
Dikta masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Dia sudah menyerahkan Alana pada bi Inem untuk mengurusnya. Ia membuka semua pakaiannya lalu menyimpannya di bak cuciannya. Setelah selesai baru lah ia masuk ke dalam kamar mandinya.
Lima belas menit kemudian, Dikta telah selesai mandi. Dia keluar kamar mandi dengan keadaan sudah berpakaian rapi. Ia mengelap rambutnya yang masih basah dengan handuk di tangannya. Lalu pikirannya teringat pada Alana yang ada di kamar tamunya.
“Dia sudah sadar atau belum ya?” tanya Dikta pada dirinya sendiri.
.
.
Sementara itu bi Inem baru saja selesai menggantikan baju Alana. Dia juga mengompres kening Alana yang terasa panas di kulitnya. Bi inem memandang Alana dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah kenapa ia seperti melihat kembali putrinya yang hilang di masa dulu. Dengan tangan keriputnya bi Inem mengelus rambut Alana sambil tersenyum.
“Cepat sembuh ya, neng.” Ucapnya.
Bi inem kembali berdiri lalu menarik selimut untuk menyelimuti Alana. Saat selimut itu sudah sampai di tubuh Alana. Mata bi inem tertuju pada kulit leher Alana yang seperti ada sebuah tanda hitam. Bi inem yang penasaran mencoba menyingkirkan sedikit rambut Alana. Tapi belum saja dia menyentuhnya pintu tiba tiba terbuka. Bi inem mengurungkan niatnya dan kembali menyelimuti Alana.
Dikta yang baru saja masuk langsung menghampiri Bi Inem dan melihat kondisi Alana yang sudah digantikan pakaian oleh Bi inem.
“Dia masih belum sadar bi?” tanya Dikta.
Bi Inem memandang ke arah Alana sambil menjawab pertanyaan Dikta. “belum, den. Sepertinya neng ini demam. Kulitnya panas sekali makanya bibi kompres dulu.”
Dikta mengangguk lalu duduk dan memegang tangan Alana sambil mengelusnya. Hal itu tidak lepas dari pandangan bi inem. Bi inem hanya bisa tersenyum saja melihat apa yang dilakukan tuan mudanya itu.
“Den dikta suka sama neng Alana ya?” tanyanya sambil tersenyum pada Dikta.
Seketika Dikta langsung melepaskan tangan Alana dengan salah tingkah. Ia tidak tau kenapa dirinya tiba tiba memegang tangan Alana. Dikta juga melihat bi Inem yang tersenyum menggodanya.
“Bibi ada ada saja. Dikta gak sengaja megang tangannya kok,” ucap Dikta dengan sedikit terbata bata karena malu kepergok.
Bi Inem hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali mengambil baskomnya untuk dibawa kembali ke dapur. “kalau gitu bibi balik ke dapur ya den. Bibi mau buatin nengnya bubur. Siapa tau sebentar lagi sadar dari pingsannya,” ujar bi Inem pada Dikta.
__ADS_1
Dikta mengangguk pada bi Inem. “Makasih ya bi,” ucapnya.
“Iya den sama-sama”
Setelah itu bi Inem keluar dari kamar dan meninggalkan Dikta disana untuk menjaga Alana. Sementara dia pergi ke dapur untuk membuat bubur.
.
.
Sudah lima belas menit Dikta menunggu Alana sadar. Bahkan buburnya yang dibuatkan bi Inem tadi sudah siap dan hampir dingin. Namun sayangnya Alana masih belum membuka mata. Dikta masih duduk di samping Alana sambil membaca buku. Tanpa Dikta sadari tangan Alana bergerak sedikit demi sedikit. Alana juga mulai mengerjapkan matanya secara perlahan lahan sampai terbuka sempurna. Hal pertama yang Alana lihat adalah langit langit kamar. ia merasa asing dengan tempat itu. Seingatnya tadi ia ada di pinggir jalan dan terjebak hujan. Lalu kenapa sekarang tiba tiba ada di sebuah kamar.
