Ketulusan Cinta Dokter Dikta

Ketulusan Cinta Dokter Dikta
Bab 9 Masakan untuknya


__ADS_3

Dikta baru saja turun dari mobilnya. Dia baru saja sampai di rumahnya setelah mengendarai mobil yang cukup lama. Setelah itu Dikta mengelilingi mobilnya dan kembali membuka pintu mobil untuk mengambil Rafka yang tertidur di mobilnya. Karena tak tega untuk membangunkannya pada akhirnya Dikta langsung mengangkat tubuh mungil itu lalu menggendong. Ia memeluknya dengan sangat hati hati agar tidak terbangun. Setelah selesai Dikta kembali menutup pintu mobilnya lalu membawa Rafka masuk ke dalam rumahnya.


Masih seperti biasanya, rumah Dikta seperti tak berpenghuni ketika malam hari. Sebab semua asisten rumah tangganya sudah di kamar masing masing, termasuk bi Inem. Dikta sudah terbiasa dengan kesunyian itu. Itulah sebabnya dia masih belum mempunyai pasangan di usianya yang semakin dewasa ini. Sebab Dikta masih menikmati kesunyian dalam hidupnya.


Dikta baru saja akan mengantarkan Rafka ke kamar tamu untuk diberikannya pada Alana. Namun telinganya tak sengaja mendengar suara benda jatuh. Dikta menghentikan langkahnya, matanya langsung tertuju pada dapur.


“Kenapa bisa ada suara benda jatuh di dapur? Apa itu kucing?” gumam Dikta.


Dikta menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan. Namun baru saja dia akan melangkahkan kakinya kembali suara itu kembali mengusik telinganya. Dikta yang penasaran akhirnya pergi ke dapur untuk memastikan suara itu benar kucing atau bukan.


Dengan tetap membawa Rafka, Dikta masuk ke dalam dapur untuk memeriksanya. Namun yang dia temukan bukanlah kucing. Melainkan seorang wanita yang baru saja selesai memasak dan tengah menyajikan makanan di meja makan. Mata Dikta mengikuti setiap pergerakan wanita itu. dia begitu telaten ketika memindahkan semua hasil makanannya ke meja makan.


“Akhirnya makan malam sudah siap. Semoga saja Dikta suka dengan masakanku,” ucap wanita itu yang tak lain adalah Alana sambil mengusap keningnya yang berkeringat karena terus berada di depan kompor.


Dikta yang melihat itu tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia seperti mengingat kembali Alana di masa lalu.


(Flasback)


Dikta baru saja bangun tidur panjangnya. Dia memilih duduk terlebih dahulu sebelum keluar dari kamarnya. Sebab nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya. Semalam dia tidur larut karena mengerjakan tugas kuliahnya yang belum selesai. Itulah sebabnya dia baru bangun. Dikta menguap sambil menutup mulutnya. Namun tiba tiba....


CTARRRR


Sebuah suara mengagetkan Dikta yang masih dalam kondisi mengantuk itu. kesadarannya langsung kembali karena kaget dengan suara itu. Dikta yang berpikir itu adalah masing langsung turun dari ranjangnya dan berlari keluar untuk memeriksanya. Tapi ketika melihat siapa di balik semua itu ia bernafas lega. Karena yang ia dapatkan bukan maling melainkan kekasihnya yang saat ini ada di dapur.


Dengan wajah khas bangun tidurnya, Dikta menghampiri Alana dan memeluknya dari belakang.


“Aku pikir kamu maling tadi...” ucap Dikta dengan sifat manjanya pada Alana.


Alana menoleh sebentar pada Dikta lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


“Bagaimana bisa kau berpikir aku maling? Padahal setiap hari aku datang kesini untuk memasakkan sesuatu untukmu,” jawab Alana.


Dikta tidak menghiraukannya, dia malah semakin erat memeluk pinggang Alana dengan posesif. Entah kenapa rasa ngantuknya hilang setelah melihat Alana ada bersamanya sekarang.


“Kamu masak apa?” tanya Dikta.


“Aku masak cumi balado kesukaanmu. Hanya itu saja yang aku temukan di kulkasmu. Nanti kita pergi belanjaya. Bahan makanan di kulkasmu sudah tidak ada lagi,” ujar Alana pada Dikta.


