
Saat Dikta akan masuk ke dalam ruangan Septi, disana sudah ada Alana bersama Rafka di dalam.
“Alana?”
Dikta mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Sebab Alana juga ada disana. Dia pikir hari ini Alana tidak akan datang. Tapi dugaannya salah, Alana bahkan datang bersama Rafka. Dikta hanya bisa menatapnya secara diam diam. Kalau begitu caranya Dikta terpaksa harus menunda pembicaraannya dengan Septi. Lebih baik ia kembali ke ruangannya untuk persiapan rapat. Dia tidak mungkin hanya berdiri disitu dan menunggu Alana keluar. Pada akhirnya Dikta memilih kembali. Dia akan berbicara nanti setelah Alana pulang.
Sedangkan di dalam, Septi bukan tidak melihat jika tadi Dikta akan masuk ke ruangannya. Dia sudah menyadarinya sebenarnya hanya saja Septi tidak bisa berbuat apa apa sebab Alana ada disini. Septi yakin Dikta datang ke kamarnya hanya untuk membicarakan rencana Septi yang akan membantu mendekatkan mereka kembali. Pandangan Septi berpindah pada Rafka yang saat ini duduk di pangkuan Alana sambil memegang mainan barunya.
“Rafka, senang nggak hari ini bisa ketemu sama tante?” tanya Septi pada Rafka.
Rafka mengangkat wajahnya dan berhenti bermain. Dia tersenyum pada Septi lalu mengangguk kecil.
“Senang banget, tante. Kata mama Rafka harus nemenin dan doain tante biar cepat sembuh,” jawab Rafka.
Septi tertawa kecil melihat bagaimana cara Rafka menjawab. Dia sudah bisa menyusun setiap kata dengan baik sehingga menjadi kalimat yang sempurna. Awalnya Septi berpikir Rafka akan cadel sama seperti anak kecil lainnya yang kebanyakan cadel pada saaat kecil. Namun ternyata tidak dengan Rafka, di usianya yang segitu dia sudah mengucapkan setiap abjad dengan benar. Septi yakin didikan Alana tidak pernah gagal. Alana berhasil menjadi seorang ibu yang baik untuk Rafka.
Alana bersyukur ketika melihat Septi bisa tertawa lagi. Setidaknya itu akan menjadi hiburan bagi sahabatnya itu. Kehadiran Rafka disini juga banyak membantu untuk Septi yang kesepian.
“Kamu sekarang gimana, Al. Apa keluarga kamu sudah menerima kamu sepenuhnya?” tanya Septi pada Alana.
Alana tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.
__ADS_1
“Semuanya baik baik saja seperti yang aku harapkan. Orang tua angkatku juga tidak akan menjodohkanku lagi. Ibu kandungku juga diterima dengan sangat baik oleh mereka,” jawab Alana pada Septi.
Akan tetapi setelah mendapat jawaban dari Alana. Septi merasa tidak puas dengan jawabannya. Dia masih punya satu pertanyaan lagi yang mungkin Alana tidak akan menjawabnya. Tapi ketika tidak ditanyakan dia juga penasaran.
Alana yang melihat Septi terdiam menghela nafasnya dengan pasrah. Ia sangat peka Septi akan memberikannya pertanyaan kembali meskipun dia sungkan.
“Jangan ditahan, Sep. Kalau mau bertanya lagi silakan. Kamu sahabatku jangan ragu untuk bertanya apapun padaku,” ucap Alana dengan tiba tiba dan berhasil mengejutkan Septi yang sedari tadi berpikir bagaimana cara menanyakannya. Tapi sekarang Alanamalah memberinya kesempatan.
“Baiklah, kalau kamu mengizinkannya. Aku ingin bertanya satu hal padamu. Ini tentang Dikta. aku harap kamu jujur dengan dirimu sendiri.” Ucap Septi pada Alana
Alana menatap Septi dengan rasa penasaran yang semakin tinggi. Sebab Septi memilih untuk menjeda pertanyaanya sebelum benar benar dikatakan.
