Ketulusan Cinta Dokter Dikta

Ketulusan Cinta Dokter Dikta
Bab 17 Sebuah fakta


__ADS_3

“Ini beneran?” tanya Dikta dengan ekspresi yang masih terkejut.


Berulang kali Dikta membaca hasil tes nya itu untuk membuktikan kebenaran di dalamnya. Namun hasilnya tetap sama. Hasil dalam tes itu menunjukkan bahwa Alana memang putri kandung bi Inem yang dulu hilang. Dia tidak menyangka jika apa yang diperkirakan bi Inem ternyata memang benar. Dikta menolehkan kepalanya untuk melihat reaksi bi Inem. Hampir sama seperti dirinya, bi Inem juga terkejut dengan hasilnya.


“Alana, putri kandungku. Aku sudah menduganya dari awal karena tanda itu,” gumam bi Inem yang masih di dengar Dikta.


Dikta sangat mengerti perasaan bi Inem. Seorang ibu yang sudah lama terpisah dengan putrinya pasti akan sangat menggebu gebu ketika mengetahui dimana keberadaan putrinya. Lalu Dikta kembali fokus pada Jack.


“Jack, makasih ya. Kamu udah membantuku banyak banget. Aku harap aku bisa membalas kebaikanmu lain kali.” Ujar Dikta pada Jack.


Jack tersenyum tipis lalu mendekat pada Dikta dan membisikkan sesuatu di telinganya.


“Jangan begitu sungkan denganku. Aku harap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Jangan terlalu cinta jika kamu takut ditinggalkan sama seperti dulu. Aku tau perasaan itu kembali lagi setelah melihat dia kan. Pikirkan baik baik sebelum kamu kembali menjatuhkan hati pada dia lagi.” Ucap Jack lalu memundurkan tubuhnya kembali.


Dikta paham apa yang dikatakan Jack. Sahabatnya itu hanya ingin dia tidak tersakiti seperti dulu lagi. Dia sangat mengenal Jack dengan baik. Jack tidak pernah melarang dia untuk dekat sama siapapun kecuali Alana yang masih diingat Jack sebagai wanita yang telah menyakiti dan meninggalkannya di masa lalu.


“Jack, sekarang aku sudah dewasa. Akan aku terima resikonya. Terima kasih sudah memperingatkanku.” Ujar Dikta sambil tersenyum tulus.


Jack hanya menghela nafas dengan pasrah. Dia tidak bisa berbuat apapun jika kemauan Dikta sudah begitu. Sebenarnya ia juga tidak melarang jika Dikta akan kembali bersama Alana. Namun yang dia takutkan Jack  adalah Dikta kembali terluka dengan alasan yang sama. Jack mendengar semuanya dari beberapa pasien lantai bawah yang menggosipkan Dikta dengan seorang perempuan yang Jack yakini itu adalah Alana.


“Kalau begitu aku kembali masuk dulu. Lebih baik kamu segera beritahu dia tentang hasilnya itu. Aku yakin bi Inem sudah tidak sabar untuk memeluk Alana,” ujar Jack sambil melirik ke arah bi Inem yang sedari tadi memeluk hasil tes-nya itu.


Dikta mengangguk. “kalau gitu aku duluan.”


Setelah berpamitan pada Jsck, Dikta langsung mengajak bi Inem untuk pergi. Mereka berdua berjalan beriringan. Dikta tetap merangkul bi Inem seperti ibunya sendiri. Dia takut bi Inem akan syok tiba tiba dan jatuh pingsan. Bagimana pun yang di sampingnya adalah ibu dari Alana. Jika dia bisa mendapatkan Alana maka bi Inem bukan asistennya lagi melainkan calon mertuanya. Membayangkannya saja sudah bikin Dikta tersenyum apalagi jika terwujud.


Bi Inem tiba tiba berhenti melangkah. Matanya menatap lurus ke depan. Dikta yang melihatnya mengernyitkan keningnya karena bi Inem tiba tiba berhenti. Namun ketika ia mengikuti arah pandangnya Dikta akhirnya paham.

__ADS_1


“Alana sekarang sering di rumah sakit, bi. Dia menjaga sahabatnya yang ada di ruangan itu. itulah sebabnya sekarang dia ada disini. Bibi mau langsung bertemu dengannya?” tanya Dikta pada bi Inem.