Dikta hanya mengangguk kecil dengan tidak melepaskan Alana dari pelukannya. Ia malah sibuk menduselkan wajahnya di leher Alana.


(FLASBACK OFF)


”Dikta, kamu sudah pulang?”


Suara Alana membuyarkan lamunan Dikta. Dikta melihat ke arah Alana yang juga sedang melihat ke arahnya. Akhirnya Dikta masuk ke dapur dan menghampiri Alana.


“Kenapa kamu memasak sendiri? Bukankan ada bi Inem dan lainnya disini. Kamu Msih harus banyak istirahat, Al,” ujar Dikta dengan penuh perhatian.


Matanya berkaca kaca ketika melihat Rafka. Dia merasa sangat menyesal karena masalahnya membuat dia terlalu banyak mengabaikan putranya. Alana mengelus rambut Rafka dengan penuh kasih sayang.


“Maafin mama sayang. Mama belum bisa jadi seorang ibu yang baik buat kamu,” ucap Alana dengan lirih.


Dikta hanya diam sambil memperhatikan Alana yang saat ini sibuk memandangi Rafka. Dikta bisa merasakan bagaimana suasana hati Alana ketika melihat putra kecilnya sudah kembali bersamanya.


“Berikan Rafka padaku, Dikta. Pulang dari rumah sakit kamu pasti sangat lelah. Sekarang makan dulu aku sudah memasakkan semua itu untukmu. Anggap saja itu adalah sebuah bentuk terima kasih dariku karena kau sudah menolongku dan membawa pulang Rafka,” ucap Alana sambil menatap kedua bola mata indah milik Dikta.


Dikta langsung menyerahkan Rafka pada Alana. Dia memberikannya dengan hati hati agar Rafka tidak terbangun. Sekarang Rafka sudah tidak digendongnya lagi. Melainkan ada di dekapan tubuh hangat Alana. Alana menggendong Rafka sambil mengecup pipinya berulang kali. Dia sungguh merindukan putranya itu.


“Kalau begitu segera tidurkanlah dia di kamarmu. Aku akan memakan masakanmu. Terima kasih atas perhatianmu padaku,” ucap Dikta pada Alana. Tanpa sadar Dikta mengelus rambut Alana dengan lembut lalu pergi begitu saja meninggalkan Alana yang mematung karena perlakuan Dikta.

__ADS_1


.


.


.


Keesokan harinya.


Alana mengerjapkan matanya ketika merasakan sesuatu yang mungil menempel di pipinya. Saat ia membuka hal yang pertama Alana lihat adalah senyum Rafka yang memamerkan gigi putihnya.


“Mama...Rafka kangen sama mama...” ucap Rafka langsung memeluk Alana ketika melihatnya sudah terbangun.


Alana langsung tersenyum ketika melihat siapa yang mengganggu tidurnya. Dia membalikkan tubuhnya menjadi miring sambil memperhatikan Rafka yang kini ada di pelukannya dan mengusel di dadanya.


“Mama juga kangen banget sama kamu sayang. Mama bersyukur karena bisa melihatmu sehat kembali,” ujar Alana sambil mengelus rambut Rafka.


Baru saja dia mengatakan hal itu, Alana langsung memekik karena tiba tiba saja Rafka membuka kancingnya dan memainkan put*ngnya.


“Rafka mau n3n dulu mama.” Ujar Rafka lalu kembali memejamkan mata dengan tangan yang memainkan dada Alana. Alana hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Rafka padanya. Memang selama ini Rafka selalu memainkan itu setiap kali dia ingin. Alana tidak pernah menolaknya. Selama Rafka nyaman dia akan selalu memberikannya. Sebenarnya Rafka juga tidak sering meminta hal itu. Dia hanya memintanya ketika dia ingin saja.


Tiba tiba pintu kamarnya terbuka.


“Alana, aku.....”


Alana menolehkan kepalanya dan membulatkan matanya ketika melihat Dikta masuk ke dalam sedangkan kondisinya seperti menyusui Rafka yang otomatis Dikta melihat dengan jelas dadanya.


Dikta juga terkejut ketika melihat pemandangan itu. dia buru buru keluar dan kembali menutup pintu.


 

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar


__ADS_2