
“Aku akan selalu memaafkan ibu. Bagaimana pun ibu adalah orang tua keduaku setelah orangtua kandungku. Justru harusnya aku yang minta maaf karena belum bisa jadi anak yang baik untuk ayah dan ibu,” ujar Alana lalu melepaskan pelukannya.
Winda menggelengkan kepalanya lalu mengelus rambut Alana itu.
“Apa kamu benar bertemu dengan ibu kandungmu?” tanya Winda.
Alana mengangguk lalu dia menolehkan kepalanya ke samping.
“Dia adalah ibu kandungku,”
Bi Inem yang sedari tadi berdiri di teras rumah Winda langsung menghampiri Alana ketika Alana sudah memanggilnya. Bagaimana pun dia harus berterima kasih pada kedua orang tua yang telah membesarkan putrinya itu.
Winda dan Liam yang melihat bi Inem berdiri di samping Alana merasa heran ketika melihat bi Inem. Mereka pikir orang tua kandung Alana adalah orang kaya atau yang berkehidupan cukup. Namun apa yang diluhat mereka malah sebaliknya. Seorang wanita dengan pakiaan kuno itulah yang Alana bilang ibu kandungnya. Akan tetapi rasa heran itu tidak berlangsung lama. Yang Winda takutkan sekarang Alana akan meninggalkannya karena sudah bertemu dengan ibu kandungnya.
“Alana, jika kamu bertemu dengan ibumu. Apakah kamu akan meninggalkan ibu dan ayah juga?” tanya Winda dengan perasaan yang was was. Khawatir dengan jawaban Alana.
Bi Inem yang mendengar hal itu tersenyum tipis. Dia tahu apa yang ditakutkan prang tua angkat putrinya itu. pada akhirnya dia malah membuka suara.
“Bu, meskipun Alana memang putri kandung saya. Alana juga tetaplah putri ibu juga. Lalu bagaimana bisa ada orang yang memisahkan antara hubungan itu. Aku tetap mengizinkan Alana untuk berbakti pada ibu dan bapak yang sudah merawatnya sejak kecil,” ujar bi Inem pada Winda.
Liam yang mendengar semua pembicaraan itu tidak menyangka jika Alana pada akhirnya bertemu dengan orang tua kandungnya. Meskipun caranya terkesan salah akan tetapi Liam juga sangat menyayangi Alana. Dia sudah menganggap Alana seperti putri kandungnya sendiri. Namun keegoisannya lah yang membuat Liam hampir merusak antara hubungan ayah dan anak itu. Liam memundurkan langkahnya untuk kembali masuk ke dalam. Liam tiba tiba merasa malu untuk melihatwajah Alana. Apalagi dia tadi sempat mengatakan untuk mencari orang lain sebgai pengganti Alana.
Alana yang melihat gerak gerik ayahnya itu langsung memeluknya dari belakang ketika Liam sudah berbalik.
“Ayah, aku sungguh merindukanmu. Aku minta maaf jika selama ini aku kurang berbakti pada ayah. Aku tidak bisa menerima perjodohan itu bukan karena ingin menentang ayah. Aku mohon ayah, maafkan putrimu ini.” Ujar Alana dengan suara yang bergetar karena menahan rasa sedihnya melihat ayahnya yang mengacuhkannya.
Liam tidak bergeming di tempatnya, dia tidak bereaksi apapun selain tetap membiarkan Alana memeluknya seperti ini. Jika dipikir pikir sudah lama ia tidak dipeluk oleh putrinya itu.
Winda dan Bi Inem yang melihat itu hanya saling berpandangan satu sama lain.
“Mari kita bicara di dalam. Berikan sedikit waktu untuk mereka. Kesalahpahaman kita harus segera diselesaikan,” ujar Winda pada bi Inem.
“Baiklah, aku juga berharap Alana bisa memperbaiki hubungannya dengan pak Liam,” jawab Bi Inem.
__ADS_1
Winda menganguk lalu tersenyum kecil. Dia pikir ibu kandung Alana begitu serakah untuk mengambil Alana sendiri. Tapi ternyata diasalah. Justru ibu Alana berlapang dada untuk membagi kasih sayang Alana pada mereka.
“Kalau begitu ayo masuk, bu. Biarkan mereka berdua disini.” Ucap Winda lagi.
Akhirnya kedua wanita itu masuk ke dalam dan meninggalkan Alana bersama Liam.
“Ayah, ingat tidak. Dulu sewaktu aku kecil ayah selalu menggendongku di punggung ayah. Ayah selalu mengajakku bermain meskipun terkadang ayah begitu sibuk. Aku merindukan momen itu ayah. Aku ingin ayah kembali menyanyangiku seperti dulu.” ucap Alana lagi dengan tetap memohon pada Liam. Alana tidak mau putus hubungan dengan Liam karena menurutnya Liam adalah ayah terbaik selama ini meskipun sedikit goyah karena perjodohan waktu itu.
Liam yang sedari menahan diri untuk tidak luluh pada akhirnya dia mengaku kalah. Alana memang sangat pintar membujuknya. Alhasil Liam melepaskan pelukan Alana lalu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Alana yang memasang ekspresi sedih. Liam menghela nafasnya lalu tangannya mengelus rambut Alana.
“Kamu tidak salah. Maafkan ayah yang begitu egois padamu. Ayah tidak akan memaksamu lagi.” Ucap Liam dengan begitu lembut.
Alana yang melihat senyum Liam langsung tersenyum cerah. Dia pikir ayahnya masih keras kepala seperti kemarin.
“Apa ayah masih menganggap Alana putri ayah?” tanya Alana lagi.
Liam mengangguk.
Alana kembali memeluk Liam dengan erat.
Liam membalas pelukan Alana sambil mengelus rambut panjang Alana itu. sesekali dia juga mengecup kening Alana dengan lembut.
“Ayo kita masuk ke dalam, ibu mu juga sangat merindukanmu. Menginapla selamabeberapa hari disini bersama ibumu,” ucap Liam lalu melepaskan pelukannya.
Alana tersenyum tipis dia mengangguk. Tentu sajadia tidak akan menyianyiakan keempatan ini. Jika dia menginap di rumah orang tua angkatnya tentu saja dia bisa mengangkrabkan kedua orang tuanya. Baik yang kandung atau bukan. Alana berharap semoga hal ini akan membawa kebaikan kepada mereka semua. Masalah dengah orang tuanya anggap saja sudah selesai. Mereka tidak akan memaksanya ag untuk menerima perjodohan itu. jika tau membujuk mereka akan sangat mudah seharusnya Alana datang dari kemarin kemarin saja.
.
.
Sementara itu, Dikta baru selesai dari memeriksa setiap pasiennya. Dia kembali ke ruangannya dengan membawa laporan kesehatan yang diberikan perawat Anna kepadanya tadi saat berpapasan di jalan.
Dikta melepaskan stetoskop yang menggantung di lehernya itu. dia duduk di meja kerjanya lalu memeriksa setiap laporan yang ada di mejanya itu. Dia mengambil kaca matanya lalu memakainya.
__ADS_1
Selama beberapa menit Dikta berkutat dengan laporan itu sampai akhirnya dia sudah memeriksa semuanya. Dia juga sudah menandatangani beberapa laporan yangmerah harus diselesaikan untuk kepulangan pasien yang sudah sembuh.
Dikta menyandarkan punggungnya di kursinya. Melihat pasien kecilnya tadi Dikta jadi teringat dengan Rafka.
“Aku ingin bertemu dengannya lagi,” gumam Dikta.
Ingatan Dikta kembali pada kejadian taid pagi.
(Flasback)
“Ibu, tinggallah bersamaku. Aku sangat merindukan ibu.”
Bi Inem melirik pada Dikta sebentar. Dia tidak mungkin meninggalkan tuan mudanya sekarang karena sudah bertahun tahun dia bersamanya. Sedangkan saat ini putrinya juga meminta untuk tinggal dengannya.
Dikta yang mengerti kebingungan Bi Inem itu langsung menganggukkan kepalanya.
“Bi, tinggallah bersama Alana untuk sementara waktu. Anggap saja aku memberikan liburan pada bibi untuk tidak bekerja sementara wsktu. Bagaimana pun kalian berdua pasti saling merindukan satu sama lain.” Ucap Dikta dengan senyum tulus di bibirnya.
“Den, apa aden tidak masalah?” tanya bi Inem.
Dikta mengangguk.
“Iya, bi. Tapi jangan lupa kembali ya. Aku juga psti bakal merindukan bibi,” lanjut Dikta lagi sehingga bi Inem terkekeh.
“Aden, sangat baik. Andai saja bibi juga punya putra seperti aden bibi pasti akan tambah bangga,” lanjut bi Inem.
Dikta memandang wajah Alana sekilas lalu kembali melihat ke arah bi Inem.
“Aku tidak mungkinmenjadi putramu tapi bibi tenang saja aku akan segera jadi menantu bibi jika tuhan berkehendak,” gumam Dikta dalam hatinya.
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa like+komentar