Bi inem menunduk sambil berkata,”Apa dia masih akan menganggupku seperti seorang ibu, den?” tanya bi Inem dengan lirih.


Dikta mengelus bahu bi Inem dengan tangannya. “Bibi, tenang saja. Bukankah bibi bilang dia pernah bercerita bahwa dia juga mencari orang tua kandungnya? Aku yakin Alana pasti akan senang.”


“Semoga saja begitu, den. Bibi hanya takut dia merasa malu jika ibunya adalah seorang asisten rumah tangga seperti bibi. Berbeda dengan orang tua angkatnya yang mungkin bisa memberinya kemewahan dan kehidupan yang layak untuknya,” lanjut bi Inem lagi.


“Dari pada bibi mikir negatif terus. Lebih baik ato susul Alana. Tenang aja, aku akan membantu bibi menjelaskan semuanya. Bibi jangan khawatir lagi,” ujar Dikta berusaha menenangkan hati bi Inem yang terus gelisah sejak tau Alana memang benar anak kandungnyns.


.


.


“Kapan kapan bawa anakmu kesini, Al. Dia pasti sangat lucu,” ujar Septi yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu.


“Aku akan segera membawa Rafka, yang penting kamu harus rajin minum obat dulu ya.” Ujar Alana.


Septi mengangguk lemah. Ia sangat bersyukur sekali karena di sisa sisa hidupnya dia sudah kembali bertemu dengan sahabatnya. Orang tuanya saja sudah membuangnya tapi Alana malah semakin dekat padanya. Seandainya penyaktinya bisa disembuhkan ia pasti akan membalas semua kebaikan Alana. Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi. Karena dokter yang merawatnya mengatakan dia akan bertahan sampai sepuluh bulan ke depan.


Alana selesai mengupasi buah apel. Dia langsung meotong motongnya menjadi beberapa bagian lalu meletakkan buahnya di piring. Setelah itu dia mengambil piringnya di tangannya.


“Ayo, makan buah dulu,” ujar Alana pada Septi.


“Kamu memperlakukanku seperti anak kecil, Al,” ucap Septi sambil menerima suapan buah apel itu dari tangan Alana.


Alana terkekeh melihat ekspresi Septi yang terlihat lucu.

__ADS_1


“Bagus juga. Bagaimana kalau aku membuatmu jadi putriku dan kamu menjadi kakak dari Rafka,” lanjut Alana lagi sambil menggoda Septi.


Septi yang mendengar hal itu hanya bisa menatap Alana dengan kesal. Bisa bisanya sahabatnya mengatakan hal seperti itu. Membayangkannya saja sudah tidak mungkin. Apalagi jika dia benar memanggil ibu pada Alana. Sungguh sangat mengelikan. Yang Septi inginkan hanya menjadi tante dari putra Alana itu.


“Jika aku sehat aku pasti akan menjitak kepalamu, Al.” Ujar Septi sambil menatap ke arah Alana.


Alana tersenyum dan membalas tatapan Septi. “kalau begitu cepatlah sembuh dan sehat. Aku akan membiarkanmu menjitak kepalaku jika kamu sembuh,” balas Alana.


Septi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum palsu. Dia mungkin bisa mewujudkan permintaan Alana yang lain. Namun untuk satu hal itu Septi tidak bisa berbuat apa-apa.


“Maaf, Al. Aku tidak bisa untuk itu. itu adalah hal yang paling mustahil. Aku saja tidak tau harus bertahan berapa lama lagi. Penyak!t ini menyiksa fisik dan batinku,” jawab Septi dengan matanya yang berkaca kaca.


“Apa tidak ada harapan lagi?” tanya Alana dengan suara yang begitu lirih.


Septi menggeleng  pelan. Dia tau sahabatnya itu hanya berharap kesembuhnnya. Namun bagaimana lagi itu semua adalah takdir yang harus diterimanya. Siapapun tidak bisa merubahnya kecuali tuhan.


Lalu tiba tiba pintu terbuka dari luar.


Alana dan Septi dengan kompak menoleh ke arah pintu itu.


“Dikta?” ucap mereka secara bersamaan.


 


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar

__ADS_1


__ADS_2