Ketulusan Cinta Dokter Dikta

Ketulusan Cinta Dokter Dikta
Bab 14 Sepasang sahabat


__ADS_3

Keesokan harinya, Alana membuat janji dengan Dikta untuk bertemu di rumah sakit. hal itu atas permintaannya sendiri karena Alana yang penasaran dengan sahabatnya itu. Dia ingin mengetahui semua hal tentang sahabatnya itu dan alasannya menghilang. Namun sebelum pergi ke rumah sakit, Alana mengantarkan Rafka pada ibu mertuanya dan menitipkannya untuk sementara waktu.


Dia tidak bisa mengajak Rafka bersamanya karena Rafka sudah harus sekolah lagi. Dan tentu saja ibu mertuanya sangat menerima Rafka dengan baik. Ibu mertuanya malah meminta pada Alana  untuk membiarkannya merawat Rafka selama beberapa hari dan mengantarnya ke sekolah.


Pada akhirnya Alana juga menyetujuinya, bagaimana pun mereka adalah nenek kandung dari putranya. Mereka juga memiliki hak yang sama dengannya.


“Kalau gitu, mama pergi dulu ya sayang. Kamu jangan nakal disini. Jaga nenek dengan baik ya,” ujar Alana yang saat ini berlutut di hadapan Rafka yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Rafka memang sudah ia masukkan pada sekolah dasar karena usianya yang cukup.


Rafka mengangguk dengan cepat.


“Mama, jangan khawatir. Rafka tidak akan nakal. Rafka juga sayang nenek jadi Rafka pasti akan menjaganya.” jawab Rafka.


Lily dan Alana saling berpandangan satu sama lain. Lalu mereka berdua tersenyum pada Rafka. Alana hanya mengelus rambut Rafka lalu kembali berdiri.


“Kalau gitu Alana pamit dulu ya bu.” Ujar Alana sambil menyalami ibu mertuanya.


“Hati hati ya.” Jawab Lily.


Alana mengangguk lalu pergi setelah berpamitan. Dia langsung masuk ke dalam mobil taksi yang sudah menungguny di luar. Lily hanya memandanginya dari dalam rumahnya. Sudah lama ia tidak melihat menantunya itu datang menghampirinya. Lily tau bahwa Alana masih sangat terpukul dengan kepergian suaminya yang statusnya adalah putra Lily. Dia bersyukur karena memiliki menantu seperti Alana.


“Nenek, ayo berangkat sekolah. Rafka takut terlambat,” ujar Rafka sambil menarik tangan Lily dengan tangan mungilnya itu.


Lily terkekeh kecil sambil menunduk dan melihat bagaimana Rafka yang terus menarik tangannya.

__ADS_1


“Iya iya, ayo nenek antar kesekolah.”


.


.


Sementara itu, di dalam taksinya Alana sudah memberi kabar Dikta bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju kesana. Alana juga sudah menyiapkan buah-buahan untuk diberikannya pada Septi yang katanya di dirawat di rumah sakit. Sambil lalu, Alana membuka kembali galeri yang selama ini tidak pernah dibukanya lagi. Apalagi dalam galeri itu ada banyak sekali foto fotonya di masa lalu.


KLIK


Alana membuka kunci aplikasinya itu lalu muncullah foto foto yang sudah lama ia simpan bahkan sebelum Alana menikah. Dalam foto tersebut Alana memilih album yang bertuliskan sahabatku. Alana langsung membukanya. Di dalam folder tersebut ada banyak sekali foto fotonya bersama  Septi semasa kuliah dulu. dalam foto itu mereka tertawa bahagia seolah olah di masa depan mereka tidak akan berpisah. Alana tersenyum tipis ketika melihat semua foto itu.


“Aku sudah lama berpisah dengan Septi. Pasti dia banyak berubah sekarang,” gumam Alana sambil tersenyum tipis dan menggeser layar ponselnya itu.


Beberapa menit kemudian taksi yang ditumpanginya telah berhenti di rumah sakit tujuannya. Alana kembali mengunci foto foto itu di ponselnya lalu segera turun dan membayar ongkos taksinya. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah sakit. Dikta sudah mengatakan dia akan menunggunya di lobi rumah sakit. Dari kejauhan Alana sudah bisa melihatnya. Dikta berdiri dengan jas putih sambil memandang ke arahnya. Lalu dia juga menghampirinya.


