Ketulusan Cinta Dokter Dikta

Ketulusan Cinta Dokter Dikta
Bab 13 Dia adalah


__ADS_3

“Sepertinya kita bertemu lagi, dokter.” ucap seseorang yang tiba tiba duduk di kursi kosong sebelah Dikta.


Dikta menoleh ke sampingnya dan menemukan wanita cantik dengan pakaian rumah sakitnya duduk di sampingnya. Dia mengangkat sebelah alisnya dengan bingung karena merasa tidak pernah melihat atau bahkan bertemu dengan wanita itu.


Wanita itu terkekeh pelan melihat reaksi Dikta padanya. “Ah, kau pasti melupakanku ya. Aku Septi, sahabat Alana dulu sewaktu kuliah.” Lanjut wanita itu yang mengatakan bernama Septi itu.


Dikta menaruh ponselnya kembali ke dalam sakunya. Lalu dia berusaha mengingat siapa wanita yang duduk di sampingnya itu. Setelah beberapa lama barulah Dikta mengingatnya. Septi adalah sahabat setia Alana dulu. Di mana ada dia biasanya selalu ada Alana. Dikta masih ingat dengan jelas, dulu septi lah orang yang sangat berperan dalam hubungan mereka. Septi selalu membantunya ketika ia ada masalah dengan Alana sehingga hubungan keduanya tetap bertahan.


Mata Dikta melirik pada pakaian pasien yang dipakai Septi.


“Kamu sakit apa?” tanya Dikta hati hati agar tidak menyinggung perasaan Septi.


Septi tersenyum tipis, matanya kembali mengarah ke depan dimana disana banyak sekali pasien yang seperti dirinya sedangtertawa bersama keluarganya.


“Aku terkena ka*ker otak stadium akhir. Itulah sebabnya aku berada di sini. Aku sudah cukup frustasi di kamar inapku karena tidak ada siapapun disana. dan akhirnya aku meminta dan memohon pada dokter untuk memperbolehkanku keluar sebentar. Yah meskipun saat ini rambutku sudah tidak ada aku harus tetap semangat menjalani sisa sisa hidup bukan,” ujar Septi dengan tatapannya yang kosong. Dia sudah menyerah pada takdir dan siap menerima segalanya. Termasuk kemat*annya.


Dikta hanya bisa menatap Septi dengan tatapan kasihan. Wanita di sampingnya ini terlihat seperti baik baik saja padahal Dikta tau ada banyak luka di hatinya karena harus menerima penyakit memat*kan itu. Namun, Dikta juga merasa bingung. Karena dia tidak melihat keluarganya Septi bersamanya.


“Keluargamu, mereka kemana? Kenapa tidak mendampingimu hari ini,” tanya Dikta lagi.


Septi kembali menoleh ke arah Dikta dengan senyum palsu yang menghiasi bibirnya.


“Mereka tidak mempedulikanku lagi. Sejak tau aku mengidap penyakit itu aku langsung diusir dari rumah. Sampai akhirnya penyakitku sudah cukup parah sampai akhirnya aku harus menetap di rumah sakit ini selama berbulan bulan meski tidak ada perkembangannya.”


Lalu tangan Septi mengambil tangan Dikta sambil memohon.


“Aku minta tolong sama kamu. Tolong pertemukan aku dengan Alana. Aku sempat melihat Alana dan kamu disini beberapa waktu yang lalu. Aku tidak ingin apapun lagi selain bertemu dengannya,” ujar Septi dengan memberikan tatapan penuh permohonan pada Dikta.


Dia sangat berharap Dikta bisa membantunya. Sudah lama Septi ingin mencari keberadaan Alana namun ia terhalang karena penyakitnya itu. itulah sebabnya dia tidak menyianyiakan kesempatan kali ini. Ketika melihat Dikta, dia langsung menghampirinya.


Dikta mengelus tangan Septi yang saat ini masih menggenggam tangannya. Dia mengangguk kecil lalu tersenyum seolah olah memberikan ketenangan untuk Septi.

__ADS_1


“Jangan khawatir, aku akan membuatnya bertemu denganmu. Fokuslah pada kesehatanmu. Aku akan membawa Alana secepatnya untuk menemuimu,” ucap Dikta.


Septi tersenyum cerah. Akhirnya setelah sekian lama dia berharap kali ini ada yang memenuhi harapannya.


.


.


Di sisi lain


Setelah menidurkan Rafka di kamarnya, Alana kembali ke luar untuk membereskan rumahnya. Sudah dua hari ia meninggalkan rumah itu karena ia sempat nginap di rumah Dikta. Yah meskipun rumahnya tidak terlalu kotor akan tetapi Alana tetap akan membersihkannya. Itu adalah rumah peninggalan suaminya jadi Alana harus menjaganya dengan sangat baik.


Alana memulai semuanya dari membersihkan ruang tengahnya, lalu berlanjut pada ruang tamu. Sampai setiap kamar pun dia membersihkannya sendiri. Dia tidak menyewa pembantu karena kemauannya sendiri. Selagi dia masih bisa melakukannya sendiri kenapa harus menggunakan jasa orang lain. Begitu pikir Alana ketika ibu mertuanya selalu menyuruhnya untuk menyewa pembantu saja.


Selama beberapa jam dia melakukannya sampai akhirnya semuanya telah diselesaikannya. Alana mengusap keringat di dahinya dengan tangannya lalu kembali untuk meletakkan alat alat kebersihan yang dia pakai itu.


Setelah itu Alana memutuskan untuk duduk di santai di ruang tengahnya. Dia merebahkan dirinya di sofa panjang lalu mengambil remote televisi dan menyalakannya lalu menontonnya.


“Maaf, Daren. Aku tidak bisa. Aku sudah melupakan semua hal tentang kita. Tolong jangan ganggu aku lagi.”


“Nis, apa kamu ragu untuk memberiku kesempatan karena kau mencintai orang lain. Jika iya katakanlah sekarang. Aku janji akan menjauhimu jika apa yang kukatakan itu benar,”


Wanita yang dipanggil Nisa itu langsung menatap Daren.


“Benar, aku tidak bisa menerimamu karena orang lain. Aku masih mencintai suamiku bagaimana bisa kau mengatakan hal itu pada wanita yang baru saja ditinggal oleh suaminya,”


Alana berdecak kesal, bisa bisanya tayangan itu hampir mirip dengan kisahnya bersama Dikta. Alana kembali mengambil remotnya untuk mengubah tayangan itu. Namun tiba tiba saja ponselnya berdering. Alana yang hendak menekan tombol remot itu langsung mengurungkan niatnya. Dia mengambil ponselnya yang ada di meja itu.


Sebuah nomor yang belum dikasih nama menghubunginya. Alana tau itu adalah nomor Dikta. Dia langsung mengangkatnya.


“Halo, ada apa Dik?” tanya Alana langsung.

__ADS_1


Namun Alana tidak mendengar suara apa pun dari ponselnya. Dia menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk mengecek panggilan itu.


“Masih terhubung tapi kenapa tidak ada suara,” gumam Alana.


“Halo, dikta. Apa suaraku terdengar?” Alana kembali bertanya.


Namun bukan Dikta yang menjawabnya melainkan suara wanita yang memanggil namanya dengan lembut.


“Al, ini bukan Dikta. Ini aku, Septi sahabatmu.”


Alana yang mendengar itu langsung bangkit dari sofanya dan duduk dengan tegak.


“Septi? Kamu Septi? Kamu dari mana saja. Selama ini aku juga selalu mencarimu tapi keluargamu bilang kau sudah pergi jauh." Ujar Alana dengan bertubi tubi. Dia masih ingat dengan jelas dengan Septi adalah sahabatnya sewaktu kuliah dulu. Setelah menikah, memang Alana sempat kehilangan kontak denganya. Namun bukan berarti Alana tidak pernah mencarinya. Alana sudah mencari dan menanyakan keberadaan Septi pada kedua orang tuanya. Namun jawaban yang ia dapat adalah Septi pergi ke luar negeri.


“Aku butuh kamu, Al.”


Alana baru saja akan menjawabnya namun tiba tiba ponselnya mati karena kehabisan batrainya.


“Kenapa pakai lowbat segala sih,” ujar Alana. Lalu dia pergi ke kamarnya untuk mengambil charger dan mengisi daya batrai ponselnya. Lalu dia kembali menghubungi nomor Dikta untuk menghubungi Septi.


“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi,”


Alana menghela nafasnya dengan gusar. Entah kenapa ia merasa seperti ada sesuatu hal yang terjadi pada sahabatnya itu.


“Dikta pasti tau sesuatu,” ucapnya sambil menggenggam ponselnya dengan erat.


 


Terima kasih sudah menonton


Jangan lupa like+komentar

__ADS_1


__ADS_2