseorang.
Septi hanya berharap jika mereka kembali berjodoh tidak akan ada sesuatu hal lagi yang akan memisahkan mereka. Mereka berdua adalah orang yang baik baginya. Mereka menerima kondisinya dengan tangan terbuka. Tidak seperti keluarganya yang langsung mengusirnya dari rumah.
Mata Septi kembali mengarah pada Dikta yang kini pikirannya dipenuhi dengan nama Alana. Septi menghela nafasnya dia sudah mengambil keputusan kali ini. Semoga saja keputusannya ini adalah jalan terbaik bagi mereka berdua. Septi akan membantu mereka untuk dekat kembali meski Alana masih belum bisa melupakan mendiang suaminya.
“Dikta, mendekatlah. Aku akan membisikimu sesuatu. Aku harap kamu bisa melakukannya dengan baik,” ujar Septi.
Dikta menatap Septi dengan ragu. Namun ia dikalahakan oleh rasa penasarannya dan pada akhirnya Dikta membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya pada bibir Septi. Dikta mendengarkan setiap kata yang dibisiki olehnya. Setelah selesai ia kembali mnarik tubuhnya. Dikta menatap ke arah Septi.
Septi mengangguk dengan yakin.
“Kalau kamu tidak mencoba bagaimana kamu tahu hasilnya. Cobalah, aku yakim kamu pasti bisa.”
.
.
Saat ini Alana sedang ada di rumah kedua orang tuanya. Selesai makan malam dia langsung membawa bi Inem pergi ke kamarnya untuk tidur bersama. Sepanjang hari ini Alana terus menempeli bi Inem setelah dia tahu bahwa bi inem adlah ibu kandungnya. Alana sangat bahagia meskipun yang ditemukan hanyalah ibu kandungnya. Sementara ayah kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
“Ayo, bu. Masuklah ke dalam lebih dulu. Aku akan kembali ke dapur untuk membuatkan s#s# hangat terlebih dahu,” ucap Alana pada bi Inem.
__ADS_1
Bi Inem mengangguk sambil tersenyum tulus. Dia merasa sungkan dan terharu karena selama ini dia tidak pernah diperlakukan seperti ini kecuali oleh Dikta dan sekarang ditambah lagi dengan putrinya Alana.
“Baiklah kalau begitu kamu hati hati buatnya ya. Jangan sampai terkena air panas,” jawab bi Inem.
Alana terkekeh lalu mengangguk pelan.
“Tenang saja, bu. Putrimu ini sudah dewasa. Aku pasti akan melakukannya dengan hati hati.” Jawab Alana lagi.
Bi Inem hanya menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar Alana sesuai dengan arahan putrinya itu.
Setelah memastikan ibunya masuk ke dalam. Alana pergi ke dapur untuk membuatkan s*s* yang akan diberikan pada seluruh keluarganya itu. Dia melangkahkan kakinya untuk pergi ke dapur. Namun siapa sangka setelah dia sampai di dapurnya Alana melihat ibu angkatnya yang membelakanginya sambil membuat sesuatu. Alana yang melihat itu tersenyum lalu mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
“Ibu, kenapa belum tidur?” tanya Alana.
Winda yang merasakan tangan hangat di tubuhnya langsung membalikkan tubuhnya dan tersenyum ketika melihat Alana yang kembali manja dengannya.
“Ibu baru aja mau bikinin kamu s*s*. Tapi kamu sudah turun duluan,” jawab Winda sambil tersenyum.
Alana mengangguk lalu dia melepaskan pelukannya dan menatap lurus pada Winda.
“Kalau gitu Alana bantuin ya bu. Padahal seharusnya kan Alana yang melakukan ini ntuk ibu,” ujar Alana lagi.
Winda mengelus rambut panjang Alana yang terurai dengan indah itu.
“Kamu duduk saja, biar ibu yang melakuannya. Ibu juga akan membuatkan untuk ibu mu juga,” ujar Winda.
Winda sudah bisa menerima semuanya. Dia sudah siap jika Alana harus membagi kasih sayangnya dengan ibu kandungnya. Tadi siang dia mengobrol banyak hal dengan bi Inem. Itulah sebabnya Winda sudah menerima semuanya. Sekarang Alana bukan hanya putrinya saja.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar