
”Dikta?” ucap Alana dan Septi secara bersamaan.
Dikta yang disebut namanya hanya diam saja sambil lalu dia menoleh ke belakang menunggu bi Inem untuk masuk ke dalam. Seharusnya saat ini mereka masuk bersama namun karena bi Inem masih ragu alhasil Dikta lah yang masuk duluan untuk meyakini bi Inem bahwa semuanya akan baik baik saja. Akhirnya bi Inem juga ikut masuk menyusul Dikta dan kini berdiri di sampingnya.
Alana dan Septi yang melihat itu hanya bisa menatap Dikta dengan penuh tanda tanya dalam benak mereka.
“Ayo, bi,” ucap Dikta pada bi Inem untuk segera menghampiri Alana yang sudah ada di depan mereka itu.
Bi Inem mengangguk lalu mengikuti langkah Dikta untuk mendekat pada Alana.
Alana baru saja akan membuka mulutnya untuk bertanya pada Dikta, tapi Dikta sudah terlebih dahulu menyelanya dengan memberikan map yang berisi hasil tesnya tadi.
“Aku tau kamu pasti akan menanyakan untuk apa aku dan bi Inem mau kesini kan?! Bukalah map itu! kamu akan mendapatkan jawabannya di dalam,” ucap Dikta dengan matanya yang mengarah pada Alana.
Alana yang kebingungan langsung membuka map itu dan membaca isinya. Dia langsung menutup mulut dengan tangan kanannya ketika melihat dan membaca hasil tesnya itu. tes itu menunjukkan bahwa dia sedarah dengan bi Inem, orang yang saat ini ada di samping Dikta. itu artinya, bi Inem adalah ibu kandungnya yang selama ini telah dicarinya.
“Bi inem sudah menduganya dari awal kalau kamu adalah putri kandungnya. Tanda di lehermu lah yang membuat bi Inem yakin sampai akhirnya bi Inem memelukmu untuk mengambil sedikit rambut darimu dan melakukan tes ini. Tes ini sudah dilakukan dua kali. Itu sudah pasti akurat. Selamat, Alana. Kamu sudah bertemu dengan ibu kandungmu,” lanjut Dikta sambil tersenyum dan melirik pada bi Inem yang matanya sudah berkaca kaca dari tadi.
Alana langsung mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung mengarah pada bi Inem yang sedari tadi terus menatapnya. Rasa haru di hati Alana sudah tidak dapat dibendung lagi. Alana langsung bangun dari kursinya dan memeluk bi Inem dengan erat.
“Maafkan ibu sayang. Dulu ibu tidak bisa menjagamu sehingga kamu diculik dan hilang. Maaf ibu belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu,” ujar bi Inem sambil membalas pelukan putrinya yang kini memeluknya dengan erat.
Alana tidak meresponnya, dia terus memeluk bi Inem seolah tidak ada hari esok. Selama ini dia selalu bertanya tanya pada dirinya sendiri bgaimana rasanya memeluk ibu kandungnya. Sekarang dia bisa merasakannya. Pelukan seorang ibu kandung memang sangat nyaman jika dirasakan.
“Alana sudah berusaha mencari ibu. Tapi selama ini Alana tidak menemukan satu petunjuk pun. Bahkan ibu panti juga bilang tidak tau. Dan sekarang aku sudah menemukan ibu,” ucap Alana sambil melepas pelukannya dari bi Inem.
“Kamu adalah putriku,” ucap bi Inem.
__ADS_1
“Bi inem adalah ibuku,” jawab Alana sambil tersenyum tipis. Mereka berdua tersenyum bersama dan kembali berpelukan satu sama lain.
Dikta dan Septi yang melihat pemandangan ibu dan anak itu hanya bisa ikut tersenyum. Mereka merasa lega karena pada akhirnya Alana kembali bertemu dengan orang tua kandungnya.
“Ibu, tinggallah bersamaku. Aku sangat merindukan ibu.”
.
.
Sementara itu, di tempat lain.
