
“Tolong ceritakan semuanya padaku. Kenapa kamu bisa seperti sekarang?” ucap Alana sambil menatap wajah pucat Septi.
Meski dengan suara yang lirih, Septi berusaha untuk menceritakan semua kepada sahabatnya itu. Sudah lama ia ingin menceritakannya namun sekarang dia dapat kesempatan. Sebelum bercerita Septi melirik pada Alana sebentar lalu mulai bercerita.
“Semua ini berawal dari setelah aku lulus kuliah, Al. Waktu itu aku sudah berhasil menjadi seorang bidan dan sampai aku bisa membuat klinik sendiri. Banyak orang yang padaku untuk melahirkanku. Mereka sudah mempercayai kemampuan bahkan sudah dibilang aku dianggap profesional oleh mereka. Sampai akhirnya tiga tahun kemudian aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Kepalaku selalu merasa pusing dan sakit yang bersamaan. Aku minum obat pusing pun masih tetap sakit. Sampai akhirnya aku pergi ke rumh sait untuk memeriksakan lebih lanjut tentang rasa sakitku itu. Sampai akhirnya dokter memvonis aku dengan penyakit ini.”
Alana terus menggenggam tangan Septi untuk menguatkannya. Ia tau Septi juga ingin menangis terlihat dari matanya yang sudah berkaca-kaca.
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Alana agar Septi kembali melanjutkan ceritanya.
Septi menghela nafas sebenta lalu kembali bercerita.
“Sejak kejadian itu, aku pulang ke rumah dan memberi tahu kedua orang tuaku. Aku pikir mereka bakal mendukungku karena penyak!tku ini tapi ternyata aku salah. Mereka malah mengusirku dari rumah. Mereka bilang tidak akan sanggup jika nanti harus menanggung pembayaran berobatnya aku. Bahkan klinik yang aku buat sengaja mereka ambil dan dijual oleh mereka. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari sebuah kontrakan untuk betahan hidup. Aku mencari pekerjaan apapun yang sekiranya bisa untuk aku makan. Namun terkadang aku juga mendapat dari menolong seseorang yang melahirkan.”
Alana tentu saja kaget mendengar semua itu. Dia sangat mengenal orang tua Septi. Setau dia mereka dulu orang baik tapi ternyata sekarang malah seperti ini. Alana benar benar tidak menyangka.
“Selama beberapa bulan itu aku bertahan dengan hidup seperti itu Al. Sampai akhirnya pada saat aku pergi ke pasar untuk berbelanja aku ambruk di tengah jalan. Aku tidak tau siapa yang membawaku tapi yang pasti ketika aku membuka mata aku sudah ada di rumah sakit ini. Aku sudah tiga tahun lebih di rumah sakit ini dan tidak ada siapapun yang menemaniku,” Septi memandang Alana lalu tersenyum tipis. Tangannya yang lemah juga berusaha memegang tangan Alana.
“Makasih ya, Al. Kamu dan Dikta adalah orang pertama yang menjenguk dan mengetahui keberadaanku di rumah sakit ini,” ujar Septi dengan senyum tulusnya.
Alana langsung mengangguk. Ingin rasanya dia memeluk Septi tapi tidak bisa. Selang dan infus di tubuh Septi menghalanginya untuk tidak memeluk Septi. Dia tidak tega melihat kondisi sahabatnya seperti itu. apalagi setelah mendengar bahwa Septi selalu sendirian di rumah Septi. Alana yakin selama ini Septi selalu merasakan kesepian.
“Septi, jika keluargamu tidak menganggapmu. Mulai sekarang aku lah yang akan menggantikan mereka. Aku akan menjaga dan merawatmu disini. Kamu jangan khawatir ya mulai sekarang sahabatmu sudah kembali dan tidak akan meninggalkanmu lagi,” ucap Alana dengan penuh semangat agar Septi juga tidak larut dengan dengan kesedihannya
__ADS_1
.
.
