Ketulusan Cinta Dokter Dikta

Ketulusan Cinta Dokter Dikta
Bab 16 Hasil tes


__ADS_3

“Kamu duduk saja dulu, Dik. Biar aku yang pesenin. Sekalian aku minta tolong jagain tasku disini sebentar,” ujar Alana setelah tiba di warung bubur ayam yang ada di depan rumah sakit itu.


“Baiklah,” jawab Dikta. Setelah itu Dikta membiarkan Alana pergi untuk memesan sedangkan dirinya mencari tempat duduk dengan membawa tas Alana. Dikta memilih untuk di bangku paling pojok karena menurutnya posisinya sangat pas karena bisa melihat jalan raya langsung dari situ. Setelah duduk, Dikta mengarahkan matanya pada Alana yang terlihat berbincang bincang dengan tukang buburnya. Ia menumpu wajahnya dengan tangannya sambil terus memandangi Alana.


“Jika benar, Alana adalah anak bi Inem yang hilang dulu. mungkin kesempatanku untuk mengejar Alana kembali semakin mudah,” ucap Dikta di dalam hatinya. Dia bahkan tersenyum sendiri tanpa ada yang menyadari.


Setelah beberapa menit, Alana kembali ke bangku yang di duduki Dikta sambil membawa dua mangkok bubur di tangannya. Dikta langsung berhenti melamun dan kembali duduk dengan tegap. Ia tidak mau Alana tau jika sedari tadi dia terus memandanginya.


“Buburnya udah jadi. Hati hati masih panas soalnya,” ujar Alana sambil memberikan satu mangkok bubur pada Dikta. Dia juga meletakkan bubur miliknya di mejanya yang berhadapan dengan Dikta.


“Makasih, Alana,” ucap Dikta lalu mengambil buburnya dan bersiap untuk memakannya.


Alana hanya mengangguk lalu ikut duduk untuk memakan buburnya. Matanya melirik pada Dikta yang mengaduk bubur ayamnya dengan rata. Alana menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Kebiasaan laki laki di hadapannya itu tidak pernah berubah, selalu mengaduk buburnya setiap kali makan. Berbeda dengan Alana yangtidak suka diaduk.


Dikta tidak menghiraukan pesan Alana tadi, dia langsung saja memakan buburnya tanpa ditiup terlebih dahulu. Sontak, matanya membulat ketika lidahnya terasa panas dan terbakar.


“Aduh, panas banget,” keluh Dikta dengan mulutnya yang masih belum mengunyah bubur itu sambil mengipasi dengan tangannya.


Alana yang melihat itu tertawa kecil. Bisa bisanya seorang Dokter seperti Dikta akan berekspresi seperti itu ketika kepanasan. Ia yang melihatnya saja merasa lucu apalagi jika pasiennya yang melihatnya sudah pasti Dikta akan ditertawakan. Alana langsung mengambil air miliknya dan membukakan botol airnya untuk diberikannya pada Dikta yang masih berusaha meredakan panasnya itu.


“Nih, telan sambil minum. Aku sudah bilang itu masih panas tapi tetap saja kamu makan. Dasar ceroboh,” omel Alana dengan tidak menghilangkan senyumnya di bibirnya. Dikta langsung menerima air dari Alana lalu meminumnya dengan cepat seolah olah dia kehausan sekali.

__ADS_1


Dikta meneguknya dengan beberapa kali tegukan sampai airnya tersisa setengah. Lalu dia mengelap bibirnya yang basah dengan air itu. Bisa bisanya dia kepanasan seperti itu di depan Alana.


“Makasih ya, maaf aku sudah menghabiskan airmu. Akan ku belikan yang baru untukmu,” ujar Dikta sambil berdiri.


Namun ketika dia akan pergi Alana langsung memegang tangannya sambil menatap ke arahnya. “tidak usah, aku kebetulan ada air lagi di tas. Duduklah kembali. kamu harus segera kembali kan.” Ucap Alana.