Liam dan Winda sedang ribut besar di rumahnya. Mereka bertengkar dengan membawa nama Alana.
“Ini semua gara gara kamu, mas. Seandainya kita tidak memaksakan perjodohan dengan Yoga mungkin Alana akan sering mengunjungi kita. Bagaimana pun dia adalah putriku juga,” ujar Winda sambil menangis. Winda merasa menyesal karena memaksa Alana untuk menerima perjodohan lagi. Karena sekarang dia harus kesepian dan kehilangan putri yang sedari kecil sudah dirawatnya itu.
Liam yang tidak terima disalahan langsung melototkan matanya pada Winda.
Winda menggelengkan kepalanya. dia baru menyadari jika suaminya seegois itu. Pantas saja Alana begitu marah padanya pada waktu itu. sekarang dia jadi menyesal karena menuruti ucapan Liam yang ingin menjodohkan Alana dengan Yoga. Demi kepentingan bisnisnya Liam sampai nekat melakukan hal itu dan mengancam Alana dengan memutuskan hubungan mereka.
“Aku akan pergi dan bertemu, Alana. Mulai sekarang aku tidak akan memaksanya lagi untuk menerima perjodohan itu. meski dia bukan anak kandungku tapi dia adalah bayi kecil yang seharusnya aku lindungi bukan manfaatkan seperti ini.”
Liam tidak berkata apa pun lagi. Dia memilih ntuk mendudukkan dirnya di sofa. Liam tidak mempedulikan Winda yang sekarang pergi ke kamarnya untu mengambil tas dan akan pergi menemui Alana. Istrinya itu begitu keras kepala. Jika dia tetap melawannya untuk berdebat Liam yakin yang ia dapatkan hanyalah kata perceraian. Jadi lebih baik dia mengalah dan membiarkan istrinya melakukan hal sesukanya. Liam duduk di sofa sambil memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Ting Nong
Bel rumahnya tiba-tiba saja berbunyi. Liam yang baru saja duduk itu tidak punya pilihan lain selain berdiri lalu membuka pintu.
__ADS_1
“Siapa yang bertamu siang siang begini? Apa itu Yoga?” gumam Liam sambil berjalan menuju ke arah pintu. Lalu dia mulai membukanya. Liam yang berpikir itu adalah Yoga langsung mengerutkan keningnya ketika melihat Alana yang kini berdiri di hadapannya.
“Aku harap aku tidak mengganggu Ayah dengan kedatanganku hari ini,” ujar Alana dengan memasang senyum tipis di bibirnya.
“Mau apa lagi kamu kesini?! Kamu sudah bukan putriku lagi.” Jawab Lian lalu tangannya bergerak kembali untuk menutup pintu.
Alana sudah menduga dia akan mendapat respon seperti itu dari ayahnya.
“Aku sudah bertemu ibu kandungku,” ucap Alana sambil menatap Liam yang kini mengurungkan niatnya untuk menutup pintu.
Winda yang baru saja muncul di belakang Liam langsung terkejut ketika mendengar perkataan Alana. Tanpa berpikir panjang, Winda langsung menyerobot Liam dan membuka pintunya dengan lebar.
“Alana, kamu sudah kembali? ibu sangat merindukanmu. Maafkan kesalahan ibu dan ayah yang selama ini lakukan padamu.” Ujar Winda dengan bertubi tubi pada Alana.
Alana langsung memeluk Winda dengan erat.
“Aku akan selalu memaafkan ibu. Bagaimana pun ibu adalah orang tua keduaku setelah orangtua kandungku. Justru harusnya aku yang minta maaf karena belum bisa jadi anak yang baik untuk ayah dan ibu,” ujar Alana lalu melepaskan pelukannya.
Winda menggelengkan kepalanya lalu mengelus rambut Alana itu.
“Apa kamu benar bertemu dengan ibu kandungmu?” tanya Winda.
Alana mengangguk lalu dia menolehkan kepalanya ke samping.
“Dia adalah ibu kandungku,”
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa like+komentar