Dikta tersenyum melihat apa yang dilakukan Alana di ruangan Septi. Dia juga bisa bersyukur ketika Septi sudah bisa tersenyum. Sedari tadi Dikta tidak pergi melainkan tetap di luar pintu untuk mengintip kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu. Siapa yang menyangka jika mereka berdua malah membuat kisah mengharukan di dalam sana. Bahkan dirinya saja hampir menangis dibuatnya jika tidak ditahan.
Dikta baru saja akan berbalik dan kembali ke ruangannya. Namun tiba tiba saja ruangan Septi terbuka dari dalam lalu muncullah Alana. Alana mengernyitkan keningnya ketika melihat Dikta ternyata masih ada di luar.
“Kamu ngapain, Dik?” tanya Alana.
Dikta yang takut ketahuan itu langsung bersikap cool agar tidak dicurigai Alana jika tadi ia mengintipnya.
“Aku hanya kebetulan lewat. Gimana kondisi Septi?” tanya Dikta untuk mengalihkan pembicaraan itu.
Lalu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Keduanya kembali canggung satu sama lain. Mereka juga tidak tau harus membicarakan apa.
“Kamu sudah makan?” tanya Dikta berusaha basa basi sambil memandangi wajah Alana yang semakin manis di matanya.
Alana menggeleng pelan.
“Aku belum sempat masak tadi. makanya aku keluar sebentar untuk membeli makanan. Setelah selesai aku juga akan kembali ke sini,” jawab Alana pada Dikta.
Dikta yang mendengar hal itu langsung tersenyum cerah. Dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengobrol banyak hal dengan Alana. Dan pastinya dia tidak akan menyianyiakan kesempatan bagus seperti ini.
__ADS_1
“Kalau gitu aku ikut bersamamu. Kebetulan aku juga belum makan.” Ucap Dikta.
“Baiklah, kalau gitu ayo ikut aku. Aku ingin makan bubur yang ada di depan rumah sakit itu. kamu tidak masalah kan?” tanya Alana lagi.
“Santai saja. Itu juga makanan favoritku di rumah sakit ini,” jawab Alana.
Alana mengangguk lalu dia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi ke luar. Dia diikuti oleh Dikta yang kini berjalan di sampingnya. Mereka berjalan beriringan sampai menjadi pusat perhatian. Terlebih pada Dikta. Biasanya orang orang di rumah sakit tidak pernah melihatnya bersama wanita. Mereka melihat ke arah keduanya dengan tatapan penasaran.
“Apa itu istrinya?”
“Wah, ternyata dia sudah tidak lajang,”
“Baru saja aku akan menjodohkannya dengan cucuku, huhu sayang sekali dia sudah punya istri,”
Alana mendengar semuanya, dia merasa malu karena semua orang mengira dirinya adalah istri Dikta. Padahal hubungan mereka hanya sebatas mantan kekasih. Entah kenapa pipinya tiba tiba memerah ketika mendengar orang orang itu memujinya dan mengatakan cocok untuk bersama Dikta.
Dikta juga mendengar semua itu. Diam diam matanya melirik pada Alana. Ingin rasanya dia menertawakan pipi Alana yang sudah seperti tomat itu saking merahnya. Seandainya saja Alana memang benar istrinya sama seperti yang dikatakan orang orang itu dia pasti akan mencium Alana sekarang juga.
“Alana, apa aku salah jika kembali mengejarmu sementara statusmu masih belum move on dengan Almarhum suamimu?” gumam Dikta.
Jujur saja dia masih tidak bisa menahan perasaannya setiap kali melihat Alana. Sebenarnya dia ingin sadar diri untuk melupakan Alana sama seperti dulu ia melupakannya. Namun hal itu akan terasa susah karena sekarang dia akan selalu bertemu Alana di rumah sakit ini. Cepat atau lambat Diktayakin perasaannya akan semakin bertambah pada gadis di sampingnya itu.
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa like+komentar