Dikta tidak berkutik. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang karena sentuhan Alana di tangannya. ia bisa melihat dan merasakan bagaimana tangan Alana yang lembut itu memegang tangannya. ingin rasanya ia kembali menggenggan tangan Alana seperti dulu lagi. Namun ia tidak bisa langsug seperti itu. Butuh waktu untuk dia bisa mendapatkan semua hal tentang Alana lagi.


Alana yang menyadari kemana arah mata Dikta langsung melepaskan tangannya dengan salah tingkah.


“Maaf, aku tidak bermaksud,” ucapnya langsung agar Dikta tidak salah paham pada dirinya.


Alana kembali masuk ke ruangan Septi untuk menemaninya lagi. dia sudah berjanji pada sahabatnya itu untuk menjaganya. Alana melakukan itu untuk menebus kesalahannya karena dulu dia tidak pernah selalu ada bersama Septi. Apalagi sekarang Septi sudah tidak berdaya di ranjang rumah sakit itu. Jujur saja Alana masih berharap kesembuhan pada Septi meski penyak!tnya sudah cukup parah


Semenjak hari itu, Alana lebih sering datang ke rumah sakit untuk menemani Septi. Dia selalu membawa buah-buahan untuk Septi. Tidak hanya itu, Alana juga menyuapi sahabatnya itu makan dan membantnya minum obat.


.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari ini Dikta membawa bi Inem ke rumah sakit untuk mengecek hasil tes DNA yang dilakukannya. Sebenarnya dari kemarin Jack sudah mengabarinya tapi Dikta tidak bisa mengambilnya begitu saja. Bagaimana pun itu adalah hak bi Inem.


“Den, ini beneran sudah keluar hasilnya?” tanya bi Inem yang kini berjalan di samping Dikta untuk pergi ke ruangan Jack.

__ADS_1


Dikta menoleh lalu merangkul bi Inem dengan kedua tangannya. “Bener, bi. Bibi pasti gak sabar banget ya?”


Bi Inem mengangguk dengan pelan. Ia tidak menduga bahwa hasilnya akan keluar secepat itu. Tadi pagi saja dia  saja kaget ketika Dikta bilang hasilnya sudah keluar  dan Dikta akan membawanya ke rumah sakit untuk mengambilnya. Tapi untunglah Dikta membantu menjelaskannya bahwa tes DNA memang tidak lama hasilnya. Hal itu tergantung dari Dna yang diambilnya. Begitulah ucapan tuan mudanya yang kini ada di sampingnya.


“Gak usah khawatir, bi. Kalau benar Alana putri bibi, aku akan membantu menjelaskannya padanya. Bibi tenang aja ya. Berdoa saja semoga hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan,” ucap Dikta berusaha menenangkan bi Inem.


Mereka melanjutkan langkah mereka sampai akhirnya tiba di depan rpitu ruangan Jack. Dikta langsung mengambil ponselnya untuk mengabari Jack jika dirnya sudah ada di luar. Dia tidak mengetuk pintu karena khawatir akan mengganggu dokter yang lainnya. Jadi Dikta memilih untuk mengabari lewat pesan di ponselnya.


Setelah menunggu beberapa menit, pintu ruangan itu terbuka dari dalam. Lalu muncullah Jack dengan membawa beberapa map penting di tangannya. Jack langsung mengarahkan matana pada Dikta yang ada disitu. Dia maju beberapa langkah lalu menyerahkan map yang ada di tangannya itu.


“Aku sengaja melakukannya dua kali agar lebih meyakinkan. Silakan kamu liat sendiri hasilnya,” ucap Jack pada Dikta.


Dikta mengambilnya dari tangan Jack. Lalu dia memberikannya satu map itu pada Bi Inem. Sedangkan satunya lagi dia pegang sendiri untuk melihatnya juga. Bi Inem dan Dikta membuka map itu secara bersama. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat hasilnya. Dikta sampai membacanya berulang kali untuk memastikannya. Lalu dia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Jack.


“Ini beneran?” tanya Dikta dengan ekspresi yang masih terkejut.


 


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar

__ADS_1


__ADS_2