“Di mana ruangannya?” tanya Alana.


Dikta tidak menjawab pertanyaan Alana. Dia akan membiarkan Alana tau sendiri tanpa dia harus menjawab. Ia tidak mau membuat Alana terkejut sekarang. Bagaimana pun Dikta juga tidak tega melihat Alana bersedih. Namun kenyataan tetaplah kenyataan. Siapapun harus bisa menerimanya. Dikta terus melangkahnya kakinya menuju ke ruangan Septi dengan diikuti Alana di belakangnya. Sampai akhirnya Dikta berhenti di ruangan dengan nomor 107. Dikta menoleh pada Alana yang kini berdiri di belakangnya sambil menatapnya dengan kebingungan.


“Dikta, apa Septi ada di ruangan ini?” tanya Alana.


Dikta menghela nafasnya lalu membuka pintu ruangan itu dengan perlahan.

__ADS_1


“Masuklah, Al. Kamu akan mengetahui semuanya jika kamu masuk ke dalam. Tapi aku mohon sama kamu saat nanti di dalam tolong kendalikan dirimu.” Ucap Dikta sambil memandangi wajah Alana.


Alana tidak curiga apapun pada Dikta lalu dia masuk ke dalam mengikuti arahan Dikta. Setelah itu Alana kembali menutup pintunya.


Saat Alana berbalik, Alana langsung menjatuhkan parsel buahnya ketika melihat seseorang yang sudah terbaring lemah dengan banyak infus di tubuhnya. Dia meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat itu memang sahabatnya, Septi. Sebab ia ragu jika itu adalah Septi.  Kakinya melangkah semakin dekat dengan ranjang yang ditiduri Septi itu untuk membuktikannya sendiri. Air matanya langsung meleleh ketika melihat itu benar Septi sahabatnya. Dia melihat rambut sahabatnya yang dulu terurai panjang sekarang menjadi b*tak. Apalagi sekarang Septi memejamkan matanya karena kondisinya yang tidak berdaya.


“Septi, kamu kenapa seperti ini?” lirih Alana sambil menghapus air matanya yang turun. Dia duduk di kursi yang ada disitu lalu menggenggm tangan Septi yang diinfus itu.


“Aku sahabatmu, Sep. Tapi kenapa aku yang tau belakangan. Kenapa harus Dikta yang mengetahui kondisimu ini. Apa aku tidak layak menjadi sahabatmu lagi setelah tidak ada kabar begitu lama?”


Alana menangisi kondisi Septi. Dia merasa dirinya jahat karena tak mengetahui kondisi sahabatnya yang seperti ini. Yang Alana lakukan hanyalah menangis dan menyesali semuanya. Seandainya dulu ia memperhatikan Septi mungkin sekarang sahabatnya tidak akan seperti itu.


Septi yang mendengar suara Alana, perlahan dia bangun dari tidurnya lalu membuka matanya. hal yang pertama kali ia lihat ketika membuka mata adalah Alana yang menggenggam tangannya sambil menangis.


“Ala...na....” panggilnya dengan suara yang begitu kecil.


Alana yang mendengar suara Septi kembali mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Septi. Sepasang sahabat itu saling menatap dengan penuh kerinduan dalam wajah mereka. Mereka sama sama terharu bisa melihat satu sama lain setelah sekian lama tidak bertemu. Namun itu tidak berlangsung lama karena Alana yang tiba tiba panik setelah melihat Septi sadar. Dia mengira Septi terbangun dari komanya padahal tidak.


“Septi, kamu sudah sadar? Apa yang kau butuhkan sekarang? Apa kau merasa sakit? aku akan memanggilkanmu dokter kalau seperti itu,” ucap Alana lalu berdiri untuk pergi ke luar dan memanggil Dokter untuk meminta bantuan. Namun genggaman hangat di tangannya mencegahnya untuk pergi. Alana melihat ke arah Septi yang menggelengkan kepala.


“Aku tidak apa apa, Al. Aku hanya bangun tidur bukan bangun dari koma,” ujar Septi sambil tersenyum kecil.


 

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar


__ADS_2