
Keesokan harinya, Alana bangun bangun pagi sekali untuk memasak buat keluarga barunya yang kini sudah lengkap dengan kehadiran bi Inem juga. Alana semalam tidur nyenyak karena semalam ia memeluk ibu kandungnya. Semalam ia seperti anak kecil yang tertidur di pelukan bi Inem. Pelukan ibunya lah yang membuatnya semangat pagi ini.
Alana ingin membalas kebaikan kedua orang tuanya dengan memasakkan makanan yang enak untuk mereka. Saat turun ke bawah, rumahnya masih dalam keadaan sepi karena penghuninya masih belum pada bangun. Alama tersenyum lega, setidaknya jika mereka bangun nanti mereka sudah harus melihat hasil masakannya di meja makan.
Alana masuk ke dapur lalu membuka kulkas untuk mengambil bahan bahan yang akan dimasak untuknya. Dia mengambil beberapa sayuran, daging, dan ayam yang sudah tersedia dalam kulkas itu.
“Aku akan membuat mereka terpesona dengan menu baruku,” ucap Alana pada dirinya sendiri. Dia tidak berhenti tersenyum sedari tadi. Tidak seperti sebelumnya yang terus terusan menangis sekarang tidak lagi. Alana sudah mendapatkan semua hal yang dia inginkan jadi mana mungkin Alana akan menangis. apa lagi Winda dan Liam sudah menyadari kesalahan mereka.
Alana mengambil bahan bahan itu lalu dibawanya ke pantry dapur untuk dicuci terlebih dahulu. Namun sebelum itu Alana mengambil tali rambut yang ada di kantong bajunya lalu mengikat rambutnya agar tidak mengganggunya saat masak nanti. Setelah selesai dia mengambil wadah lalu menghidupkan kran dan baru lah dia mencucinya sampai bersih.
“Sekarang sudah selesai, tinggal lanjut yang berikutnya,” ucap Alana setelah mencuci semua bahan bahannya.
Alana akan mengambil pisau untuk memotong ayam namun tindakannya itu terhenti oleh suara telfon yang berbunyi dari kantong bajunya. Dia langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelfonnya pagi pagi begini.
“Mama...Rafka kangen sama mama. Mama kapan jemput Rafka lagi?” ucap sebuah suara di balik telfon.
Alana yang melihat wajah Rafka di layarnya langsung tersenyum manis. Dia belum bemberi tahu putranya tentang bi Inem. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu Rafka. Dia akan segera menjemput Rafka.
“Sayang, nanti pulang sekolah mama jemput kamu ya. Bilang sama nenek dulu kalau kamu mau pulang sama mama lagi. Rafka paham kan?” tanya Alana.
Rafka mengangguk lalu tak lama kemudian dia mengambil sesuatu lalu menujukkannya pada Alana.
“Lihat, mama. Kemarin Rafka jadi juara lomba menggambar. Ini hasil gambar Rafka, bagus nggak?” tanya Rafka dengan raut wajah yang berseri seri. Dia seolah tidak sabar menunggu Alana memuji gambarnya itu.
Alana mengernyitkan keningnya ketika Rafka menggambar empat orang di dalam gambarnya. Alana yakin jika tiga orang itu adalah suaminya, Rafka dan dirinya sendiri. Lalu siapa orang keempat yang Rafka gambarkan dengan berdiri di sampingnya itu.
__ADS_1
“Lihat mama, disini ada mama, papa, Rafka dan ada juga om Dokter yang di rumah sakit itu,” lanjut Rafka menjelaskan hasil gambarnya.
Setelah mendengar penjelasan Rafka, Alana menahan tawa di bibirnya karena melihat Dikta yang digambarkan Rafka. Rambutnya yang acak acakan dan hidung besar yang membuatnya semakin terlihat lucu. Pantas jika Alana tidak bisa mengenalinya sebab gambarnya tidak sesuai dengan Dikta yang asli.