Septi mengambil tangan Alana dan memegangnya. Dia sebenarnya tidak ingin melakukan ini kaena khawatir Alana akan mengira dia terlalu ikut campur dalam urusannya. Namun jika demi kebaikan Alana dia rela melakukan apa pun untuknya. Septi hanya ingin melihat Alana hidup bahagia sebelum dia benar benar pergi untuk selamanya.
Alana yang mendengar pertanyaan itu tidak langsung menjawabnya. Dia juga tidak punya jawaban meski pertanyaannya hanya sederhana. Bagi Alana selama ia hidup dengan aman bersama Rafka itu sudah lebih dari cukup. Alana juga masih belum ingin mengkhianati suaminya dengan cara dekat dengan laki laki lain meskipun suaminya telah tiada. Jika ia tidak tau harus menjawab pertanyaan Septi seperti apa.
Septi yang melihat Alana hanya diam saja langsung mengelus tangan Alana dengan lembut. Dia seperti seorang ibu yang tengah membujuk putrinya untuk melakukan sesuatu. Rasa sayangnya pada Alana begitu besar sampai sampai Septi rela menahan rasa sakitnya yang sedari tadi terus menyerang kepalanya. akan tetapi dia sekuat tenaga menahannya demi mendapatkan jawaban Alana.
“Alana, aku tidak akan memaksamu jika kamu tidak mau menjawab. Kamu juga punya hak untuk tidak tidak menjawab pertanyaanku,” ucap Septi dengan suara yang semakin lirih karena rasa sakitnya. Akan tetapi Alana masih belum menyadarinya.
Alana melihat Rafka yang sibuk bermain di pangkuannya. Apa benar dia harus mempertimbangkan hal itu. bagaimana pun Rafka pasti ingin mempunyai keluarga yang lengkap. Selama ini Rafa tidak pernah meminta banyak hal darinya. Lalu bagaimana dengan hatinya. Bagaimana dengan rasa cintanya pada suaminya yang tidak akan pernah bisa hilang.
__ADS_1
“Aku akan mempertimbangkannya tapi aku butuh waktu untuk merima semua itu,’ ucap Alana dan kembali menatap Septi. Alana mengernyitkan keningnya ketika Septi memejamkan matanya padahal baru saja dia bicara dengannya.
Rafka yang sedari tadi asik bermain juga memilih berhenti bermain. Rafka mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Alana. Rafka sempat melihat apa yang terjadi pada Septi tadi.
“Mama, tadi tante seperti kesakitan tapi langsung merem gitu aja. Apa bibi tertidur?” tanya Rafka dengan wajah polosnya.
Alana yang mendengar itu langsung membulatkan matanya. pantas saja genggaman tangan Septi di tangannya melemah.
“Sep...bangun. Septi, lo gak boleh bercanda gini. Bangun Septi,”
Alana terus menggoyangkan tubuh Septi berharap Septi terbangun dan membuka matanya lagi. Namun Septi tetap tidak bereaksi apa apa. Alana mulai khawatir dengannya. Tanpa berpikir apapun lagi Alana langsung memencet tombol di samping ranjangnya itu ntuk memanggil dokter.
“Septi, bertahanlah. Dokter akan segera datang,”
Rasa panik dan kekhawatiran di wajah Alana tidak bisa disembunyikanlagi. Dia benar benar ketakutan sekarang. Jantungnya terus berdetak dengan kencang karena takut terjadi sesuatu pada Septi. Selang beberapa menit dokter beserta bberapa perawat masuk ke dalam ruanganya. Alana disuruh untuk menunggu di luar karena mereka akan melakukan tindakan medis. Alana tidak bisa menolaknya, dia hanya bisa keluar dan menunggu di kursi. Sambil lalu dia memeluk Rafka dengan erat.
“Rafka, doain tante ya biar cepat sembuh,” ucap Alana dengan suara yang serak karena menahan tangis.
“Mama, jangan menangis. Tante Septi pasti bisa sembuh,” jawab Rafka yang ada di pelukan Alana..
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar