
Alana sibuk memandangi bunga bunga yang begitu indah itu. Apalagi ditemani oleh kupu kupu yang berwarna warni itu. Dia tersenyum melihat bagaimana kupu-kupu itu terbang dan singgah di bunga yang lain. Andai saja hidupnya berjalan dengan indah seperti kupu-kupu itu. Alana yakin dia akan menjadi seseorang yang paling bahagia.
Namun kenyataannya tidak seperti itu. Alana telah kehilangan banyak hal yang membuatnya bahagia. Dia harus melepas Dikta di masa lalu, lalu dia juga ditinggal mat* oleh suaminya ketika Alana sudah benar benar mencintainya. Dan sekarang Alana juga kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya yang sudah merawatnya dari kecil.
Sebenarnya Alana juga tidak heran mengapa mereka melakukan semua itu padanya. Hal itu pasti karena dia bukan anak kandung mereka. Alana hanyalah anak panti asuhan yang kemudian di adopsi oleh mereka sejak umur lima tahun.
Alana menghela nafasnya ketika mengingat semua itu. Meski dia bukan putri kandung dari Winda dan Lian akan tetapi Alana sudah menganggap mereka seperti orang tua kandungnya. Namun meski begitu, Alana juga tetap berusaha mencari keberadaan orang tuanya. Meski ia sadar itu akan sulit namun Alana yakin suari hari nanti dia pasti bisa menemukannya.
Bi Inem yang berniat menyiram tanaman di taman belakang melihat Alana yang tengah duduk di bangku dan melamun sendirian. Dia memilih menghampiri Alana dan menepuk bahunya dengan pelan.
“Neng, kenapa melamun?” tanya Bi Inem.
Alana yang sedari tadi melamun menolehkan kepalanya saat mendengar suara bi Inem. Dia tersenyum tipis lalu menggeser tubuhnya agar bi Inem bisa duduk.
“Eh bibi. Gpp kok bi tadi aku cuma lagi mikir sesuatu aja,” jawab Alana.
Bi Inem memutuskan duduk di sebelah Alana.
“Mikirin apa neng? mikirin den Dikta ya?” goda bi Inem sambil tertawa kecil.
Alana hanya menggelengkan kepalanya namun ia juga ikut tertawa karena tebakan bi Inem yang meleset.
“Bukan, bi. Aku hanya mikirin gimana nasib aku ke depan. Sekarang aku sudah tidak punya siapa siapa lagi selain anakku. Sedangkan suami aku sudah meninggal,” ujar Alana.
__ADS_1
Bi inem yang mendengar hal itu tentu saja terkejut terlebih saat Alana menyebut kata suami tadi. Dia pikir Alana masih seorang gadis karena masih sangat muda seperti itu. namun siapa sangka jika wanita muda di sampingnya ini sudah memiliki suami dan anak.
Alana yang melihat bi Inem terkejut hanya tersenyum geli. Lalu dia mulai menceritakan semuanya pada bi Inem agar tidak bingung. Namun Alana tidak menceritakan tentang masa lalunya dengan Dikta. Alana hanya bercerita mengenai suami dan orang tuanya. Air matanya sampai turun kembali saat menceritakannya sehingga bi Inem yang melihatnya tidak tega dan memeluknya.
“Neng, yang sabar ya. Bibi tahu neng pasti kuat menerima semua itu. Bibi tidak bisa memberikan solusi apapun. Tapi yang pasti neng jangan sampai putus hubungan dengan mereka ya. Bagaimana pun mereka adalah orang yang merawat neng dari kecil. Namun bukan berarti bibi juga menyalahkan neng. Bibi mengerti kok perasaan neng. Bagaimana pun neng masih sangat mencintai suami neng dan belum kepikiran untuk menikah lagi. Menurut bibi itu hal yang wajar.”
Alana hanya mengangguk di pelukan bi Inem. Layaknya seorang ibu bi Inem mengelus rambut Alana dengan penuh kasih sayang. Lalu pandangannya kembali tertuju pada tanda hitam di leher Alana. Entah kenapa ia seperti sangat familiar dengan itu. Tanpa disadari Alana. Bi Inem menyingkirkan sedikit helaian rambut itu. Seketika bi Inem mematung setelah melihat tanda yang ada di lehernya. Sebuah tanda yang terukir seperti bunga namun berwarna hitam.
“Kenapa tandanya persis seperti putriku,” gumam bi Inem. Dia masih ingat dengan jelas dulu ketika melahirkan dan sebelum bayinya di culik bi Inem mendapatkan tanda seperti itu di lehernya. Hatinya merasa tertegun, bi Inem memandangi wajah Alana yang ada di pelukannya.
“Apa mungkin Alana ini adalah putriku yang hilang dulu?”
.
.
Matanya melihat ke arah jam dinding di ruangannya yang sudah menunjuk angka delapan. Alana sudah pasti menunggu kepulangannya karena Rafka sekarang. Dikta akan segera mengurus kepulangan Rafka dan akan dibawa pulang olehnya.
Dikta keluar dari ruangannya lalu bertemu dengan beberapa di luar ruangannya. Ia berbincang sebentar pada perawat itu untuk mengurus Rafka yang masih ada di ruangan karena akan dipulangnya.
“Tolong diurus ya sus. Saya akan ke bagian administrasi dulu. Nanti kalau sudah selesai saya akan balik dan menjemput anak itu,” ujar Dikta pada perawat itu.
“Baik, dok. Kalau begitu saya permisi,” jawab perawat tersebut.
__ADS_1
“Silakan.”
Setelah perawat itu pergi, Dikta melangkahkan kakinya menuju ke bagian administrasi untuk membayar biayanya. Dikta langsung menanyakan tagihannya lalu membayarnya. Setelah menerima nota rumah sakitnya Dikta bergegas kembali pada ruangan Rafka. Dikta membuka pintu ruangan dimana Rafka dirawat lalu ia masuk ke dalamnya.
“Om dokter.......”
Baru saja Dikta masuk ke dalam Rafka sudah meneriakkan namanya. Dikta tersenyum lalu menghampiri Rafka yang saat ini berdiri di kasur rumah sakitnya itu dengan keadaan ceria.
“Hei, kenapa Rafka senang sekali?” tanya Dikta setelah ada di samping Rafka.
Rafka langsung memeluk Dikta dengan spontan. Hal itu membuat Dikta terkekeh pelan karena keaktifan Rafka ketika bersamanya.
“Kata suster aku hari ini sudah bisa pulang, dok. Jadi aku senang sekali karena sebentar lagi aku akan bersama mama lagi,” ucap Rafka lalu melepaskan pelukannya dan beralih menatap wajah Dikta dengan wajah menggemaskannya itu.
“Kalau begitu kita pulang sekarang ya. Mama sudah menunggu di rumah om dokter. Rafka mau kan pulang sama om dokter?” tanya Dikta yang langsung diangguki oleh Rafka.
Dikta tersenyum lalu mengangkat tubuh Rafka dan menggendongnya. Malam ini tidak pulang sendiri. Karena ada bocah kecil yang akan menemaninya pulang.
.
.
Saat ini Rafka dan Dikta sudah dalam perjalanan pulang. Dikta menyetir mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Sambil lalu dia juga menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Rafka padanya. Dikta tau anak seusia Rafka sedang aktif aktifnya. Itulah sebabnya ketika dia melihat sesuatu di jalan tadi langsung bertanya pada Dikta.
__ADS_1
Namun itu tidak berlangsung lama karena beberapa menit kemudian Rafka sudah tertidur pulas di mobilnya. Dikta menoleh ke arah Rafka yang seang tertidur. Dia memutuskan untuk meminggirkan mobilnya dan berhenti. Setelah itu Dikta memperbaiki posisi Rafka agar tidur lebih nyaman, dia mengambilkan bantal yang ada di kursi belakang mobilnya untuk dipakai Rafka.
“Kebiasaanmu sepertinya menurun dari mama mu ya,tidur dengan cepat selama ada di mobil” ujar Dikta sambil menggelengkan kepalanya.