Namun saat menoleh ke samping, Alana lebih terkejut lagi. Melihat Dikta duduk di sampingnya dengan pakaian santainya. “jadi Dikta yang membawaku kesini?” batinnya dalam hati.
Alana terus memandangi Dikta. Bibirnya terasa kelu untuk sekedar memanggilnya. Alhasil dia hanya memperhatikannya dalam diam. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah Dikta setelah pernikahannya dulu. Dikta benar benar menghilang dari kehidupannya. Ia aku, wajah Dikta tidak banyak berubah. Masih sama tampannya seperti dahulu.
Seandainya Alana tahu gimana rasa sakitnya Dikta ketika ditinggalkan dulu. Mungkin kata penyesalan tidak akan cukup diberikan olehnya. Terlebih alasan meninggalkan adalah karena laki laki lain yang dijodohkan dengannya.
“Kamu sudah sadar?” tanya Dikta sambil meletakkan bukunya di atas nakas.
Alana mengangguk kecil. “Makasih, dik. Kalau bukan karena kamu mungkin sekarang aku masih ada di jalanan.” Jawab Alana dengan lirih.
Dikta tersenyum tipis dan mengangguk. “kalau gitu sekarang kamu makan dulu ya. Aku suapin,” ujar Dikta sambil mengambil bubur yang sudah tersedia sedari tadi.
Alana berusaha bangun dengan sedikit kesusahan karena pusing yang menimpanya. Dikta yang melihat itu kembali menaruh mangkuk buburnya dan membantu Alana untuk bersandar. Mata mereka saling bertabrakan sehingga aksi saling tatap tatapan tidak dapat terhindar. Jarak wajah Dikta juga sangat dekat dengan Alana. Bahkan Alana saja sampai bisa merasakan nafas Dikta di wajahnya.
“Kamu masih secantik dulu, Al. Bahkan berada di dekatmu saja jantungku masih berdebar tak karuan sama seperti dulu,” - Dikta.
“Kamu tetaplah Dikta yang aku kenal. Dikta yang suka menolong tanpa memandang dari segi apapun. Kebaikanmu lah yang dulu bisa membuatku jatuh cinta padamu,” –Alana.
Keduanya saling berkata kata dalam hatinya sampai akhirnya Dikta tersadar dan memundurkan wajahnya.
__ADS_1
“Maaf, gimana posisi mu sekarang. Sudah nyaman?” tanya Dikta dengan canggung.
“Iya” jawab Alana.
Dikta mengangguk lalu kembali duduk. Ia mengambil buburnya kembali lalu mulai menyuapi Alana. Tidak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan apa yang dilakukannya masing masing. Dikta yang mnyuapi dan Alana yang menerima suapan.
.
.
Keesokan harinya, Dikta bangun seperti biasanya. Jam tujuh dia sudah siap siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia juga sudah menyuruh bi Inem untuk menemani Alana. Sebenarnya Alana juga sudah sehat, bahkan ia sempat memaksakan dirinya untuk ke rumah sakit dan menjemput Rafka. Namun hal itu ditolak secara halus Dikta. Itu karena Dikta tau Alana belum pulih sepenuhnya. Tadi saja Alana hampir terjatuh di kamar mandi karena rasa pusingnya. Jadi pada akhirnya Dikta menyuruh Alana untuk tetap istirahat di rumahnya dulu. Ia juga sudah berjanji akan membawa Rafka bersamanya nanti saat pulang kerja.
Setelah semuanya siap, Dikta mengambil kunci mobinya untuk berangkat ke rumah sakit. dia juga sudah melihat jam yang sudah menunjuk pada angka tujuh.
Sebelum berangkat, Dikta mencari bi Inem untuk berpamitan dengannya. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk tidak pergi sebelum berpamitan. Hal itu karena Dikta sudah menganggap bi Inem layaknya ibu kandungnya sendiri.
“Bi. Ada dimana bi?” teriak Dikta dengan suara yang lumayan keras.
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar
__ADS_1