“Bagus, sayang. Sekarang lebih baik kamu bersiap siap ya pergi ke sekolah. Nanti pulangnya mama jemput sekalian mama mau mengajak kamu ketemu sama sahabat mama.” ucap Alana. Ia hampir saja melupakan bahwa Septi ingin sekali bertemu dengan putranya. Dan ia juga sudah berjanji membawa Rafka untuk bertemu dengannya. Alana berencana untuk membawanya nanti sepulang sekolah. Bukankah lebih cepat lebih baik.
“Okey mama. I love you,” ucap Rafka,
“i love you too,’ jawab Alana sambil melambaikan tangannya.
Setelah panggilannya terputus, Alana kembali mengantongi ponselnya dan lanjut memasak. Dia memasak semuanya dengan sendirian. Selama menjadi ibu rumah tangga dulu Alana tidak pernah diizinkan oleh suaminya untuk bekerja. Bagi suaminya kerja itu adalah tanggung jawab seorang laki laki. Itulah sebabnya Alana selalu belajar memasak di rumah untuk mengisi waktu luang.
Hasil belajarnya tidak sia sia. Makanan yang dimasaknya selalu enak bahkan smeua orang pernah mencicipi makanannya juga suka. Ada yang menyarankan Alana untuk membuka restoran karena makanannya yang luar biasa itu. jika dulu ia menolaknya maka sekarang Alana harus mempertimbangkannya.
Lagi pula sekarang suaminya sudah tiada, maka tidak ada lagi orang yang menafkahinya dan itu artinya Alana harus mencari nafkah sendiri untuknya dan Rafka demi hidup yang masih terus berjalan.
“Nah sekarang sudah siap, aku harus memanggil mereka untuk turun,” ucap Alana.
.
.
Siang hari
“Anak ibu tidak apa apa. Dia hanya terkena flu biasa. Panasnya itu juga disebabkan karena flunya jadi untuk sementara jauhkan putranya dari es ya bu. Makan es krim terlalu banyak juga sering membuat anak terkena flu,” ucap Dikta lalu menarik kembali stetoskop yang ia gunakan untuk memeriksa anak kecil itu. Saat ini ia ada di ruangan pemeriksaan untuk memeriksa pasien yang baru saja tiba itu.
__ADS_1
“Jadi dia tidak harus dirawat kan, Dok?” tanya ibu dari anak kecil itu.
Dikta menggeleng lalu tersenyum.
“Anak ibu hanya perlu meminum obat saja. Saya akan segera menuliskan resepnya dan ibu bisa menebusnya langsung di apotek,” ucap Dikta lagi.
“Baiklah kalau begitu terima kasih, dok,” ucap wanita itu.
Dikta mengangguk lalu berpamitan untuk pergi keluar.
Sementara wanita itu terus menatap Dikta dengan tatapan yang dalam. Dia sedikit terpesona dengan ketampanan yang Dikta miliki di wajahnya. Andai saja dia punya suami yang setampan Dikta mungkin dia akan menjadi orang yang paling bahagia dalam hidupnya.
.
.
Setelah Dikta keluar dari ruangan itu, Dikta memutuskan untuk pergi ke ruangan Septi sebentar untuk membicarakan tentang hal kemarin. Lagi pula saat ini waktunya sudah longgar jadi Dikta punya kesempatan untuk bersantai. Saat ini langkah kakinya membawanya menuju ke ruangan Septi.
Saat sudah hampir sampai Dikta melirik jam tangannya. ia hany punya waktu lima belas menit untuk mengobrol dengan Septi. Karena setelah itu akan ada rapat bersama dengan pbeberapa dokter yang mewakili di bidangnya. Baik itu dokter spealis, perawat dan lan lain. Rapat itu akan di pimpin oleh ayahnya sebagai pemilik rumah sakit jadi Dikta harus hadir karena dia mewakili dokter spesialis anak.
Saat Dikta akan masuk ke dalam ruangan Septi, disana sudah ada Alana bersama Rafka di dalam.
“Alana?”
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa like+komentar